syarat dan waktu aqiqah, kajian fiqih

syarat dan waktu aqiqah, pembahasan lengkap mengenai kriteria  aqiqah baik laki-laki ataupun perempuan. Syarat dan peraturan  tersebut diantaranya yaitu, masa-masa  aqiqah,  hewan.  aqiqah (umur, jenis kelamin jantan atau betina pun  kondisi fisik) dan kapan waktu aqiqah yang terlengkap

syarat dan waktu aqiqah dalam kajian fiqih islam
syarat dan waktu aqiqah dalam kajian fiqih islam

Bagaimana Syarat Aqiqah Anak Laki-Laki dan Perempuan?

Syarat-syarat aqiqah untuk anak laki-laki dan anak perempuan harus cocok  dengan peraturan  syariat menurut peraturan  islam. Hal itu  mempunyai  tujuan agar  ibadah aqiqah anda  diterima oleh Allah. Terlebih lagi, aqiqah ialah  salah satu ibadah yang pelaksanaannya sekali seumur hidup.

Syarat Aqiqah Anak Laki-Laki dan Perempuan dalam Hadist

Syarat aqiqah anak laki-laki dan perempuan dalam hadist sahih yang berkata  mengenai masa-masa  pelaksanaan aqiqah untuk anak atau bayi yang baru lahir ialah  sebagai berikut:

Dari Samurah bin Jundub dia berkata: Rasulullah SAW. bersabda:

“Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih  hewan.  (kambing), diberi nama dan dipotong  rambutnya.”

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW pernah ber aqiqah guna  Hasan dan Husain pada hari ke-7 dari kelahirannya, beliau memberi nama dan menyuruh  supaya dihilangkan dari kotoran dari kepalanya (dicukur).

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata: Rasulullah bersabda: “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua domba  yang sama dan bayi wanita  satu kambing“.

[HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah]

Penyembelihan hewan sehubungan  dengan kelahiran anak atau aqiqah cocok  dengan hadist itu  disyariatkan untuk dilaksanakan  pada hari ketujuh kelahiran anak.

Hukum aqiqah guna  orang tua yang baru melahirkan  anaknya ialah  sunnah muakad, walaupun demikian, kriteria  dan peraturan  aqiqah menjadi bagian penting dalam syariat Islam.

bagaimana Syarat Ketentuan Pemotongan Rambut Bayi dan Pemberian Nama?

Sesuai sunnah, memotong  rambut bayi dilaksanakan  di hari ketujuh atau semingggu sesudah  kelahiran bayi. Berdasarkan hadis dari Salman bin Amir Ad-Dhabbi radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْغُلَامُ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ يُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ وَيُسَمَّى وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ

“Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, disembelih di hari ketujuh, diberi nama, dan dipotong  kepalanya.“

[HR. Nasa’i 4149, Abu Daud 2837, Tirmidzi 1522, dan dishahihkan Al-Albani]

Mayoritas ulama, yakni  malikiyah, Syafiiyah, dan Hambali, berasumsi  bahwa disarankan  mencukur kepala bayi pada hari ketujuh, dan bersedekah seberat rambut berupa emas atau perak menurut  keterangan dari  Malikiyah dan Syafiiyah, dan berupa perak saja menurut  keterangan dari  hambali. Jika tidak dipotong  maka beratnya dikira-kira beratnya, dan sedekah dengan perak seberat itu. Mencukur rambut dilaksanakan  setelah menyembelih aqiqah.

Jumlah dan Jenis Kelamin (Jantan atau Betina)

Sudah jelas bahwa guna  jumlah  hewan.  yang dipakai  untuk aqiqah ialah  dua ekor domba  untuk anak laki-laki, sementara  untuk anak perempuan ialah  satu ekor kambing.

Meskipun anak laki-laki dan anak wanita  sama-sama mahkluk ciptaan Allah, namun, terdapat  perbedaan tentang  jumlah  hewan.  yang dipakai  untuk aqiqah.

Hal itu  senada dengan hukum waris, dimana anak laki-laki berhak mewarisi harta orang tuanya dua bagian, sementara  anak wanita  satu bagian.

Mengenai jenis kelamin  hewan.  (jantan atau betina), bahwa tidak disyariatkan dalam domba  aqiqah me sti jantan atau betina. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عن الغلام شاتان وعن الجارية شاة لايضركم أذكرانا كن أم إناثا

“Untuk anak laki-laki dua kambing, dan guna  anak wanita  satu kambing, dan tidak memudharati kalian apakah kambing-kambing itu  jantan atau betina.”

[HR. Ashhabus Sunan, dan dishahihkan Syeikh Al-Albany

Pendapat mengenai waktu aqiqah.

pengamalan  aqiqah tepat sesudah  bayi didilahirkan  dan tidak me sti menantikan  sampai hari ke-7. itu menurut  Sya fiiyah dan Hanabilah. Tapi mereka tidak membolehkan sebelum bayi dilahirkan. Maka, andai  penyembelihan dilaksanakan  sebelum kelahiran bayi, dirasakan  sebagai sembelihan biasa dan bukan aqiqah. Hal ini didasari atas suatu karena  yaitu kelahiran. Maka andai  bayi telah  terlahir aqiqah boleh dilaksanakan.

Sedangkan pendapat yang terakhir  baru membolehkan pengamalan  aqiqah pada hari ke-7 pasca kelahiran. itu menurut Hanafiyah dan Malikiyah. Dan aqiqah tidak sah (dianggap sembelihan biasa) bila  dilakukan  sebelumnya.

Kapan waktu aqiqah ditentukan dan apakah ada batasanya?

1. waktu aqiqah Hari ke-7

Kalangan Malikiyah berasumsi  bahwa masa-masa  aqiqah melulu  sampai hari ke-7 pasca kelahiran. Jika hari ke-7 sudah selesai  maka ibadah aqiqah telah  tidak lagi berlaku.

2. Aqiqah Sampai anak umur  baligh

Sedangkan Syafi’iyah, mereka membolehkan untuk  orang tua melasanakan aqiqah anaknya sampai  dia masuk umur  baligh. Ini yang mustahabb. Maka saat  telah masuk umur  baligh, orang tua bukan lagi  terbebani ibadah ini. Akan namun  anak itulah yang akan mengemban  aqiqahnya sendiri andai  mampu. Demikian yang diriwayatkan dalam suatu  hadits, bahwa Rasulallah meng-aqiqahi dirinya sendiri saat  beliau telah  menjadi nabi.

Al-Imam an-Nawawi di dalam kitabnya Syarhu al-Muhadzab, mengatakan andai  hadits mengenai  aqiqahnya Nabi guna  dirinya sendiri tersebut  adalah hadits bathil.

Batasan waktu aqiqah menurut ulama madzhab?

Para ulama bertolak belakang  pandangan tentang  batas akhir waktu guna  aqiqah. Sebagai muslim, tentu susah  untuk dapat  memahami batasan peraturan  waktu guna  aqiqah.

Maka dari tersebut  mari anda  simak pandangan-pandangan semua  ulama jumhur di bawah ini:

  1. Syafi’iyah dan Hambali

Beberapa pandangan ulama madzhab Syafi’iyah dan Hambali mengenai  waktu aqiqah yaitu dibuka  dari kelahiran sang bayi. Mereka berasumsi  bahwa hukumnya tersebut  tidak sah bilamana  aqiqah dilakukan  sebelum bayi lahir. Memotong kambing  sebelum bayi bermunculan  maka dirasakan  sebagai sembelihan biasa.

Ulama dari kalangan Syafi’iyah berasumsi  bahwa masa-masa  aqiqah dapat  diperpanjang. Meski begitu, kerjakan  aqiqah sebelum anak baligh (dewasa). Karena bila   baligh belum pun  diaqiqahi, maka aqiqahnya telah  gugur.

Orang yang baligh boleh mengaqiqahi diri sendiri. Karena Ulama Syafi’iyah berpandangan bahwa aqiqah tersebut  kewajiban sang ayah.

Sementara semua  ulama kalangan Hambali berpandangan bahwa andai  aqiqah tidak bisa  hari ke-7, maka disunnahkan dan boleh hari ke-14, hari ke-21 dan seterusnya.

2. Hanafiyah dan Malikiyah

Sementara tersebut  para ulama madzhab Hanafiyah dan Malikiyah berpandangan bahwa masa-masa  aqiqah sangat  sunnah ialah  pada hari ketujuh dan jangan  sebelumnya.

Ulama Malikiyah pun memberi batas  bahwa masa-masa  aqiqah sesudah  hari ke-7 dirasakan  sudah gugur.

3. Ulama Indonesia

Mayoritas Ulama di Indonesia bermadzab Imam Syafi’i, baik Muhammadiyah maupun NU (Nahdhatul Ulama). Karenanya, tidak sedikit  tidak heran bila   masyarakat anda  merayakan syukuran aqiqah sesudah  sesudah dewasa. Alasannya sebab  waktu kecil belum aqiqah.

kapan waktu aqiqah untuk Anak, agar bisa mengaqiqahi dirinya sendiri?

Ulama yang membolehkan untuk  anak guna  meng-aqiqahi dirinya sendiri andai  mampu dengan keumuman hadits,

كُلُّ غُلَامٍ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ، تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ، وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ، وَيُسَمَّى

Artinya: “Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, maka disembelihkan kambing  untuknya pada hari ke-7, dipotong  rambutnya, dan diberi nama”

(HR.Ibn Majah)

Kata tergadai (مُرْتَهَنٌ) berarti me sti dilakukan  dan dibayar  kapan juga  dan oleh siapapun. Jika masih hari ke-7 atau sebelum baligh, maka menjadi tanggungan orang tua. Namun andai  sudah lewat, maka boleh dilakukan  oleh siapapun temasuk oleh anak tersebut  sendiri, andai  dia mampu. Kata ‘boleh’ dalam urusan  ini bukan berati sunnah.

kapan Waktu aqiqah yang baik untuk dilaksanakan?

Sebagaimana pendapat di atas, Sementara tersebut  menyimak ulasan  dari Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal dari Rumaysho menyerahkan  rekomendasi bahwa usahakan  aqiqah dilakukan  tepat hari ke-7.

Beliau beralasan, “lebih baik berpegang dengan masa-masa  aqiqah yang disepakati oleh semua  ulama yakni  hari ke tujuh”.

Adapun mengenai  waktu aqiqahan di hari ke-14, 21 dan seterusnya semacam ini har us terdapat  dalilnya.

Aqiqah disunnahkan dilakukan  pada hari ketujuh. Hal ini menurut  hadits,

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى »

Dari Samuroh bin Jundub, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, digundul rambutnya dan diberi nama.”

(HR. Abu Daud no. 2838, An Nasai no. 4220, Ibnu Majah nol. 3165, Ahmad 5/12. Syaikh Al Albani menuliskan   bahwa hadits ini shahih)

Apa hikmah aqiqah dilakukan  pada hari ketujuh?

Murid Asy Syaukani, Shidiq Hasan Khon rahimahullah menerangkan, “Sudah semestinya terdapat  selang masa-masa  antara kelahiran dan masa-masa  aqiqah. Pada mula  kelahiran pasti  saja family  disibukkan guna  merawat si ibu dan bayi. Sehingga saat  itu, janganlah mereka diberi beban  lagi dengan kegiatan  yang lain. Dan pasti  ketika tersebut  mencari domba  juga perlu  usaha. Seandainya aqiqah disyariatkan di hari kesatu  kelahiran sungguh ini paling  menyulitkan. Hari ketujuhlah hari yang lumayan  lapang guna  pelaksanaan aqiqah.”

dimulai dari kapan penghitungan waktu aqiqah?

Disebutkan dalam Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah,

وذهب جمهور الفقهاء إلى أنّ يوم الولادة يحسب من السّبعة ، ولا تحسب اللّيلة إن ولد ليلاً ، بل يحسب اليوم الّذي يليها

“Mayoritas ulama pakar fiqih berpandangan bahwa masa-masa  siang[2] pada hari kelahiran ialah  awal hitungan tujuh hari. Sedangkan masa-masa  malam[3] tidaklah jadi hitungan andai  bayi tersebut didilahirkan  malam, tetapi  yang jadi hitungan hari berikutnya.”[4] Barangkali yang dijadikan dalil ialah  hadits inilah  ini,

تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ

“Disembelih baginya pada hari ketujuh.” Hari yang dimaksudkan ialah  siang hari.

Misalnya terdapat  bayi yang bermunculan  pada hari Senin (21/06), pukul enam pagi, maka hitungan hari ketujuh telah  mulai dihitung pada hari Senin. Sehingga aqiqah bayi tersebut dilakukan  pada hari Ahad (27/06).

Jika bayi itu  lahir pada hari Senin (21/06), pukul enam sore, maka hitungan tadinya  tidak dibuka  dari hari Senin, tetapi  dari hari Selasa keesokan harinya. Sehingga aqiqah bayi itu  pada hari Senin (28/06). Semoga dapat  memahami misal  yang diserahkan  ini.

Cara menghitung waktu aqiqah atau hari aqiqah anak.

Anda dapat  menghitung masa-masa  aqiqah semenjak  bayi dilahirkan. Gunakanlah perhitungan kalender hijriah.

Contohnya andai  ada bayi bermunculan  pada hari Rabu pukul enam pagi (06.00 WIB), maka hitungan hari ketujuh sudah semenjak  hari Rabu tersebut. Maka pengamalan  aqiqah bayi itu  yaitu hari Selasa.

Contoh lainnya andai  bayi bermunculan  hari Rabu pukul enam senja  (18.00 WIB), maka hitungannya bukan Rabu, namun  masuk hari Kamis keesokan harinya. Pelaksanaan aqiqah bayi tersebut ialah  pada hari Rabu.

تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ

“Disembelih baginya pada hari ketujuh.” Hari yang dimaksudkan ialah  siang hari.

Adanya jangka masa-masa  aqiqah dari sesudah  kelahiran bahwasannya  berisi  hikmah. Pada ketika  bayi baru lahir, keluarga tentu  disibukkan dengan pengurusan bayi pun  ibunya. Maka dari tersebut  perlu ada masa-masa  persiapan sebelum syukuran aqiqah dan ini menjadi keutamaan dan ibrah masa-masa  aqiqah.

Bagaimana andai  waktu aqiqah tidak dapat  dilaksanakan pada hari ketujuh?

Dalam masalah ini ada  silang pendapat salah satu  para ulama. Berdasarkan keterangan dari  ulama Syafi’iyah dan Hambali, masa-masa  aqiqah dibuka  dari kelahiran. Tidak sah aqiqah sebelumnya dan cuma dirasakan  sembelihan biasa.

Berdasarkan keterangan dari  ulama Hanafiyah dan Malikiyah, masa-masa  aqiqah ialah  pada hari ketujuh dan jangan  sebelumnya.

Ulama Malikiyah pun memberi batas  bahwa aqiqah telah  gugur sesudah  hari ketujuh. Sedangkan ulama Syafi’iyah membolehkan aqiqah sebelum umur  baligh, dan ini menjadi keharusan  sang ayah.

Sedangkan ulama Hambali berasumsi  bahwa andai  aqiqah tidak dilakukan  pada hari ketujuh, maka disunnahkan dilakukan  pada hari keempatbelas. Jika tidak sempat lagi pada hari tersebut, boleh dilakukan  pada hari keduapuluh satu. Sebagaimana urusan  ini diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Adapun ulama Syafi’iyah berasumsi  bahwa aqiqah tidaklah dirasakan  luput andai  diakhirkan waktunya. Akan tetapi, disarankan  aqiqah tidaklah diakhirkan sampai  usia baligh. Jika sudah  baligh belum pun  diaqiqahi, maka aqiqahnya tersebut  gugur dan si anak boleh memilih guna  mengaqiqahi dirinya sendiri.

bagaimana kesimpulanya?

Dari perbedaan pendapat di atas, pengarang  sarankan supaya  aqiqah dilakukan  pada hari ketujuh, tidak sebelum atau sesudahnya. Lebih baik berpegang dengan masa-masa  yang disepakati oleh semua  ulama.

Adapun menyatakan dipindahkan  pada hari ke-14, 21 dan seterusnya, maka penentuan tanggal semacam ini me sti perlu  dalil.

Sedangkan mengaku  bahwa aqiqah boleh dilaksanakan  oleh anak tersebut  sendiri saat  ia telah  dewasa sedang ia belum diaqiqahi, maka andai  ini berdalil dengan tindakan  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disebutkan  mengaqiqahi dirinya saat  dewasa, tidaklah tepat. Alasannya, sebab  riwayat yang melafalkan  semacam ini lemah dari masing-masing  jalan. Imam Asy Syafi’i sendiri mengaku  bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mengaqiqahi dirinya sendiri (ketika dewasa) sebagaimana dilafalkan  dalam salah satu buku  fiqih Syafi’iyah Kifayatul Akhyar. Wallahu a’lam.

baca juga:

Perbedaan aqiqah dan kurban, inilah ciri-ciri yang perlu diketahui

Ibadah qurban maupun aqiqah adalah implementasi ketaatan dan ketakwaan seorang hamba dalam menjalani syariah Islam. Qurban ialah  menyembelih hewan yang dilaksanakan  mulai tanggal 10 Dzulhijah sesudah  salat Idul adha, dan masih boleh melakukannya di tanggal 11 hingga  13 Dzulhijah.

Qurban boleh diniatkan atas nama sendiri, orang lain, atau pun guna  orang yang telah  meninggal. Jika ber-qurban domba  dan domba, maka hanya diizinkan  untuk satu orang. Sedangkan guna  sapi dan unta boleh dilaksanakan  secara berpatungan. Setelah pemotongan, pequrban mendapat sepertiga unsur  daging, dan dua pertiganya diberikan  kepada yang berhak menerimanya.

Aqiqah ialah  ibadah yang dilaksanakan  sebagai wujud syukur atas nikmat yang telah diserahkan  Allah Swt atas kelahiran buah hati. Aktivitas aqiqah ialah  memotong hewan. Hewan yang disembelih seringkali  kambing atau domba. Afdolnya, aqiqah dilaksanakan  pada hari ke tujuh, namun andai  berhalangan dapat dilaksanakan  pada hari ke empat belas.

Jumlah hewan yang disembelih berbeda, andai  bayinya wanita  maka kambingnya yang disembelih satu, sementara  untuk bayi laki-laki berjumlah dua ekor.

Ibadah qurban dan aqiqah memiliki  perbedaan dan persamaan dalam pelaksanaannya.

nah setelah mamahami dari teks dan ceramah langsung, yuk kita maahami dari persamaanya antara Qurban dan Aqiqah

Persamaan aqiqah dan kurban adalah:

  • 1.Baik qurban maupun aqiqah dilakukan  sebagai wujud ketaatan dan ketakwaan seorang hamba untuk  Allah Swt. Aktivitasnya dengan mengerjakan  pemotongan hewan.
  • 2.Mempunyai peraturan  yang sama dalam kriteria  sahnya fauna  yang bakal  disembelih. Yaitu berbadan sehat, tidak mengidap penyakit, gemuk, tidak cacat secara jelas, dan sudah  masuk umur cocok  syariah.
  • 3.Hukum berqurban dan aqiqah pada dasarnya sama menurut  keterangan dari  jumhur ulama, yakni  sunnah muakkad. Sunnah yang dianjurkan untuk  yang memiliki  kelapangan rezeki.
  • 4.Dalam menyalurkan  daging sembelihan, baik sahibul qurban maupun aqiqah yang menyerahkan  langsung untuk  yang berhak.
  • 5.Sahibul qurban dan aqiqah, dapat merasakan  sebagian dagingnya. Kulit serta dagingnya jangan  diperjualbelikan, tetapi  dapat dijadikan upah untuk  pemotong hewannya.

Perbedaan Ibadah Qurban dan Aqiqah

penjelasan lengkap mengenai aqiqah dan kurban
  • 1.Waktu pengamalan  qurban sesudah  salat Iduladha dan masih dapat dilaksanakan  dari tanggal 11 sampai  13 Dzulhijah masing-masing  tahunnya. Aqiqah, afdolnya dilaksanakan  pada hari ke tujuh, sampai  sebelum akil baligh.
  • 2.Melaksanakan qurban ketika  hari raya Iduladha, sementara  aqiqah dilakukan  saat kelahiran buah hati.
  • 3.Dalam sistem pembagian, daging qurban diberikan  daging dalam suasana  mentah. Aqiqah diberikan  ke penerima dalam suasana  siap santap, dengan menu tertentu.
  • 4.Qurban dilaksanakan  setiap tahun, dan dianjurkan untuk  yang berkemampuan dalam rezeki. Melakukan aqiqah melulu  sekali dalam seumur hidup.
  • 5.Jumlah fauna  ketika ber-aqiqah ialah  beda, pada bayi laki-laki disunnahkan menyembelih dua ekor domba  jantan (gibas). Dan seekor domba  pada aqiqah bayi perempuan. Sebagian daging bisa  dinikmati keluarga, beberapa  lagi disedekahkan. Pelaksanaan qurban, bisa  menyembelih seekor domba  atau berkelompok sekiranya fauna  qurban-nya ialah  unta, atau sapi.

Demikian ringkasan persamaan qurban dan aqiqah, serta perbedaan qurban dan aqiqah. Semoga saya dan anda bisa  mengimplementasikan kedua ibadah tersebut.

kesimpulanya apa?

Islam mengajarkan umat muslim supaya  menjalin tiga jenis hubungan, yakni  hubungan insan  dengan Allah SWT (hablum min Allah), hubungan insan  dengan sesama insan  (hablum min al-nas) dan hubungan insan  dengan alam semesta (hablum min al-‘alam). Ketiga hubungan itu  dapat didatangi  dalam syariat qurban dan aqiqah.

Jika ditelisik dari mula  sejarahnya, baik qurban maupun aqiqah, sama-sama dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur untuk  Allah SWT. Dengan demikian, qurban dan aqiqah bernuansa hablum min Allah. Qurban dan aqiqah pun  sama-sama bernuansa hablum min al-nas, sebab  daging qurban dan aqiqah me sti diberikan  kepada pihak-pihak yang membutuhkan. Bahkan nuansa hablum min al-‘alam pun  tampak pada kewajiban  untuk menjadikan hewan  sebagai objek qurban dan aqiqah.

Perbandingan Qurban dan Aqiqah

pperbedaan kurban dan aqiqah
pperbedaan kurban dan aqiqah

Kambing yang dijadikan sebagai qurban maupun aqiqah mesti memenuhi sejumlah kriteria   sebagaimana tercantum  di bawah ini:

Kriteria Kambing Qurban dan Aqiqah

A. TATA CARA PELAKSANAAN QURBAN

1.  Pengertian

Berdasarkan keterangan dari  bahasa, qurban berasal dari bahasa Arab qaruba yang berarti ‘dekat’. Yang dimaksud di sini ialah  ‘dekat untuk  Allah SWT’. Istilah lainnya ialah  udhhiyyah yang berarti fauna  qurban yang disembelih pada masa-masa  dhuha.

Berdasarkan keterangan dari  istilah, qurban atau udhhiyyah ialah  menyembelih fauna  ternak tertentu (unta, sapi, kerbau, kambing) dengan niat mendekatkan diri untuk  Allah SWT pada hari-hari Nahr (penyembelihan), yakni  Idul Adha sampai  hari Tasyriq (10-13 Dzulhijjah).

2. Hukum Qurban

Hukum menyembelih qurban menurut  keterangan dari  Imam Hanafi ialah  wajib menurut  Hadis riwayat Abu Hurairah RA bahwa Nabi SAW bersabda:

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا  (رَوَاهُ إبْنُ مَاجَهَ)

Barangsiapa mempunyai  keluasan (rezeki), dan tidak berqurban, maka tidak boleh  sekali-kali dia mendekati lokasi  shalat kami

(H.R. Ibnu Majah).

Sedangkan tiga Mazhab lainnya (Maliki, Syafi’i dan Hambali) menghukumi sunah muakkad, sampai-sampai  orang yang dapat  berqurban makruh meninggalkannya.

Lebih dari itu, Mazhab Syafi’i mengaku  bahwa qurban adalah ibadah sunah perorangan yang seyogianya dilakukan  paling tidak sekali dalam seumur hidup. Namun demikian, andai  anggota keluarganya banyak, lalu melulu  ada satu orang yang berqurban mewakili keluarganya, maka urusan  tersebut  sudah mencukupi.

Dalil kesunahan qurban ialah  Hadis Ibnu ‘Abbas RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

ثَلَاثٌ هُنَّ عَلَيَّ فَرَائِضُ وَهُنَّ لَكُمْ تَطَوُّعٌ الْوَتْرُ وَالنَّحْرُ وَصَلَاةُ الضُّحَى (رَوَاهُ أَحْمَدُ).

Tiga urusan  yang me sti  bagiku, dan sunah untuk  kalian: shalat witir, menyembelih qurban dan shalat dhuha

(H.R. Ahmad

Pengertian aqiqah dan dasar hukumnya

Aqiqah menurut  keterangan dari  bahasa ialah  membelah dan memotong. Pada mulanya, aqiqah ialah  sebutan untuk  pemotongan rambut yang terdapat  di kepala bayi saat  kelahirannya. Kemudian sebutan aqiqah pun  ditujukan pada fauna  yang dicukur  (disembelih) berkaitan  dengan pemotongan rambut bayi tersebut.

Dasar Hukum aqiqah

Berdasarkan keterangan dari  mazhab Hanafi, hukum aqiqah ialah  mubah, bukan sunah. Sedangkan menurut  keterangan dari  mazhab lainnya (Maliki, Syafi’i dan Hambali) hukum aqiqah ialah  sunah muakkad untuk  orang yang dikaruniai anak. Hukum aqiqah menjadi wajib bilamana  dinazarkan.

Dasar hukum aqiqah ialah  Hadis riwayat Samurah ibn Jundub RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:

كُلُّ غُلاَمٍ مُرْتَهِنٌ بِعَقِيْقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ فِي يَوْمِ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيـُسَمَّى (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ).

Setiap anak tersebut  tergadai dengan aqiqahnya, yang disembelih pada hari ketujuh (dari kelahirannya), dipotong  rambutnya dan diberi nama (pada hari ketujuh tersebut)

(H.R. al-Bukhari).

Ketentuan Binatang Aqiqah

Sebenarnya hewan  aqiqah sama dengan hewan  qurban, yakni  unta, sapi dan kambing. Akan tetapi, pendapat yang populer ialah  aqiqah melulu  boleh memakai  kambing. Berdasarkan keterangan dari  Mazhab Maliki, aqiqah guna  anak laki-laki maupun wanita ialah  1 (satu) ekor kambing. Berdasarkan keterangan dari  Mazhab Syafi’i dan Hambali, aqiqah guna  anak laki-laki ialah  2 (dua) ekor kambing, sementara  aqiqah guna  anak wanita ialah  1 (satu) ekor kambing. Pendapat ini didasarkan pada Hadis riwayat ‘Aisyah RA berikut:

أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَعُقَّ عَنِ الْغُلاَمِ بِشَاتَيْنِ وَعَنِ الْجَارِيَةِ بِشَاةٍ. (رَوَاهُ إبْنُ مَاجَهَ).

“Rasulullah SAW menyuruh  kami supaya  mengaqiqahkan anak laki-laki dengan (menyembelih) dua ekor domba  dan mengaqiqahkan anak perempuan  dengan (menyembelih) seekor kambing”.

(H.R. Ibn Majah).

Demikian pun  diperkenankan aqiqah dengan seekor unta atau sapi guna  7 (tujuh) anak. Di samping  itu, disunahkan untuk mencukur  rambut bayi pada hari ketujuh, kemudian  bersedekah dengan emas dan perak cocok  dengan timbangan rambut yang dipotong.

Disunahkan pula memberi nama yang terbaik untuk  bayi di hari ketujuh dan melumuri kepala bayi dengan minyak wangi, laksana  za’faran. Pada hari kelahiran, sunah dikumandangkan azan di telinga kanannya dan iqamah di telinga kirinya. Hal ini dimaksudkan supaya  kalimat yang kesatu  kali didengar oleh bayi ialah  kalimat tauhid.

TAHUKAH KAMU? Mengapa Daging Kambing Istimewa menurut  keterangan dari  Rasulullah SAW?

Pertama, Di dalam domba  ada  keberkahan. Rasulullah SAW bersabda: “Peliharalah (manfaatkan) oleh kalian kambing, sebab  di dalamnya ada  barakah”. (H.R. Ahmad). Tidak melulu  dagingnya saja, susu dan kulit kambing pun  berisi  keberkahan.

Kedua, Para Nabi pernah menggembalakan kambing. Nabi SAW bersabda: “Tidaklah seorang Nabi diutus, tetapi  ia pernah menggembala kambing”. Para kawan  bertanya, “Apakah anda  juga, wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Ya, aku pernah menggembala domba  penduduk Mekkah dengan upah sejumlah  qirath”(H.R. al-Bukhari).

Ketiga, Daging domba  tidak berbahaya untuk  kesehatan. Apa yang disunahkan Rasulullah SAW, tentulah  di dalamnya terdapat guna  dan tidak membahayakan. Hal tersebut diperlihatkan  oleh orang zaman dahulu yang gemar santap  daging domba  dan lemaknya. Lalu, kenapa  sekarang ini daging kambing dirasakan  berbahaya untuk  kesehatan? Sebenarnya bukan daging domba  yang mengakibatkan  penyakit, tetapi  karbohidrat (misalnya: nasi, lontong, ekstra  gula, dan minuman manis) yang dikonsumsi bareng  daging kambinglah yang menjadi pemicunya. Daging domba  akan aman dan menyehatkan guna  dikonsumsi, asalkan: (a) Diolah dengan teknik  yang baik supaya  kandungan vitamin dan mineralnya tetap terjaga, contohnya  kurangi santan dan minyak, pakai  bumbu-bumbu pilihan, dan simaklah  waktu memasak yang tepat. (b) Dikonsumsi secukupnya saja dan tidak berlebihan. (c) Dikonsumsi oleh orang-orang yang terbiasa merealisasikan  pola hidup sehat, misalnya: lumayan  serat, olahraga rutin, makanan bergizi seimbang, tidak mengisap rokok  dan minum alkhohol, dan beda  sebagainya.

Keempat, Daging domba  sangat baik guna  kesehatan jantung. Penelitian dari American Heart Association melafalkan  bahwa daging domba  sangat baik guna  orang yang memiliki  masalah pada jantung, sebab  mempunyai  kandungan protein yang tinggi, kandungan lemak yang sehat, mudah dipahami  tubuh, berisi  zat besi, potasium yang rendah, dan berisi  seluruh  asam amino.

selanjutnya, Kelima,

Membantu mengurai kolesterol jenuh. Kolesterol bosan  dapat diminimalisir bilamana  Omega 3 telah  ada  dalam darah, tetapi  Omega 3 tidak bisa  mengurai kolesterol yang telah  terbentuk dalam tubuh. Lalu, bagaimana domba  membantu mengurai kolestrol? Ternyata melulu  ikatan kolesterol lembut saja yang dapat  menguraikan kolesterol kasar, dengan kata lain  kolesterol yang telah  terbentuk dalam tubuh tidak akan dapat  diurai dengan materi, tetapi  dengan kolesterol domba  saja.

Keenam, Mencegah penyakit darah tinggi dan obesitas. Kolesterol domba  sangat berfungsi  untuk menguraikan kolesterol dalam darah  yang menjadi penyebab penyakit hipertensi. Untuk  penderita obesitas, daging domba  dapat berfungsi  membakar lemak yang berlebihan dalam tubuh.

Ketujuh, Mempercantik kulit. Daging domba  berisi  vitamin C alami yang tidak teroksidasi, dimana keberadaanya sangat urgen  untuk kulit. Vitamin C yang tidak teroksidasi sangat urgen  untuk keawetan  dan pembangunan sel kulit, serta mempercantik kulit.

Kedelapan, Meningkatkan rasa kasih sayang dan kebahagiaan. Kolesterol domba  akan menciptakan  jantung menjadi halus dan lembut pergerakannya, sampai-sampai  perasaan bahagia bakal  tercipta. Daging domba  membuat sistem darah menjadi sehat dan kuat, begitu pun  dengan thalamus yang pun  kuat sehingga situasi  tersebut sangat menolong  terciptanya perasaan kasih sayang.

Kesembilan, Mencegah anemia. Zat besi yang tinggi dalam daging kambing bermanfaat  mencegah anemia. Di samping  itu, daging kambing pun  berisi  vitamin B12 yang sangat urgen  untuk mengawal  kesehatan sel darah merah  dan niasin.

baca juga yuk:

makna aqiqah: mengungkap makna penting dalam menjalankan ibadah.

makna aqiqah dalam konteks menjalankan amanah yang berikan Allah SWT terhadap kita. Aqiqah bisa menjadi sarana kita dalam berikhtiar di dalam menghidupkan sunnah nabi SAW, mendidik dengan syariat yang benar, memahami dengan keilmuan, jalani sunah nabi dengan kekuatan iman dan islam.

makna aqiqah dan pengertian aqiqah ridho jogja
makna aqiqah dan pengertian aqiqah ridho jogja

Nah, pada tulisan kali ini anda akan kupas secara lebih detail mengenai makna aqiqah

Ibadah aqiqah dalam pengertian sederhana

Bila merujuk pada bahasa arab, aqiqah memiliki makna  yaitu memutus dan melubangi. Dalam definisi  secara umum, aqiqah ialah  aktivitas ibadah menyembelih fauna  berupa domba  sebagai wujud rasa syukur atas lahirnya seorang anak.

Hukum atas ibadah ini bertolak belakang  menurut  pendapat ulama. Ada yang menuliskan   bahwa ibadah aqiqah hukumnya wajib, terdapat  yang menuliskan   sunnah mu’akad dan adapula yang menuliskan  sunnah.

Dari seluruh  pendapat yang ada, yang sangat  shahih ialah  pendapat yang menuliskan   bahwa hukum aqiqah ialah  sunnah mu’akad. Artinya ini ialah  ibadah yang memang disarankan  untuk dilaksanakan

FILOSOFI AQIQAH, PENDAPAT AHLI FIQIH DAN ULAMA. OLEH DOSEN UIN MAKASAR.

Kajian dalam masalah folosofi aqiqah dan udhiyah (perspekif alqur’an dan sunnah). oleh hj. nurnaningsih fakultas syari’ah dan hukum universitas islam negeri (UIN) Alauddin Makasar

Bagaimana filosofi aqiqah menurut pandangan Al qur’an, As-Sunnah dan ijma?

Berdasarkan Al qur’an, As-Sunnah dan ijma’ bila   seorang insan  lahir baik laki-laki maupun permpuan, maka di- syari’atkan untuk  orang tuanya guna  melaksanakan aqiqah cocok  dengan kriteria  peraturan  yang sudah  ditetapkan,demikian pula untuk  muslim muslimah yang terpapar  syarat untuk mengerjakan  sembelihan/Qurban pada hari-hari tasyrik di bulan zulhijjah serta untuk  umat Islam yang sedang melaksanakan ibadah haji.

contoh  dalam format  “Dam” . Syari’at tersebut paling  jelas alasan  dan hukumnya tetapi  sebagian umat Islam masih ada  kalangan personil yang sudah lumayan  memenuhi kriteria  untuk mengerjakan  sembelihan/qurban/aqiqah akan namun  baik disengaja maupun memandang  remeh dengan berbagai dalil  sehingga perintah menyalurkan  darah hewan  tidak bisa  dilaksanakan. Disisi beda  masih terpengaruh dengan pemahaman antara me sti  dengan sunnah pengamalan  Aqiqah udhiyah sampai-sampai  sebagian kaum muslimin tidak mempunyai  keseriusan guna  melaksanakannya.

Bagaimana mengenai pandangan melaksanakan filosofi aqiqah?

Dalam pembahasan mengenai folosofi aqiqah ini. Terdaapat pandaangan yang bermacam-macam tentang makna aqiqah dan udhiyah baik dari segi: Kemampuan, masa-masa  pelaksanaannya serta macam dan umur untuk  binatang yang bisa  menjadi “Binatang Sembelihan” Para Ulama/Muballigh tidak henti- hentinya menyerukan perlunya melaksana- kan perintah aqiqah/udhiyah terutama untuk  muslim dan muslimah yang nyata-nyata telah  memilki keterampilan  secara material, namun keterampilan  untuk merintangi  pengaruh syetan yang senantiasa menggagu cocok  dengan kissah kronologis dari Penghulu anda  Ibrahim, Nah selanjutnya cari tau yuk jawaban dari pertanyaan dibawah ini.

Bagaimana pandangan Fuqaha tentang: folosofi aqiqah, Udhiyah /Qurban?

waktu aqiqah pembahasan ter-lengkap dan mudah di pahami.

Waktu aqiqah dipilih untuk anak yang baru lahir secara tepat. namun Secara umum, ada pendapat dari jumhur ulama hari-hari di-sunnahkannya penyembelihan kambing  untuk aqiqah.

Pendapat mengenai waktu aqiqah.

pengamalan  aqiqah tepat sesudah  bayi didilahirkan  dan tidak me sti menantikan  sampai hari ke-7. itu menurut  Sya fiiyah dan Hanabilah. Tapi mereka tidak membolehkan sebelum bayi dilahirkan. Maka, andai  penyembelihan dilaksanakan  sebelum kelahiran bayi, dirasakan  sebagai sembelihan biasa dan bukan aqiqah. Hal ini didasari atas suatu karena  yaitu kelahiran. Maka andai  bayi telah  terlahir aqiqah boleh dilaksanakan.

Sedangkan pendapat yang terakhir  baru membolehkan pengamalan  aqiqah pada hari ke-7 pasca kelahiran. itu menurut Hanafiyah dan Malikiyah. Dan aqiqah tidak sah (dianggap sembelihan biasa) bila  dilakukan  sebelumnya.

Kapan waktu aqiqah ditentukan dan apakah ada batasanya?

1. waktu aqiqah Hari ke-7

Kalangan Malikiyah berasumsi  bahwa masa-masa  aqiqah melulu  sampai hari ke-7 pasca kelahiran. Jika hari ke-7 sudah selesai  maka ibadah aqiqah telah  tidak lagi berlaku.

2. Aqiqah Sampai anak umur  baligh

Sedangkan Syafi’iyah, mereka membolehkan untuk  orang tua melasanakan aqiqah anaknya sampai  dia masuk umur  baligh. Ini yang mustahabb. Maka saat  telah masuk umur  baligh, orang tua bukan lagi  terbebani ibadah ini. Akan namun  anak itulah yang akan mengemban  aqiqahnya sendiri andai  mampu. Demikian yang diriwayatkan dalam suatu  hadits, bahwa Rasulallah meng-aqiqahi dirinya sendiri saat  beliau telah  menjadi nabi.

Al-Imam an-Nawawi di dalam kitabnya Syarhu al-Muhadzab, mengatakan andai  hadits mengenai  aqiqahnya Nabi guna  dirinya sendiri tersebut  adalah hadits bathil. Nah selanjutnya cari tau yuk jawaban dari

Batasan waktu aqiqah menurut ulama madzhab?

Tujuan aqiqah dan manfaatnya, penting!! bagi yang mau aqiqah.

tujuan aqiqah adalah merealisasikan rasa syukur kita atas anugrah, sekaligus amanah yang berikan Allah SWT terhadap kita. Aqiqah juga menjadi ikhtiar kita dalam menghidupkan sunnah nabi SAW, jika diliht dari perbuatan? jelas terpuji, yuk jalani sunah nabi dengan gembira dan selalu ikhlas.

Mengapa anak kita harus di aqiqahi ?

Setiap orang tua menginginkan  anak yang shaleh, berbakti dan menyalurkan  kebahagiaan untuk  kedua orangnya. Aqiqah ialah  salah satu acara urgen  untuk menanamkan nilai-nilai ruhaniah untuk  anak yang masih suci. Dengan Aqiqah diinginkan  sang banyi mendapat   kekuatan, kesehatan bermunculan  dan batin. Ditumbuhkan dan dikembangkan bermunculan  dan batinnya dengan nilai-nilai Ilahiyah.

Dengan Aqiqah diinginkan  sang bayi besok  menjadi anak yang shaleh dan berbakti untuk  kedua orang tuanya. Jika acara ini dilakukan  dengan tulus-ikhlash dan dijiwai nilai-nilai ruhaninya oleh kedua orang tuanya, pasti  akan dominan  terhadap pertumbuhan  sang bayi, terutama  jiwa dan ruhaninya.

Aqiqah ialah  salah satu acara ritual di dalam Islam, yang dilakukan  pada hari ketujuh dari kelahiran seorang bayi. Aqiqah hukumnya sunnah muakkad (mendekati wajib), bahkan beberapa  ulama mengaku  wajib.

mengapa aqiqah itu penting ?

Apabila anda  mempunyai  barang yang dapat  mendatangkan manfaat dan bangga memilikinya, tetapi  barang itu  dalam suasana  tergadai, bagaimana sikap anda  terhadap barang itu ?. Tentunya kita berjuang  semaksimal barangkali  untuk menebusnya.

Aqiqah ialah  upaya kita guna  menebus anak anda  yang tergadai. Aqiqah pun  adalah realisasi rasa syukur anda  atas anugrah, sekaligus amanah yang diserahkan  Allah SWT terhadap kita. Aqiqah pun  sebagai upaya anda  menghidupkan sunnah Rasulullah SAW, yang adalah perbuatan yang terpuji, menilik  saat ini sunnah itu  mulai jarang dilakukan  oleh kaum muslimin.

jadi tujuan aqiqah itu apa?

Untuk tersebut  tujuan aqiqah tidak melulu  terbatas pada “pesta makan” semata. Akan tetapi hakikat  dari tujuan aqiqah malah  lebih luas daripada sekedar definisi  pesta makan.

Berdasarkan keterangan dari  Syekh Abdullah Nasihih Ulwan dalam buku  “Tarbiyatul Aulad Fil Islam”, tujuan aqiqah diantaranya :

  • Pertama, menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW dalam meneladani Nabi Ibrahim AS ketika  menebus putra tercintanya Ismail AS.
  • Kedua, dalam aqiqah berisi  bagian  perlindungan dari setan yang bisa  mengganggu anak yang sudah  lahir tersebut  dan ini cocok  dengan maksud hadits yang dengan kata lain  “Setiap anak tersebut  tergadai dengan aqiqahnya”.
  • Ketiga, tujuan aqiqah adalah tebusan untuk  anak untuk menyerahkan  syafaat untuk  kedua orang tuanya besok  pada hari akhir. Seperti yang diutarakan Imam Ahmad, “Dia tergadai dari menyerahkan  syafaat untuk  kedua orangtuanya (dengan aqiqahnya).”
  • Keempat, tujuan aqiqah merupakan format  pendekatan diri untuk  Allah sekaligus sebagai wujud rasa syukur atas karunia yang dikaruniakan  Allah untuk  kita dengan lahirnya anak.
  • Kelima, aqiqah adalah sarana menampakkan rasa gembira dalam mengemban  syariat Islam dan meningkatnya  keturunan mukmin yang akan menggandakan  umat Rasulullah SAW pada hari kiamat.
  • Keenam, aqiqah bisa  memperkuat ukhuwah atau persaudaraan salah satu  warga masyarakat.
  • Ketujuh, aqiqah adalah sarana untuk menerapkan  prinsip keadilan sosial dan menghapuskan gejela kemiskinan di dalam masyarakat. Misalnya dengan adanya masakan aqiqah yang diserahkan  kepada fakir kurang mampu  dan dhuafa

Aqiqah dan manfaatnya bagi diri sendiri, tinjauan apakah nabi mengaqiqahi dirinya sendiri?

BANYAK umat Islam yang tidak mengerjakan  aqiqah sewaktu kecilnya sebab  keterbatasan biaya. Maka dari itu, tak tidak banyak  dari masyarakat anda  yang memiliki keunggulan  harta sesudah  dewasanya berinisiatif guna  menyembelih aqiqah guna  dirinya sendiri. Namun bagaimanakah Islam memandang   hal yang satu ini?

Jadi kesimpulan dan yang manjadi patokan sperti ini ya?

bila   Anda merasa hendak  menyembelih kambing aqiqah guna  diri kita  sendiri. Tidak masalah bila   memang terdapat  rezekinya, asal tidak dipaksakan. Sebab urusan  tersebut  ada dasarnya, minimal  didukung oleh sejumlah  ulama.

Akan namun  Anda mesti maklum dengan ucapan  orang beda  yang tidak setuju dengan sikap laksana  itu. Karena memang terdapat  mazhab Ahmad bin Hanbal yang agaknya tidak cukup  sepakat dengan pendapat itu.

Toh, dua-duanya  hanyalah ijtihad yang nilai kebenarannya tidak pernah hingga  ke level mutlak. Jadi anda  boleh saling bertolak belakang  pendapat dengan teknik  yang beradab, santun, wajar, dan tetap mengawal  nilai-nilai ukhuwah

manfaat aqiqah untuk dirinya sendiri?

Nah setelah mengetahui kesimpulan dari 2 pendapat di atas, alangkah baiknya saya memberikan penjelasan menganai manfaatnya aqiqah bagi dirinya sendiri.. berikut ini 5 Manfaat Aqiqah Yang penting diketahui.

  • 1. Mengumumkan Garis Keturunan: Salah satu guna  aqiqah ialah  untuk memberitahukan  tentang garis keturunan si bayi. Sebab, urusan  ini memang me sti diumumkan  kepada khalayak supaya  tidak menjadi fitnah dikemudian hari. Di samping  itu, cara  ini lebih efektif ketimbang membawa   anak berkeliling kampung melulu  untuk sebatas  memberitahu garis keturunan anak.
  • 2. Memupuk Sifat Dermawan :Aqiqah pun  melatih pelakunya supaya  bersifat pemurah  sekaligus mengurangi  sifat kikir. Mengingat aqiqah tersebut  membutuhkan  pengorbanan yang tidak sedikit, mulai dari berkorban masalah waktu, tenaga, dan materi. Dalam aqiqah ini pun  ada nilai sosial yang tinggi karena  ada pekerjaan  membagikan hasil masakan tersebut untuk  tetangga, saudara atau orang fakir miskin. Jadi ajang untuk membina  ikatan sosial potensial sekali.
  • 3. Wujud Rasa Syukur Kepada Allah: Manfaat aqiqah berikutnya ialah  sebagai wujud syukur kita untuk  Allah Subhanahu wa Ta’ala atas anugrah diserahkan  nikmat anak. Karena tidak seluruh  hamba Allah tersebut  diberi nikmat mempunyai  anak. Diluar sana terdapat  hamba Allah yang Allah uji dengan kemandulan sampai-sampai  sulit mempunyai  anak. Berangkat darisini, ketika muncul  rasa gembira atas kelahiran anak maka tidak boleh  lupa guna  bersyukur untuk  Allah. Adapun salah satu format  rasa syukur tersebut  dengan mengemban  sunnah rasul yaitu  aqiqah.
  • 4. Menghidupkan Sunnah Nabi: Patut diketahui bahwa dengan menjalankan aqiqah anda  berarti sudah  menghidupkan salah satu doktrin  Rasulullah. Ibnu Haj mengatakan, “Banyak sekali guna  yang diperoleh  dari aqiqah antara beda  : menggarap  sunnah dan memadamkan bid’ah. ” Aqiqah pun  menarik tidak sedikit  pahala khususnya  di zaman kini  yang banyaknnya pahala ini juga diakibatkan  oleh minimnya orang yang inginkan  melakukannya. (Al Madkhal 3/228-229)
  • 5. Menolak Bala :Aqiqah menampik  bala? Ya, ada sejumlah  ulama yang menuliskan   demikian. Ibnu Haj mengatakan, “Banyak sekali guna  aqiqah di samping  menghidupkan sunnah dan memadamkan bid’ah, tidak terdapat  keberkahan yang ada  pada aqiqah selain mengawal  jabang bayi dari sumber penyakit laksana  yang tertera  dalam hadis, maka sunnah apa juga  yang dilaksanakan  akan menjadi penyebab seluruh format  kebaikan dan keberkahan. ”

3 cara menghitung hari aqiqah

cara menghitung hari aqiqah ini lah yang banyak di cari orang tua. bagi yang mempunyai anak baru lahir, lanjutkan membaca sampai selesai, kita akan bagikan cara menghitung hari aqiqah dan menentukan kapan dilaksanakan aqiqahnya.. yuk simak terus..

bagaimana cara menghitung hari aqiqah, hari ke- 7,14 dan 21 mulainya darimana ya ? Hari ketika anak lahir kah atau keesokan harinya ?

Lalu seperti apa cara menghitung hari aqiqah itu ?

Al Imam Nawawi rahimahullah ta’ala saat menjelaskan perkara ini berbicara : “Di sini terdapat dua pendapat :

Pendapat yang sangat shahih, hari kelahiran masuk dalam hitungan, sampai-sampai hitungan hari penyembelihan aqiqah ialah enam hari sesudah kelahiran.

Pendapat kedua mengaku hari kelahiran tidak tergolong dalam hitungan, sampai-sampai penyembelihan aqiqah dilaksanakan tujuh hari sesudah kelahiran.

Pendapat kedua ini dilafalkan dalam buku Al-Buyuthi. Akan namun pendapat yang dipilih dalam madzhab Syafi’i ialah pendapat kesatu , itulah yang dimaksudkan dengan tekstual hadits. Jika bayi tersebut lahir di malam hari, maka masa-masa aqiqah mulai dihitung dari hari sesudah kelahiran. Hal ini tidak diperselisihkan sebagaimana ditetapkan oleh Al-Buyuthi. Walaupun beliau melafalkan bahwa hari bermunculan tidak masuk dalam hitungan tujuh hari

jadi kesimpulanya seperti apa?

Jadi menurut beberapa besar ulama masa-masa siang hari ialah awal hitungan guna tujuh hari, sementara waktu malam tidaklah dihitung, sampai-sampai yang bakal jadi hitungan hari berikutnya.

Misalnya terdapat bayi yang bermunculan pada hari Ahad (12/17), pagi siang atau sore, maka hitungan hari ketujuh telah mulai dihitung pada hari Ahad. Sehingga aqiqah bayi tersebut dilakukan pada hari Sabtu (18/17).

Jika bayi itu lahir pada hari Ahad (12/17), pada malam hari, maka hitungan tadinya tidak dibuka dari hari Ahad, tetapi dari hari Seninnya keesokan harinya. Sehingga aqiqah bayi itu pada hari Ahad (19/17).

Wallahu a’lam.

fiqih aqiqah pdf, ebook terlengkap yang mengupas tentang makna aqiqah

bagi anda yang sedang mencari fiqih aqiqah pdf atau referensi buku makna aqiqah atau sedang mencari pembahasan yang lengkap mengenai makna aqiqah yang dibahas oleh ahlinya. Tepat sekali disini kami akan membagikan berbagai buku gratis mengenai makna aqiqah atau buku elektronik. (ebook)

fikih aqiqah yang membahas seputar ibadah aqiqah beserta dasar konsepnya Menurut ahli fiqih ibadah yaitu segala sesuatu yang dikerjakan untuk mencapai keridhaan Allah dan mengharap pahala-Nya di akhirat Majlis Tarjih Muhammadiyah memberikan definisi tentang ibadah adalah. bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dengan mentaati segala. perintah-Nya, menjauhi segala larangan-Nya dan mengamalkan segala yang diizinkan-Nya

Dari tiga definisi tersebut, jelaslah bahwa ibadah adalah segala kegiatan yang semata-mata dikerjakan berdasarkan pada memperhambakan diri kepada Allah SWT.

Aqiqah berasal dari bahasa Arab yaitu mashdar (kata benda) dari fiil madhi dengan fiil mudhore’ yang berarti “mengaqiqahkan anak atau menyembelih kambing aqiqah” Menurut bahasa aqiqah artinya memotong atau memisahkan, misalnya kata “Uquq Al- Walidaini” artinya durhaka kepada kedua orang tua.

nah dalam ebook ini kalian akan mendapatkan penjelasane mengenai ibadah aqiqah secara lengkap. download dibawah ini ya..

silahkan download di alamat sini, dan beberapa saya bagikan ebook pdf secara lengkap dan gratis kepada anda, terimakasih…

baca juga yuk

3 cara menghitung hari aqiqah

cara menghitung hari aqiqah ini lah yang banyak di cari orang tua. bagi yang mempunyai anak baru lahir, lanjutkan membaca sampai selesai, kita akan bagikan cara menghitung hari aqiqah dan menentukan kapan dilaksanakan aqiqahnya.. yuk simak terus..

bagaimana cara menghitung hari aqiqah, hari ke- 7,14 dan 21 mulainya darimana ya ? Hari ketika anak lahir kah atau keesokan harinya ?

Jawaban:
Ulama bersepakat bahwa masa-masa yang sangat afdhal untuk mengadakan aqiqah untuk anak yang baru lahir pada hari ke-7, menurut hadits :

قَالَ كُلُّ غُلَامٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّ
“Seorang anak tersebut tergadai dengan aqiqahnya, maka sembelihlah fauna untuknya pada hari ke tujuh

.”(HR. Abu Daud)


Dan beberapa besar ulama berasumsi bahwa andai tidak dapat pada hari ke-7, masa-masa afdhal selanjutnya ialah pada hari ke-14 dan ke-21nya,[1] menurut dalil-dalil diantaranya :


العَقِيْقَةُ تذبَحُ لِسَبع وَلأرْبَع عَشَرة ولإحدى وَعِشْرِيْن
“Aqiqah tersebut disembelih pada hari ketujuh atau ke empat belas atau kedua puluh satu.”

(HR. Baihaqi)

Lalu seperti apa cara menghitung hari aqiqah itu ?

Al Imam Nawawi rahimahullah ta’ala saat menjelaskan perkara ini berbicara : “Di sini terdapat dua pendapat :

Pendapat yang sangat shahih, hari kelahiran masuk dalam hitungan, sampai-sampai hitungan hari penyembelihan aqiqah ialah enam hari sesudah kelahiran.

Pendapat kedua mengaku hari kelahiran tidak tergolong dalam hitungan, sampai-sampai penyembelihan aqiqah dilaksanakan tujuh hari sesudah kelahiran.

Pendapat kedua ini dilafalkan dalam buku Al-Buyuthi. Akan namun pendapat yang dipilih dalam madzhab Syafi’i ialah pendapat kesatu , itulah yang dimaksudkan dengan tekstual hadits. Jika bayi tersebut lahir di malam hari, maka masa-masa aqiqah mulai dihitung dari hari sesudah kelahiran. Hal ini tidak diperselisihkan sebagaimana ditetapkan oleh Al-Buyuthi. Walaupun beliau melafalkan bahwa hari bermunculan tidak masuk dalam hitungan tujuh hari

jadi kesimpulanya seperti apa?

Jadi menurut beberapa besar ulama masa-masa siang hari ialah awal hitungan guna tujuh hari, sementara waktu malam tidaklah dihitung, sampai-sampai yang bakal jadi hitungan hari berikutnya.
Misalnya terdapat bayi yang bermunculan pada hari Ahad (12/17), pagi siang atau sore, maka hitungan hari ketujuh telah mulai dihitung pada hari Ahad. Sehingga aqiqah bayi tersebut dilakukan pada hari Sabtu (18/17).
Jika bayi itu lahir pada hari Ahad (12/17), pada malam hari, maka hitungan tadinya tidak dibuka dari hari Ahad, tetapi dari hari Seninnya keesokan harinya. Sehingga aqiqah bayi itu pada hari Ahad (19/17).

Wallahu a’lam.

referensi ke-2 cara menghitung hari aqiqah Perhitungan Hari Ketujuh

Dari kapan dihitung hari ketujuh? Apakah dari hari kelahiran atau hari setelahnya?

cara menghitung hari aqiqahhari ke-7?

Jika bayi dilahirkan malam, bagaimana menilai hari ketujuh aqiqah?

Jawab:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Dianjurkan supaya aqiqah dilaksanakan di hari yang ketujuh. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,


كُلُّ غُلَامٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى
Semua anak tergadaikan dengan aqiqahnya. Hewan aqiqah disembelih di hari ketujuh sesudah kelahiran, si anak digundul dan diberi nama.

(HR. Abu Daud 2455 dan dishahihkan al-Albani)


Bahkan menurut keterangan dari Ibnu Qudamah, ulama sepakat fauna aqiqah disarankan untuk disembelih di hari ketujuh sesudah kelahiran. Ibnu Qudamah mengatakan,


قال أصحابنا : السنة أن تذبح يوم السابع… ولا نعلم خلافاً بين أهل العلم القائلين بمشروعيتها في استحباب ذبحها يوم السابع
Para ulama madzhab hambali mengatakan, yang cocok sunah fauna aqiqah disembelih di hari ketujuh… kami tidak memahami adanya perbedaan ulama yang manyatakan disyariatkannya aqiqah, bahwa fauna aqiqah disarankan untuk disembelih di hari ketujuh..

(al-Mughni, 9/364)


Bagaimana cara tepat dalam menilai hari ketujuh pasca kelahiran?

Ada perbedaan pendapat ulama mengenai cara menghitung hari ketujuh pasca-kelahiran. Perbedaan ini berangkat dari, apakah hari kelahiran dihitung ataukah tidak dihitung?


[1] Hari kelahiran tidak dihitung

Batasnya ialah melewati masa-masa subuh, tidak dihitung. Ini pendapat Malikiyah (at-Taj wal –Iklil, 4/390).
Jika bayi yang dicetuskan di hari jumat jam 5 pagi, maka perhitungan 7 hari dibuka sejak hari sabtu. Sehingga aqiqahnya disembelih di hari jumat berikutnya.

[2] Hari kelahiran dihitung

Ini adalah pendapat jumhur ulama.
An-Nawawi menuliskan ,


وهَل يُحسَبُ يَومُ الوِلَادَةِ مِن السَّبْعَةِ ؟ فيه وجهان أصحهما يحسب فيذبح في السادس مما بعده “والثاني” لا يحسب فيذبح في السابع مما بعده , وهو المنصوص في البويطي ولكن المذهب الأول وهو ظاهر الأحاديث, فإن ولد في الليل حسب اليوم الذي يلي تلك الليلة بلا خلاف..
Apakah hari kelahiran masuk dalam hitungan? Ada dua pendapat ulama Syafiiyah dalam urusan ini. Yang sangat tepat, dihitung, sampai-sampai disembelih di hari keenam sesudah kelahiran. Pendapat kedua, hari kelahiran tidak dihitung, sampai-sampai disembelih di hari ketujuh setelahnya. Dan ini yang ditetapkan dalam kitanya al-Buwaiti. Namun pendapat kesatu lebih mendekati arti hadis.


Jika lahir di malam hari, mereka sepakat hari sesudah malam tersebut dihitung. (al-Majmu Syarh al-Muhadzab, 8/431).
Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan,


ذهب جمهور الفقهاء إلى أن يوم الولادة يحسب من السبعة, ولا تحسب الليلة إن ولد ليلاً, بل يحسب اليوم الذي يليها
Mayoritas ulama mengaku bahwa hari kelahiran pun dihitung guna menilai tujuh hari pasca-lahiran. Sementara malamnya tidak dihitung, tetapi yang dihitung ialah siang harinya. .

(al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 30/279)


Berdasarkan kaidah jumhur, berarti hari aqiqah ialah hari kelahiran minus satu.

[hari aqiqah = hari kelahiran – 1].
Jika lahir hari selasa, aqiqah dilaksanakan di hari senin. Jika lahir jumat, aqiqah di hari kamis, dst. Jika lahir malam sabtu, aqiqah di hari jumat. Karena malam sabtu, yang dihitung sabtunya.


Imam Ibnu Utsaimin menjelaskan,
قوله: ” تذبح يوم سابعه ” ، أي: يسن أن تذبح في اليوم السابع ، فإذا ولد يوم السبت فتذبح يوم الجمعة يعني قبل يوم الولادة بيوم، هذه هي القاعدة

Maksud sabda beliau, ‘Disembelih di hari ketujuh’ dengan kata lain dianjurkan guna di sembelih di hari ketujuh sesudah lahiran. Jika dicetuskan di hari sabtu, maka disembelih di hari jumat, dengan kata lain sehari sebelum hari lahiran. Inilah kaidahnya. (as-Syarh al-Mumthi’, 7/493).
Dan pendapat yang lebih mendekati ialah pendapat jumhur ulama. Syaikh Muhammad al-Mukhtar as-Sinqithy menyerahkan kaidah,


والإضافة تقتضي تقييد الحكم بالمضاف إليه، والمعنى: أن هذا اليوم وهو السابع مضاف إلى يوم الولادة، وعلى هذا فيكون يوم الولادة هو السابع
Bentuk idhafah (menyandarkan) mewajibkan bagian yang disandarkan masuk ke dalam hukum. Maknanya, bahwa hari ini, yakni hari ketujuh yang disandarkan pada hari kelahiran, maka hari kelahiran masuk unsur hitungan tujuh itu.

(Syarh Zadul Mustaqni’).


Kaidah ini menjawab, andai ada orang menuliskan hari ketujuh kelahiran, berarti hari kelahiran masuk dalam hitungan tujuh hari itu.

baca juga:

Tujuan aqiqah dan manfaatnya, penting!! bagi yang mau aqiqah.

tujuan aqiqah adalah merealisasikan rasa syukur kita atas anugrah, sekaligus amanah yang berikan Allah SWT terhadap kita. Aqiqah juga menjadi ikhtiar kita dalam menghidupkan sunnah nabi SAW, jika diliht dari perbuatan? jelas terpuji, yuk jalani sunah nabi dengan gembira dan selalu ikhlas.

ridho aqiqah jogja, dalam kajian tujuan aqiqah dan hikmah aqiqah
ridho aqiqah jogja, dalam kajian tujuan aqiqah dan hikmah aqiqah

Mengapa anak kita harus di aqiqahi ?

Setiap orang tua menginginkan  anak yang shaleh, berbakti dan menyalurkan  kebahagiaan untuk  kedua orangnya. Aqiqah ialah  salah satu acara urgen  untuk menanamkan nilai-nilai ruhaniah untuk  anak yang masih suci. Dengan Aqiqah diinginkan  sang banyi mendapat   kekuatan, kesehatan bermunculan  dan batin. Ditumbuhkan dan dikembangkan bermunculan  dan batinnya dengan nilai-nilai Ilahiyah.

Dengan Aqiqah diinginkan  sang bayi besok  menjadi anak yang shaleh dan berbakti untuk  kedua orang tuanya. Jika acara ini dilakukan  dengan tulus-ikhlash dan dijiwai nilai-nilai ruhaninya oleh kedua orang tuanya, pasti  akan dominan  terhadap pertumbuhan  sang bayi, terutama  jiwa dan ruhaninya.

Aqiqah ialah  salah satu acara ritual di dalam Islam, yang dilakukan  pada hari ketujuh dari kelahiran seorang bayi. Aqiqah hukumnya sunnah muakkad (mendekati wajib), bahkan beberapa  ulama mengaku  wajib.

mengapa aqiqah itu penting ?

Apabila anda  mempunyai  barang yang dapat  mendatangkan manfaat dan bangga memilikinya, tetapi  barang itu  dalam suasana  tergadai, bagaimana sikap anda  terhadap barang itu ?. Tentunya kita berjuang  semaksimal barangkali  untuk menebusnya.

Aqiqah ialah  upaya kita guna  menebus anak anda  yang tergadai. Aqiqah pun  adalah realisasi rasa syukur anda  atas anugrah, sekaligus amanah yang diserahkan  Allah SWT terhadap kita. Aqiqah pun  sebagai upaya anda  menghidupkan sunnah Rasulullah SAW, yang adalah perbuatan yang terpuji, menilik  saat ini sunnah itu  mulai jarang dilakukan  oleh kaum muslimin.

“ Barangsiapa menghidupkan sunnahku disaat kehancuran  pada umatku, maka baginya pahala orang yang mati syahid.“

( Al – Hadst )

Di samping  itu, manfaat dan tujuan aqiqah adalah: mempererat tali silaturrahmi dan ikatan sosial dengan semua  kerabat, tetangga, fakir miskin, dll. Oleh sebab  itu, marilah kita bareng  – sama berjuang  menghidupkan

Apa Tujuan aqiqah dan Manfaat Aqiqah yang sebenarnya?

Ada tidak sedikit  manfaat dalam Aqiqah. Salah satunya ialah  mengumumkan kelahiran bayi. Sebagai syukur, sebab  dianugerahi seorang anak. Hikmah lainnya ialah  sebagai wasilah silaturahim dengan mengundang anggota keluarga, tetangga, dan rekan  untuk merayakan aqiqah bersama. Anda dapat  mengirimkan undangan aqiqah sebelum pengamalan  acaranya dilangsungkan.

Tak lupa bentuk sosial untuk  orang miskin tidak boleh  dilupakan. Berikan mereka makanan dan daging domba  yang disajikan acara aqiqah.

Sama halnya dengan destinasi  diadakannya aqiqah guna  menyembelih fauna  saat kelahiran anak, tersebut  adalah bagian dari ibadah, aqiqah disini berisi  tidak sedikit  hikmah.

Hikmah aqiqah ini salah satunya ialah  berisi  arti  yang mempunyai  sifat  intrinsik sebagai sarana pendekatan (taqarrub) untuk  Allah. Sementara di sisi lainnya akikah berisi  arti  instrumental sebagai usaha edukasi  pribadi dan masyarakat ke arah komitmen atau juga  pengikatan batin pada amal shaleh.

Jadi arti  ibadah salah satunya ialah  ibadah seorang hamba yang beriman dan urusan  itu  akan memupuk serta menumbuhkan kesadaran bakal  tugas-tugas individu  (hubungan hamba untuk  Allah) dan tugas serta peran sosial (hubungan hamba dengan hamba lainnya).

jadi tujuan aqiqah itu apa?

Untuk tersebut  tujuan aqiqah tidak melulu  terbatas pada “pesta makan” semata. Akan tetapi hakikat  dari tujuan aqiqah malah  lebih luas daripada sekedar definisi  pesta makan.

Berdasarkan keterangan dari  Syekh Abdullah Nasihih Ulwan dalam buku  “Tarbiyatul Aulad Fil Islam”, tujuan aqiqah diantaranya :

  1. Pertama, menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW dalam meneladani Nabi Ibrahim AS ketika  menebus putra tercintanya Ismail AS.
  2. Kedua, dalam aqiqah berisi  bagian  perlindungan dari setan yang bisa  mengganggu anak yang sudah  lahir tersebut  dan ini cocok  dengan maksud hadits yang dengan kata lain  “Setiap anak tersebut  tergadai dengan aqiqahnya”.
  3. Ketiga, tujuan aqiqah adalah tebusan untuk  anak untuk menyerahkan  syafaat untuk  kedua orang tuanya besok  pada hari akhir. Seperti yang diutarakan Imam Ahmad, “Dia tergadai dari menyerahkan  syafaat untuk  kedua orangtuanya (dengan aqiqahnya).”
  4. Keempat, tujuan aqiqah merupakan format  pendekatan diri untuk  Allah sekaligus sebagai wujud rasa syukur atas karunia yang dikaruniakan  Allah untuk  kita dengan lahirnya anak.
  5. Kelima, aqiqah adalah sarana menampakkan rasa gembira dalam mengemban  syariat Islam dan meningkatnya  keturunan mukmin yang akan menggandakan  umat Rasulullah SAW pada hari kiamat.
  6. Keenam, aqiqah bisa  memperkuat ukhuwah atau persaudaraan salah satu  warga masyarakat.
  7. Ketujuh, aqiqah adalah sarana untuk menerapkan  prinsip keadilan sosial dan menghapuskan gejela kemiskinan di dalam masyarakat. Misalnya dengan adanya masakan aqiqah yang diserahkan  kepada fakir kurang mampu  dan dhuafa.

baca juga:

unsur pendidikan dalam melakukan dan memahami tujuan aqiqah

KH Muhammad Sholikhin dalam bukunya “Mukjizat dan Misteri Lima Rukun Islam: Menjawab Tantangan Zaman” mengungkapkan, dalam ibadah akikah terdapat  unsur tarbiyah (pendidikan), yaitu  mendidik ketakwaan anak supaya  menjadi orang yang dekat (taqarrub) untuk  Allah, serta menghilangkan sifat-sifat kebinatangan pada diri anak, sebab  manusia pada umumnya pun  mempunyai  sifat-sifat hewaniah yang me sti dihilangkan dengan norma etika keagamaan.

tujuan pendidikan aqiqah

akikah pun  bertujuan guna  mendidik anak menjadi hamba yang dekat dengan Allah SWT. Sebab, akikah tersebut  sendiri ialah  tindakan berkurban. Perbedaannya dengan qurab (kurban) pada hari Idul Adha terletak pada syariatnya.

Jika kurban pada bulan Dzulhijjah disyariatkan berkaitan  dengan peristiwa haji, dan tertentu untuk  yang dapat  serta mempunyai  kehendak yang sama dengan prosesi haji, sementara  akikah ialah  kurban fauna  untuk diri individu  sebagai penebusan terhadap jiwa anak yang baru lahir,” tulisnya.

Dan secara khusus, destinasi  dan guna  akikah ialah  merupakan format  syukur atas anugerah yang diserahkan  Allah untuk  seorang Muslim, dengan kehadiran buah hati dalam kehidupan keluarganya

Namun secara khusus, destinasi  dan guna  aqiqah ialah  bentuk syukur atas rahmat dan anugerah Allah untuk  muslim dengan kehadiran anak dalam kehidupan keluarga.

Tujuan dan guna  aqiqah akan terjangkau  bila upacara atau pengamalan  aqiqah dilakukan  dengan tulus ikhlas dan mengekor  adab aqiqah yang sudah  ditetapkan.

benang merah dari tujuan dan keutamaan aqiqah

Dari sejumlah  hadits diatas pula bisa  ditarik benang merah  atas keutamaan aqiqah yaitu:

  • 1. Mendapat pahala sebab  melaksanakan sunnah Rosul – Melaksanakan sunnah Rasul sama aja membuktikan bila   diri kita menyukai  Nabi Muhammad dan menyukai  Islam. Mengapa demikian? Karena seluruh  sumber dasar Islam terdapat  pada Al Quran dan As Sunnah yang mana aqiqah ialah  salah satu isi yang terdapat  didalam sunnah itu.
  • 2. Menghilangkan kotoran dan penyakit – Aqiqah pun  disertai dengan memotong  rambut bayi dengan niat menghilangkan kotoran dan penyakit.
  • 3. Meningkatkan ibadah untuk  Allah – Pada acara aqiqah seringkali  disertai dengan pembacaan al quran 30 juz, atau pembacaan yasin dan tahlil, doa-doa dan beda  sebagainya. Hal ini menciptakan  pelaksana aqiqah menjadi bertambah  rasa cinta iobadahnya dengan melakukan  demikian.
  • 4. Mendoakan sang bayi – Pada aqiqah seringkali  disertai doa-doa guna  mendoakan bayi sampai-sampai  dapat menjadi keuntungan guna  bayi yang tiada terhintung jumlahnya.
  • 5. Meningkatkan rasa cinta sosial sesama muslim – Dengan membagi aqiqah pada sesama muslim dapat menambah  rasa solidaritas sesama muslim sampai-sampai  menumbuhkan cinta terhadap sesama muslim pula.

Demikian seputar aqiqah dan keutamaan aqiqah. Apapun ibadah yang anda  lakukan, dasarkan dengan ikhlas menjalankan ajaran Islam. Sehingga guna  yang anda  dapatkan dapat  mencakup kebajikan  agama, dunia, dan akhirat kelak. Wallahu A’lam.

baca juga yuk

Aqiqah dan manfaatnya bagi diri sendiri, tinjauan apakah nabi mengaqiqahi dirinya sendiri?

BANYAK umat Islam yang tidak mengerjakan  aqiqah sewaktu kecilnya sebab  keterbatasan biaya. Maka dari itu, tak tidak banyak  dari masyarakat anda  yang memiliki keunggulan  harta sesudah  dewasanya berinisiatif guna  menyembelih aqiqah guna  dirinya sendiri. Namun bagaimanakah Islam memandang   hal yang satu ini?

aqiqah diri sendiri

Setidaknya terdapat  dua pendapat dalam urusan  ini, di mana semua  ulama, yang levelnya telah  sampai ke tingkat mujtahid betulan, masih bertolak belakang  pendapat. Kalau anda  buka buku  fiqih, maka anda  akan menemukan  rincian perbedaan pendapat itu.

Siapa ulama yang membolehkan aqiqah pada diri sendiri?

Ar-Rafi’i, ulama dari kalangan mazhab Asy-yafi’iyah mengatakan bilamana  seseorang mengakhirkan dari menyembelihkan aqiqah guna  anaknya sampai  anaknya sudah  baligh, maka sudah  gugurlah kesunnahan dari ibadah itu.

Namun bila   anak tersebut  sendiri yang bercita-cita  untuk mengerjakan  penyembelihan aqiqah untuk  dirinya sendiri, tidak mengapa.

Muhammad ibn Sirin berkata, “Seandainya saya tahu bahwa saya belum disembelihkan aqiqah, maka saya bakal  melakukannya sendiri.”

Al-Qaffal, salah seorang dari fuqaha mazhab Asy-Syafi’iyah pun  memilih urusan  yang sama. Silahkan rujuk buku  Syarah Al-Asqalani li Shahih Al-Bukhari jilid 9 halaman 594-595.

‘Atha’ dan Al-Hasan berbicara  bahwa seseorang tidak kenapa  bila mengerjakan  penyembelihan aqiqah guna  dirinya sendiri, karena  dirinya menjadi garansi  (rahn).

bagaimana ulama yang mengatakan seseorang tidak perlu mengaqiqahi dirinya sendiri?

Ketika Al-Imam Ahmad bin Hanbal ditanya mengenai  masalah ini, yakni  bolehkah seseorang mengerjakan  penyembelihan aqiqah guna  dirinya sendiri, lantaran dahulu orang tuanya tidak mengerjakan  untuknya, beliau membalas  bahwa tidak perlu dilaksanakan  hal itu.

Alasannya, sebab  syariat aqiqah tersebut  berada di pundak orang tuanya, bukan sedang di  pundak si anak.

Salah satu ulama pengekor  mazhab Hanbali, Ibnu Qudamah berkata, “Berdasarkan keterangan dari  kami, penyembelihan tersebut  disyariatkan sebagai beban untuk  orang tua dan orang beda  tidak dibebankan guna  melakukannya, laksana  shadaqah fithr. (rujuk buku  Al-Mughni jilid 8 halaman 646).

referensi dari tokoh agama yang mashur di indonesia

Jadi kesimpulan dan yang manjadi patokan sperti ini ya?

bila   Anda merasa hendak  menyembelih kambing aqiqah guna  diri kita  sendiri. Tidak masalah bila   memang terdapat  rezekinya, asal tidak dipaksakan. Sebab urusan  tersebut  ada dasarnya, minimal  didukung oleh sejumlah  ulama.

Akan namun  Anda mesti maklum dengan ucapan  orang beda  yang tidak setuju dengan sikap laksana  itu. Karena memang terdapat  mazhab Ahmad bin Hanbal yang agaknya tidak cukup  sepakat dengan pendapat itu.

Toh, dua-duanya  hanyalah ijtihad yang nilai kebenarannya tidak pernah hingga  ke level mutlak. Jadi anda  boleh saling bertolak belakang  pendapat dengan teknik  yang beradab, santun, wajar, dan tetap mengawal  nilai-nilai ukhuwah

manfaat aqiqah untuk dirinya sendiri?

Nah setelah mengetahui kesimpulan dari 2 pendapat di atas, alangkah baiknya saya memberikan penjelasan menganai manfaatnya aqiqah bagi dirinya sendiri.. berikut ini 5 Manfaat Aqiqah Yang penting diketahui.

1. Mengumumkan Garis Keturunan

Salah satu guna  aqiqah ialah  untuk memberitahukan  tentang garis keturunan si bayi. Sebab, urusan  ini memang me sti diumumkan  kepada khalayak supaya  tidak menjadi fitnah dikemudian hari. Di samping  itu, cara  ini lebih efektif ketimbang membawa   anak berkeliling kampung melulu  untuk sebatas  memberitahu garis keturunan anak.

2. Memupuk Sifat Dermawan

Aqiqah pun  melatih pelakunya supaya  bersifat pemurah  sekaligus mengurangi  sifat kikir. Mengingat aqiqah tersebut  membutuhkan  pengorbanan yang tidak sedikit, mulai dari berkorban masalah waktu, tenaga, dan materi. Dalam aqiqah ini pun  ada nilai sosial yang tinggi karena  ada pekerjaan  membagikan hasil masakan tersebut untuk  tetangga, saudara atau orang fakir miskin. Jadi ajang untuk membina  ikatan sosial potensial sekali.

3. Wujud Rasa Syukur Kepada Allah

Manfaat aqiqah berikutnya ialah  sebagai wujud syukur kita untuk  Allah Subhanahu wa Ta’ala atas anugrah diserahkan  nikmat anak. Karena tidak seluruh  hamba Allah tersebut  diberi nikmat mempunyai  anak. Diluar sana terdapat  hamba Allah yang Allah uji dengan kemandulan sampai-sampai  sulit mempunyai  anak. Berangkat darisini, ketika muncul  rasa gembira atas kelahiran anak maka tidak boleh  lupa guna  bersyukur untuk  Allah. Adapun salah satu format  rasa syukur tersebut  dengan mengemban  sunnah rasul yaitu  aqiqah.

4. Menghidupkan Sunnah Nabi

Patut diketahui bahwa dengan menjalankan aqiqah anda  berarti sudah  menghidupkan salah satu doktrin  Rasulullah. Ibnu Haj mengatakan, “Banyak sekali guna  yang diperoleh  dari aqiqah antara beda  : menggarap  sunnah dan memadamkan bid’ah. ” Aqiqah pun  menarik tidak sedikit  pahala khususnya  di zaman kini  yang banyaknnya pahala ini juga diakibatkan  oleh minimnya orang yang inginkan  melakukannya. (Al Madkhal 3/228-229)

5. Menolak Bala

Aqiqah menampik  bala? Ya, ada sejumlah  ulama yang menuliskan   demikian. Ibnu Haj mengatakan, “Banyak sekali guna  aqiqah di samping  menghidupkan sunnah dan memadamkan bid’ah, tidak terdapat  keberkahan yang ada  pada aqiqah selain mengawal  jabang bayi dari sumber penyakit laksana  yang tertera  dalam hadis, maka sunnah apa juga  yang dilaksanakan  akan menjadi penyebab seluruh format  kebaikan dan keberkahan. ”

cerita tentang bukti aqiqah bisa menolak bala?

Ada satu hikayat ; seseorang ditemui  oleh sejumlah  orang temannya sebagai tamu. Di dalam rumahnya, mereka menyaksikan  emas dan berserakan, sedangkan  anak-anaknya keluar-masuk. Mereka bertanya kepadanya, ” Tuan, bukankah ini sama dengan kata lain  dengan menyia-nyiakan harta?” Dia menjawab, ” Tapi harta ini aman terlindungi.” Mereka bertanya lagi,”Di mana pengamanannya?” Dia menjawab, “Harta ini telah  dizakati. Itulah pengamannya.”

apakah orang yang telah melakukan aqiqah bisa aman dari bencana?

Maka, demikian halnya dengan masalah yang sedang anda  bicarakan ini. Orang yang telah  diaqiqahi, berarti dia telah  aman dari bencana. Bencana terkecil yang menimpa bayi membutuhkan  upaya orangtuanya guna  mengeluarkan ongkos  setinggi ongkos  aqiqah atau bahkan lebih. Orang yang mempunyai  akal sehat, bakal  segera menerbitkan  segala daya-upaya guna  melaksanakannya. Sebab, aqiqah menghimpun antara ketenteraman  harta dan tubuh sekaligus. Keamanan tubuh ialah  keselamatan si bayi dari bencana laksana  yang sudah diterangkan  di atas. Sedangkan tentang ketenteraman  harta; ongkos  aqiqah dapat  dibilang lumayan  ringan bila dikomparasikan  dengan ongkos  yang me sti dikeluarkan untuk menanggulangi  bencana itu  atau ongkos  yang me sti dikeluarkan atas bencana yang diperkiran bakal  terjadi untuk  si bayi.

Dalam Buku DR Husamuddin Bin Musa Afanah “

tinjauan mengenai aqiqah yang di lakukan oleh nabi muhammad saw

BARANGKALI hadir  kegelisahan, saat  mendapati diri atau anak anda  sudah menjangkau  usia dewasa, belum pun  diakikahi. Karena Nabi shallallahualaihiwa sallam menuliskan , bahwa seorang anak yang tercetus  statusnya tergadai, hingga  dia diakikahi.

hadis mashur bahwa “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya. Disembelih pada hari ketujuh, dipotong  gundul rambutnya, dan diberi nama.”

(HR. Ahmad 20722, at-Turmudzi 1605, dan dinilai shahih oleh al-Albani).

Perlu anda  ketahui, bahwa hukum akikah sebenarnya ialah  sunah muakkadah. Namun, bila   tidak mampu, akikah boleh dilaksanakan  setelahnya hingga  ada kemampuan, meskipun si anak sudah menjangkau  dewasa. Hal ini berdasar pada tindakan  Nabi shallallahuaalaihi wa sallam, dimana beliau mengakikahi diri beliau sendiri di ketika  beliau sudah menjangkau  usia dewasa. Imam Tabrani meriwayatkan hadis yang menjadi dasar benang merah  ini,

“Bahwa Nabi shallallahuaalahi wa sallam meng-akikahi diri beliau sendiri, sesudah  beliau diutus menjadi Nabi.”

(Dinilai shahih oleh Syaikh Albani, dalam Silsilah As-Shahihah).

Baca juga:

Inilah pendapat yang kami nilai powerful  diantara persilangan pendapat ulama yang terdapat  dalam masalah ini. Riwayat di atas, pun  menunjukkan bolehnya seorang mengakikahi dirinya sendiri, bilamana  orangtuanya belum mengakikahi dirinya saat  kecil atau sebab  orangtuanya tidak dapat  menunaikan akikah untuknya.

perbandinganya seperti apa?

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Seandanya domba  akikah disembelih sebelum atau sesudah  hari ketujuh, maka hukumnya sah. Adapun bila   disembelih sebelum kelahiran, semua  ulama sepakat akikah tidak sah. Status domba  yang disembelih ialah  sembelihan biasa (tidak teranggap sebagai akikah).” (Al-Majmu 8/411).

Syaikh Abdulaziz bin Baz rahimahullah menjelaskan, “Waktu pengamalan  akikah ialah  hari ketujuh kelahiran. Inilah masa-masa  yang sangat  utama, yakni  hari ketujuh. Namun bila domba  akikah disembelih sesudah  hari ketujuh, tidak mengapa. Bahkan hingga  satu atau dua tahun setelahnyapun tidak mengapa. Jika ayahnya belum membayar  akikah anaknya, sedangkan  anak tersebut hendak  mengakikahi dirinya, inipun baik (sah). Meski sebetulnya  akikah ialah  tanggungan ayah, akan namun  bila seorang hendak  mengakikahi dirinya, atau mengakikahi ibu atau saudaranya, maka tidak mengapa.”

baca juga:

fiqih aqiqah pdf, ebook terlengkap yang mengupas tentang aqiqah.

bagi anda yang sedang mencari fiqih aqiqah pdf atau referensi buku aqiqah atau sedang mencari pembahasan yang lengkap mengenai aqiqah yang dibahas oleh ahlinya. Tepat sekali disini kami akan membagikan berbagai buku gratis mengenai aqiqah atau buku elektronik. (ebook)

Mengepa harus mencari informasi di buku (ebook) ?

Mencari informasi mengenai aqiqah memang perlu adanya referensi yang tepat. Dengan informasi yang tidak sepotong-potong, kita akan mendapatkan informasi yang utuh dan lengkap. Serta pembahasan yang mudah di pahami. Alangkah baiknya kita langsung membahas satu-satu ebook yang akan kami bagikan berikut, daftar isinya yang akan anda dapatkan secara gratisss..dan pastinya anda bisa mendownloadnya secara grstis pula.

1. ebook tentang aqiqah disertai doa-doa

ebook ini membahas mengenai doa-doa seputar aqiqah dan landasan hadisnya, isi dalam ebook ini mulai dari pengertian aqiqah, dasar hukum aqiqah, syarat, dan doa-doa aqiqah.

nah ebook ini mempunyai referensi yang jelas dan akurat, karena di ambil dari kitab-kitab dibawah ini.

  • 1. Al-Jami’ush Shahih, Muhammad bin Ismai‟l Al-Bukhari.
  • 2. Al-Jami’ush Shahih Sunanut Tirmidzi, Muhammad bin Isa AtTirmidzi.
  • 3. Al-Mufashshal fi Ahkamil ‘Aqiqah, Hasamuddin bin Musa
  • „Afanah.
  • 4. Al-Wajiz fi Fiqhis Sunnah wal Kitabil Aziz, ‟Abdul ‟Azhim bin
  • Badawi Al-Khalafi.
  • 5. As-Silsilah Adh-Dha’ifah, Muhammad Nashiruddin Al-Albani.
  • 6. As-Silsilah Ash-Shahihah, Muhammad Nashiruddin Al-Albani.
  • 7. Bulughul Maram min Adillatil Ahkam, Ahmad bin ‟Ali bin Hajar
  • Al-„Asqalani.
  • 8. Fiqhus Sunnah lin Nisaa’i wa ma Yajibu an Ta’rifahu Kullu
  • Muslimatin minal Ahkam, Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim.
  • 9. Irwa’ul Ghalil fi Takhriji Ahadits Manaris Sabil, Muhammad
  • Nashiruddin Al-Albani.
  • 10. Mukhtasharul Fiqhil Islami, Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri.
  • 11. Mukhtashar Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud, Abu Shuhaib
  • Al-Karimi.
  • 12. Musnad Ahmad, Ahmad bin Hambal Asy-Syaibani.
  • 13. Muwaththa’ Malik, Malik bin Anas bin Malik.
  • 14. Shahih Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu wa Taudhih Madzahib AlA’immah, Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim.
  • 15. Shahih Muslim, Muslim bin Hajjaj An-Naisaburi.
  • 16. Shahihul Jami’ish Shaghir, Muhammad Nashiruddin Al-Albani.
  • 17. Sunan Abu Dawud, Abu Dawud.
  • 18. Sunan Ibnu Majah, Ibnu Majah.
  • 19. Sunan Nasa’i, Ahmad bin Syu‟aib An-Nasa‟i.
  • 20. Sunanul Baihaqil Kubra, Ahmad bin Husain bin „Ali bin Musa AlBaihaqi.
  • 21. Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud, Syamsuddin Abu „Abdillah
  • Muhammad bin Abi Bakar Ad-Dimasyqi Al-Qayyim Al-Jauziyah.
  • 22. Menanti Buah Hati dan Hadiah Untuk yang Dinanti, ‟Abdul
  • Hakim bin Amir Abdat

nah bagi yanng menginginkan ebook ini silahkhan unduh disini

2. fikih aqiqah yang membahas seputar ibadah aqiqah beserta dasar konsepnya

Menurut ahli fiqih ibadah yaitu segala sesuatu yang dikerjakan untuk
mencapai keridhaan Allah dan mengharap pahala-Nya di akhirat

Majlis Tarjih Muhammadiyah memberikan definisi tentang ibadah adalah
bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dengan mentaati segala
perintah-Nya, menjauhi segala larangan-Nya dan mengamalkan segala yang
diizinkan-Nya
Dari tiga definisi tersebut, jelaslah bahwa ibadah adalah segala kegiatan
yang semata-mata dikerjakan berdasarkan pada memperhambakan diri kepada
Allah SWT.

Aqiqah berasal dari bahasa Arab yaitu mashdar (kata benda) dari fiil madhi dengan fiil mudhore’ yang berarti “mengaqiqahkan anak atau menyembelih kambing aqiqah” Menurut bahasa aqiqah artinya memotong atau memisahkan, misalnya kata “Uquq Al- Walidaini” artinya durhaka kepada kedua orang tua.

nah dalam ebook ini kalian akan mendapatkan penjelasane mengenai ibadah aqiqah secara lengkap. download dibawah ini ya..

link aqiqah jogja ridho
link download ebook aqiqah

3. E-BOOK WAWASAN UMUM TENTANG AQIQAH DALAM PERSPEKTIF HADITS

Beberapa daftar isinya yang perlu diketahui:

  • Beberapa Tradisi Terkait Kelahiran Seorang Bayi
  • Ungkapan Suka Cita Dan Selamat Atas Karunia Anak
  • Mengumandangkan Adzan Ditelinga Bayi
  • pembehasan lengkap Mendhem Ari-Ari
  • Brokohan
  • Tahnik Pada Bayi
  • Mencukur Rambut Kepala Bayi
  • Hanya jika memungkinkan
  • Hadits – Hadits Tentang Aqiqah

nah bagi yanng menginginkan ebook ini silahkhan unduh disini secara lengkap.

link aqiqah jogja ridho
link downloadnya

4. ebook: POLEMIK USIA HEWAN AQIQAH: STUDI KOMPARASI PENDAPAT IMAM MADZHAB HUKUM ISLAM

UIN Raden Fatah Palembang:

ebook ini berusaha membahas secara eksploratif tentang normatifitas usia
hewan yang dikurbankan dalam proses aqiqah. Kajian normatif ini dilakukan
berdasarkan fenomena tentang sakralitas proses aqiqah yang ingin dilakukan
oleh setiap orang tua terhadap anaknya.

Beberapa pertanyaan muncul terkait fenomena tersebut; apakah jenis dan usia hewan yang dikurbankan untuk aqiqah sama dengan persyaratan hewan kurban yang dikurbankan pada idul adha?


Bagaimana para ulama mazhab memberi gambaran tentang landasan usia hewan
aqiqah ini? Penelitian ini menemukan bahwa hampir tidak terdapat perbedaan
mendasar dari para ulama klasik mengenai usia hewan aqiqah. Hasil kajian ini
menegaskan bahwa hewan sudah boleh disembelih sebagai aqiqah apabila sudah
mencapai usia al-tsaniy/tsaniyah/musinnah kecuali untuk hewan biri-biri cukup
dengan usia al-jadza‟/jadza‟ah.

Namun demikian, terdapat beberapa ulama,
sekalipun minoritas, yang mengatakan bahwa hewan aqiqah yang disembelih
dibawah umur tersebut tetap sah dan terhitung sebagai pahala.

nah yuk mulai membaca secara menyeluruh: dan download dibawah ini ya:

link aqiqah jogja ridho
link download aqiqah

baca juga:

waktu aqiqah pembahasan ter-lengkap dan mudah di pahami.

Waktu aqiqah dipilih untuk anak yang baru lahir secara tepat. namun Secara umum, ada pendapat dari jumhur ulama hari-hari di-sunnahkannya penyembelihan kambing  untuk aqiqah.

waktu aqiqah terbaik ridho
waktu aqiqah terbaik

Pendapat mengenai waktu aqiqah.

pengamalan  aqiqah tepat sesudah  bayi didilahirkan  dan tidak me sti menantikan  sampai hari ke-7. itu menurut  Sya fiiyah dan Hanabilah. Tapi mereka tidak membolehkan sebelum bayi dilahirkan. Maka, andai  penyembelihan dilaksanakan  sebelum kelahiran bayi, dirasakan  sebagai sembelihan biasa dan bukan aqiqah. Hal ini didasari atas suatu karena  yaitu kelahiran. Maka andai  bayi telah  terlahir aqiqah boleh dilaksanakan.

Sedangkan pendapat yang terakhir  baru membolehkan pengamalan  aqiqah pada hari ke-7 pasca kelahiran. itu menurut Hanafiyah dan Malikiyah. Dan aqiqah tidak sah (dianggap sembelihan biasa) bila  dilakukan  sebelumnya.

Kapan waktu aqiqah ditentukan dan apakah ada batasanya?

1. waktu aqiqah Hari ke-7

Kalangan Malikiyah berasumsi  bahwa masa-masa  aqiqah melulu  sampai hari ke-7 pasca kelahiran. Jika hari ke-7 sudah selesai  maka ibadah aqiqah telah  tidak lagi berlaku.

2. Aqiqah Sampai anak umur  baligh

Sedangkan Syafi’iyah, mereka membolehkan untuk  orang tua melasanakan aqiqah anaknya sampai  dia masuk umur  baligh. Ini yang mustahabb. Maka saat  telah masuk umur  baligh, orang tua bukan lagi  terbebani ibadah ini. Akan namun  anak itulah yang akan mengemban  aqiqahnya sendiri andai  mampu. Demikian yang diriwayatkan dalam suatu  hadits, bahwa Rasulallah meng-aqiqahi dirinya sendiri saat  beliau telah  menjadi nabi.

Al-Imam an-Nawawi di dalam kitabnya Syarhu al-Muhadzab, mengatakan andai  hadits mengenai  aqiqahnya Nabi guna  dirinya sendiri tersebut  adalah hadits bathil.

Batasan waktu aqiqah menurut ulama madzhab?

Para ulama bertolak belakang  pandangan tentang  batas akhir waktu guna  aqiqah. Sebagai muslim, tentu susah  untuk dapat  memahami batasan peraturan  waktu guna  aqiqah.

Maka dari tersebut  mari anda  simak pandangan-pandangan semua  ulama jumhur di bawah ini:

  1. Syafi’iyah dan Hambali

Beberapa pandangan ulama madzhab Syafi’iyah dan Hambali mengenai  waktu aqiqah yaitu dibuka  dari kelahiran sang bayi. Mereka berasumsi  bahwa hukumnya tersebut  tidak sah bilamana  aqiqah dilakukan  sebelum bayi lahir. Memotong kambing  sebelum bayi bermunculan  maka dirasakan  sebagai sembelihan biasa.

Ulama dari kalangan Syafi’iyah berasumsi  bahwa masa-masa  aqiqah dapat  diperpanjang. Meski begitu, kerjakan  aqiqah sebelum anak baligh (dewasa). Karena bila   baligh belum pun  diaqiqahi, maka aqiqahnya telah  gugur.

Orang yang baligh boleh mengaqiqahi diri sendiri. Karena Ulama Syafi’iyah berpandangan bahwa aqiqah tersebut  kewajiban sang ayah.

Sementara semua  ulama kalangan Hambali berpandangan bahwa andai  aqiqah tidak bisa  hari ke-7, maka disunnahkan dan boleh hari ke-14, hari ke-21 dan seterusnya.

2. Hanafiyah dan Malikiyah

Sementara tersebut  para ulama madzhab Hanafiyah dan Malikiyah berpandangan bahwa masa-masa  aqiqah sangat  sunnah ialah  pada hari ketujuh dan jangan  sebelumnya.

Ulama Malikiyah pun memberi batas  bahwa masa-masa  aqiqah sesudah  hari ke-7 dirasakan  sudah gugur.

3. Ulama Indonesia

Mayoritas Ulama di Indonesia bermadzab Imam Syafi’i, baik Muhammadiyah maupun NU (Nahdhatul Ulama). Karenanya, tidak sedikit  tidak heran bila   masyarakat anda  merayakan syukuran aqiqah sesudah  sesudah dewasa. Alasannya sebab  waktu kecil belum aqiqah.

kapan waktu aqiqah untuk Anak, agar bisa mengaqiqahi dirinya sendiri?

Ulama yang membolehkan untuk  anak guna  meng-aqiqahi dirinya sendiri andai  mampu dengan keumuman hadits,

كُلُّ غُلَامٍ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ، تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ، وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ، وَيُسَمَّى

Artinya: “Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, maka disembelihkan kambing  untuknya pada hari ke-7, dipotong  rambutnya, dan diberi nama”

(HR.Ibn Majah)

Kata tergadai (مُرْتَهَنٌ) berarti me sti dilakukan  dan dibayar  kapan juga  dan oleh siapapun. Jika masih hari ke-7 atau sebelum baligh, maka menjadi tanggungan orang tua. Namun andai  sudah lewat, maka boleh dilakukan  oleh siapapun temasuk oleh anak tersebut  sendiri, andai  dia mampu. Kata ‘boleh’ dalam urusan  ini bukan berati sunnah.

kapan Waktu aqiqah yang baik untuk dilaksanakan?

Sebagaimana pendapat di atas, Sementara tersebut  menyimak ulasan  dari Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal dari Rumaysho menyerahkan  rekomendasi bahwa usahakan  aqiqah dilakukan  tepat hari ke-7.

Beliau beralasan, “lebih baik berpegang dengan masa-masa  aqiqah yang disepakati oleh semua  ulama yakni  hari ke tujuh”.

Adapun mengenai  waktu aqiqahan di hari ke-14, 21 dan seterusnya semacam ini har us terdapat  dalilnya.

Aqiqah disunnahkan dilakukan  pada hari ketujuh. Hal ini menurut  hadits,

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى »

Dari Samuroh bin Jundub, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, digundul rambutnya dan diberi nama.”

(HR. Abu Daud no. 2838, An Nasai no. 4220, Ibnu Majah nol. 3165, Ahmad 5/12. Syaikh Al Albani menuliskan   bahwa hadits ini shahih)

Apa hikmah aqiqah dilakukan  pada hari ketujuh?

Murid Asy Syaukani, Shidiq Hasan Khon rahimahullah menerangkan, “Sudah semestinya terdapat  selang masa-masa  antara kelahiran dan masa-masa  aqiqah. Pada mula  kelahiran pasti  saja family  disibukkan guna  merawat si ibu dan bayi. Sehingga saat  itu, janganlah mereka diberi beban  lagi dengan kegiatan  yang lain. Dan pasti  ketika tersebut  mencari domba  juga perlu  usaha. Seandainya aqiqah disyariatkan di hari kesatu  kelahiran sungguh ini paling  menyulitkan. Hari ketujuhlah hari yang lumayan  lapang guna  pelaksanaan aqiqah.”

dimulai dari kapan penghitungan waktu aqiqah?

Disebutkan dalam Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah,

وذهب جمهور الفقهاء إلى أنّ يوم الولادة يحسب من السّبعة ، ولا تحسب اللّيلة إن ولد ليلاً ، بل يحسب اليوم الّذي يليها

“Mayoritas ulama pakar fiqih berpandangan bahwa masa-masa  siang[2] pada hari kelahiran ialah  awal hitungan tujuh hari. Sedangkan masa-masa  malam[3] tidaklah jadi hitungan andai  bayi tersebut didilahirkan  malam, tetapi  yang jadi hitungan hari berikutnya.”[4] Barangkali yang dijadikan dalil ialah  hadits inilah  ini,

تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ

“Disembelih baginya pada hari ketujuh.” Hari yang dimaksudkan ialah  siang hari.

Misalnya terdapat  bayi yang bermunculan  pada hari Senin (21/06), pukul enam pagi, maka hitungan hari ketujuh telah  mulai dihitung pada hari Senin. Sehingga aqiqah bayi tersebut dilakukan  pada hari Ahad (27/06).

Jika bayi itu  lahir pada hari Senin (21/06), pukul enam sore, maka hitungan tadinya  tidak dibuka  dari hari Senin, tetapi  dari hari Selasa keesokan harinya. Sehingga aqiqah bayi itu  pada hari Senin (28/06). Semoga dapat  memahami misal  yang diserahkan  ini.

Cara menghitung waktu aqiqah atau hari aqiqah anak.

Anda dapat  menghitung masa-masa  aqiqah semenjak  bayi dilahirkan. Gunakanlah perhitungan kalender hijriah.

Contohnya andai  ada bayi bermunculan  pada hari Rabu pukul enam pagi (06.00 WIB), maka hitungan hari ketujuh sudah semenjak  hari Rabu tersebut. Maka pengamalan  aqiqah bayi itu  yaitu hari Selasa.

Contoh lainnya andai  bayi bermunculan  hari Rabu pukul enam senja  (18.00 WIB), maka hitungannya bukan Rabu, namun  masuk hari Kamis keesokan harinya. Pelaksanaan aqiqah bayi tersebut ialah  pada hari Rabu.

تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ

“Disembelih baginya pada hari ketujuh.” Hari yang dimaksudkan ialah  siang hari.

Adanya jangka masa-masa  aqiqah dari sesudah  kelahiran bahwasannya  berisi  hikmah. Pada ketika  bayi baru lahir, keluarga tentu  disibukkan dengan pengurusan bayi pun  ibunya. Maka dari tersebut  perlu ada masa-masa  persiapan sebelum syukuran aqiqah dan ini menjadi keutamaan dan ibrah masa-masa  aqiqah.

Bagaimana andai  waktu aqiqah tidak dapat  dilaksanakan pada hari ketujuh?

Dalam masalah ini ada  silang pendapat salah satu  para ulama. Berdasarkan keterangan dari  ulama Syafi’iyah dan Hambali, masa-masa  aqiqah dibuka  dari kelahiran. Tidak sah aqiqah sebelumnya dan cuma dirasakan  sembelihan biasa.

Berdasarkan keterangan dari  ulama Hanafiyah dan Malikiyah, masa-masa  aqiqah ialah  pada hari ketujuh dan jangan  sebelumnya.

Ulama Malikiyah pun memberi batas  bahwa aqiqah telah  gugur sesudah  hari ketujuh. Sedangkan ulama Syafi’iyah membolehkan aqiqah sebelum umur  baligh, dan ini menjadi keharusan  sang ayah.

Sedangkan ulama Hambali berasumsi  bahwa andai  aqiqah tidak dilakukan  pada hari ketujuh, maka disunnahkan dilakukan  pada hari keempatbelas. Jika tidak sempat lagi pada hari tersebut, boleh dilakukan  pada hari keduapuluh satu. Sebagaimana urusan  ini diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Adapun ulama Syafi’iyah berasumsi  bahwa aqiqah tidaklah dirasakan  luput andai  diakhirkan waktunya. Akan tetapi, disarankan  aqiqah tidaklah diakhirkan sampai  usia baligh. Jika sudah  baligh belum pun  diaqiqahi, maka aqiqahnya tersebut  gugur dan si anak boleh memilih guna  mengaqiqahi dirinya sendiri.

bagaimana kesimpulanya?

Dari perbedaan pendapat di atas, pengarang  sarankan supaya  aqiqah dilakukan  pada hari ketujuh, tidak sebelum atau sesudahnya. Lebih baik berpegang dengan masa-masa  yang disepakati oleh semua  ulama.

Adapun menyatakan dipindahkan  pada hari ke-14, 21 dan seterusnya, maka penentuan tanggal semacam ini me sti perlu  dalil.

Sedangkan mengaku  bahwa aqiqah boleh dilaksanakan  oleh anak tersebut  sendiri saat  ia telah  dewasa sedang ia belum diaqiqahi, maka andai  ini berdalil dengan tindakan  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disebutkan  mengaqiqahi dirinya saat  dewasa, tidaklah tepat. Alasannya, sebab  riwayat yang melafalkan  semacam ini lemah dari masing-masing  jalan. Imam Asy Syafi’i sendiri mengaku  bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mengaqiqahi dirinya sendiri (ketika dewasa) sebagaimana dilafalkan  dalam salah satu buku  fiqih Syafi’iyah Kifayatul Akhyar. Wallahu a’lam.

baca juga:

FILOSOFI AQIQAH, PENDAPAT AHLI FIQIH DAN ULAMA. OLEH DOSEN UIN MAKASAR.

Kajian dalam masalah folosofi aqiqah dan udhiyah (perspekif alqur’an dan sunnah). oleh hj. nurnaningsih fakultas syari’ah dan hukum universitas islam negeri (UIN) Alauddin Makasar

filosofi aqiqah, hukum akikah
filosofi aqiqah dan hukum aqiqah

Bagaimana filosofi aqiqah menurut pandangan Al qur’an, As-Sunnah dan ijma?

Berdasarkan Al qur’an, As-Sunnah dan ijma’ bila   seorang insan  lahir baik laki-laki maupun permpuan, maka di- syari’atkan untuk  orang tuanya guna  melaksanakan aqiqah cocok  dengan kriteria  peraturan  yang sudah  ditetapkan,demikian pula untuk  muslim muslimah yang terpapar  syarat untuk mengerjakan  sembelihan/Qurban pada hari-hari tasyrik di bulan zulhijjah serta untuk  umat Islam yang sedang melaksanakan ibadah haji.

contoh  dalam format  “Dam” . Syari’at tersebut paling  jelas alasan  dan hukumnya tetapi  sebagian umat Islam masih ada  kalangan personil yang sudah lumayan  memenuhi kriteria  untuk mengerjakan  sembelihan/qurban/aqiqah akan namun  baik disengaja maupun memandang  remeh dengan berbagai dalil  sehingga perintah menyalurkan  darah hewan  tidak bisa  dilaksanakan. Disisi beda  masih terpengaruh dengan pemahaman antara me sti  dengan sunnah pengamalan  Aqiqah udhiyah sampai-sampai  sebagian kaum muslimin tidak mempunyai  keseriusan guna  melaksanakannya.

Bagaimana mengenai pandangan melaksanakan filosofi aqiqah?

Dalam pembahasan mengenai folosofi aqiqah ini. Terdaapat pandaangan yang pelbagai  tentang aqiqah dan udhiyah baik dari segi: Kemampuan, masa-masa  pelaksanaannya serta macam dan umur untuk  binatang yang bisa  menjadi “Binatang Sembelihan” Para Ulama/Muballigh tidak henti- hentinya menyerukan perlunya melaksana- kan perintah aqiqah/udhiyah terutama untuk  muslim dan muslimah yang nyata-nyata telah  memilki keterampilan  secara material, namun keterampilan  untuk merintangi  pengaruh syetan yang senantiasa menggagu cocok  dengan kissah kronologis dari Penghulu anda  Ibrahim,

1. Bagaimana pandangan Fuqaha tentang: folosofi aqiqah, Udhiyah /Qurban?

Folosofi aqiqah secara bahasa ialah  rambut yang berada pada kepala bayi, yang beberapa  pandangan meng- anggap najis yang perlu dimurnikan  pada masa usia  tujuh hari, terdapat  yang ber- pendapat sembilan bahkan sebelas hari.

Berhubung KAMBING  sembelihan yang diper- untukkan untuk  anak laki-laki bertolak belakang  dengan jumlah yang diperuntukkan untuk  anak perempuan. Sebagaimana yang sudah  menjadi warisan budaya untuk  bangsa arab sebagai latar/utama pengamalan  syari’at ini, maka dilakukanlah sembelihan hewan  yang bertepatan dengan tujuh hari dari ke- lahirannya dan sekaligus dilaksanakan  pen- cukuran rambut dan pemberian nama untuk  anak yang lahir. Adapun folosofi aqiqah secara istilah antara beda  yang diajukan  oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya Tuhfatul Maudud, bahwa imam Jauhari berkata: Aqiqah ialah  menyembeli KAMBING  pada hari ketujuhnya dan memotong  rambutnya, selanjutnya Ibnul Qayyim menuliskan   dari penjelasan  tersebut jelaslah baha aqiqah itu diterangkan  demikian sebab  berisi  dua unsure diatas dan ini lebih utama

Bagaimana Pandangan ahli fiqih mengenai folosofi aqiqah?

Pandangan Fuqoha mengenai  disyariat- kannya Aqiqah Para Fuqaha bertolak belakang  pendapat ten- tang persoalan  hukum Aqiqah. Per- bedaan mereka disebabkan  berangkat dari pemahaman terhadap beberaa hadis yang berbeda. Mazhab Hanafiyah menuliskan   bahwa hukum aqiqah ialah  cuma mubah saja. Umat Islam bebas diperkenankan untuk mengerjakan  dan meninggalkan ritual aqiqah ini. Dasar dari pendapat mereka ialah  sebuah atsar (perkataan) sayidah Aisyah.

قبلها كاننبح كلاالضحية نسخت

Artinya: Pensyariatan kurbah telah mencatat  dan mengamandemen semua format  ibadah persembelihan sebelumnya.

baca juga:

Suatu urusan  yang tentu  bahwa saidah Aisyah menuliskan   demikian ialah  bukan dari kegiatan  ijtihad (penggalian hukum sendiri) yang dilaksanakan  oleh beliau, akan namun  memang terdapat  interaksi dan mendengar langsung dari Rasulullah Saw. Karena proses nasakh (amandemen hukum) tidak dapat  dilakukan dengan ijtihad, tetapi  harus ada ajaran  langsung dari nas dari al quran dan Hadis. Sedangkan beberapa  besar  para ulama berasumsi  bahwa untuk  seorang ayah atau orang yang keharusan  memberikan nafkah disunahkan menyembelih KAMBING  aqiqah guna  bayi yang baru lahir. Karena ada suatu  riwayat dari Ibnu Abas:

كبشاكبشاالسالم عليهما احلسنيو احلسن عن عق

Artinya: Rasulullah telah mengerjakan  ibadah ritual aqiqah dengan menyembelih domba  untuk setiap  Hasan dan Husain a.s.

Dan sabda Rasulullah:

فيو ويسم سابعو يوم عنو تنبو بعقيقتو رىينة غالم كل اسور وحيلق

Artinya: “Setiap anak tersebut  digadaikan dengan aqiqahnya, yang disembelih untuknya pada hari ketujuh kelahiran, dengan memberikannya suatu  nama, dan memotong  rambut kepalanya”.

Serta sabda Rasulullah yang pun  menganjurkan Aqiqah ialah:

يفعل عنهفل اينسك حب فا لدو لو لدو من

Artinya: Barang siapa yang dikaruniai seorang anak, kemudian  ia menyenangi  untuk mem- baktikannya (mengAqiqahinya), maka hendaklah ia melakukaknnya.

Pendapat sejumlah  ulama bahwa hukum aqiqah ialah  sunnah muakkad. Aqiqah untuk  anak laki-laki dengan dua ekor kambing, sedangkan untuk  wanita dengan seekor kambing. Apabila mencukupkan diri dengan seekor kambing untuk  anak laki-laki, tersebut  juga diperbolehkan. Anjuran aqiqah ini menjadikan keharusan  ayah (yang menang- gung nafkan anak). Apabila saat  waktu dianjurkanya aqiqah (misalnya tujuh hari kelahiran), orang tua dalam suasana  fakir (tidak mampu), maka ia tidak diperintahkan guna  aqiqah.

Bagaimana Ulama yang mengharuskan  aqiqah?

para ulama yang me- wajibkan aqiqah, merupakan   Imam Al-Hasan Al- Basri, Al-Lits Ibnu Sa’ad dan lain-lain. Mereka berargumentasi dengan hadis yang diriwayatkan Muraidah dan Ishaq bin Ruhawiyah:

كماالعقيقة علي القيامة يوم يعرضون الناس ان اخلمس اتوالصل علي يعرضون

Artinya: sesungguhnya insan  pada hari kiamat nanti bakal  dimintai pertanggung- jawabnnya atas aqiqah, sebagaimana bakal  dimintai pertanggungjawabannya atas shalat-shalat lima waktu. Adapula pendapat yang tidak mengizinkan  bahwa Aqiqah tersebut  disyariatkan, mereka ialah  ahli fiqih Hanafiyah. Argument yang dikemukakan ialah  hadis yang diriwayat- kan Al-Baihaqi dari Amr bin Syuaib dari bapaknya dari kakeknya bahwa Rasulullah saw, ditanya mengenai  aqiqah, beliau men- jawab: .بعقيقتو هتنرم غالم كل Mereka pun  berargumentasi dengan hadis yang diriwaatkan oleh Imam Ahmad dari Abi Rafi’ ra, bahwa saat  ibu Al- Hasan bin Ali, Fatimah ra hendak  meng- akikahnya dengan dua biri-biri, Rasulullah saw bersabda:

من نوزبو فتصدقي ,اسور احلقي لكنو تعقي ال فصنعت ,حسني ولد مث لدو مث الفضة من اي ,الورق .ذالك مثل

Artinya: janganlah anda  mengaqiqahnya, namun  cukurlah rambut kepalannya dan bersedekahlah dengan perak sejumlah  berat timbangan rambutnya itu.

Kemu- dian lahirlah Husain dan ia mengerjakan  seperti itu. Kebanyakan berpengalaman  fiqih, ilmu dan ijtihad bahwa dzahir hadis-hadis yang telah dilafalkan  tadi menguatkan segi disunnah- kan dan dianjurkannya aqiqah. Pada dasarnya, mengaqiqakan anak itu ialah  sunnah dan dianjurkan. Ini menurut banyak sekali  Ulama dan Fuqaha.

kesimpulanya folosofi aqiqah bagaimana?

Diisyaratkan untuk  orang tua melakukannya, apabila  keadaan ekonomi memungkinkan dan dapat  menghidupkan sunnah Rasulullah saw ini, supaya  dapat mendapat   keutamaan dan pahala dari segi  Allah swt, guna  menguatkan rasa kasih sayang, kerinduan  dan mempererat tali ikatan sosial antara kaum kerabat dan keluarga

Tetangga dan sebagainya. Kehadiran dan kebersamaan dalam upacara Aqiqah, maka semua  keluarga dan hadirin/hadirat bisa  ikut menikmati  ke- bahagiaan atas kehadiran putra/putri yang didoakan guna  menjadi anak shaleh, generasi pelanjut untuk  keluarga, bangsa dan Negara. Disamping tersebut  dapat pula meng- implementasikan rasa sosial untuk  kaum lemah dengan adanya turut menik-mati daging aqiqah yang secara syar’i diutama- kan pembagiannya pada fakir kurang mampu  dan yatim piatu.

2. Dalil-dalil di Syariatkannya Udhiyah. Nabi Muhammad Saw. datang sedang warga  Madinah di masa Jahiliyah me- miliki dua hari raya yang mereka bersuka ria padanya (tahun baru dan hari pemuda/ aunul mabud), maka Rasulullah bersabda: Aku datang untuk  kalian, sedang kalian mempunyai  dua hari raya yang kalian bersuka ria di masa jahiliyah, lantas  Allah menggantikan guna  kalian dua hari raya yang lebih baik dari keduaanya; Hari idul Qurban dan hari idul Fitri (HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasai dan Baghawi,

Shahih, Lihat Ahkamul Ledain hal.8) Di samping  itu, pada hari Raya Qurban ada  ibadah yang besar pahalanya disisi Allah Subhanahu wataala, yaitu  Shalat ied dan penyembelihan KAMBING  Qurban. Adapun dalil-dalil disyariatkannya Udhiyah

bagaimana aturan menyembelih udhiyah (hewan Qurban) yang dilaksanakan  sesudah shalat ied?

(lihat Tafsir Ibnu Katsir 4:505 dan Al-Mughni 13:360). b) Dalil As-sunnah.Diriwayatkan dari Anas R.A berkata: Nabi SAW berquran dengan dua ekor kambing  jantan yang berwarna putih bercampur hitam dan bertanduk,beliau menyembelih dua-duanya  dengan tangannya sendiri seraya  mem- baca Basmalah dan bertakbir (HR. Bukhari dan Muslim) c) Dalil Ijma’. Pada lazimnya  kaum muslimin sepakat mengenai  disyari’atkan- nya (lihat Al-Mughni 13:360).

Disyari’atkannya menyembelih supaya  binatang jinak menjadi halal. Binatang darat yang boleh dimakan terdapat  dua jenis: Pertama, Jenis yang bisa  dikendalikan, seperti hewan  ternak meliputi: unta, sapi, kambing, hewan  dan bangsa burung yang diternak orang. Agar menjadi halal, oleh Islam disyaratkan me sti dengan sembelih yang Syar’i. Jenis yang kedua: Jenis hewan  liar dan tidak dapat  dikendalikan; jenis hewan  liar dan tidak bias dikendaalikan. Adapun hewan  darat, Al qur’an tidak melafalkan  pengharaman sesuatu- juga  darinya kecuali secara eksklusif  daging babi, bangkai dan darah, serta semua hewan  yabg disembelih tidak dengan nama Allah. Sebagaimana dilafalkan  dalam sejumlah  ayat dengan format  pem- batasan yang haram atas empat macam secara global dan sepuluh macam secara rinci.

Aqiqah ialah  adalah ibadah yang sehubungan  dengan kelahiran seorang bayi baik lai-laki maupun permpuan dengan jumlah kambing/biri-biri

AKHIR KATA

keluarga yang disyaratkan punya kemam- puan, dan ditentukan hari yang umumnya ialah  hari ketujuh, tetapi  masih ada  perbedaan pendapat antara diwajibkan, disunnahkan bahkan terdapat  yang memandang  tidak perlu,

tetapi  tulisan ini lebih mengarahkan untuk  sunnah muakkad Adapun udhiyah yang sehubungan  erat dengan masa-masa  10, 11, 12, dan 13 Dzulhijjah ialah  disyariatkan untuk  muslim-muslimah yang telah  punya keterampilan  baik yang seang mengemban  ibadah haji maupun yang tidak sedang berhaji dengan tetap mengekor  syarat dan ketentuannya secara syar’I, dan dagingnya dapat diserahkan  atau dinikmati oleh diri sendiri, family  dan fakir kurang mampu  serta yatin piatu,

yang salah kriteria  utam ialah  memotong KAMBING  dengan pisau yang tajam disertai Bismillah Baik Aqiqah maupun Udhiyah semuanya adalah ibadah pendekatan diri untuk  Allah dengan mengorbankan beberapa  dari harta yang dimiliknya dan adalah sunnah muakkad (mendekati wajib)

2. Bagaimana konsep Alqur’an, As-sunnah serta Ijma’ Ulama mengenai  tuntunan pengamalan  Aqiqah dan Udhiyah/ Qurban?

bagi kamu yang ingin tetap membaca secara utuh dan lengkap. silahkan mengunjungi laman dokumen penelitian berikut ini. terimakasih

filosofi aqiqah oleh dosen uin alaudin makasar

Hadits tentang aqiqah dan penjelasannya oleh ust. Abdul Shomad, ust Adi Hidayat dan Buya yahya.

Pedoman untuk yang sedang mencari hadits tentang aqiqah dan penjelasannya, dar ustad abdul shomad, buya yahya, ust adi hidayat. Mereka menjelaskan dengan detail mengenai hukum aqiqah, syarat aqiqah, dan semuanya yang membuat anda lebih yakin.. yuk mulai membaca..

hadis aqiqah dan penjelasanya oleh ustad abdul shomad
hadis aqiqah dan penjelasanya oleh ustad abdul shomad

Hadits tentang aqiqah dan penjelasannya, dari segi hukum.

Gimana hukum aqiqah dalam islam, apakah wajib atau sunnah? kenapa anak tergadaikan dengan aqiqahnya? apakah bila kita belum aqiqah itu dosa? atau apakah bila kita sebagai orangtua tidak mengakikahi anak kita tidak hendak masuk surga? itu merupakan pertanyaan- pertanyaan universal yang kerap ditemukan, serta berikut dibawah ini merupakan penjelasannya.

Apa itu aqiqah?

Sebelum lebih jauh mengenai hukum aqiqah, ayo kita tahu dahulu apa itu aqiqah. Akikah( bahasa Arab:عقيقة, transliterasi: Aqiqah) merupakan pengurbanan hewan dalam syariat Islam, bagaikan wujud rasa syukur umat Islam terhadap Allah SWT atas kelahiran anak yang baru saja lahir. Persyaratan jumlah kambing yang hendak di sembelih antara balita pria serta wanita pula berbeda, ialah 1 ekor kambing buat anak wanita serta 2 ekor kambing buat anak pria.

Hadits tentang aqiqah dan penjelasannya ( dari hadist shahih)

Ayo kita amati dahulu darimana aqiqah ini timbul, kita amati dari bermacam hadist yang shahih.

1. Hadits Riwayat Ahmad serta Imam 4 Hadits shahih bagi Tirmidzi.

كلغلاممرتهنبعقيقتهتذبحعنهيومسابعهويحلقويتصدقبوزنشعرهفضةأومايعادلهاويسمى

Maksudnya: Tiap anak tergadai dengan aqiqahnya, hingga pada hari ketujuh hewan disembelih, dicukur habis1 rambutnya, serta diberi nama

2. Hadits dalam sahih Bukhari

معالغلامعقيقهفأهريقواعنهدماوأميطواعنهالأذى

Maksudnya: Tiap anak bersama aqiqahnya, hingga sembelihlah hewan serta hilangkanlah kendala darinya

3. Hadits riwayat Abu Daud

أَنَّرَسُولَاَللَّهِصلىاللهعليهوسلمأَمْرَهُمْأَنْيُعَقَّعَنْاَلْغُلَامِشَاتَانِمُكَافِئَتَانِ,وَعَنْاَلْجَارِيَةِشَاةٌ

Maksudnya: Rasulullah Shallallaahu‘ alaihi wa Sallam memerintahkan mereka supaya beraqiqah 2 ekor kambing yang proporsional( usia serta besarnya) buat balita pria serta seekor kambing buat balita wanita.

وَزَنَتْفَاطِمَةُبِنْتُرَسُولِاللَّهِشَعَرَحَسَنٍوَحُسَيْنٍ،فَتَصَدَّقَتْبِزِنَتِهِفِضَّةً.

Maksudnya: Fatimah Binti Rasulullah SAW( sehabis melahirkan Hasan serta Husain) mencukur rambut Hasan serta Husain setelah itu dia bersedekah dengan perak seberat timbangan rambutnya.

4. Hadits riwayat Abu Daud serta Nasai

مَنْاَحَبَّمِنْكُمْاَنْيُنْسَكَعَنِوَلَدِهِفَلْيَفْعَلْعَنِالْغُلاَمِشاَتَاَنِمُكاَفأََتاَنِوَعَنِالْجاَرِيَةِشاَةٌ

Maksudnya: Benda siapa diantara kalangan mau beribadah tentang anaknya hendaklah dicoba aqiqah buat anak pria 2 ekor kambing yang sama usianya serta seekor kambing buat anak perempuan

5. Hadits riwayat Abu Daud

أَنَّاَلنَّبِيَّصلىاللهعليهوسلمعَقَّعَنْاَلْحَسَنِوَالْحُسَيْنِكَبْشًاكَبْشًا

Maksudnya: Nabi beraqiqah buat Hasan serta Husein tiap- tiap seekor kambing kibas

Ayat al- quran yang membahasa mengenai aqiqah

kemudian apakah alquran menarangkan mengenai aqiqah? TIDAK Terdapat SATU AYATPUN DALAM AL- QURAN YANG Menarangkan TENTANG AQIQAH.

Dengan tidak terdapatnya satupun ayat alquran yang mengharuskan kita buat melakukan aqiqah, kita mulai dapat mengambil kesimpulan kalau aqiqah bukanlah harus.

Tetapi kita tidak dapat begitusaja merumuskan suatu, oleh sebab itu kita wajib mencaritahu kepada orang yang berilmu serta mengerti betul mengenai perihal yang mau kita tanyakan, semacam apa yang dalam alquran jelaskan kalau:

يَاأَيُّهَاالَّذِينَآمَنُواإِنجَاءَكُمْفَاسِقٌبِنَبَإٍفَتَبَيَّنُواأَنتُصِيبُواقَوْمًابِجَهَالَةٍفَتُصْبِحُواعَلَىٰمَافَعَلْتُمْنَادِمِينَ

Maksudnya: Hai orang- orang yang beriman, bila tiba kepadamu orang fasik bawa sesuatu kabar, hingga periksalah dengan cermat supaya kalian tidak mengenai sesuatu bencana kepada sesuatu kalangan tanpa mengenali keadaannya yang menimbulkan kalian menyesal atas perbuatanmu itu

.( Pesan Al- Hujurat Ayat 6)

bagaimana pendapat Buya Yahya mengenai hukum aqiqah?

saya mau memperdalam menganai hukum aqiqah. ini pendapat penting buya yahya.

pendapat penting buya yahya.mengenai aqiqah

Siapa itu buya yahya?

Buya Yahyaadalah seseorang da” i yang dilahirkan di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, 10 Agustus 1973; usia 46 tahun) ia merupakan penjaga Lembaga Pengembangan Dawah serta Pondok Pesantren Al- Bahjah yang berpusat di Cirebon..

Buya Yahya mendirikan Lembaga Pengembangan Dawah serta Pondok Pesantren dengan nama Al- Bahjah yang pusatnya terletak di daerah Kabupaten Cirebon.

Al- Bahjah mempunyai sebagian kampus, kampus utama yang beralamat di Jalur Pangeran Cakra Buana Nomor. 179, Blok Gudang Air, Kelurahan Sendang, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, mulai dibentuk pada Juni 2008. Al- Bahjah mempunyai banyak unit usaha; terdapat minimarket AB Mart, Al- Bahjah Tour& Travel, Sekolah Dasar Islam Qur’ ani( SDIQu) Al- Bahjah, SMPIQU angkatan laut(AL) Bahjah, SMAIQu angkatan laut(AL) Bahjah, Angkatan laut(AL) Bahjah Televisi, Radio QU, Penerbit Pustaka Al- Bahjah serta masih banyak lagi. Bermacam unit usaha tersebut rata- rata digerakkan para santri, yang diucap Santri Khos, ataupun santri spesial. Santri Khos tidak hanya bergerak dalam bidang dakwah ataupun sosial, terdapat pula yang bertugas di dapur universal.

Pesantren ini kental dengan nuansa Nahdiyyin Walaupun begitu, pesantren ini bukan kepunyaan ormas Nahdlatul Ulama( NU)

Salah satu peraturan di Al- Bahjah, para santri diwajibkan berbahasa Arab dalam keseharian. Untuk santri baru, diberi waktu 3 bulan buat beradaptasi

Kemudian gimana pendapat ust Abdul Somad mengenai hukum aqiqah?

Siapa ustad abdul shomad??

Ustaz Profesor. H. Abdul Somad Batubara, Lc., D. E. S. A., Ph. D., Datuk Seri Ulama Setia Negeri ataupun lebih diketahui dengan Ustaz Abdul Somad( bahasa Arab:عبدالصمد‎, lahir di Silo Lama, Asahan, Sumatra Utara, 18 Mei 1977; usia 42 tahun)[1][4] merupakan seseorang pendakwah serta ulama Indonesia yang kerap membahas bermacam berbagai perkara agama, spesialnya kajian ilmu hadis serta Ilmu fikih. Tidak hanya itu, dia pula banyak mangulas mengenai nasionalisme serta bermacam permasalahan terbaru yang lagi jadi ulasan hangat di golongan warga. Namanya diketahui publik sebab Ilmu serta kelugasannya dalam membagikan uraian dalam mengantarkan dakwah yang ditayangkan lewat saluran YouTube. Ustaz Abdul Somad sempat bertugas bagaikan dosen di Universitas Islam Negara Sultan Syarif Kasim( UIN Suska) Riau semenjak tahun 2009 sampai mengundurkan diri pada tahun 2019

Kajian- kajiannya yang baik dalam merangkai kata jadi suatu retorika dakwah, membuat ceramah Ustaz Abdul Somad begitu gampang di cerna serta gampang dimengerti oleh bermacam golongan warga. Banyak dari ceramah Ustaz Abdul Somad yang membahas bermacam berbagai perkara agama.

Apa saja karya ustad abdul shomad untuk publik?

Ustaz Abdul Somad sudah menuliskan sebagian buku yang jadi best seller di golongan umat Islam, di antara lain:

  • • 37 Permasalahan Populer
  • • 99 Persoalan Seputar Sholat
  • • 33 Tanya Jawab Seputar Qurban

pendapat ust Adi Hidayat mengenai hukum aqiqah

Siapa sesungguhnya usatad ust Adi Hidayat?

Ustadz Adi Hidayat, Lc., MA.( lahir di Pandeglang, Banten, 11 September 1984; usia 35 tahun) merupakan seseorang Alim asal Indonesia yang bisa memahami isi kitab suci Alquran beserta letak barisnya. Tidak hanya itu, dia pula memahami ilmu hadist serta bermacam kitab agama beserta arti serta letaknya. Pada 2013, Ustaz Adi mendirikan Quantum Akhyar Institute serta 3 tahun selanjutnya dia mendirikan Akhyar Televisi bagaikan media dakwah utama. Dikala ini Ustaz Adi aktif jadi narasumber keagamaan baik ta’ lim, seminar, serta selebihnya. Dia pula aktif menulis serta sudah mempunyai sebagian karya dalam bahasa Arab serta Indonesia

Apa saja karya ust adi hidayat dalam agama islam?

Karya Tulis ust adi hidayat, Sebagian karya tulis Ustadz Adi HIdayat antara lain

  • • Minhatul Jalil Bita’ rifi Arudil Khalil( tahun 2010)
  • • Quantum Arabic Tata cara Akhyar( tahun 2011)
  • • Ma’ rifatul Insan: Pedoman Al- Qur’ an Mengarah Insan Paripurna( tahun 2012)
  • • Makna Ayat Puasa, Memahami Kedalaman Bahasa Al- Quran( tahun 2012)
  • • Al- Arabiyyah Lit Thullabil Jami’ iyyah( tahun 2012)
  • • Persoalan Hadist- hadist Terkenal( tahun 2013)
  • • Ilmu Hadist Instan( tahun 2013)
  • • Tuntunan Instan Idul Adha( tahun 2014)
  • • Pengantin As- Sunnah( tahun 2014)
  • • Buku Catatan Penuntut Ilmu( tahun 2015)
  • • Pedoman Instan Ilmu Hadist( tahun 2016)
  • • Manhaj Tahdzir Kelas Eksekutif( tahun 2017)
  • • Muslim Era Now( 2018)
  • Kemudian gimana Pemikiran ust Adi Hidayat mengenai hukum aqiqah?

baca juga yuk: