FILOSOFI AQIQAH, PENDAPAT AHLI FIQIH DAN ULAMA. OLEH DOSEN UIN MAKASAR.

Kajian dalam masalah folosofi aqiqah dan udhiyah (perspekif alqur’an dan sunnah). oleh hj. nurnaningsih fakultas syari’ah dan hukum universitas islam negeri (UIN) Alauddin Makasar

filosofi aqiqah, hukum akikah
filosofi aqiqah dan hukum aqiqah

Bagaimana filosofi aqiqah menurut pandangan Al qur’an, As-Sunnah dan ijma?

Berdasarkan Al qur’an, As-Sunnah dan ijma’ bila   seorang insan  lahir baik laki-laki maupun permpuan, maka di- syari’atkan untuk  orang tuanya guna  melaksanakan aqiqah cocok  dengan kriteria  peraturan  yang sudah  ditetapkan,demikian pula untuk  muslim muslimah yang terpapar  syarat untuk mengerjakan  sembelihan/Qurban pada hari-hari tasyrik di bulan zulhijjah serta untuk  umat Islam yang sedang melaksanakan ibadah haji.

contoh  dalam format  “Dam” . Syari’at tersebut paling  jelas alasan  dan hukumnya tetapi  sebagian umat Islam masih ada  kalangan personil yang sudah lumayan  memenuhi kriteria  untuk mengerjakan  sembelihan/qurban/aqiqah akan namun  baik disengaja maupun memandang  remeh dengan berbagai dalil  sehingga perintah menyalurkan  darah hewan  tidak bisa  dilaksanakan. Disisi beda  masih terpengaruh dengan pemahaman antara me sti  dengan sunnah pengamalan  Aqiqah udhiyah sampai-sampai  sebagian kaum muslimin tidak mempunyai  keseriusan guna  melaksanakannya.

Bagaimana mengenai pandangan melaksanakan filosofi aqiqah?

Dalam pembahasan mengenai folosofi aqiqah ini. Terdaapat pandaangan yang pelbagai  tentang aqiqah dan udhiyah baik dari segi: Kemampuan, masa-masa  pelaksanaannya serta macam dan umur untuk  binatang yang bisa  menjadi “Binatang Sembelihan” Para Ulama/Muballigh tidak henti- hentinya menyerukan perlunya melaksana- kan perintah aqiqah/udhiyah terutama untuk  muslim dan muslimah yang nyata-nyata telah  memilki keterampilan  secara material, namun keterampilan  untuk merintangi  pengaruh syetan yang senantiasa menggagu cocok  dengan kissah kronologis dari Penghulu anda  Ibrahim,

1. Bagaimana pandangan Fuqaha tentang: folosofi aqiqah, Udhiyah /Qurban?

Folosofi aqiqah secara bahasa ialah  rambut yang berada pada kepala bayi, yang beberapa  pandangan meng- anggap najis yang perlu dimurnikan  pada masa usia  tujuh hari, terdapat  yang ber- pendapat sembilan bahkan sebelas hari.

Berhubung KAMBING  sembelihan yang diper- untukkan untuk  anak laki-laki bertolak belakang  dengan jumlah yang diperuntukkan untuk  anak perempuan. Sebagaimana yang sudah  menjadi warisan budaya untuk  bangsa arab sebagai latar/utama pengamalan  syari’at ini, maka dilakukanlah sembelihan hewan  yang bertepatan dengan tujuh hari dari ke- lahirannya dan sekaligus dilaksanakan  pen- cukuran rambut dan pemberian nama untuk  anak yang lahir. Adapun folosofi aqiqah secara istilah antara beda  yang diajukan  oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya Tuhfatul Maudud, bahwa imam Jauhari berkata: Aqiqah ialah  menyembeli KAMBING  pada hari ketujuhnya dan memotong  rambutnya, selanjutnya Ibnul Qayyim menuliskan   dari penjelasan  tersebut jelaslah baha aqiqah itu diterangkan  demikian sebab  berisi  dua unsure diatas dan ini lebih utama

Bagaimana Pandangan ahli fiqih mengenai folosofi aqiqah?

Pandangan Fuqoha mengenai  disyariat- kannya Aqiqah Para Fuqaha bertolak belakang  pendapat ten- tang persoalan  hukum Aqiqah. Per- bedaan mereka disebabkan  berangkat dari pemahaman terhadap beberaa hadis yang berbeda. Mazhab Hanafiyah menuliskan   bahwa hukum aqiqah ialah  cuma mubah saja. Umat Islam bebas diperkenankan untuk mengerjakan  dan meninggalkan ritual aqiqah ini. Dasar dari pendapat mereka ialah  sebuah atsar (perkataan) sayidah Aisyah.

قبلها كاننبح كلاالضحية نسخت

Artinya: Pensyariatan kurbah telah mencatat  dan mengamandemen semua format  ibadah persembelihan sebelumnya.

baca juga:

Suatu urusan  yang tentu  bahwa saidah Aisyah menuliskan   demikian ialah  bukan dari kegiatan  ijtihad (penggalian hukum sendiri) yang dilaksanakan  oleh beliau, akan namun  memang terdapat  interaksi dan mendengar langsung dari Rasulullah Saw. Karena proses nasakh (amandemen hukum) tidak dapat  dilakukan dengan ijtihad, tetapi  harus ada ajaran  langsung dari nas dari al quran dan Hadis. Sedangkan beberapa  besar  para ulama berasumsi  bahwa untuk  seorang ayah atau orang yang keharusan  memberikan nafkah disunahkan menyembelih KAMBING  aqiqah guna  bayi yang baru lahir. Karena ada suatu  riwayat dari Ibnu Abas:

كبشاكبشاالسالم عليهما احلسنيو احلسن عن عق

Artinya: Rasulullah telah mengerjakan  ibadah ritual aqiqah dengan menyembelih domba  untuk setiap  Hasan dan Husain a.s.

Dan sabda Rasulullah:

فيو ويسم سابعو يوم عنو تنبو بعقيقتو رىينة غالم كل اسور وحيلق

Artinya: “Setiap anak tersebut  digadaikan dengan aqiqahnya, yang disembelih untuknya pada hari ketujuh kelahiran, dengan memberikannya suatu  nama, dan memotong  rambut kepalanya”.

Serta sabda Rasulullah yang pun  menganjurkan Aqiqah ialah:

يفعل عنهفل اينسك حب فا لدو لو لدو من

Artinya: Barang siapa yang dikaruniai seorang anak, kemudian  ia menyenangi  untuk mem- baktikannya (mengAqiqahinya), maka hendaklah ia melakukaknnya.

Pendapat sejumlah  ulama bahwa hukum aqiqah ialah  sunnah muakkad. Aqiqah untuk  anak laki-laki dengan dua ekor kambing, sedangkan untuk  wanita dengan seekor kambing. Apabila mencukupkan diri dengan seekor kambing untuk  anak laki-laki, tersebut  juga diperbolehkan. Anjuran aqiqah ini menjadikan keharusan  ayah (yang menang- gung nafkan anak). Apabila saat  waktu dianjurkanya aqiqah (misalnya tujuh hari kelahiran), orang tua dalam suasana  fakir (tidak mampu), maka ia tidak diperintahkan guna  aqiqah.

Bagaimana Ulama yang mengharuskan  aqiqah?

para ulama yang me- wajibkan aqiqah, merupakan   Imam Al-Hasan Al- Basri, Al-Lits Ibnu Sa’ad dan lain-lain. Mereka berargumentasi dengan hadis yang diriwayatkan Muraidah dan Ishaq bin Ruhawiyah:

كماالعقيقة علي القيامة يوم يعرضون الناس ان اخلمس اتوالصل علي يعرضون

Artinya: sesungguhnya insan  pada hari kiamat nanti bakal  dimintai pertanggung- jawabnnya atas aqiqah, sebagaimana bakal  dimintai pertanggungjawabannya atas shalat-shalat lima waktu. Adapula pendapat yang tidak mengizinkan  bahwa Aqiqah tersebut  disyariatkan, mereka ialah  ahli fiqih Hanafiyah. Argument yang dikemukakan ialah  hadis yang diriwayat- kan Al-Baihaqi dari Amr bin Syuaib dari bapaknya dari kakeknya bahwa Rasulullah saw, ditanya mengenai  aqiqah, beliau men- jawab: .بعقيقتو هتنرم غالم كل Mereka pun  berargumentasi dengan hadis yang diriwaatkan oleh Imam Ahmad dari Abi Rafi’ ra, bahwa saat  ibu Al- Hasan bin Ali, Fatimah ra hendak  meng- akikahnya dengan dua biri-biri, Rasulullah saw bersabda:

من نوزبو فتصدقي ,اسور احلقي لكنو تعقي ال فصنعت ,حسني ولد مث لدو مث الفضة من اي ,الورق .ذالك مثل

Artinya: janganlah anda  mengaqiqahnya, namun  cukurlah rambut kepalannya dan bersedekahlah dengan perak sejumlah  berat timbangan rambutnya itu.

Kemu- dian lahirlah Husain dan ia mengerjakan  seperti itu. Kebanyakan berpengalaman  fiqih, ilmu dan ijtihad bahwa dzahir hadis-hadis yang telah dilafalkan  tadi menguatkan segi disunnah- kan dan dianjurkannya aqiqah. Pada dasarnya, mengaqiqakan anak itu ialah  sunnah dan dianjurkan. Ini menurut banyak sekali  Ulama dan Fuqaha.

kesimpulanya folosofi aqiqah bagaimana?

Diisyaratkan untuk  orang tua melakukannya, apabila  keadaan ekonomi memungkinkan dan dapat  menghidupkan sunnah Rasulullah saw ini, supaya  dapat mendapat   keutamaan dan pahala dari segi  Allah swt, guna  menguatkan rasa kasih sayang, kerinduan  dan mempererat tali ikatan sosial antara kaum kerabat dan keluarga

Tetangga dan sebagainya. Kehadiran dan kebersamaan dalam upacara Aqiqah, maka semua  keluarga dan hadirin/hadirat bisa  ikut menikmati  ke- bahagiaan atas kehadiran putra/putri yang didoakan guna  menjadi anak shaleh, generasi pelanjut untuk  keluarga, bangsa dan Negara. Disamping tersebut  dapat pula meng- implementasikan rasa sosial untuk  kaum lemah dengan adanya turut menik-mati daging aqiqah yang secara syar’i diutama- kan pembagiannya pada fakir kurang mampu  dan yatim piatu.

2. Dalil-dalil di Syariatkannya Udhiyah. Nabi Muhammad Saw. datang sedang warga  Madinah di masa Jahiliyah me- miliki dua hari raya yang mereka bersuka ria padanya (tahun baru dan hari pemuda/ aunul mabud), maka Rasulullah bersabda: Aku datang untuk  kalian, sedang kalian mempunyai  dua hari raya yang kalian bersuka ria di masa jahiliyah, lantas  Allah menggantikan guna  kalian dua hari raya yang lebih baik dari keduaanya; Hari idul Qurban dan hari idul Fitri (HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasai dan Baghawi,

Shahih, Lihat Ahkamul Ledain hal.8) Di samping  itu, pada hari Raya Qurban ada  ibadah yang besar pahalanya disisi Allah Subhanahu wataala, yaitu  Shalat ied dan penyembelihan KAMBING  Qurban. Adapun dalil-dalil disyariatkannya Udhiyah

bagaimana aturan menyembelih udhiyah (hewan Qurban) yang dilaksanakan  sesudah shalat ied?

(lihat Tafsir Ibnu Katsir 4:505 dan Al-Mughni 13:360). b) Dalil As-sunnah.Diriwayatkan dari Anas R.A berkata: Nabi SAW berquran dengan dua ekor kambing  jantan yang berwarna putih bercampur hitam dan bertanduk,beliau menyembelih dua-duanya  dengan tangannya sendiri seraya  mem- baca Basmalah dan bertakbir (HR. Bukhari dan Muslim) c) Dalil Ijma’. Pada lazimnya  kaum muslimin sepakat mengenai  disyari’atkan- nya (lihat Al-Mughni 13:360).

Disyari’atkannya menyembelih supaya  binatang jinak menjadi halal. Binatang darat yang boleh dimakan terdapat  dua jenis: Pertama, Jenis yang bisa  dikendalikan, seperti hewan  ternak meliputi: unta, sapi, kambing, hewan  dan bangsa burung yang diternak orang. Agar menjadi halal, oleh Islam disyaratkan me sti dengan sembelih yang Syar’i. Jenis yang kedua: Jenis hewan  liar dan tidak dapat  dikendalikan; jenis hewan  liar dan tidak bias dikendaalikan. Adapun hewan  darat, Al qur’an tidak melafalkan  pengharaman sesuatu- juga  darinya kecuali secara eksklusif  daging babi, bangkai dan darah, serta semua hewan  yabg disembelih tidak dengan nama Allah. Sebagaimana dilafalkan  dalam sejumlah  ayat dengan format  pem- batasan yang haram atas empat macam secara global dan sepuluh macam secara rinci.

Aqiqah ialah  adalah ibadah yang sehubungan  dengan kelahiran seorang bayi baik lai-laki maupun permpuan dengan jumlah kambing/biri-biri

AKHIR KATA

keluarga yang disyaratkan punya kemam- puan, dan ditentukan hari yang umumnya ialah  hari ketujuh, tetapi  masih ada  perbedaan pendapat antara diwajibkan, disunnahkan bahkan terdapat  yang memandang  tidak perlu,

tetapi  tulisan ini lebih mengarahkan untuk  sunnah muakkad Adapun udhiyah yang sehubungan  erat dengan masa-masa  10, 11, 12, dan 13 Dzulhijjah ialah  disyariatkan untuk  muslim-muslimah yang telah  punya keterampilan  baik yang seang mengemban  ibadah haji maupun yang tidak sedang berhaji dengan tetap mengekor  syarat dan ketentuannya secara syar’I, dan dagingnya dapat diserahkan  atau dinikmati oleh diri sendiri, family  dan fakir kurang mampu  serta yatin piatu,

yang salah kriteria  utam ialah  memotong KAMBING  dengan pisau yang tajam disertai Bismillah Baik Aqiqah maupun Udhiyah semuanya adalah ibadah pendekatan diri untuk  Allah dengan mengorbankan beberapa  dari harta yang dimiliknya dan adalah sunnah muakkad (mendekati wajib)

2. Bagaimana konsep Alqur’an, As-sunnah serta Ijma’ Ulama mengenai  tuntunan pengamalan  Aqiqah dan Udhiyah/ Qurban?

bagi kamu yang ingin tetap membaca secara utuh dan lengkap. silahkan mengunjungi laman dokumen penelitian berikut ini. terimakasih

filosofi aqiqah oleh dosen uin alaudin makasar

Hadits tentang aqiqah dan penjelasannya oleh ust. Abdul Shomad, ust Adi Hidayat dan Buya yahya.

Pedoman untuk yang sedang mencari hadits tentang aqiqah dan penjelasannya, dar ustad abdul shomad, buya yahya, ust adi hidayat. Mereka menjelaskan dengan detail mengenai hukum aqiqah, syarat aqiqah, dan semuanya yang membuat anda lebih yakin.. yuk mulai membaca..

hadis aqiqah dan penjelasanya oleh ustad abdul shomad
hadis aqiqah dan penjelasanya oleh ustad abdul shomad

Hadits tentang aqiqah dan penjelasannya, dari segi hukum.

Gimana hukum aqiqah dalam islam, apakah wajib atau sunnah? kenapa anak tergadaikan dengan aqiqahnya? apakah bila kita belum aqiqah itu dosa? atau apakah bila kita sebagai orangtua tidak mengakikahi anak kita tidak hendak masuk surga? itu merupakan pertanyaan- pertanyaan universal yang kerap ditemukan, serta berikut dibawah ini merupakan penjelasannya.

Apa itu aqiqah?

Sebelum lebih jauh mengenai hukum aqiqah, ayo kita tahu dahulu apa itu aqiqah. Akikah( bahasa Arab:عقيقة, transliterasi: Aqiqah) merupakan pengurbanan hewan dalam syariat Islam, bagaikan wujud rasa syukur umat Islam terhadap Allah SWT atas kelahiran anak yang baru saja lahir. Persyaratan jumlah kambing yang hendak di sembelih antara balita pria serta wanita pula berbeda, ialah 1 ekor kambing buat anak wanita serta 2 ekor kambing buat anak pria.

Hadits tentang aqiqah dan penjelasannya ( dari hadist shahih)

Ayo kita amati dahulu darimana aqiqah ini timbul, kita amati dari bermacam hadist yang shahih.

1. Hadits Riwayat Ahmad serta Imam 4 Hadits shahih bagi Tirmidzi.

كلغلاممرتهنبعقيقتهتذبحعنهيومسابعهويحلقويتصدقبوزنشعرهفضةأومايعادلهاويسمى

Maksudnya: Tiap anak tergadai dengan aqiqahnya, hingga pada hari ketujuh hewan disembelih, dicukur habis1 rambutnya, serta diberi nama

2. Hadits dalam sahih Bukhari

معالغلامعقيقهفأهريقواعنهدماوأميطواعنهالأذى

Maksudnya: Tiap anak bersama aqiqahnya, hingga sembelihlah hewan serta hilangkanlah kendala darinya

3. Hadits riwayat Abu Daud

أَنَّرَسُولَاَللَّهِصلىاللهعليهوسلمأَمْرَهُمْأَنْيُعَقَّعَنْاَلْغُلَامِشَاتَانِمُكَافِئَتَانِ,وَعَنْاَلْجَارِيَةِشَاةٌ

Maksudnya: Rasulullah Shallallaahu‘ alaihi wa Sallam memerintahkan mereka supaya beraqiqah 2 ekor kambing yang proporsional( usia serta besarnya) buat balita pria serta seekor kambing buat balita wanita.

وَزَنَتْفَاطِمَةُبِنْتُرَسُولِاللَّهِشَعَرَحَسَنٍوَحُسَيْنٍ،فَتَصَدَّقَتْبِزِنَتِهِفِضَّةً.

Maksudnya: Fatimah Binti Rasulullah SAW( sehabis melahirkan Hasan serta Husain) mencukur rambut Hasan serta Husain setelah itu dia bersedekah dengan perak seberat timbangan rambutnya.

4. Hadits riwayat Abu Daud serta Nasai

مَنْاَحَبَّمِنْكُمْاَنْيُنْسَكَعَنِوَلَدِهِفَلْيَفْعَلْعَنِالْغُلاَمِشاَتَاَنِمُكاَفأََتاَنِوَعَنِالْجاَرِيَةِشاَةٌ

Maksudnya: Benda siapa diantara kalangan mau beribadah tentang anaknya hendaklah dicoba aqiqah buat anak pria 2 ekor kambing yang sama usianya serta seekor kambing buat anak perempuan

5. Hadits riwayat Abu Daud

أَنَّاَلنَّبِيَّصلىاللهعليهوسلمعَقَّعَنْاَلْحَسَنِوَالْحُسَيْنِكَبْشًاكَبْشًا

Maksudnya: Nabi beraqiqah buat Hasan serta Husein tiap- tiap seekor kambing kibas

Ayat al- quran yang membahasa mengenai aqiqah

kemudian apakah alquran menarangkan mengenai aqiqah? TIDAK Terdapat SATU AYATPUN DALAM AL- QURAN YANG Menarangkan TENTANG AQIQAH.

Dengan tidak terdapatnya satupun ayat alquran yang mengharuskan kita buat melakukan aqiqah, kita mulai dapat mengambil kesimpulan kalau aqiqah bukanlah harus.

Tetapi kita tidak dapat begitusaja merumuskan suatu, oleh sebab itu kita wajib mencaritahu kepada orang yang berilmu serta mengerti betul mengenai perihal yang mau kita tanyakan, semacam apa yang dalam alquran jelaskan kalau:

يَاأَيُّهَاالَّذِينَآمَنُواإِنجَاءَكُمْفَاسِقٌبِنَبَإٍفَتَبَيَّنُواأَنتُصِيبُواقَوْمًابِجَهَالَةٍفَتُصْبِحُواعَلَىٰمَافَعَلْتُمْنَادِمِينَ

Maksudnya: Hai orang- orang yang beriman, bila tiba kepadamu orang fasik bawa sesuatu kabar, hingga periksalah dengan cermat supaya kalian tidak mengenai sesuatu bencana kepada sesuatu kalangan tanpa mengenali keadaannya yang menimbulkan kalian menyesal atas perbuatanmu itu

.( Pesan Al- Hujurat Ayat 6)

bagaimana pendapat Buya Yahya mengenai hukum aqiqah?

saya mau memperdalam menganai hukum aqiqah. ini pendapat penting buya yahya.

pendapat penting buya yahya.mengenai aqiqah

Siapa itu buya yahya?

Buya Yahyaadalah seseorang da” i yang dilahirkan di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, 10 Agustus 1973; usia 46 tahun) ia merupakan penjaga Lembaga Pengembangan Dawah serta Pondok Pesantren Al- Bahjah yang berpusat di Cirebon..

Buya Yahya mendirikan Lembaga Pengembangan Dawah serta Pondok Pesantren dengan nama Al- Bahjah yang pusatnya terletak di daerah Kabupaten Cirebon.

Al- Bahjah mempunyai sebagian kampus, kampus utama yang beralamat di Jalur Pangeran Cakra Buana Nomor. 179, Blok Gudang Air, Kelurahan Sendang, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, mulai dibentuk pada Juni 2008. Al- Bahjah mempunyai banyak unit usaha; terdapat minimarket AB Mart, Al- Bahjah Tour& Travel, Sekolah Dasar Islam Qur’ ani( SDIQu) Al- Bahjah, SMPIQU angkatan laut(AL) Bahjah, SMAIQu angkatan laut(AL) Bahjah, Angkatan laut(AL) Bahjah Televisi, Radio QU, Penerbit Pustaka Al- Bahjah serta masih banyak lagi. Bermacam unit usaha tersebut rata- rata digerakkan para santri, yang diucap Santri Khos, ataupun santri spesial. Santri Khos tidak hanya bergerak dalam bidang dakwah ataupun sosial, terdapat pula yang bertugas di dapur universal.

Pesantren ini kental dengan nuansa Nahdiyyin Walaupun begitu, pesantren ini bukan kepunyaan ormas Nahdlatul Ulama( NU)

Salah satu peraturan di Al- Bahjah, para santri diwajibkan berbahasa Arab dalam keseharian. Untuk santri baru, diberi waktu 3 bulan buat beradaptasi

Kemudian gimana pendapat ust Abdul Somad mengenai hukum aqiqah?

Siapa ustad abdul shomad??

Ustaz Profesor. H. Abdul Somad Batubara, Lc., D. E. S. A., Ph. D., Datuk Seri Ulama Setia Negeri ataupun lebih diketahui dengan Ustaz Abdul Somad( bahasa Arab:عبدالصمد‎, lahir di Silo Lama, Asahan, Sumatra Utara, 18 Mei 1977; usia 42 tahun)[1][4] merupakan seseorang pendakwah serta ulama Indonesia yang kerap membahas bermacam berbagai perkara agama, spesialnya kajian ilmu hadis serta Ilmu fikih. Tidak hanya itu, dia pula banyak mangulas mengenai nasionalisme serta bermacam permasalahan terbaru yang lagi jadi ulasan hangat di golongan warga. Namanya diketahui publik sebab Ilmu serta kelugasannya dalam membagikan uraian dalam mengantarkan dakwah yang ditayangkan lewat saluran YouTube. Ustaz Abdul Somad sempat bertugas bagaikan dosen di Universitas Islam Negara Sultan Syarif Kasim( UIN Suska) Riau semenjak tahun 2009 sampai mengundurkan diri pada tahun 2019

Kajian- kajiannya yang baik dalam merangkai kata jadi suatu retorika dakwah, membuat ceramah Ustaz Abdul Somad begitu gampang di cerna serta gampang dimengerti oleh bermacam golongan warga. Banyak dari ceramah Ustaz Abdul Somad yang membahas bermacam berbagai perkara agama.

Apa saja karya ustad abdul shomad untuk publik?

Ustaz Abdul Somad sudah menuliskan sebagian buku yang jadi best seller di golongan umat Islam, di antara lain:

  • • 37 Permasalahan Populer
  • • 99 Persoalan Seputar Sholat
  • • 33 Tanya Jawab Seputar Qurban

pendapat ust Adi Hidayat mengenai hukum aqiqah

Siapa sesungguhnya usatad ust Adi Hidayat?

Ustadz Adi Hidayat, Lc., MA.( lahir di Pandeglang, Banten, 11 September 1984; usia 35 tahun) merupakan seseorang Alim asal Indonesia yang bisa memahami isi kitab suci Alquran beserta letak barisnya. Tidak hanya itu, dia pula memahami ilmu hadist serta bermacam kitab agama beserta arti serta letaknya. Pada 2013, Ustaz Adi mendirikan Quantum Akhyar Institute serta 3 tahun selanjutnya dia mendirikan Akhyar Televisi bagaikan media dakwah utama. Dikala ini Ustaz Adi aktif jadi narasumber keagamaan baik ta’ lim, seminar, serta selebihnya. Dia pula aktif menulis serta sudah mempunyai sebagian karya dalam bahasa Arab serta Indonesia

Apa saja karya ust adi hidayat dalam agama islam?

Karya Tulis ust adi hidayat, Sebagian karya tulis Ustadz Adi HIdayat antara lain

  • • Minhatul Jalil Bita’ rifi Arudil Khalil( tahun 2010)
  • • Quantum Arabic Tata cara Akhyar( tahun 2011)
  • • Ma’ rifatul Insan: Pedoman Al- Qur’ an Mengarah Insan Paripurna( tahun 2012)
  • • Makna Ayat Puasa, Memahami Kedalaman Bahasa Al- Quran( tahun 2012)
  • • Al- Arabiyyah Lit Thullabil Jami’ iyyah( tahun 2012)
  • • Persoalan Hadist- hadist Terkenal( tahun 2013)
  • • Ilmu Hadist Instan( tahun 2013)
  • • Tuntunan Instan Idul Adha( tahun 2014)
  • • Pengantin As- Sunnah( tahun 2014)
  • • Buku Catatan Penuntut Ilmu( tahun 2015)
  • • Pedoman Instan Ilmu Hadist( tahun 2016)
  • • Manhaj Tahdzir Kelas Eksekutif( tahun 2017)
  • • Muslim Era Now( 2018)
  • Kemudian gimana Pemikiran ust Adi Hidayat mengenai hukum aqiqah?

baca juga yuk:

bagaimana pengertian hukum dan dalil aqiqah yang sebenarnya?

bagaimana pengertian hukum dan dalil aqiqah yang sebenarnya? dan bagimana tata cara pelaksanaan dari hukum tersebut, perlunya kita membedah cara yang biasa dilakukan dalam melakukan aqiqah sesuai dengan hukum dan dalil aqiqah yang sudah dikenal umum. mulai membaca dengan cermat ya.

aqiqah anak, manfaat aqiqah

Bagaimana Hukum Aqiqah sebenarnya?

Para ulama berselisih pendapat mengenai  hukumnya. Sebagian terdapat  yang mewajibkannya namun beberapa  besar  mengatakan sunnah.

Siapa Pihak yang Mewajibkan Aqiqah?

Syaikh Abdul ‘Azhim Al Badawi Rahimahullah dalam buku  Al-Wajiiz mengaku  bahwa ‘aqiqah ialah  suatu keharusan  atas orangtua.

Dari Salman bin Amir adh-Dhabby Radhiyallahu’anhu, ia bertutur:

“Saya pernah mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,”Bersama seorang anak tersebut  ada ‘aqiqahnya. Karena tersebut  alirkanlah darah untuknya dan singkirkanlah gangguan darinya.” (Shahih Ibnu Majah no:2562u Fathul Bari IX: 590 no 5472,‘Aunul Ma’bud VIII:41 no:2822u Tirmidzi III: 35 no:1551 dan Nasa’i VII:164)

Siapa Pihak yang Menyatakan Aqiqah tersebut  Sunnah?

Syaikh Utsaimin Rahimahullah : ‘Aqiqah ialah  sunnah muakkadah (sunnah yg amat dianjurkan). Untuk  orang yg tidak dapat  melakukannya maka gugur keharusan  (sunnah) ini darinya.

Imam Ahmad Rahimahullah berbicara  ‘Aqiqah adalah sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau sudah  melakukannya guna  Hasan dan Hushain. Para kawan  beliau pun  melakukannya. Dan Dari Hasan bin Samurah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

“Semua anak yg bermunculan  tergadaikan dengan ‘aqiqahnya.” (HR Abu Dawud, At Tirmidzi dan An Nasa’i).

Sehingga tidak patut, andai  seorang bapak tidak mengerjakan  ‘aqiqah guna  anaknya. (Al Muntaqa Min Fatawa Syaikh Shalih Fauzan (3/194)).

bagaimana hukum dan dalil aqiqah dalam hadis nabi?

Berikut sejumlah  dalil yang berhubungan  dengan hukum mengerjakan  aqiqah menurut ajaran  Islam, Antara lain:

Dari Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy berbicara  jika Rasulullah bersabda, “Aqiqah dilakukan  karena kelahiran bayi, maka sembelihlah fauna  dan hilangkanlah seluruh  gangguan darinya.” [Shahih Hadits Riwayat Bukhari (5472), guna  lebih lengkapnya lihat Fathul Bari (9/590-592), dan Irwaul Ghalil (1171), Syaikh Albani].

Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy

Dari Samurah bin Jundab berbicara  jika Rasulullah bersabda, ““Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya di sembelih fauna  (kambing), diberi nama dan dipotong  rambutnya.” [Shahih, Hadits Riwayat Abu Dawud 2838, Tirmidzi 1552, Nasa’I 7/166, Ibnu Majah 3165, Ahmad 5/7-8, 17-18, 22, Ad Darimi 2/81, dan lain-lainnya].

Samurah bin Jundab

Aisyah berbicara  jika Rasulullah bersabda, “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua domba  yang sama dan bayi wanita  satu kambing.” [Shahih, Hadits Riwayat Ahmad (2/31, 158, 251), Tirmidzi (1513), Ibnu Majah (3163), dengan sanad hasan].

Aisyah

Ibnu Abbas berbicara  jika Rasulullah bersabda, “Menaqiqahi Hasan dan Husain dengan satu domba  dan satu kambing.” [HR Abu Dawud (2841) Ibnu Jarud dalam buku  al-Muntaqa (912) Thabrani (11/316) dengan sanadnya shahih. Sebagaimana disebutkan  oleh Ibnu Daqiqiel ‘Ied].

Ibnu Abbas

‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya berbicara  jika Rasulullah bersabda, “Barangsiapa diantara kalian yang hendak  menyembelih (kambing) sebab  kelahiran bayi maka hendaklah ia kerjakan  untuk laki-laki dua domba  yang sama dan untuk wanita  satu kambing.” [Sanadnya Hasan, Hadits Riwayat Abu Dawud (2843), Nasa’I (7/162-163), Ahmad (2286, 3176) dan Abdur Razaq (4/330), dan shahihkan oleh al-Hakim (4/238)].

‘Amr bin Syu’aib

Fatimah binti Muhammad berbicara  saat mencetuskan  Hasan andai  Rasulullah bersabda, “Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan perak untuk  orang kurang mampu  seberat timbangan rambutnya.” [Sanadnya Hasan, Hadits Riwayat Ahmad (6/390), Thabrani dalam “Mu’jamul Kabir” 1/121/2, dan al-Baihaqi (9/304) dari Syuraiq dari Abdillah bin Muhammad bin Uqoil].

Fatimah binti Muhammad

bagaimana hukum dan dalil aqiqah dalam Pelaksanaan Aqiqah?

Berikut sejumlah  hukum yang dibuntuti  dengan bimbingan  dalam mengemban  aqiqah, yaitu:

Aqiqah Merupakan Syairat Islam

Aqiqah ialah  satu yang telah  disyariatkan di dalam agama Islam dan sejumlah  dalil yang menuliskan   diantaranya ialah  hadits Rasulullah saw yang berbicara  “setiap anak tertuntut dengan aqiqahnya”.

Berapa Jumlah Hewan Sembelihan untuk  aqiqah?

Hadits lainnya menuliskan   jika, “Anak laki-laki (Aqiqah-nya dengan 2 kambing) sedang anak wanita  (Aqiqah-nya) dengan 1 ekor kambing”.

Status hukum aqiqah adalah sunnah dan urusan  ini cocok  dengan pandangan dari banyak sekali  ulama laksana  contohnya Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad yang didasari dengan sejumlah  dalil diatas.

Para ulama tidak menuliskan   wajib dengan menciptakan  penyataan andai  seandainya aqiqah ialah  wajib, maka keharusan  ini menjadi urusan  yang telah  diketahui oleh agama dan Rasulullah pun  pastinya telah  memberikan penjelasan  tentang keharusan  itu.

Ada sejumlah  ulama laksana  Imam Laits serta Imam Al-Bashri yang mengungkapkan pendapat andai  hukum dari aqiqah adalah wajib menurut  dari 1 hadits yaitu  “Kullu ghulamin murtahanun bi ‘aqiqatihi’” yang berarti masing-masing  anak tertuntut dengan aqiqah.

Apa saja kriteria  dari domba  yang diizinkan  untuk aqiqah?

Tidak Mematahkan Tulang Sembelihan

Saat menyembelih, ada urusan  yang me sti diacuhkan  yakni tidak mematahkan tulang dari sembelihan dengan hikmah yang terkandung ialah  tafa’ul atau bercita-cita   akan keselamatan tubuh serta anggota badan dari anak tersebut.

Hewan Sembelihan Tidak Boleh Cacat

Aqiqah yang sah ialah  jika sudah mengisi  syarat dari fauna  qurban yaitu  tidak cacat dan pun  sudah masuk ke umur  yang telah  disyaratkan dalam Islam. Aqiqah ialah  menyembelih di hari ke-7 semenjak  kelahiran bayi yang dimaksudkan guna  bersyukur pada Allah.

Akan namun  di samping  kambing, sapi atau unta juga diizinkan  dengan kriteria  melulu  1 unta atau 1 sapi guna  1 orang anak saja, tetapi  sebagian ulama berasumsi  jika aqiqah yang diizinkan  hanya memakai domba  saja karena  sesuai dengan alasan  Rasulullah saw.

Bagaimana Syarat dan hukum Aqiqah Anak Laki-Laki dan Perempuan

Apa saja yang menjadi kriteria  aqiqah anak laki-laki dan perempuan? Syarat dan peraturan  tersebut diantaranya yaitu, masa-masa  aqiqah, fauna  aqiqah (umur, jenis kelamin jantan atau betina pun  kondisi fisik).

baca juga yuk.

Syarat Aqiqah Anak Laki-Laki dan Perempuan dalam Hadist

Sebelumnya, perlu anda  ketahui bahwa aqiqah tersebut  didefinisikan sebagai “memotong”, sebab  dalam proses aqiqah anak ini ialah  memotong/menyembelih hewan. Aqiqah merupakan format  ucapan rasa syukur umat islam untuk  Allah atas bayi yang dicetuskan  dengan kriteria -syarat tertentu menurut  keterangan dari  syariat doktrin  Islam.

Syarat aqiqah anak laki-laki dan wanita  dalam hadist sahih yang berkata  mengenai masa-masa  pelaksanaan aqiqah guna  anak atau bayi yang baru lahir ialah  sebagai berikut:

Dari Samurah bin Jundub dia berkata: Rasulullah SAW. bersabda: “Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih fauna  (kambing), diberi nama dan dipotong  rambutnya.”

[HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad]

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW pernah ber aqiqah guna  Hasan dan Husain pada hari ke-7 dari kelahirannya, beliau memberi nama dan menyuruh  supaya dihilangkan dari kotoran dari kepalanya (dicukur).

[HR. Hakim, dalam Al-Mustadrak Juz 4, Hal. 264]

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata: Rasulullah bersabda: “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua domba  yang sama dan bayi wanita  satu kambing“.

[HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah]

Penyembelihan hewan sehubungan  dengan kelahiran anak atau aqiqah cocok  dengan hadist itu  disyariatkan untuk dilaksanakan  pada hari ketujuh kelahiran anak.

Hukum aqiqah guna  orang tua yang baru mencetuskan  anaknya ialah  sunnah muakad, walaupun demikian, kriteria  dan peraturan  aqiqah menjadi bagian urgen  dalam syariat Islam.

Kapan Waktu Pelaksanaan Aqiqah?

Setelah sebelumnya diuraikan tentang  hadist sahih mengenai  aqiqah anak laki-laki dan anak perempuan, cocok  riwayat hadist di atas maka pengamalan  aqiqah yang sangat  sesuai dengan syariat ialah  pada hari ke-7 semenjak  kelahiran bayi.

Namun andai  belum dapat  pada hari ke-7 tersebut, beberapa  ulama mengizinkan  untuk pelaksanaannya di hari ke-14 (dua minggu sesudah  bayi lahir). Bila di hari ke-14 masih belum dapat  juga, maka pelaksanaannya dapat  di hari ke-21.

Dari Abu Buraidah RA: “Aqiqah tersebut  disembelih pada hari ketujuh, atau keempat belas, atau kedua puluh satunya.”

[HR. Baihaqi dan Thabrani]

Apakah boleh Aqiqah dengan hewan selain Kambing

Ada perbedaan pendapat tentang  beraqiqah dengan selain kambing:

  • 1. Jumhur ulama memperbolehkannya
  • 2. Sebagian ulama tidak memperbolehkannya, bahkan mereka mengaku  tidak sah aqiqah selain dari jenis domba  atau domba.

“Dan الشاة (kambing) –dalam bahasa arab- merangkum  jantan dan betina, baik dari jenis المعز (kambing yang berambut) ataupun jenis الضأن (domba/kambing yang berbulu tebal).

Berkata Al-‘Iraqy rahimahullahu (wafat tahun 806 H):

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih saat  aqiqah kedua cucunya memilih yang sangat  sempurna, yaitu kambing  jantan, dan ini bukan pengkhususan, maka boleh dalam aqiqah menyembelih domba  betina meskipun dari jenis المعز, sebagaimana urusan  ini diperlihatkan  oleh kemutlakan lafadz الشاة dalam hadist-hadist yang lain.”

(Tharhu At-Tatsrib, Al-‘Iraqy 5/208)

Bagaimana Tata Cara Pemotongan Kambing Aqiqah

Untuk yang menyembelih fauna  aqiqah pun  perlu menyimak  syarat dan rukun penyembelihan yang cocok  dengan syariat Islam. Berikut ini ialah  hal berhubungan  menyembelih fauna  aqiqah:

  • 1. Niatkan menyembelih fauna  aqiqah sebagai format  Ibadah untuk  Allah.
  • 2. Memperlakukan fauna  aqiqah dengan sebaik-baiknya.
  • 3. Pisau yang dipakai  untuk menyembelih me sti tajam.
  • 4. Jauhkan pandangan domba  ketika sedang mengasah  pisau.
  • 5. Menggiring domba  ke lokasi  penyembelihan dengan teknik  yang baik.
  • 6. Hewan sembelihan direbahkan.
  • 7. Posisikan dengan baik unsur  tubuh yang bakal  disembelih.
  • 8. Hewan aqiqah dihadapkan ke arah kiblat saat  akan disembelih.
  • 9. Meletakkan telapak kaki di leher sembelihan.
  • 10. Mengucap Bismilah.
  • 11. Tidak diperkenankan memakai  tulang dan kuku sebagai perangkat  penyembelih.

Bagaimana aturan dalam Pembagian Daging Aqiqah

Untuk pembagian daging aqiqah ini bertolak belakang  dengan pembagian daging kurban yang biasa diberikan  pada Idul Adha dalam situasi  mentah. Sebaliknya, pada daging fauna  aqiqah diberikan  dalam situasi  telah dimasak dan matang.

Daging yang telah diubah  tersebut dapat diberikan  kepada fakir miskin, tetangga, kerabat, atau sanak saudara lainnya. Bagi  keluarga, menurut  keterangan dari  ulama jumlah maksimla daging yang dapat  diambil ialah  sepertiganya.

Mengenai pembagian daging aqiqah, Ibnu Al-Qayyim berkata:

Membagikan daging aqiqah dalam suasana  matang ialah  lebih baik sebab  dengan memasaknya berarti ia sudah  menanggung ongkos  memasak untuk  orang kurang mampu  dan semua  tetangga. Dan ini adalah nilai tambah tersendiri dalam melakukan  kebaikan dan dalam mensyukuri nikmat ini (kelahiran anak).

Dengan demikian semua  tetangga dan orang-orang kurang mampu  dapat menikmatinya dengan tenang tanpa memikirkan bagaimana memasaknya. Di samping  itu , barangsiapa yang diberi daging yang matang siap guna  dimakan maka kebahagiaan dan kegembiraan orang itu  akan lebih sempurna dari pada ia melulu  menerima daging mentah yang memerlukan ongkos  dan tenaga guna  memasaknya.

baca juga yuk

Ketentuan Hukum Aqiqah Dalam Islam

Ketentuan hukum Aqiqah dalam ajaran islam berdasarkan sumber hadits dari  Rasulullah SAW. Berarti Aqiqah bernilai ibadah karena mengikuti sunnah yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, oleh sebab itu hukum Aqiqah sunnah muakkad. Sangat dianjurkan bagi orang tua muslim yang memiliki anak baru lahir untuk melaksanakan aqiqah menyembelih kambing.

Ketentuan Hukum Aqiqah Dalam Islam

Ketentuan Hukum Aqiqah Dalam Islam

Baca Juga: Paket Aqiqah enak syar’i di Jogja

Ketentuan adab Aqiqah

Pertama, Aqiqah dianjurkan dilaksanakan di hari ke-7, 14 atau 21. Hal ini berdasarkan hadits dari Abu Buraidah r.a: “Aqiqah itu disembelih pada hari ke tujuh, atau ke empat belas, atau ke dua puluh satunya”.(HR.Baihaqi dan Thabrani)

Kedua, Jumlah hewan untuk Aqiqah. walaupun laki-laki dan peremapuan merupakan mahluk ciptaan Allah SWT, namun terdapat perbedaan aturan tentang pelaksanaan aqiqah. Ketentuan Hukum Aqiqah dalam islam ialah jika yang lahir adalah bayi laki-laki maka jumlah hewan kambing yang disembelih adalah dua ekor, sedangkan untuk bayi perempuan hanya menyembelih satu ekor kambing. Sumber berdasarkan hadits dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayanya, dari kakeknya, Rasulullah SAW bersabda:“Barang siapa diantara kalian yang ingin menyembelih (Kambing) karena kelahiran bayi maka hendaklah ia lakukan untuk laki-laki dua kambing yang sama dan untuk perempuan satu kambing”.(HR. Abu Dawud, Nasa’i, Ahmad)

Ketiga, Jenis Hewan Aqiqah Yang Disembelih. Ketentuan hewan yang disembelih untuk Aqiqah adalah kambing atau domba tidak memandang kambing jantan ataupun betina boleh disembelih sebagai hewan aqiqah. Berdasarkan hadits, dari Aisyah ra berkata, yang artinya:“Nabi SAW memerintahkan mereka agar disembelihkan aqiqah dari anak laki-laki dua ekor domba yang sepadan dan dari anak perempuan satu ekor.” (HR. At Tirmidzi)

Keempat, Disunnahkan mencukur rambut bayi. Saat pelaksanaan aqiqah dianjurkan untuk mencukur rambut bayinya dan diberi nama. Alhamdulillah masyarakat muslim di Indonesia sudah banyak melakukan tata cara aqiqah ini. Sebaiknya memberi nama yang terbaik kepada anaknya dan mencukur rambut bayi merupakan hal yang sunah agar tumbuh menjadi orang yang sholeh atau sholehah.

Kelima, Kambing yang disembelih dibagikan setelah dimasak. Daging kambing sembelihan hewan aqiqah beda dengan hewan qurban pada saat hari idul adha, dimana daging qurban dibagikan saat daging masih mentah, sedangkan daging hewan aqiqah sebaiknya dimasak dan dibagikan dalam keadaan matang. Daging yang telah masak diberikan kepada mereka yang berhak dan yang memiliki hubungan kerabat dan tetangga. Berdasarkan hadits: “Sunnahnya dua ekor kambing untuk anak laki-laki dan satu ekor kambing untuk anak perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. lalu dimakan (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ke tujuh”. (HR.Al-Baihaqi)

Baca juga: Kambing Guling murah Jogja

Demikian artikel Ketentuan Hukum Aqiqah menurut Islam, semoga bermanfaat.