Waktu terbaik aqiqah apakah hari ke-7

Istimewa

1. Waktu Terbaik guna  Aqiqah tersebut  kapan?

Dalam tata teknik  aqiqah cocok  sunnah Rasulullah, masa-masa  terbaik untuk mengemban  aqiqah ialah  di hari ke tujuh sesudah  kelahiran bayi.

2. Kapan boleh dibuka  aqiqah?

Secara umum, jumhur ulama berasumsi  bahwa masa-masa  di-sunnahkannya penyembelihan fauna  aqiqah pada hari ke-7. Akan namun  mereka berberda pendapat mengenai  hari kebolehan diluar sunnah.

Namun, Syafiiyah dan Hanabilah membolehkan pengamalan  aqiqah tepat sesudah  bayi dicetuskan  dan tidak me sti menantikan  sampai hari ke-7. Tapi mereka tidak membolehkan sebelum bayi dilahirkan. Maka, andai  penyembelihan dilaksanakan  sebelum kelahiran bayi, dirasakan  sebagai sembelihan biasa dan bukan aqiqah. Hal ini didasari atas suatu karena  yaitu kelahiran. Maka andai  bayi telah  terlahir aqiqah boleh dilaksanakan.

3. bagaimana menilai  hari ke tujuh untuk mengemban  aqiqah?

Disebutkan dalam Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyah bahwa andai  bayi bermunculan  siang hari, maka telah  termasuk hari kesatu  dari tujuh hari. Sedangkan andai  bayi dicetuskan  pada masa-masa  malam, tidak tergolong  dalam hitungan. Hari kesatu  ialah  hari berikutnya. Misalnya, saat  bayi bermunculan  hari Sabtu pagi, maka hari itu  sudah dirasakan  sebagai hari kesatu  dari tujuh hari. Sehingga orang tuanya akan menggarap  aqiqah pada hari Jumat minggu depannya. Sebaliknya, andai  bayi bermunculan  Sabtu malam, maka hari kesatu nya ialah  hari Minggu keesokan paginya. Sehingga orang tuanya boleh mengemban  aqiqah pada hari Sabtu minggu depannya. Namun ada beberapa  yang memakai  tata teknik  waktu aqiqah pada 14 atau 21 hari sesudah  kelahiran bayi. Berdasarkan keterangan dari  Mazhab Syafi’i, aqiqah tetap dapat dilakukan  setelah melalui  hari ke tujuh kelahiran bayi.

baca juga: orang tua mau makan daging aqiqah?

4. Apa hikmah aqiqah dilakukan  pada hari ketujuh?

Murid Asy Syaukani, Shidiq Hasan Khon rahimahullah menerangkan, “Sudah semestinya terdapat  selang masa-masa  antara kelahiran dan masa-masa  aqiqah. Pada mula  kelahiran pasti  saja family  disibukkan guna  merawat si ibu dan bayi. Sehingga saat  itu, janganlah mereka diberi beban  lagi dengan kegiatan  yang lain. Dan pasti  ketika tersebut  mencari domba  juga perlu  usaha. Seandainya aqiqah disyariatkan di hari kesatu  kelahiran sungguh ini paling  menyulitkan. Hari ketujuhlah hari yang lumayan  lapang guna  pelaksanaan aqiqah.

baca juga : pengen aqiqah tapi sudah terlanjur dewasa, baca ini

5. Bagaimana andai  aqiqah tidak dapat  dilaksanakan pada hari ketujuh?

Berdasarkan keterangan dari  ulama Syafi’iyah dan Hambali, masa-masa  aqiqah dibuka  dari kelahiran. Tidak sah aqiqah sebelumnya dan cuma dirasakan  sembelihan biasa. Adapun ulama Syafi’iyah berasumsi  bahwa aqiqah tidaklah dirasakan  luput andai  diakhirkan waktunya. Akan tetapi, disarankan  aqiqah tidaklah diakhirkan sampai  usia baligh. Jika sudah  baligh belum pun  diaqiqahi, maka aqiqahnya tersebut  gugur dan si anak boleh memilih guna  mengaqiqahi dirinya sendiri

dirangkum dari berbagai sumber.

Paket Ridho Aqiqah

Istimewa

PAKET AQIQAH JOGJA (3)

Ridho Jasa Layanan Aqiqah Jogja, merupakan solusi tepat memilih dalam melaksanakan ibadah aqiqah Anda. Ibadah aqiqah merupakan tuntunan agama untuk putra putri anda tercinta.

Fitur aqiqah ridho , syar’i, amanah dan hemat…. Syar’i artinya sesuai tuntunan serta Amanah sesuai harapan yang diinginkan pelanggan paket pilihan akikahnya. Hemat wujud tampilan dan menu yang enak rasanya namun dengan biaya yang murah dan hemat.

Aqiqah enak dan lezat cocok disajikan untuk sanak keluarga, kerabat dan tetangga dan tamu undangan saat pelaksanaan ibadah aqiqah berlangsung.

Kami siap Melayani Pesanan Aqiqah Anda karena :

Aqiqah ridho Harga Terjangkau

Anda akan mendapatkan harga yang Hemat dan terjangkau dengan rasa masakan yang enak

Hewan Berkuwalitas

Dalam melaksanakan ibadah aqiqah, aqiqah Ridho  memiliki Hewan pilihan dan unggulan yang  Berkwalitas. Hewan (Kambing/Domba) baik Jantan ataupun betina yang kita sediakan sudah sesuai dengan syarat syah secara syariat Islam (Usia maupun kondisi fisik hewan)

Mudah dan Praktis cara order dan pembayaran

Konsumen bisa bayar Cash Lunas maupun DP dulu, dan pelunasan ketika pengantaran Aqiqahnya

Bukti dan kenangan sudah melaksanakan aqiqah

Sebagai bukti dan kenangan kenangan dari kami, Ridho Aqiqah memberikan kenang-kenangan dalam bentuk sertifikat aqiqah.

Untuk Informasi  pemesanan aqiqah bisa kontak kami  via WhatsApp 0823 – 3333 – 3776 atau  No. Tlp Kantor :   ☎️ 0274- 384 096

Ridho Catering Jogja

Istimewa

ctrngc

Ridho Catering adalah salah satu layanan jasa catering terbaik di yogyakarta yang menyediakan berbagai macam paket menu catering untuk kebutuhan anda seperti paket catering acara kantor, paket catering acara keluarga, paket catering acara lamaran, paket catering acara pengajian dll. ridho catering sudah berpengalaman sejak tahun 2011 sampai sekarang Ridho Catering terus melayani jasa catering khususnya dijogja dan sekitarnya sebagai solusi atas kebutuhan pangan masyarakat.

Sejak didirikannya ridho catering, kami selalu mengembangkan jasa pelayanan catering ini. baik dari segi pelayanan, menu makanan dan tampilannya. kami juga melayani ruquest anda untuk menu yang ingin disuguhkan di acara yang akan anda gelar. kami juga memiliki menu pilihan untuk anda dengan rasa yang berkualitas tinggi dan tentunya halal. berikut adalah paket dari kami

paket-ridho-catering-jogja

Alamat Ridho Catering Jogja: Jl. Watugilang, Ledok KG III/ 845, Rt. 41/ 10, Kotagede, Yogyakarta (Barat Watugilang/ Hastorenggo/ Coklat Monggo)

pengertian aqiqah dan hikmahnya

Apa itu aqiqah?

Sebelum lebih jauh mengenai hukum aqiqah, ayo kita tahu dahulu apa itu aqiqah. Akikah( bahasa Arab:عقيقة, transliterasi: Aqiqah) merupakan pengurbanan hewan dalam syariat Islam, bagaikan wujud rasa syukur umat Islam terhadap Allah SWT atas kelahiran anak yang baru saja lahir. Persyaratan jumlah kambing yang hendak di sembelih antara balita pria serta wanita pula berbeda, ialah 1 ekor kambing buat anak wanita serta 2 ekor kambing buat anak pria

Perbedaan aqiqah dan kurban

Qurban boleh diniatkan atas nama sendiri, orang lain, atau pun guna  orang yang telah  meninggal. Jika ber-qurban domba  dan domba, maka hanya diizinkan  untuk satu orang. Sedangkan guna  sapi dan unta boleh dilaksanakan  secara berpatungan. Setelah pemotongan, pequrban mendapat sepertiga unsur  daging, dan dua pertiganya diberikan  kepada yang berhak menerimanya.

Aqiqah ialah  ibadah yang dilaksanakan  sebagai wujud syukur atas nikmat yang telah diserahkan  Allah Swt atas kelahiran buah hati. Aktivitas aqiqah ialah  memotong hewan. Hewan yang disembelih seringkali  kambing atau domba. Afdolnya, aqiqah dilaksanakan  pada hari ke tujuh, namun andai  berhalangan dapat dilaksanakan  pada hari ke empat belas.

Jumlah hewan yang disembelih berbeda, andai  bayinya wanita  maka kambingnya yang disembelih satu, sementara  untuk bayi laki-laki berjumlah dua ekor.

lanjutkan membaca untuk mengetahui secara lengkap mengenai perbedaan aqiqah dan kurban, beserta teknis pelaksanaanya.

syarat dan waktu aqiqah

Syarat Aqiqah Anak Laki-Laki dan Perempuan dalam Hadist

Syarat aqiqah anak laki-laki dan perempuan dalam hadist sahih yang berkata  mengenai masa-masa  pelaksanaan aqiqah untuk anak atau bayi yang baru lahir ialah  sebagai berikut:

Dari Samurah bin Jundub dia berkata: Rasulullah SAW. bersabda:

“Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih  hewan.  (kambing), diberi nama dan dipotong  rambutnya.”

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW pernah ber aqiqah guna  Hasan dan Husain pada hari ke-7 dari kelahirannya, beliau memberi nama dan menyuruh  supaya dihilangkan dari kotoran dari kepalanya (dicukur).

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata: Rasulullah bersabda: “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua domba  yang sama dan bayi wanita  satu kambing“.

[HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah]

Penyembelihan hewan sehubungan  dengan kelahiran anak atau aqiqah cocok  dengan hadist itu  disyariatkan untuk dilaksanakan  pada hari ketujuh kelahiran anak.

Hukum aqiqah guna  orang tua yang baru melahirkan  anaknya ialah  sunnah muakad, walaupun demikian, kriteria  dan peraturan  aqiqah menjadi bagian penting dalam syariat Islam.

Pendapat mengenai waktu aqiqah.

pengamalan  aqiqah tepat sesudah  bayi didilahirkan  dan tidak me sti menantikan  sampai hari ke-7. itu menurut  Sya fiiyah dan Hanabilah. Tapi mereka tidak membolehkan sebelum bayi dilahirkan. Maka, andai  penyembelihan dilaksanakan  sebelum kelahiran bayi, dirasakan  sebagai sembelihan biasa dan bukan aqiqah. Hal ini didasari atas suatu karena  yaitu kelahiran. Maka andai  bayi telah  terlahir aqiqah boleh dilaksanakan.

Sedangkan pendapat yang terakhir  baru membolehkan pengamalan  aqiqah pada hari ke-7 pasca kelahiran. itu menurut Hanafiyah dan Malikiyah. Dan aqiqah tidak sah (dianggap sembelihan biasa) bila  dilakukan  sebelumnya.

adapun yuk baca mengenai syarat dan waktu aqiqah secara lengkap dari berbagai pendapat untuk menguatkan pemahaman kita tentang aqiqah.

Aqiqah lebih dari 21 hari bagaimana?

Untuk menjelaskan tentang akikah lebih dari 21 hari, dapat anda simak keterangan berikut ini. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, beliau bersabda,”Kambing ‘aqiqah disembelih pada hari ketujuh atau ke 14 atau ke 21.” (Shahihul Jami’us Shaghir no: 4132 dan Baihaqi IX: 303). Namun ada beberapa ulama di antaranya Syaikh Shalih Al Fauzan dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berasumsi bolehnya mengerjakan ‘akikah di samping waktu di atas tanpa batasan sampai-sampai menurut pendapat ini, maka orangtua yang belum dapat pada waktu-waktu itu dapat menundanya manakala telah mampu. Juga ada keringanan tentang jumlah penyembelihan akikah, Berdasarkan keterangan dari Syaikh Ibnu Jibrin Rahimahullah bahwa disunnahkan guna menyembelih 2 ekor domba untuk anak laki-laki tapi andai tidak dapat maka insya Allah lumayan dengan seekor domba untuk anak laki-laki. Bisa pun dengan teknik penyembelihan yang tidak bersamaan, contohnya yang seekor disembelih sesudah 1 pekan, sedangkan yang seekor lagi sesudah 2 pekan. (Aktsar min Alf Jawab lil Mar’ah). Sehingga menurut di antara pendapat diatas bahwa pengamalan aqiqah dapat dilakukan lewat dari hari ke 21 disaksikan dari aspek kesiapan pun kemampuannya. Karena islam tidaklah memberatkan penganutnya sekalipun dalam perkara ibadah. dalam pembahasan lengkap mengenai prosesi dan hukum aqiqah hari ke 21 atau lebih bisa dibaca disini.

waktu pelaksanaan aqiqah dan qurban

mengutip dari NU.or.id, aqiqah dan kurban adalah dua ibadah yang hukumnya sunnah menurut  keterangan dari  mazhab Syafi’i dan ditandai dengan kegiatan  penyembelihan  KAMBING  yang telah mengisi  syarat untuk dipotong.

Perbedaan antara kedua ibadah itu  terletak pada masa-masa  pelaksanaan. Bila kurban dilaksanakan  pada Bulan Dzulhijjah, sedangkan  aqiqah dilaksanakan  saat mengiringi kelahiran seorang bayi dan disarankan  dilakukan pada hari ketujuh sesudah  kelahiran.

Adapun aqiqah adalah hak anak atas orang tuanya. Anjuran ini ditekankan untuk  orang tua bayi yang diberi kelapangan rezeki guna  berbagi dalam rangka menyambut kelahiran sang anak.

Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Aqiqah menyertai lahirnya seorang bayi”. (HR Bukhari).

Aqiqah yang dibebankan untuk  orang tua diserahkan  kelonggaran sampai  si bayi tumbuh sampai menginjak  masa baligh. Setelah itu, ajakan  aqiqah bukan lagi  dibebankan untuk  orang tua melainkan di berikan  kepada sang anak untuk mengemban  sendiri atau meninggalkannya. Namun, lebih dikhususkan  untuk dilaksanakan.

informasinya masih kurang, yuk baca selengkapnya untuk mengetahui waktu pelaksanaan aqiqah dan kurban secara lengkap.

aqiqah hari ke 40

ulama mendefinisikan bahwa aqiqah merupakan: Apa yang disembelih karena kelahiran anak sebagai format syukur untuk Allah dengan niat dan kriteria-syarat khusus.

Mengenai hukumnya memang beberapa ulama terdapat yang berasumsi wajib –seperti Dzahiriyyah- dan yang beda berkeyakinan bahwa aqiqah ialah sunah sebagaimana pendapat Syafi’iyyah dan Hanabilah. Keduanya berangkat dari dua hadis namun bertolak belakang dalam menalar tingkat perintahnya.

“Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya. Aqiqah tersebut disembelih pada hari ketujuh. (Pada saat tersebut bayi) dicukur rambutnya dan diberi nama.

” (HR. Abu Dawud dan al-Hakim).

Saya sendiri secara individu lebih ingin kepada hukum sunnah. Adapun masalah waktunya –sebagaimana tersurat dalam hadis-, lebih baik pada hari ke tujuh tersebut. Tapi tidak menutup bisa jadi pada masa-masa yang lain, baik sebelum atau sesudahnya sebagaimana didukung Malikiyyah dan Syafi’iyyah. Dengan demikian tidak terdapat keterikatan dengan masa-masa tertentu berhubungan keabsahannya, lagipula aqiqah hari ke 40. Wallahu a’alam

baca lebih lenjut menganai aqiqah hari ke 40 secara full

Waktu aqiqah menurut imam syafi’i

kajian aqiqah menurut imam syafi'i i imam madzhab

ﻭَﻓَﺴَّﺮَ ﺍﻟْﻤُﺼَﻨِّﻒُ ﺍﻟْﻌَﻘِﻴْﻘَﺔَ ﺑِﻘَﻮْﻟِﻪِ ‏( ﻭَﻫِﻲَ ﺍﻟﺬَّﺑِﻴْﺤَﺔُ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤَﻮْﻟُﻮْﺩِ ﻳَﻮْﻡَ ﺳَﺎﺑِﻌِﻪِ ‏) ﺃَﻱْ ﻳَﻮْﻡَ ﺳَﺎﺑِﻊِ ﻭِﻟَﺎﺩَﺗِﻪِ

Hari ketika kelahirannya tergolong dalam hitungan tujuh hari tersebut. -kesunnahan tetap berlaku- Walaupun bayi yang telah dilahirkan itu meninggal dunia sebelum hari ketujuh.

ﻭَﻳُﺤْﺴَﺐُ ﻳَﻮْﻡُ ﺍﻟْﻮِﻟَﺎﺩَﺓِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴَّﺒْﻊِ ﻭَﻟَﻮْ ﻣَﺎﺕَ ﺍﻟْﻤَﻮْﻟُﻮْﺩُ ﻗَﺒْﻞَ ﺍﻟﺴَّﺎﺑِﻊِ

Kesunnahan aqiqah tidak hilang karena ditunda sampai melewati hari ketujuh.

ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻔُﻮْﺕُ ﺑِﺎﻟﺘَّﺄْﺧِﻴْﺮِ ﺑَﻌْﺪَﻩُ

Namun, andai aqiqah ditundah sampai anak itu baligh, maka hukum aqiqah gugur untuk orang yang mengerjakan aqiqah dari anak tersebut.

ﻓَﺈِﻥْ ﺗَﺄَﺧَّﺮَﺕْ ﻟِﻠْﺒُﻠُﻮْﻍِ ﺳَﻘَﻂَ ﺣُﻜْﻤُﻬَﺎ ﻓِﻲْ ﺣَﻖِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻕِ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤَﻮْﻟُﻮْﺩِ

Sedangkan untuk anak tersebut sendiri, maka diperkenankan untuk mengerjakan aqiqah untuk dirinya sendiri ataupun tidak melakukannya.

ﺃَﻣَّﺎ ﻫُﻮَ ﻓَﻤُﺨَﻴَّﺮٌ ﻓِﻲْ ﺍﻟْﻌَﻖِّ ﻋَﻦْ ﻧَﻔْﺴِﻪِ ﻭَﺍﻟﺘَّﺮْﻙِ

Disunnahkan menyembelih dua ekor domba sebagai aqiqah untuk anak laki-laki, dan menyembelih satu ekor domba untuk anak perempuan.

‏( ﻭَﻳُﺬْﺑَﺢُ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻐُﻠَﺎﻡِ ﺷَﺎﺗَﺎﻥِ ﻭَ ‏) ﻳُﺬْﺑَﺢُ ‏( ﻋَﻦِ ﺍﻟْﺠَﺎﺭِﻳَّﺔِ ﺷَﺎﺓٌ ‏)

Sebagian ulama’ berkata, “adapun anak khuntsa, maka masih ihtimal / dimungkinkan diserupakan dengan anak laki-laki atau dengan anak perempuan.”

informasi masih kurang? yuk baca selengkapnya mengenai pendapat imam syafi’i beserta biografi perjalanan hidupnya.

terimakasih, semoga bermanfaat.

Tata cara Aqiqah Menurut Keterangan dari Muhammadiyah

Tata cara Aqiqah berdasarkan keterangan dari Muhammadiyah, pada dasarnya ketika kita melakukan aqiqah adalah ikut tata cara madzhab 4 besar dunia, mengingat banyaknya perbedaan pendapat dari berbagai ulama, maka berbagai organisasi seperti Muhammadiyah, NU dll, merumuskan cara melakukan aqiqah sesuai madzab yang di anut. agar nantinya rumusan itu dapat digunakan praktik dimasyarakat secara mudah dan praktis. nah berikut beberpa pandangan aqiqah oleh muhammadiyah..

tata cara aqiqah menurut muhammadiyah
tata cara aqiqah menurut muhammadiyah

Muhammadiyah merujuk untuk  tuntunan Nabi SAW :

كل غلام مرتهن بعقيقته تذبح عنه يوم السابع ويسمى فبه ويحلق رأسه (رواه الخمسة وصححه الترمذى)

Artinya : tiap-tiap anak tersebut  tergadai dengan aqiqahnya yang disembelih sebagai tebusan pada hari yang ketujuh dan diberi nama pada hari tersebut  serta dipotong  kepalanya.

(HR. Lima berpengalaman hadis dari Samurah bin Jundub. Dishahihkan oleh at turmuzi).

Terdapat hadis yang disebutkan ialah  hewan yang disembelih tersebut  dua ekor domba  atau kambing  untuk seorang anak laki-laki dan satu ekor untuk anak perempuan. Sebagaimana dilafalkan  oleh hadis yang diterima dari Aisyah inilah  ini  :

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : عن الغلام شاتان مكافأتان وعن الجارية شاة (رواه احمد والترمذي وصححة)

Artinya: Rosulullah SAW. Bersabda aqiqah untuk  anak laki-laki dua ekor domba  yang sesuai  dan untuk  anak wanita  satu ekor. (HR. Ahmad Ibnu Majah dan At Turmuzi menyahihkannya). Hadis tersebut menyatakan  bahwa bila  hendak  berqurban, maka guna  laki-laki memakai  2 ekor domba  dan satu ekor domba  untuk perempuan.

Setelah kambing  disembelih dengan niat guna  mengaqiqahkan anaknya, maka daging aqiqah itu  sebagian dimakan oleh family  dan sebagian diserahkan  kepada fakir dan kurang mampu  dan andai  masih terdapat  sisah maka dagingnya diserahkan  kepada tetangga dan sanak keluarga.

Tahab akhir dalam tata cara aqiqah, adalah pembagian daging

Sebaiknya daging yang akan diserahkan  sudah di olah atau dimasak. Ada  cara  lain untuk menyalurkan  daging aqiqah dengan  cara  mengadakan tasyakuran (aqiqah) atas kelahiran bayi.

Acara ini sering dipakai  oleh masyarakat, bila  hendak  membagikan daging domba  maka usahakan  menyelenggarakan  acara aqiqah saja di lokasi  tinggal  dengan mengundang masyarakat, family  dan figur  masyarakat.

Sebaiknya mengundang figur  masyarakat baik wanita  atau laki-laki guna  berceramah tentang  aqiqah, supaya  masyarakat lain pun  terbawa dan lebih memahami  makna aqiqah guna  sang buah hati.

Di samping  mendapat pahala sebab  membagi rezeki, andai  mengadakan pengajian pastinya  menyambung tali silaturahmi. Jika jarang ketemu dengan kerabat, dengan menyelenggarakan  aqiqah maka tali silaturahminya jadi tersambung lagi. Jadi tidak sedikit  sekali guna  aqiqah. 

Pelaksanaan tata cara Aqiqah

Di samping  dua hadis di atas, ada pun  hadis yang membicarakan  mengenai aqiqah. Jika aqiqah tidak dapat  dihari ketujuh, lantas  dihari keempat belas, atau kedua puluh satu. Berikut haditsnya:

العقيقة تذبح لسبع و لأربع عشرة ولأحدى وعشرين (البيهقي)

Yang artinya: aqiqah tersebut  disembelih dihari ketujuh dan hari ke empat belas dan pada hari kedua puluh satu. Ada riwayat yang menuliskan   yaitu Al-Baihaqi dari Anas menyatakan  bahwa nabi SAW. Mengaqiqahkan dirinya sesudah  jadi nabi.

أن النبي صلى الله عليه وسلم : عق عن نفسة بعد النبوة (رواه البيهقي)

Artinya : “bahwasanya Nabi SAW. Mengaqiqahkan dirinya sesudah  beliau menjadi Nabi”.

Akan namun  dua hadis diatas diperselisihkan keotentikannya oleh semua  ulama.  Mengetahui hadis diatas daif, maka pengamalan  aqiqah hanya dapat  dilakukan pada hari ketujuh saja.

ini pentingnya pemberian nama anak.

Mengaqiqahkan bayi dihari ketujuh ketika  kelahiran bayi paling  dianjurkan. Di hari ketujuh juga disarankan  untuk menyerahkan  nama sang bayi andai  pas kelahiran anak itu  belum diserahkan  nama.

Maka pada ketika  aqiqah dapat  diumumkan nama bayi tersebut. Tentunya dengan nama yang baik dan memiliki makna  yang bagus, sebab  di dalam Islam pemakaian  nama seringkali  mengacu pada doa dan harapan guna  bayi tersebut.

Demikian tatacara aqiqah menurut  keterangan dari  ormas Muhammadiyah yang seringkali  terhimpun dalam HPT atau Himpunan Putusan Tarjih yang merupakan kelompok  keputusan untuk dijadikan acuan penduduk  Muhammadiyah.

HUKUM AQIQAH, MENGAQIQAHI DIRI SENDIRI DAN PENYEMBELIHAN AQIQAH DALAM ACARA KURBAN

 (disidangkan pada hari Jum’at, 3 Zulhijjah 1433 H / 19 Oktober 2012 M)

majlis tarjih

Pertanyaaan:

Saya penduduk  Muhammadiyah di Jepara yang berbaur di kalangan Nahdiyin di lokasi  saya:

1. Saya dimintai pertanyaan mengenai  mengakikahi diri sendiri saat  sudah besar, akikah tersebut  hukumnya mesti  atau sunah pak? Budaya masyarakat andai  akikah belum dilakukan  sejak kecil tapi bila   dewasa diakikahi, sebenarnya  akikah itu  tugas orang tua namun  tatkala dewasa diakikahi sendiri berarti masing-masing  bayi bermunculan  punya tanggungan akikah kelak  kalau telah  dewasa.

2. Ketika pengamalan  Idul Qurban, saya sebagai panitia qurban menemukan  peserta akikah dalam pengamalan  idul qurban, apa yang bakal  kami lakukan  mengenai penyembelihan akikah dalam acara qurban pak? Mohon balasan dan jawabannya, terima kasih.

Jawaban:

Terima kasih atas pertanyaan yang sudah  bapak ajukan, semoga bapak selalu berada dalam rahmat dan lindungan Allah swt. Jawaban atas pertanyaan bapak bakal  kami ucapkan  secara urut sebagai berikut:

1. Sebelum membalas  pertanyaan kesatu , butuh  kami sampaikan sejumlah  hal berhubungan  akikah. Secara bahasa, akikah ialah  membelah dan memotong, sehingga kambing  yang disembelih pun pun  disebut akikah, sebab  tenggorokannya dibelah dan dipotong.

Di samping  itu, ada pun  yang mengartikannya dengan rambut yang ada  di kepala bayi yang baru terbit  dari perut ibunya (ash-Shan’any, Subulus-Salam, Bab al-Akikah, hlm. 333). Adapun akikah menurut  keterangan dari  terminologi syariat ialah  hewan yang disembelih guna  anak yang baru dicetuskan  sebagai ungkapan syukur untuk  Allah dengan niat dan kriteria -syarat yang eksklusif  (Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim, Shahih Fiqhus-Sunnah, Bab al-Aqiqah, hlm. 636).

Hukum akikah menurut pendapat kuat

Hukum akikah menurut  pendapat rajih (kuat) yang disepakati oleh jumhur ulama ialah  sunah muakadah. Ini didasarkan pada sabda Rasulullah saw: 

ْ كُسْنَيْلَ ف ُهْنَ ع َكُسْنَ ي ْنَ أ َبَّحَأَ ف ٌَ لَِ و َُ لَ َد لِ[ .رواه أبو داود والنسائى وأحمد ُ و ْنَم والبيهقي] 

Artinya: “Barangsiapa yang dikaruniai anak dan hendak  beribadah atas namanya, maka hendaklah ia beribadah (dengan menyembelih hewan  akikah).”

[HR. Abu Dawud no. 2842, an-Nasa’i vol. 7 no. 162, Ahmad vol. 2 no.194, dan al-Baihaqi vol. 9 no. 300]

Sabda Nabi saw: “Barangsiapa yang dikaruniai anak dan hendak  beribadah atas namanya” mengindikasikan  bahwa akikah sunnah hukumnya. Adapun mengenai  pelaksanaannya, akikah disyariatkan pada hari ketujuh dari kelahiran anak, sebagaimana diterangkan  dalam hadis Rasulullah saw:   ُ

هُسْأَ ر ُقَلُْيَُ فديهد و َ مََّسُيَ ابدعد و َ الس َمْوَ يُهْنَ ع ُحَبْذُ تدهد ت َ قديق َ بدع ٌنَهَتْرُ م ٍم َ لَُ غ ُُ كُل[ .رواه الخمسة عن سمرة بن جندب، وصححه الترمذي]

Artinya: “Tiap-tiap anak tersebut  tergadai dengan akikahnya yang disembelih sebagai tebusan pada hari yang ketujuh dan diberi nama pada hari tersebut  serta dipotong  kepalanya.”

[Hadis diriwayatkan oleh lima berpengalaman hadis dari Samurah bin Jundub, disahihkan oleh at-Tirmidzi]

berbagai pendapat mengenai kapan pelaksanaan aqiqah?

Memang ada sejumlah  pendapat mengenai  kapan masa-masa  pelaksanaan akikah di samping  hari ketujuh setelah  kelahiran. Paling tidak terdapat  dua pendapat: Pertama, pendapat yang diajukan  oleh ulama madzhab Hambali yang menuliskan   bahwa pengamalan  akikah boleh pada hari ke-14, 21 atau seterusnya manakala pada hari ke-7 dari kelahiran anak, orang tuanya tidak dapat  mengakikahi. Mereka berhujah dengan hadis yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya:

  َ دين ْ عدشْ َ ى و َدْ لإدح َ وَةَ ْ  ] شْ. [رواه البيهقي َ عَعَبْرَلأَ و ٍعْبَ لدس ُحَبْذُ تُةَ قديق َعْال

Artinya: “Akikah tersebut  disembelih pada hari ketujuh dan pada hari keempat belas dan pada hari keduapuluh satu.”

[HR. al-Baihaqi]

Kedua, pendapat yang diajukan  ulama madzhab Syafi’i.

Berdasarkan keterangan dari  mereka akikah tidak bakal  gugur atau hilang penundaannya hingga  akikah tersebut  dilakasanakan, meskipun oleh dirinya sendiri. Mereka berhujah dengan hadis yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi dari Anas ra yang melafalkan  bahwa Nabi saw baru mengerjakan  akikah guna  dirinya sesudah  beliau menjadi Nabi:

  ُ الل َلََّ صَ د بِى د َ النّ َنَأ ] ة .[رواه البيهقي َوُبُ النّ َدْعَ سدهد ع ْسَ ف ْنَ ع َقَ عَ َلَسَ هد و ْيَلَ ع

Artinya: “Bahwasanya Nabi saw mengakikahkan dirinya sesudah  beliau menjadi Nabi.”

[HR. al-Baihaqi]

Akan tetapi, kedua hadis di atas diperselisihkan keotentikannya oleh semua  ulama. Hadis al-Baihaqi yang diriwayatkan dari Abdullah bin Buraidah di atas dinilai daif sebab  dalam sanadnya ada  Ismail bin Muslim al-Makky yang didaifkan oleh Ahmad, an-Nasa’i dan Abu Zur’ah. Demikian pun  hadis al-Baihaqi dari Anas ra dinilai daif sebab  pada sanadnya ada  seorang yang mempunyai  nama  Abdullah bin al-Muharrar yang ditetapkan  lemah oleh beberapa berpengalaman  hadis antara beda  oleh Ahmad, ad-Daruqutni, Ibnu Hibban dan Ibnu Ma’in (lihat kitab  Tanya Jawab Agama oleh Tim PP Muhammadiyah Majlis Tarjih, jilid IV halaman 233).

menurut imam an nawawi

Bahkan an-Nawawi menyinggung  hadis ini sebagai hadis batil sebab  al-Baihaqi meriwayatkan melewati  jalan Abdullah bin al-Muharrar dari Qatadah. Al-Baihaqi sendiri menyinggung  hadis ini sebagai hadis munkar. Oleh sebab  itu, menurut irit  kami hadis-hadis itu  tidak butuh  diamalkan. Berdasarkan keterangan  di atas, dapat diputuskan  bahwa:

  • a. Hukum akikah ialah  sunnah muakadah dan masa-masa  pelaksanaan akikah ialah  hari ketujuh dari kelahiran bayi.
  • b. Yang dituntut untuk mengemban  ibadah akikah ialah  orang tua dari bayi yang dilahirkan, sampai-sampai  seseorang tidak butuh  mengakikahi diri sendiri.

2. Mengenai pertanyaan kedua, bahwasannya  dari apa yang sudah  kami sampaikan  di atas, pertanyaan kedua bapak itu  secara tidak langsung sudah  terjawab, bahwa akikah disyariatkan pada hari ketujuh dari kelahiran bayi. Akikah terbelenggu  dengan masa-masa  kelahiran sang bayi itu  dan tidak terdapat  tuntutan akikah saat  sudah melebihi 7 hari kelahiran bayi, maupun tatkala seseorang telah  dewasa. Sementara ibadah kurban dapat dilakukan  setiap tahun sekali. Apabila kambing  sembelihan akikah dimaksud ialah  untuk akikah yang telah  lewat dari 7 hari kelahiran bayi atau guna  mengakikahi orang dewasa, betapa  baiknya bila  dianjurkan  untuk dipindahkan  niatnya sebagai kambing  kurban. Namun andai  akikah itu  memang bertepatan dengan masa-masa  penyembelihan kurban, maka tidak mengapa dilakukan  bersamaan dengan penyembelihan kurban itu. Perlu diketahui pula, tidak dibetulkan  menyatukan niat antara akikah dan kurban, yaitu  dalam satu kambing  sembelihan guna  dua niat, akikah dan kurban sekaligus. Keduanya mempunyai  ketentuan-ketentuan yang bertolak belakang  satu sama lain, baik mengenai  waktu, kriteria , dan lain-lainnya, pun  tidak terdapat  nas al-Qur’an atau hadis yang mengaku  bahwa akikah dan kurban bisa  disatukan.

baca juga yuk:

Tata cara aqiqah orang dewasa

Tata cara aqiqah untuk orang dewasa, memang perlu dikaji, melihat berapa pertanyaan yang timbul dari masyarakat, membuat kami merangkum jawaban tentang cara dan hukum aqiqah untuk orang dewasa, nanti anda akan mengetahui mengenai, cara melakukan aqiqah, kapan waktunya, dan hukum aqiqah bagi yang dewasa. semuanya akan kita bahas, untuk mempersingkat, lanjutkan membaca dari urian pertanyaan dan jawaban di bawah ini.

aqiqah orang dewasa
aqiqah orang dewasa

Pertanyaan mengenai tata cara aqiqah bagi yang sudah dewasa?

1. Ketika orang tua melahirkan  anaknya, pada saat tersebut  mereka masih dalam situasi  yang tidak cukup  mampu, jadi untuk ongkos  aqiqah tidak ada. Namun saat  anaknya telah  dewasa dan telah  berkeluarga, orang tuanya telah  dalam suasana  berkecukupan, lantas  mereka hendak  mengaqiqahi anaknya yang telah  berkeluarga tadi, apakah boleh dan bagaimana caranya?

2. Jika orang tua tadi masih dalam situasi  tidak mampu, tetapi  anak-anaknya yang telah  dewasa tadi hidup berkecukupan dan hendak  membeli domba  diatas namakan orang tuanya guna  aqiqah, apakah tersebut  diperbolehkan?

Kondisi ekonomi seseorang yang kadang tidak cukup  menentu turut mempengaruhi pelaksanaan perintah aqiqah. Mereka yang berkecukupan dan diberi kelapangan rizki tentunya hendak  segera mengemban  anjuran ini demi rasa bersyukur mereka atas lahirnya sang buah hati yang di dambakan dan dinantikan. Sebaliknya untuk  orang tua yang perekonomiannya sedang dalam masa sulit ketika  kelahiran putra atau putrinya, mereka bakal  terasa berat mengerjakan  ibadah ini.

penjelasan mudahnya seperti ini

ajakan  untuk mengemban  aqiqah oleh orang tua untuk  anaknya selesai  ketika si anak sudah  baligh. Setelah tersebut  si anak diizinkan  memilih untuk mengemban  sendiri aqiqahnya atau meninggalkannya. Dalam urusan  ini tentunya mengemban  aqiqah lebih utama sebab  akan terhindar dari pendapat ulama yang memandang  bahwa aqiqah hukumnya wajib. Uraian di atas pun  sekaligus menanggapi pertanyaan kesatu  saudara. Artinya ajakan  aqiqah yang dibebankan untuk  orang tua masa aktifnya selesai  ketika sang anak baligh.

Kalaupun orang tua masih tetap hendak  melaksanakan aqiqah guna  anaknya, maka caranya ialah  dengan menyerahkan  uang untuk  anaknya supaya  digunakan guna  membeli kambing  yang bakal  disembelih sebagai aqiqahnya. Dengan demikian niatan mulia orang tua tetap terakomodir, disamping pula ajakan  aqiqah pun  terlaksana. Selanjutnya menanggapi pertanyaan kedua, kami merujuk pada buku  al-Majmu’ karya imam Nawawi yang melafalkan  bahwa hukum aqiqah guna  orang beda  (bukan dirinya sendiri) ialah  boleh sekitar  orang yang diaqiqahi mengijinkan.

Penulis buku  menjelaskan:

فَرْعٌ-لَوْ ضَحَّى عَنْ غَيْرِهِ بِغَيْرِ إذْنِهِ لَمْ يَقَعْ عَنْهُ

Artinya; (cabang pembahasan), sekiranya  ada seseorang menyembelih kambing  (aqiqah) guna  orang beda  tanpa seizinnya, status kambing  tersebut bukan kambing  aqiqah.

Referensi diatas pun  berisi  makna  bahwa aqiqah yang dilaksanakan  oleh seseorang guna  orang beda  dapat ditetapkan  sah bilamana  mendapat persetujuan (izin) dari orang yang diaqiqahi. Demikian jawaban kami, mudah-mudahan bermanfaat. Wallahu a’lam.

tata cara dan teknis melakukan aqiqah

Tata cara untuk melakukan prosesi aqiqah pada umumnya sangat mudah, namun beberapa dari kita terkadang melupakan beberapa atau malah ada yang kelewatan dalam melakukan aqiqah. nah yuk dipahami ulang mengenai tata cara dan proses yang benar dalam melaksanakan aqiqah baik Anak Perempuan atau Laki-Laki.

tata cara aqiqah sederhana, aqiqah sesuai sunah
tata cara aqiqah sederhana, aqiqah sesuai sunah

Aqiqah adalah salah satu ajaran yang harus  dijalankan masing-masing  Muslim saat  mempunyai  anak. Anjuran mengemban  aqiqah ini cocok  sunnah Rasulullah Muhammad SAW.

Karena itu, masing-masing  Muslim harus memahami  tata cara aqiqah anak wanita  dan laki-laki cocok  sunnah Rasulullah. Di samping  itu, kamu pun  perlu memahami  masalah tata cara aqiqah orang dewasa menurut  keterangan dari  Islam.

Tata Cara Aqiqah Anak Perempuan dan Laki-laki Sesuai Sunnah

Sebelumnya, Dream telah menyatakan  pengertian aqiqah, hukum aqiqah, dan masa-masa  terbaik aqiqah. Sekarang saatnya membicarakan  tata teknik  aqiqah anak wanita  dan laki-laki cocok  sunnah.

Urutan atau tata cara aqiqah anak wanita  dan laki-laki sebetulnya  sama saja. Yang memisahkan  hanyalah jumlah domba  yang dikurbankan untuk aqiqah.

Berikut tata cara aqiqah anak wanita  dan laki-laki yang sesuai sunnah.

1. Menyembelih Kambing

Aqiqah identik dengan menyembelih kambing. Namun, di era canggih  ini, menyembelih domba  untuk aqiqah ialah  hal yang merepotkan. Karena itu, tidak sedikit  yang melakukan pembelian  masakan domba  yang telah  siap dipakai  untuk acara aqiqah anak.

Jumlah domba  yang disembelih guna  aqiqah bertolak belakang  antara anak wanita  dan laki-laki. Bagi  aqiqah anak wanita  orang tua menyiapkan satu ekor kambing. Sedangkan guna  anak laki-laki, orang tua menyembelih dua ekor kambing.

Soal jumlah domba  yang disembelih guna  aqiqah anak wanita  dan laki-laki ini telah dilafalkan  dalam hadis yang diriwayatkan Abu Dawud.

Yang artinya: Dari Ummu Kurz ia berkata, ” Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda ‘Untuk seorang anak laki-laki ialah  dua ekor domba  dan guna  akan perempuan ialah  seekor kambing. Tidak mengapa untuk  kalian apakah ia domba  jantan atau betina’.”

(HR. Abu Dawud no. 2834-2835).

Syarat domba  yang disembelih guna  aqiqah anak wanita  dan laki-laki ini sama dengan fauna  kurban. Yaitu domba  yang berkualitas, baik dari sisi  jenis sampai  usia. Kambing tersebut pun  harus bebas dari cacat dan penyakit.

Sebelum menyembelih domba  untuk aqiqah, disunnahkan untuk menyimak  doa sebagai berikut:

BISMILLAHI WA BILLAHI, ALLAHUMMA ‘AQIQATUN ‘AN FULAN BIN FULAN, LAHMUHA BILAHMIHI SI AZHMIHI, ALLAHUMMAJ’ALHA WIQAAN LIALI MUHAMMADIN ‘ALAIHI WA ALIHIS SALAM.

doa menyembelih domba untuk aqiqah,

Yang artinya: ” Dengan nama Allah serta dengan Allah, Aqiqah ini dari fulan bin fulan, dagingnya dengan dagingnya, tulangnya dengan tulangnya. Ya Allah, jadikan aqiqah ini sebagai tanda kesetiaan untuk  keluarga Muhammad SAW.”

2. Memasak Daging Aqiqah

Tata cara aqiqah selanjutnya ialah  memasak daging dari hewan yang disembelih untuk aqiqah. Soal ini, terdapat  dua pendapat ulama tentang  daging aqiqah.

Pendapat kesatu  menuliskan   usahakan  daging aqiqah dimasak terlebih dahulu lantas  dibagikan. Pendapat ke dua menganjurkan  untuk menyalurkan  daging aqiqah laksana  daging kurban, tidak dimasak terlebih dahulu.

Namun jumhur ulama lebih mengajurkan guna  memasak daging aqiqah terlebih dahulu sebelum membagikannya untuk  orang-orang. Hal tersebut  diungkapkan dalam buku  Atahzib yang ditulis Imam Al-Baghawi.

Yang artinya: ” Dianjurkan guna  tidak menyalurkan  daging fauna  aqiqah dalam suasana  mentah, akan namun  dimasak terlebih dahulu kemudian dikirimkan  kepada orang fakir dengan nampan.”

(Imam Al-Baghawi dalam buku Atahzib)

Kemudian, pendapat yang ditulis dalam buku  Al-Musfashshal fi Ahkamil Aqiqah yang artinya, ” Kebanyakan ahlul ilmi menganjurkan supaya  daging fauna  aqiqah tidak diberikan  dalam suasana  mentah, tetapi  dimasak terlebih dahulu lantas  disedekahkan pada orang fakir.”

Berdasarkan keterangan dari  hadis yang diriwayatkan al-Bayhaqi, daging aqiqah usahakan  dimasak terlebih dahulu baru dibagikan.

Yang artinya: Aisyah r.a berkata, ” Sunnahnya dua ekor domba  untuk anak laki-laki dan satu ekor domba  untuk anak perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dimakan (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh.”

(HR al-Bayhaqi)

3. Memakan Sebagian Daging Aqiqah

Dari hadis yang diriwayatkan al-Bayhaqi, telah  jelas dilafalkan  bahwa daging aqiqah beberapa  dimakan. Sedangkan sebagiannya lagi diberikan  kepada orang-orang.

Tata teknik  aqiqah menyalurkan  daging ini nyaris  sama dengan daging kurban. Sebagian daging aqiqah diserahkan  kepada family  Muslim yang mengemban  aqiqah. Sementara sisanya dapat diberikan  kepada tetangga ataupun fakir miskin.

4. Mencukur Rambut dan Memberikan Nama Saat Aqiqah

Tata cara aqiqah berikutnya ialah  mencukur rambut bayi yang baru bermunculan  dan menyerahkan  nama kepadanya. Dalam tata teknik  aqiqah menurut  keterangan dari  Islam, orang tua menyerahkan  nama yang baik untuk  anak yang baru lahir.

Memberikan nama yang baik menggambarkan  bagaimana akhlak dan imannya nanti untuk  Allah SWT. Hukum memotong  rambut bayi saat mengerjakan  aqiqah menurut  keterangan dari  pendapat yang kuat di kalangan ulama ialah  sunnah.

5. Mendoakan Bayi Saat Aqiqah

Tata cara aqiqah anak selanjutnya ialah  mendoakan bayi yang baru lahir. Berikut ialah  bacaan doa yang usahakan  dibacakan  untuk bayi yang baru lahir.

” U’IIDZUKA BI KALIMAATILLAAHIT TAMMAATI MIN KULLI SYAITHOONI WA HAAMMAH. WA MIN KULLI ‘AININ LAAMMAH.”

Yang artinya: ” Saya perlindungkan engkau, wahai bayi, dengan kalimat Allah yang Perkasa, dari tiap-tiap godaan syaitan, serta tiap-tiap pandangan yang sarat  kebencian.”

Pembagian Daging Aqiqah

Jika kualifikasi hewan aqiqah dengan qurban harus sama dari sisi  fisik dan kesehatannya, tetapi  ada perbedaan dari pembagian daging aqiqah dengan daging kurban.

Daging aqiqah diberikan  dalam situasi  yang sudah  dimasak dan matang, sementara  kita ketahui bahwa pembagian daging kurban yang biasa diberikan  pada Idul Adha ialah  dalam situasi  mentah. Bagi  keluarga, menurut  keterangan dari  ulama jumlah maksimal daging yang dapat  diambil yakni  sepertiganya.

“Hendaklah hasil sembelihan fauna  aqiqah tidak disedekahkan mentahan, tetapi  dalam suasana  sudah dimasak. Inilah yang lebih tepat. Lebih baik lagi andai  dihidangkan dengan bumbu manis menurut  keterangan dari  pendapat yang lebih tepat.”

(Kifayatul Akhyar, hal. 706)

Demikianlah tata cara aqiqah anak wanita  dan laki-laki cocok  sunnah yang usahakan  dipelajari dan dilaksanakan. Dari uraian diatas saya ucapkan  lagi bahwa aqiqah ialah  ibadah yang sangat disarankan  untuk bayi yang baru lahir. Waktu utama pengamalan  aqiqah yakni  hari ketujuh sesudah  kelahiran bayi, beberapa  ulama mengizinkan  untuk pelaksanaannya pada hari ke-14 (dua minggu sesudah  kelahiran bayi). Bila di hari ke-14 masih belum dapat  juga, maka pelaksanaannya dapat  di hari ke-21.

Hewan aqiqah memakai  dua ekor kambing/domba untuk anak laki-laki, sementara  anak perempuan memakai  satu ekor saja. Hal itu  senada dengan hukum waris, dimana anak laki-laki berhak mewarisi harta orang tuanya dua bagian, sementara  anak wanita  satu bagian.

baca juga yuk:

Tata cara aqiqah sederhana dan mudah di pahami.

Tata cara untuk melakukan prosesi aqiqah pada umumnya sangat mudah, namun beberapa dari kita terkadang melupakan beberapa atau malah ada yang kelewatan dalam melakukan aqiqah. nah yuk dipahami ulang mengenai tata cara dan proses yang benar dalam melaksanakan aqiqah baik Anak Perempuan atau Laki-Laki.

tata cara aqiqah sederhana, aqiqah sesuai sunah
tata cara aqiqah sederhana, aqiqah sesuai sunah

Aqiqah adalah salah satu ajaran yang harus  dijalankan masing-masing  Muslim saat  mempunyai  anak. Anjuran mengemban  aqiqah ini cocok  sunnah Rasulullah Muhammad SAW.

Karena itu, masing-masing  Muslim harus memahami  tata cara aqiqah anak wanita  dan laki-laki cocok  sunnah Rasulullah. Di samping  itu, kamu pun  perlu memahami  masalah tata cara aqiqah orang dewasa menurut  keterangan dari  Islam.

Tata Cara Aqiqah Anak Perempuan dan Laki-laki Sesuai Sunnah

Sebelumnya, Dream telah menyatakan  pengertian aqiqah, hukum aqiqah, dan masa-masa  terbaik aqiqah. Sekarang saatnya membicarakan  tata teknik  aqiqah anak wanita  dan laki-laki cocok  sunnah.

Urutan atau tata cara aqiqah anak wanita  dan laki-laki sebetulnya  sama saja. Yang memisahkan  hanyalah jumlah domba  yang dikurbankan untuk aqiqah.

Berikut tata cara aqiqah anak wanita  dan laki-laki yang sesuai sunnah.

1. Menyembelih Kambing

Aqiqah identik dengan menyembelih kambing. Namun, di era canggih  ini, menyembelih domba  untuk aqiqah ialah  hal yang merepotkan. Karena itu, tidak sedikit  yang melakukan pembelian  masakan domba  yang telah  siap dipakai  untuk acara aqiqah anak.

Jumlah domba  yang disembelih guna  aqiqah bertolak belakang  antara anak wanita  dan laki-laki. Bagi  aqiqah anak wanita  orang tua menyiapkan satu ekor kambing. Sedangkan guna  anak laki-laki, orang tua menyembelih dua ekor kambing.

Soal jumlah domba  yang disembelih guna  aqiqah anak wanita  dan laki-laki ini telah dilafalkan  dalam hadis yang diriwayatkan Abu Dawud.

Yang artinya: Dari Ummu Kurz ia berkata, ” Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda ‘Untuk seorang anak laki-laki ialah  dua ekor domba  dan guna  akan perempuan ialah  seekor kambing. Tidak mengapa untuk  kalian apakah ia domba  jantan atau betina’.”

(HR. Abu Dawud no. 2834-2835).

Syarat domba  yang disembelih guna  aqiqah anak wanita  dan laki-laki ini sama dengan fauna  kurban. Yaitu domba  yang berkualitas, baik dari sisi  jenis sampai  usia. Kambing tersebut pun  harus bebas dari cacat dan penyakit.

Sebelum menyembelih domba  untuk aqiqah, disunnahkan untuk menyimak  doa sebagai berikut:

BISMILLAHI WA BILLAHI, ALLAHUMMA ‘AQIQATUN ‘AN FULAN BIN FULAN, LAHMUHA BILAHMIHI SI AZHMIHI, ALLAHUMMAJ’ALHA WIQAAN LIALI MUHAMMADIN ‘ALAIHI WA ALIHIS SALAM.

doa menyembelih domba untuk aqiqah,

Yang artinya: ” Dengan nama Allah serta dengan Allah, Aqiqah ini dari fulan bin fulan, dagingnya dengan dagingnya, tulangnya dengan tulangnya. Ya Allah, jadikan aqiqah ini sebagai tanda kesetiaan untuk  keluarga Muhammad SAW.”

2. Memasak Daging Aqiqah

Tata cara aqiqah selanjutnya ialah  memasak daging dari hewan yang disembelih untuk aqiqah. Soal ini, terdapat  dua pendapat ulama tentang  daging aqiqah.

Pendapat kesatu  menuliskan   usahakan  daging aqiqah dimasak terlebih dahulu lantas  dibagikan. Pendapat ke dua menganjurkan  untuk menyalurkan  daging aqiqah laksana  daging kurban, tidak dimasak terlebih dahulu.

Namun jumhur ulama lebih mengajurkan guna  memasak daging aqiqah terlebih dahulu sebelum membagikannya untuk  orang-orang. Hal tersebut  diungkapkan dalam buku  Atahzib yang ditulis Imam Al-Baghawi.

Yang artinya: ” Dianjurkan guna  tidak menyalurkan  daging fauna  aqiqah dalam suasana  mentah, akan namun  dimasak terlebih dahulu kemudian dikirimkan  kepada orang fakir dengan nampan.”

(Imam Al-Baghawi dalam buku Atahzib)

Kemudian, pendapat yang ditulis dalam buku  Al-Musfashshal fi Ahkamil Aqiqah yang artinya, ” Kebanyakan ahlul ilmi menganjurkan supaya  daging fauna  aqiqah tidak diberikan  dalam suasana  mentah, tetapi  dimasak terlebih dahulu lantas  disedekahkan pada orang fakir.”

Berdasarkan keterangan dari  hadis yang diriwayatkan al-Bayhaqi, daging aqiqah usahakan  dimasak terlebih dahulu baru dibagikan.

Yang artinya: Aisyah r.a berkata, ” Sunnahnya dua ekor domba  untuk anak laki-laki dan satu ekor domba  untuk anak perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dimakan (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh.”

(HR al-Bayhaqi)

3. Memakan Sebagian Daging Aqiqah

Dari hadis yang diriwayatkan al-Bayhaqi, telah  jelas dilafalkan  bahwa daging aqiqah beberapa  dimakan. Sedangkan sebagiannya lagi diberikan  kepada orang-orang.

Tata teknik  aqiqah menyalurkan  daging ini nyaris  sama dengan daging kurban. Sebagian daging aqiqah diserahkan  kepada family  Muslim yang mengemban  aqiqah. Sementara sisanya dapat diberikan  kepada tetangga ataupun fakir miskin.

4. Mencukur Rambut dan Memberikan Nama Saat Aqiqah

Tata cara aqiqah berikutnya ialah  mencukur rambut bayi yang baru bermunculan  dan menyerahkan  nama kepadanya. Dalam tata teknik  aqiqah menurut  keterangan dari  Islam, orang tua menyerahkan  nama yang baik untuk  anak yang baru lahir.

Memberikan nama yang baik menggambarkan  bagaimana akhlak dan imannya nanti untuk  Allah SWT. Hukum memotong  rambut bayi saat mengerjakan  aqiqah menurut  keterangan dari  pendapat yang kuat di kalangan ulama ialah  sunnah.

5. Mendoakan Bayi Saat Aqiqah

Tata cara aqiqah anak selanjutnya ialah  mendoakan bayi yang baru lahir. Berikut ialah  bacaan doa yang usahakan  dibacakan  untuk bayi yang baru lahir.

” U’IIDZUKA BI KALIMAATILLAAHIT TAMMAATI MIN KULLI SYAITHOONI WA HAAMMAH. WA MIN KULLI ‘AININ LAAMMAH.”

Yang artinya: ” Saya perlindungkan engkau, wahai bayi, dengan kalimat Allah yang Perkasa, dari tiap-tiap godaan syaitan, serta tiap-tiap pandangan yang sarat  kebencian.”

Pembagian Daging Aqiqah

Jika kualifikasi hewan aqiqah dengan qurban harus sama dari sisi  fisik dan kesehatannya, tetapi  ada perbedaan dari pembagian daging aqiqah dengan daging kurban.

Daging aqiqah diberikan  dalam situasi  yang sudah  dimasak dan matang, sementara  kita ketahui bahwa pembagian daging kurban yang biasa diberikan  pada Idul Adha ialah  dalam situasi  mentah. Bagi  keluarga, menurut  keterangan dari  ulama jumlah maksimal daging yang dapat  diambil yakni  sepertiganya.

“Hendaklah hasil sembelihan fauna  aqiqah tidak disedekahkan mentahan, tetapi  dalam suasana  sudah dimasak. Inilah yang lebih tepat. Lebih baik lagi andai  dihidangkan dengan bumbu manis menurut  keterangan dari  pendapat yang lebih tepat.”

(Kifayatul Akhyar, hal. 706)

Demikianlah tata cara aqiqah anak wanita  dan laki-laki cocok  sunnah yang usahakan  dipelajari dan dilaksanakan. Dari uraian diatas saya ucapkan  lagi bahwa aqiqah ialah  ibadah yang sangat disarankan  untuk bayi yang baru lahir. Waktu utama pengamalan  aqiqah yakni  hari ketujuh sesudah  kelahiran bayi, beberapa  ulama mengizinkan  untuk pelaksanaannya pada hari ke-14 (dua minggu sesudah  kelahiran bayi). Bila di hari ke-14 masih belum dapat  juga, maka pelaksanaannya dapat  di hari ke-21.

Hewan aqiqah memakai  dua ekor kambing/domba untuk anak laki-laki, sementara  anak perempuan memakai  satu ekor saja. Hal itu  senada dengan hukum waris, dimana anak laki-laki berhak mewarisi harta orang tuanya dua bagian, sementara  anak wanita  satu bagian.

baca juga yuk:

Waktu aqiqah menurut imam syafi’i, kajiah fiqih aqiqah madzab imam syafi’i

menurut imam syafi’i jika aqiqah yang ditunda itu hingga anak usia baligh, hukumnya gugur bagi wali anak, untuk melakukan aqiqah. Namun bagi anak itu sendiri, maka diperkenankan untuk melakukan aqiqah untuk dirinya sendiri ataupun tidak melakukannya juga tidak apa-apa

kajian aqiqah menurut imam syafi'i i imam madzhab
kajian aqiqah menurut syafi’i imam madzhab

Bagaimana pembahasan AQIQAH menurut keterangan fiqih madzab menurut imam syafi’i?

(dikutip dari Kitab fiqih Fathul Qorib)

(Fasal) menyatakan hukum-hukum aqiqah.

‏( ﻓَﺼْﻞٌ ‏) ﻓِﻲْ ﺑَﻴَﺎﻥِ ﺃَﺣْﻜَﺎﻡِ ‏( ﺍﻟْﻌَﻘِﻴْﻘَﺔِ ‏)

Aqiqah secara bahasa ialah nama rambut yang sedang di atas kepala anak yang dilahirkan.

ﻭَﻫِﻲَ ﻟُﻐَﺔً ﺍﺳْﻢٌ ﻟِﻠﺸَّﻌْﺮِ ﻋَﻠَﻰ ﺭَﺃْﺱِ ﺍﻟْﻤَﻮْﻟُﻮْﺩِ

Dan secara syara’ akan diterangkan oleh mushannif dengan ucapan beliau, “aqiqah untuk anak yang dilahirkan disunnahkan.”

ﻭَﺷَﺮْﻋًﺎ ﻣَﺎ ﺳَﻴَﺬْﻛُﺮُﻩُ ﺍﻟْﻤُﺼَﻨِّﻒُ ﺑِﻘَﻮْﻟِﻪِ ‏( ﻭَﺍﻟْﻌَﻘِﻴْﻘَﺔُ ‏) ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤَﻮْﻟُﻮْﺩِ ‏( ﻣُﺴْﺘَﺤَﺒَّﺔٌ ‏)

Mushannif mentafsiri aqiqah dengan ucapan beliau, “aqiqah ialah binatang yang disembelih karena bayi yang dilahirkan pada hari ketujuh bayi tersebut, maksudnya pada hari ketujuh kelahirannya.

ﻭَﻓَﺴَّﺮَ ﺍﻟْﻤُﺼَﻨِّﻒُ ﺍﻟْﻌَﻘِﻴْﻘَﺔَ ﺑِﻘَﻮْﻟِﻪِ ‏( ﻭَﻫِﻲَ ﺍﻟﺬَّﺑِﻴْﺤَﺔُ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤَﻮْﻟُﻮْﺩِ ﻳَﻮْﻡَ ﺳَﺎﺑِﻌِﻪِ ‏) ﺃَﻱْ ﻳَﻮْﻡَ ﺳَﺎﺑِﻊِ ﻭِﻟَﺎﺩَﺗِﻪِ

Hari ketika kelahirannya tergolong dalam hitungan tujuh hari tersebut. -kesunnahan tetap berlaku- Walaupun bayi yang telah dilahirkan itu meninggal dunia sebelum hari ketujuh.

ﻭَﻳُﺤْﺴَﺐُ ﻳَﻮْﻡُ ﺍﻟْﻮِﻟَﺎﺩَﺓِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴَّﺒْﻊِ ﻭَﻟَﻮْ ﻣَﺎﺕَ ﺍﻟْﻤَﻮْﻟُﻮْﺩُ ﻗَﺒْﻞَ ﺍﻟﺴَّﺎﺑِﻊِ

Kesunnahan aqiqah tidak hilang karena ditunda sampai melewati hari ketujuh.

ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻔُﻮْﺕُ ﺑِﺎﻟﺘَّﺄْﺧِﻴْﺮِ ﺑَﻌْﺪَﻩُ

Namun, andai aqiqah ditundah sampai anak itu baligh, maka hukum aqiqah gugur untuk orang yang mengerjakan aqiqah dari anak tersebut.

ﻓَﺈِﻥْ ﺗَﺄَﺧَّﺮَﺕْ ﻟِﻠْﺒُﻠُﻮْﻍِ ﺳَﻘَﻂَ ﺣُﻜْﻤُﻬَﺎ ﻓِﻲْ ﺣَﻖِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻕِ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤَﻮْﻟُﻮْﺩِ

Sedangkan untuk anak tersebut sendiri, maka diperkenankan untuk mengerjakan aqiqah untuk dirinya sendiri ataupun tidak melakukannya.

ﺃَﻣَّﺎ ﻫُﻮَ ﻓَﻤُﺨَﻴَّﺮٌ ﻓِﻲْ ﺍﻟْﻌَﻖِّ ﻋَﻦْ ﻧَﻔْﺴِﻪِ ﻭَﺍﻟﺘَّﺮْﻙِ

Disunnahkan menyembelih dua ekor domba sebagai aqiqah untuk anak laki-laki, dan menyembelih satu ekor domba untuk anak perempuan.

‏( ﻭَﻳُﺬْﺑَﺢُ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻐُﻠَﺎﻡِ ﺷَﺎﺗَﺎﻥِ ﻭَ ‏) ﻳُﺬْﺑَﺢُ ‏( ﻋَﻦِ ﺍﻟْﺠَﺎﺭِﻳَّﺔِ ﺷَﺎﺓٌ ‏)

Sebagian ulama’ berkata, “adapun anak khuntsa, maka masih ihtimal / dimungkinkan diserupakan dengan anak laki-laki atau dengan anak perempuan.”

ﻗَﺎﻝَ ﺑَﻌْﻀُﻬُﻢْ ﺃَﻣَّﺎ ﺍﻟْﺨُﻨْﺜَﻰ ﻓَﻴَﺤْﺘَﻤِﻞُ ﺇِﻟْﺤَﺎﻗُﻪُ ﺑِﺎﻟْﻐُﻠَﺎﻡِ ﺃَﻭْ ﺑِﺎﻟْﺠَﺎﺭِﻳَّﺔِ

Namun, seandainya lantas jelas kelamin prianya, maka disunnahkan untuk menambahi kekurangannya.

ﻓَﻠَﻮْ ﺑَﺎﻧَﺖْ ﺫُﻛُﻮْﺭَﺗُﻪُ ﺃُﻣِﺮَ ﺑِﺎﻟﺘَّﺪَﺍﺭُﻙِ

Aqiqah menjadi berlipat ganda karena berlipat gandanya anak.

ﻭَﺗَﺘَﻌَﺪَّﺩُ ﺍﻟْﻌَﻘِﻴْﻘَﺔُ ﺑِﺘَﻌَﺪُّﺩِ ﺍﻟْﺄَﻭْﻟَﺎﺩِ

bagaimana Proses Aqiqah menurut imam syafi’i?

Bagi orang yang mengemban aqiqah, maka mesti memberi santap kaum faqir dan kaum miskin.

‏( ﻭَﻳُﻄْﻌِﻢُ ‏) ﺍﻟْﻌَﺎﻕَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻌَﻘِﻴْﻘَﺔِ ‏( ﺍﻟْﻔُﻘَﺮَﺍﺀَ ﻭَﺍﻟْﻤَﺴَﺎﻛِﻴْﻦَ ‏)

Ia memasak aqiqah itu dengan bumbu manis dan memberikannya sebagai hadiah pada orang-orang faqir dan orang-orang miskin. Dan hendaknya tidak menjadikan aqiqah sebagai acara undangan. Dan hendaknya tidak memecahkan tulang-tulangnya.

ﻓَﻴَﻄْﺒَﺤُﻬَﺎ ﺑِﺤُﻠْﻮٍ ﻭَﻳُﻬْﺪِﻱْ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﻟِﻠْﻔُﻘَﺮَﺍﺀِ ﻭَﺍﻟْﻤَﺴَﺎﻛِﻴْﻦِ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﺘَّﺨِﺬُﻫَﺎ ﺩَﻋْﻮَﺓً ﻭَﻟَﺎ ﻳُﻜْﺴَﺮُ ﻋَﻈْﻤُﻬَﺎ

Ketahuilah bahwasannya usia hewan aqiqah, selamat dari cacat yang dapat mengurangi daging, memakannya, mensedekahkan sebagiannya, jangan menjualnya dan menjadi wajib karena nadzar, hukumnya ialah sesuai dengan hukum yang telah diterangkan di dalam permasalahan hewan kurban.

ﻭَﺍﻋْﻠَﻢْ ﺃَﻥَّ ﺳِﻦَّ ﺍﻟْﻌَﻘِﻴْﻘَﺔِ ﻭَﺳَﻠَﺎﻣَﺘَﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﻋَﻴْﺐٍ ﻳُﻨْﻘِﺺُ ﻟَﺤْﻤَﻬَﺎ ﻭَﺍﻟْﺄَﻛْﻞَ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﻭَﺍﻟﺘَّﺼَﺪُّﻕَ ﺑِﺒَﻌْﻀِﻬَﺎ ﻭَﺍﻣْﺘِﻨَﺎﻉَ ﺑَﻴْﻌِﻬَﺎ ﻭَﺗَﻌَﻴُّﻨَﻬَﺎ ﺑِﺎﻟﻨَّﺬَﺭِ ﺣُﻜْﻤُﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﺎ ﺳَﺒَﻖَ ﻓِﻲْ ﺍﻟْﺄُﺿْﺤِﻴَّﺔِ

bagaimana cara melakukan Adzan, dan memberikan Nama anak?

Disunnahkan untuk mengumandangkan adzan di telinga kanan bayi yang baru dilahirkan dan mengumandangkan iqamah di telinga kirinya.

ﻭَﻳُﺴَﻦُّ ﺃَﻥْ ﻳُﺆْﺫَﻥَ ﻓِﻲْ ﺃُﺫُﻥِ ﺍﻟْﻤَﻮْﻟُﻮْﺩِ ﺍﻟْﻴُﻤْﻨَﻰ ﻭَﻳُﻘِﻴْﻢَ ﻓِﻲْ ﺃُﺫُﻧِﻪِ ﺍﻟْﻴُﺴْﺮَﻯ

Dan -disunnahkan- mengerjakan hanak (mencetaki : jawa) bayi yang dilahirkan dengan memakai kurma kering. Maka seseorang menguyah kurma dan mengoleskannya pada langit-langit unsur dalam mulut si bayi supaya ada beberapa dari kurma itu yang masuk ke dalam perutnya.

ﻭَﺃَﻥْ ﻳُﺤْﻨَﻚَ ﺍﻟْﻤَﻮْﻟُﻮْﺩُ ﺑِﺘَﻤْﺮٍ ﻓَﻴُﻤْﻀَﻊُ ﻭَﻳُﺪْﻟَﻚُ ﺑِﻪِ ﺣَﻨَﻜُﻪُ ﺩَﺍﺧِﻞَ ﻓَﻤِّﻪِ ﻟِﻴَﻨْﺰِﻝَ ﻣِﻨْﻪُ ﺷَﻴْﺊٌ ﺇِﻟَﻰ ﺟَﻮْﻓِﻪِ

Kemudian, andai tidak mengejar kurma kering, maka dengan memakai kurma basah, dan andai tidak ada, maka memakai sesuatu yang manis.

ﻓَﺈِﻥْ ﻟَﻢْ ﻳُﻮْﺟَﺪْ ﺗَﻤْﺮٌ ﻓَﺮُﻃَﺐٌ ﻭَﺇِﻟَّﺎ ﻓَﺸَﻴْﺊٌ ﺣُﻠْﻮٌ

Dan -disunnahkan-memberi nama si bayi pada hari ketujuh kelahirannya.

ﻭَﺃَﻥْ ﻳُﺴَﻤَّﻰ ﺍﻟْﻤَﻮْﻟُﻮْﺩُ ﻳَﻮْﻡَ ﺳَﺎﺑِﻊِ ﻭِﻟَﺎﺩَﺗِﻪِ

Dan diizinkan memberi nama si bayi sebelum atau sesudah hari ke tujuh.

ﻭَﺗَﺠُﻮْﺯُ ﺗَﺴْﻤِﻴَّﺘُﻪُ ﻗَﺒْﻞَ ﺍﻟﺴَّﺎﺑِﻊِ ﻭَﺑَﻌْﺪَﻩُ

Seandainya si bayi meninggal dunia sebelum hari ke tujuh, maka disunnah-kan untuk memberi nama padanya.

ﻭَﻟَﻮْ ﻣَﺎﺕَ ﺍﻟْﻤَﻮْﻟُﻮْﺩُ ﻗَﺒْﻞَ ﺍﻟﺴَّﺎﺑِﻊِ ﺳُﻦَّ ﺗَﺴْﻤِﻴَّﺘُﻪُ

siapakah Imam al-Syafi’i, itu ? dan pendiri Mazhab Syafi’i?

Sebagai muslim Indonesia, pasti mayoritas anda tidak asing dengan Imam al-Syafi’i. Ia adalah pendiri Mazhab Syafii. Mazhab ini cukup tidak sedikit dianut di Indonesia, bahkan dapat dibilang beberapa besar di Indonesia.

Nama menyeluruh pendiri mazhab ini ialah Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin Saib bin Ubaid bin Abdu Yazid bin Hasyim bin Abdul Muthalib. Nama terakhir ialah kakek dari Rasulullah.

Imam Syafii bermunculan dari rahim seorang ibu yang salehah, serta dari ayah yang familiar kesabaran dan keikhlasannya. Bahkan Syafi’ bin Saib, kakek buyutnya, adalahsahabat Rasulullah SAW. Nama al-Syafi’i, yang sering kita dengar kita, dipungut dari nama kakek buyutnya tersebut. Sedangkan ibunya adalahperempuan keturunan Ali bin Abi Thalib RA dari jalur Sayyidina Husein RA.

biografi keluarganya imam aysfi’i

Idris, ayah Imam al-Syafi’i ialah seorang pemuda asal Makkah yang merantau ke Gaza, Palestina. Di Gaza ia bertemu dengan Fatimah binti Ubadillah, seorang wanita salehah dari kaum Azdi. Idris menikah dengan Fatimah binti Ubaidillah, dengan tanpa sengaja. Pasalnya, saat tersebut Idris sedang dihukum ayah Fatimah sebab tidak sengaja memakan buah delima kepunyaan ayah Fatimah yang hanyut di sungai.

Harapannya, kelak, supaya ayah Fatimah inginkan mengikhlaskan buah tersebut, Idris rela menjadi buruh ayah Fatimah hingga sejumlah tahun tanpa digaji. Keikhlasan Idris berikut yang menciptakan ayah Fatimah menjatuhkan opsi kepadanya sebagai menantu.

Buah cinta dari dua-duanya lahir pada tahun 150 H. Saat itu, bertepatan dengan wafatnya dua ulama besar: Imam Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit, pendiri Mazhab Hanafi yang wafat di Irak dan Imam Ibn Jureij al-Makky, seorang mufti Hijaz yang wafat di Makkah. Hal ini dinamakan sebagai salah satu tanda-tanda bahwa bayi yang lahir itu akan menggantikan dua ulama yang sudah meninggal, baik dalam keilmuan dan kesalehan.

Kehidupan bahagia Idris, Fatimah dan jabang bayi tidak berlangsung bahagia. Idris, ayah Imam al-Syafi’i meninggal dunia dalam umur yang relatif muda. Fatimah mesti berusaha sendiri merawat buah hati dalam situasi ekonomi yang lumayan memprihatinkan.

Sadar dengan situasi dirinya ketika itu, Fatimah lantas membawa bayinya yang masih berumur dua tahun ke Makkah, kota asal ayahnya. Ia hendak putra semata wayangnya tumbuh besar di tanah kelahiran ayahnya.

Minat Keilmuan Imam al-Syafi’i: dari Sastra, Fikih sampai Hadis.

Jika keilmuan yang berkembang di Irak ialah filsafat dan mencetuskan para figur yang beraliran rasionalis laksana Abu Hanifah, lain halnya dengan Makkah, lokasi Imam al-Syafii tumbuh remaja. Di Makkah malah sedang berkembang ilmu kesusasteraan. Bahkan Makkah menjadi di antara tujuan favorit untuk para penuntut ilmu sastra Arab.

Tinggal di lingkungan yang dihuni semua ulama sastra, tidak disia-siakan oleh Imam al-Syafii. Ia paling menggandrungi prosa dan syair-syair Arab klasik. Masa mudanya di Makkah ia habiskan untuk menggali naskah-naskah sastra, berkeliling ke kabilah-kabilah badui padang pasir, laksana kabilah Hudzel (salah satu kabilah yang familiar sebagai berpengalaman sastra) guna belajar sastra. Bahkan ia rela menetap sejumlah hari di kabilah-kabilah itu demi mempelajari sastra Arab.

Hobinya belajar sastra Arab ini secara tidak langsung mempermudah ia mengetahui Alquran dan hadis. Kedua urusan ini urgen sekali dalam proses berijtihad dan mencari hukum syariat. Karena mengetahui Alquran maupun hadis diperlukan kepiawaian dalam mengetahui Alquran yang diturunkan dalam bahasa Arab yang lancar dan murni.

kepandaian imam syafi’i dalam bersastra

Kepiawaian al-Syafii dalam bidang sastra ini kesudahannya menjadikannya mahir dalam menggubah syair-syair Arab. Syair-syair karya Imam al-Syafii itu kemudian dikoleksi oleh Syekh Yusuf Muhammad al-Biqa’i dan jadilah kitab kecil berjudul Diwan al-Syafi’i yang memuat selama 150an syair karya imam syafi’i yang terserak dalam karya-karyanya.

Berdasarkan keterangan dari al-Hamawi dalam Irsyad al-Arib fi Ma’rifah al-Adib, ketertarikan Imam al-Syafii terhadap sastra Arab nyatanya melulu menjadikannya bersyair dan bernyanyi sehari-harinya. Hingga pada sebuah hari ia bertemu dengan Mus’ab bin Abdullah bin Zubair dan menganjurkannya guna belajar fikih dan hadis.

perintah belajar fiqih imam syafi’i

Tidak melulu Mus’ab, Imam Muslim bin Khalid, guru imam syafi’i yang lain pun menganjurkannya guna belajar fikih.

“Alangkah baiknya andai kecerdasanmu itu dipakai untuk mempelajari ilmu fikih, urusan ini lebih baik bagimu,” nasihat Imam Muslim bin Khalid untuk Imam al-Syafi’i.

hijrahnya imam as syafii adalah demi ilmu

Ucapan tersebut dinyatakan sendiri oleh imam syafi’i sebagai pelecut semangatnya guna belajar ilmu fikih dan hadis. Ia juga belajar untuk dua ulama besar Makkah ketika itu: Imam Sufyan bin Uyainah, pakar hadis dan Muslim bin Khalid al-Zanji, pakar fikih Mekkah.

Hijrah yang dimaksud dalam urusan ini bukan hijrah dalam makna tobat, sebagaimana yang sering dipakai saat ini. Hijrah dalam urusan ini ialah berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain. Sebagaimana hijrahnya nabi dari Makkah ke Yatsrib, Madinah.

Di samping hijrah ke Madinah pada tahun 170 H guna belajar langsung untuk Imam Dar al-Hijrah, yaitu Imam Malik bin Anas, imam syafi’i juga berangjangsana ke Irak dan Kufah guna belajar untuk murid-murid Imam Abu Hanifah, sebelum kesudahannya kembali lagi ke Madinah mendampingi Imam Malik sampai wafat pada tahun 179 H.

Bahkan Imam al-Syafi’i terhitung berangjangsana ke Irak sejumlah tiga kali. Di samping Irak, Ia pun pernah berangjangsana ke Persia, Turki dan Ramlah (Palestina), sampai akhirnya menetap dan wafat di Mesir.

Kesempatan Imam al-Syafii untuk berangjangsana ke sekian banyak  kota ini tak ayal membantunya mengetahui kebiasaan serta adat istiadat yang berlaku di kota-kota tersebut. Hal ini secara tidak langsung menjadi referensi Imam al-Syafii untuk membina fatwa-fatwa dalam mazhabnya kelak.

Kegemaran Imam al-Syafi’i dalam berhijrah dari kota ke kota ini didokumentasikannya dalam sejumlah bait syair mengenai anjuran guna berhijrah, di antaranya:

“Musafirlah! Engkau akan mengejar sahabat baru pengganti sahabat-sahabat lama yang anda tinggalkan. Dan bekerjalah yang giat! Karena kesenangan hidup akan terjangkau dengan bekerja keras.”

“Singa andai tidak terbit dari sarangnya, ia tidak bakal mendapatkan makanan. Begitu pun dengan anak panah, andai tidak meluncur dari busurnya, anak panah itu tidak akan tentang sasaran.”

Rangkaian hijrah Imam al-Syafii itu menghasilkan ‘permata’ yang tidak ternilai harganya. Berdasarkan keterangan dari Syekh Ali Jum’ah, Imam al-Syafii mencatat lebih dari 30 karya monumental. Sayangnya, tidak semuanya hingga di tangan kita. Beberapa buku hilang dan sejumlah kitab masih dalam proses pengetikan dan pentahqiqan (koreksi).

Salah satu karya hebatnya ialah kitab al-Risalah, yang disinggung sebagai buku ushul fikih kesatu yang ditulis secara sistematis. Berkat al-Risalah juga, Imam al-Syafi’i dijuluki sebagai Nasir al-Sunnah (pembela sunnah).

Imam al-Syafi’i menguras waktunya untuk mengajar di Mesir. Berdasarkan keterangan dari al-Dzahabi dalam Siyar A’lam al-Nubala’ dengan mengutip kaul al-Rabi’ bin Sulaiman, Imam al-Syafii membagi malamnya menjadi tiga: sepertiga kesatu dipakai untuk menulis, sepertiga kedua dipakai untuk shalat malam, dan sepertiga terakhir dipakai untuk tidur. Imam al-Syafii wafat pada 30 Rajab 204 H.

aqiqah hari ke 40 tokoh agama di indonesia dan imam syafi’i

mau melakukan syukuran aqiqah hari ke 40 sejak dilahirkannya bayi memang terkadang ada sedikit keraguan. banyak budaya dimasyarakat kita khususnya jogja, melakukan aqiqah pada hari ke-7, nah, tapi bagi kalian sudah terlanjur kelewat hari ke-7 dan tetap ingin melakukan aqiqah hari ke-40 dan seterusnya, beberapa dukungan dan referensi dibawah ini akan membantu anda memahaminya.. yuk mulai membaca biar paham..

aqiqah hari ke 40
aqiqah hari ke 40

bagaimana menurut ulama indonesia menganai aqiqah hari ke 40 ?

Mayoritas Ulama di Indonesia bermadzab Imam Syafi’i, baik Muhammadiyah maupun NU (Nahdhatul Ulama). Karenanya, tidak sedikit tidak heran bila masyarakat anda merayakan syukuran aqiqah hari ke 40 atau setelah dewasa. Alasannya karena waktu kecil belum aqiqah. berikut ini pendapat buya yahya, dan ustad kholid basalamah. yang banyak diikuti oleh masyarakat di indonesia.

lalu bagaimana hukumnya syukuran aqiqah hari ke 40 sesudah kelahiran bayi, apakah wajib atau sunah? Yang jadi masalah ialah ada yang menuliskan wajib, ada pun yang menuliskan sunah. Saya jadi bingung kalau dilakukan kan paling tidak perlu biaya, sedangkan suasana ekonomi saya pas-pasan. Saya sampaikan terima kasih atas jawabannya.

jawaban dari pertanyaan saudara mengenai aqiqah hari ke 40

Saudaraku rahimakumullah, kelahiran bayi disamping adalahamanah Allah, memang adalahnikmat yang patut guna disyukuri. Namun butuh disadari bahwa bersyukur bisa diekspresikan dengan berbagai format dan tidak terpaku pada satu model. Syukur bukan berarti “syukuran” sebagaimana pemahaman umum, kebalikannya wujud utamanya ialah mentaati dzat yang memberi nikmat (tha’at al-masykur).

Secara eksklusif berkait dengan kelahiran anak terdapat format formal dari bersyukur tersebut, yakni aqiqah atau dengan nama beda –yang lebih digemari oleh beberapa syafi’iyyah– nasikah atau dzabihah. Bagi ini secara konkrit ulama mendefinisikan bahwa aqiqah merupakan: Apa yang disembelih karena kelahiran anak sebagai format syukur untuk Allah dengan niat dan kriteria-syarat khusus.

Mengenai hukumnya memang beberapa ulama terdapat yang berasumsi wajib –seperti Dzahiriyyah- dan yang beda berkeyakinan bahwa aqiqah ialah sunah sebagaimana pendapat Syafi’iyyah dan Hanabilah. Keduanya berangkat dari dua hadis namun bertolak belakang dalam menalar tingkat perintahnya.

“Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya. Aqiqah tersebut disembelih pada hari ketujuh. (Pada saat tersebut bayi) dicukur rambutnya dan diberi nama.

” (HR. Abu Dawud dan al-Hakim).

Saya sendiri secara individu lebih ingin kepada hukum sunnah. Adapun masalah waktunya –sebagaimana tersurat dalam hadis-, lebih baik pada hari ke tujuh tersebut. Tapi tidak menutup bisa jadi pada masa-masa yang lain, baik sebelum atau sesudahnya sebagaimana didukung Malikiyyah dan Syafi’iyyah. Dengan demikian tidak terdapat keterikatan dengan masa-masa tertentu berhubungan keabsahannya, lagipula aqiqah hari ke 40. Wallahu a’alam

bagaimana aqiqah hari ke-40 menurut imam Syafi’iyah dan Hambali

Beberapa pandangan ulama madzhab Syafi’iyah dan Hambali wacana masa-masa aqiqah yaitu dibuka dari kelahiran sang bayi. Mereka beropini bahwa hukumnya tersebut tidak sah bilamana aqiqah dilakukan sebelum bayi lahir. Memotong hewan sebelum bayi bermunculan maka dirasakan sebagai sembelihan biasa.

Ulama dari kalangan Syafi’iyah beropini bahwa masa-masa aqiqah dapat diperpanjang. Meski begitu, kerjakan aqiqah sebelum anak baligh (dewasa). Karena bila baligh belum pun diaqiqahi, maka aqiqahnya telah gugur.

Orang yang baligh boleh mengaqiqahi diri sendiri. Karena Ulama Syafi’iyah berpandangan bahwa aqiqah tersebut kewajiban sang ayah.

Sementara semua ulama kalangan Hambali berpandangan bahwa bila aqiqah tidak dapat hari ke-7, maka disunnahkan dan boleh hari ke-14, hari ke-21 dan seterusnya.

apakah orang menyembelih aqiqah pada hari ketujuh atau sesudahnya? Bolehkah menyembelih aqiqah pada umur dewasa?

Kalau begitu, kapan rambut bayi itu dipotong dan kapan hewan aqiqah tersebut dipotong?

Kebiasaan atau tradisi sering di anggap sebagai hukum yang urgen untuk dipertahankan. Apakah memang demikian? Bila kebiasaan tersebut tidak membias dari doktrin Islam maka sepatutnya untuk seorang muslim guna mempertahankan kelaziman yang baik dan benar. Namun bila diketahui ada kelaziman yang di anggap baik, tetapi tidak benar maka masing-masing muslim berkewajiban meluruskannya dengan teknik yang arif yaitu teknik yang bisa mereka pahami dan mereka amalkan. Jika urusan tersebut dirasa susah maka upaya dengan memberi misal yang benar patut diperjuangkan.

Menyembelih hewan aqiqah kapanpun dilakukan dapat di anggap sebagai sebuah amal terpuji dan baik. Namun butuh disadari bahwa tidak seluruh yang baik dan terpuji menurut keterangan dari pandangan satu kumpulan masyarakat bisa diterima oleh kumpulan lainnya. Karena masing-masing kumpulan memiliki kelaziman yang berbeda. Dan sebaik apapun suatu tindakan tidak tergolong ibadah yang benar bila tidak bersumber untuk sunnah Rasulullah saw atau melampauai batas yang sudah ditetapkannya.

Untuk masalah aqiqah, Rasulullah saw telah memutuskan kapan masa-masa penyembelihan. Beliau bersabda:

عَنْ سَمُرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ غُلامٍ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ وَيُسَمَّى

Dari Samurah ra dari Nabi saw bersabda: masing-masing ghulam (anak kecil) (laksana) barang gadaian yang ditebus dengan aqiqah yang disembelih pada hari ketujuh, dan gundul serta diberi nama (pada hari yang sama).

(HR. Ibnu Majah)

Jika anda gabungkan arti aqiqah menurut keterangan dari bahasa dengan penjelasan aqiqah dalam sabda Rasulullah maka dapat dijamin bahwa aqiqah tersebut sangat bersangkutan dengan masalah bayi yang rambutnya masih bahwa dari dalam kandungan ibunya. Adapun orang telah lanjut umur maka bukan lagi ada hubungan dengan masalah aqiqah karena rambut mereka sudah dipotong berkali-kali dan bukan lagi dapat disebutkan sebagai ghulam (anak dalam batasan usia tertentu).

baca juga yuk

Dari sejumlah hadits diatas bisa diambil sejumlah pelajaran penting:

– Anak yang baru lahir membawa aqiqah yakni rambut bawaan yang perlu dicukur pada hari ketujuh.

– Pemotongan rambut bersamaan waktunya dengan pemotongan binatang, karena hewan yang dicukur atas nama anak itu disebut aqiqah

– Pemotongan rambut paling bermakna untuk kebersihan dan kesehatan jasmani bayi sedangkan pemotongan hewan (aqiqah) paling bermakna untuk kebersihan harta, kemaslahatan family dan komunikasi social yang paling berpengaruh untuk jiwa anak dimasa mendatang.

– Pemotongan rambut bayi menjadi jalan guna beramal shaleh berupa sedekah yang paling bermakna untuk masyarakat yang memerlukan pertolongan atau fakir kurang mampu sementara hewan sangat bermakna untuk peningkatan kualitas komunikasi social sebab dagingnya diberikan kepada masyarakat sekitar.

– Aqiqah ialah satu nama guna dua benda yakni rambut bawaan bayi dan hewan yang dipotang pada saat memotong rambut tersebut. Jika pemotongan binatang dilangsungkan pada masa-masa yang bertolak belakang maka istilah aqiqah untuk binatang itu tidak cocok dengan maknanya.

– Dalam hadits riwayat Tabrani ditemukan keterang yang membolehkan pemotongan binatan pada hari ke 14 atau ke 21. Hadits ini melulu ditemukan pada buku almu’jam al ausath yaitu kelompok hadits riwayat Tabrani. hadits ini tidak hanya tidak cocok dengan artinya secara tinjauan bahasa akan namun juga dari sisi periwayatanya juga dipertanyakan, sebab diantara sanadnya terdapat yang mempunyai nama Abdul Wahab bin Atha al Khafaf. Berdasarkan keterangan dari Bukhori dia tidak powerful dan menurut keterangan dari Ibnu Hajar hadits yang diriwayatkannya tidak sedikit yang munkar.

tips dan saran dalam memanfaatan daging aqiqah.

Adapun teknik pemanfaatan daging dari hewan aqiqah, sebab Rasulullah saw tidak menjelaskan, maka kita dilepaskan untuk memilih cocok dengan situasi dan kebutuhan lingkungan setiap yang di anggap lebih maslahat untuk semua pihak. Apakah mau diberikan secara mentahnya atau diberikan setelah dimasak. Apakah dimakan bareng pada satu lokasi atau diangkut ketempat masing-masing. Hanya saja bila dimakan bareng pada satu lokasi dan bila memungikinkan guna berkumpul sejenak

.perkumpulan dalam acara aqiqah yang dipenuhi dengan ceramah keagamaan bukanlah adalahpaket pekerjaan aqiqah akan namun sebagai satu pekerjaan yang biasa dilaksanakan masyarakat muslim pada masing-masing ada kesempatan.

Kesimpulan dari kami

– Aqiqah tergolong syariat yang paling jelas keterangannya dari Rasulullah Saw

– Pelaksanaan pemotongan / penyembelihan hewan aqiqah ditemukan paling bervariasi dampak budaya

– Keragaman teknik tersebut bisa diterima sekitar tidak bertentangan dengan nash yang jelas.

– Pemotongan hewan aqiqah yang tentu dan bisa dipertanggung jawabkan ialah yang dilangsungkan pada hari ketujuh dari kelahiran bayi yang diberi aqiqah.

– Adapun sedekah dari daging hewan yang dicukur pada hari lainnya maka diinginkan menjadi unsur dari amal shaleh sebagai sedekah biasa sekitar niatnya ikhlas untuk menggali ridha Allah

baca juga ya..

waktu pelaksanaan aqiqah dan qurban, ini yang banyak dipertanyakan.

waktu pelaksanaan aqiqah dan qurban, dalam pembahasan mengenai waktunya: ada beberapa pertanyaan yang bisa dijawab: diantaranya:

  • kapan waktu pelaksanaan aqiqah dan qurban?
  • apakah waktu aqiqah dan kurban bisa di gabung?
  • bagaimana jika saya mempunyai kambing 1 dan ingin bisa melaksanakan aqiqah dan kurban secara bersamaan?
  • apakah sah niat saya, jika saya melakukan niat aqiqah dan kurban secara bersamaan?

nah pertanyaan dibawah ini akan dijawab di tulisan dibawah ino, pastikan kamu membacanya dengan teliti ya, biar ndak salah tompo,, hhee, terimakasih..

waktu pelaksanaan aqiqah dan kurban di jogja
waktu pelaksanaan aqiqah dan kurban di jogja

Hari Raya Idul Adha adalah salah satu hari besar Islam. Di hari raya ini, umat muslim yang mempunyai  kemampuan disarankan  untuk mengerjakan  kurban hewan.

Aqiqah dan Kurban, Mana yang Harus Didahulukan?

saya mau tanya bagaimana jika seseorang semenjak  lahir sampai  dewasa belum pernah aqiqah, kemudian  mana yang mesti didahulukan? Apakah wajib mengerjakan  aqiqah terlebih dahulu atau kurban terlebih dahulu?

mengutip dari NU.or.id, aqiqah dan kurban adalah dua ibadah yang hukumnya sunnah menurut  keterangan dari  mazhab Syafi’i dan ditandai dengan kegiatan  penyembelihan  KAMBING  yang telah mengisi  syarat untuk dipotong.

Perbedaan antara kedua ibadah itu  terletak pada masa-masa  pelaksanaan. Bila kurban dilaksanakan  pada Bulan Dzulhijjah, sedangkan  aqiqah dilaksanakan  saat mengiringi kelahiran seorang bayi dan disarankan  dilakukan pada hari ketujuh sesudah  kelahiran.

Adapun aqiqah adalah hak anak atas orang tuanya. Anjuran ini ditekankan untuk  orang tua bayi yang diberi kelapangan rezeki guna  berbagi dalam rangka menyambut kelahiran sang anak.

Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Aqiqah menyertai lahirnya seorang bayi”. (HR Bukhari).

Aqiqah yang dibebankan untuk  orang tua diserahkan  kelonggaran sampai  si bayi tumbuh sampai menginjak  masa baligh. Setelah itu, ajakan  aqiqah bukan lagi  dibebankan untuk  orang tua melainkan di berikan  kepada sang anak untuk mengemban  sendiri atau meninggalkannya. Namun, lebih dikhususkan  untuk dilaksanakan.

melihat waktu yang tepat untuk melakukan aqiqah dan kurban

Untuk pengamalan  antara aqiqah dan kurban mana yang mesti didahulukan, maka dicocokkan  dengan kondisi  dan situasi  yang ada. Apabila mendekati Hari Raya Idul Adha maka lebih baik mendahulukan kurban daripada aqiqah.

Namun, bilamana  aqiqah dan kurban dilakukan  secara bersamaan pun  diperbolehkan, yakni menyimak  dua niat dalam menyembelih kurban dan aqiqah sekaligus.

Hal itu  mengacu pada buku  Tausyikh karya Syekh Nawawi al-Bantani yang dengan kata lain  sebagai berikut:

“Ibnu Hajar berbicara  bahwa sekiranya  ada seseorang meginginkan dengan satu domba  untuk kurban dan aqiqah, maka urusan  ini tidak cukup. Berbeda dengan al-‘Allamah Ar-Ramli yang menuliskan   bahwa bilamana  seseorang berniat dengan satu domba  yang disembelih guna  kurban dan aqiqah, maka kedua-duanya bisa  terealisasi”.

Tausyikh karya Syekh Nawawi al-Bantani

Pelaksanan kurban dan aqiqah yang digarap  sekaligus seringkali memunculkan  kontradiksi di kalangan masyarakat dalam urusan  pembagian daging. Dalam kurban, daging disarankan  dibagikan dalam situasi  mentah sedangkan  untuk aqiqah dibadikan dalam situasi  siap saji.

Meski demikian, urusan  itu  tidak butuh  dijadikan persoalan  sebab teknik  pembagian bukanlah masuk ke dalam urusan  substantif. Sehingga teknik  pembagian tidak mencantol  keabsahan ibadah yang dijalani.

Bagaimana jika aqiqah dan Kurban Pelaksanaanya Digabung?

Akikah dan kurban ialah  dua ibadah yang sama-sama menyembelih hewan. Keduanya sama-sama dihukumi sunah mu’akkadah (yang paling  dianjurkan) pelaksanaannya. Waktu pengamalan  masingmasing pun  jelas. Kurban pada hari raya Idul Adha dan tiga hari tasyrik, sementara  akikah pada hari ketujuh, ke-14, dan ke-21 kelahiran.

Lantas, andai  waktu akikah dan kurban bertepatan, apakah boleh pelaksanaannya sekaligus saja? Artinya, terdapat  satu amalan dilaksanakan  dengan dua niat, yakni  niat berkurban dan niat berakikah. Permasalahan pun  timbul untuk  mereka yang sudah  dewasa dan belum sempat diakikahkan oleh orang tuanya. Jika ia memiliki  kesanggupan, manakah yang lebih utama baginya, berkurban atau mengakikahkan dirinya terlebih dahulu? Atau, bisakah kedua-duanya digabung terlaksana sekaligus?

Tentang persoalan  ini, terdapat  perbedaan pendapat ulama. Ada yang mengatakan, andai  waktu kurban bertepatan dengan masa-masa  akikah, lumayan  melakukan satu jenis sembelihan saja, yakni  akikah. Pendapat ini dipercayai  Mazhab Imam Ahmad bin Hanbal (Mazhab Hanbali), Abu Hanifah (Mazhab Hanafi), dan sejumlah  ulama lain, laksana  Hasan Basri, Ibnu Sirin, dan Qatadah.

Al-Hasan al-Bashri mengatakan, “Jika seorang anak hendak  disyukuri dengan kurban, maka kurban tersebut dapat  jadi satu dengan akikah.” Hisyam dan Ibnu Sirin mengatakan, “Tetap dirasakan  sah andai  kurban digabungkan dengan akikah,” demikian seperti dijelaskan  dalam buku  Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah.

Mereka berdalil, sejumlah  ibadah dapat  mencukupi ibadah lainnya laksana  dalam permasalahan  kurban dapat  mencukupi akikah atau sebaliknya. Sebagaimana seorang yang menyembelih dam saat  menunaikan haji tamattu’. Sembelihan itu  ia niatkan pun  untuk kurban, maka ia menemukan  pahala dam dan pahala kurban. Demikian pun  shalat Id yang jatuh pada hari Jumat, maka diizinkan  tidak mengekor  shalat Jumat sebab  sudah membayar  shalat Id pada paginya.

bagaimana menurut madzhab syafii yang mashur di indonesia?

Sedangkan pendapat dari Imam Syafi’i (Mazhab Syafi’i), Imam Malik (Mazhab Maliki), dan di antara  riwayat dari Imam Ahmad menuliskan   tidak boleh digabung. Alasannya, sebab  keduanya memiliki  tujuan yang bertolak belakang  dan karena  yang bertolak belakang  pula. Misalkan, dalam permasalahan  pembayaran dam pada haji tamattu’ dan fidyah. Keduanya tidak dapat  saling memadai  dan me sti dilakukan  terpisah. Masalah ini menyimpulkan, tidak semua  jenis ibadah yang dapat  digabung pelaksanaannya dalam dua niat sekaligus. Kurban dan akikah masuk dalam kelompok  ini. Tujuan kurban ialah  tebusan guna  diri sendiri, sementara  akikah ialah  tebusan guna  anak yang lahir. Jika dua-duanya  digabung, tujuannya pasti  akan menjadi tidak jelas.

Ini ditegaskan dalam Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah yang menuliskan , “Akikah dilakukan  untuk mensyukuri nikmat kelahiran seorang anak, sementara  kurban mensyukuri nikmat hidup dan dilakukan  pada hari An Nahr (Idul Adha).”

Bahkan, salah seorang ulama Syafi’iyah, al- Haitami, menegaskan, sekiranya  seseorang berniat satu domba  untuk kurban dan akikah sekaligus, dua-duanya  sama-sama tidak dianggap. “Inilah yang lebih tepat sebab  maksud dari kurban dan akikah tersebut  berbeda,” tulis Al Haitami dalam kitabnya Tuhfatul Muhtaj Syarh Al Minhaj.

mana pandangan atau pendapat yang lebih kuat?

Pandangan ulama yang lebih kuat dalam dua perbedaan pendapat ini ialah  pendapat yang tidak membolehkan guna  menggabung pengamalan  akikah dan kurban. Terkecuali, masa-masa  akikah pada hari ke-7, ke-14, atau ke-21 kelahiran anak dapat  bertepatan jatuh pada hari berkurban. Maka, mereka yang tidak punya keterampilan  lebih guna  menyembelih hewan, dapat  meniatkan guna  dua pengamalan  sekaligus, yaitu mengemban  akikah sekaligus dapat  pula berkurban.

Pendapat ini pernah difatwakan Syekh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin. Dalam Majmu’ Fatawa wa Rosail Al Utsaimin dijelaskan, mereka yang punya kecukupan rezeki dan terdapat  dalam posisi ini, maka hendaklah menyembelih dua ekor kambing andai  anaknya laki-laki. Hal itu diakibatkan  wajibnya akikah guna  anak laki-laki memang menyembelih dua ekor kambing.

Adapun mereka yang telah menjangkau  usia dewasa, sedangkan  belum diakikahkan orang tuanya, maka tidak me sti  baginya mengakikahkan dirinya sendiri. Inilah pendapat ulama yang lebih powerful  dari Mazhab Syafi’i dan Hanbali. Akikah melulu  menjadi tanggung jawab orang tuanya, atau mereka yang menanggung beban nafkah atasnya. Jadi, ia dapat  melakukan kurban dan tidak butuh  lagi memikirkan akikah guna  dirinya.

Sementara, sejumlah  ulama dari Hanbali lainnya memang mengatakan, boleh mengerjakan  akikah kapan pun. Berdasarkan keterangan dari  mereka, waktu membayar  akikah tidak diberi batas  (seperti pendapat yang lebih kuat menuliskan   hari ke-7, ke-14, dan ke-21). Jadi, mereka yang memegang pendapat ini, saat  sudah mampu, ia digemari  jika dia mengakikahkan dirinya sendiri. Namun, pendapat ini lemah dan tidak disarankan  untuk diikuti. Demikian seperti dijelaskan  dalam Kitab Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu.

Adapun orang yang telah  dewasa dan hendak  mengakikahkan dirinya sendiri sekaligus membayar  kurban, maka perilaku laksana  ini dilemahkan semua  ulama dan tidak disarankan  untuk diikuti. Wallahu’alam.

Perbedaan Antara Aqiqah Dan Qurban

Diantara perbedaan antara Aqiqah dan Qurban sangatlah menonjol. Ada beberapa tanda dan faktor perbedaan Aqiqah dan Qurban diantaranya yaitu:

  • Waktu pelaksanaan penyembelihan Qurban hanya empat hari dalam setahun yaitu tanggal 10,11,12,13 Dzuhijah. Sedangkan waktu pelaksanaan penyembelihan Aqiqahtidak terbatas pada hari tertentu saja sepanjang tahun,  namun sangat dianjurkan menyembelih hewan aqiqah pada hari ke-7 dari kelahiran bayi bagi orang tua yang mampu.
  • Hewan Aqiqah jenisnya terbatas hanya kambing atau domba. Sedangkan Hewan Qurban bisa kambing, sapi, kerbau, onta atau hewan sejenisnya.
  • Qurban bisa dilakukan setiap tahun bagi yang mampu. Sedangkan Aqiqah dilakukan sekali seumur hidup.
  • Jumlah hewan Aqiqah yang disembelih mempunyai ketentuan 2 ekor kambing untuk bayi laki-laki dan satu ekor kambing untuk bayi perempuan. Sedangkan hewan Qurban minimal 1 ekor atau lebih dan bisa berkelompok jika hewan yang dikurbankan harganya mahal seperti sapi.
  • Daging Qurban hanya diberikan kepada fakir miskin, sedangkan daging aqiqah boleh diberikan kepada orang bukan fakir miskin.
  • Kaki belakang hewan aqiqah sunnah disedekahkan kepada bidan yang menangani kelahiran dan merewat bayi yang bersangkutan. Sedangkan kaki hewan Qurban ikut dibagikan rata.
  • Pada Aqiqah diperbolehkan memberi upah kepada penyembelih dengan hewan yang dipotong. Sedangkan hewan qurban dilarang mengambil upah penyembelihan
  • Aqiqah bertujuan untuk menebus atas lahirnya seorang bayi manusia. Sedangkan Qurban bertujuan untuk memperingati pengorbanan Nabi Ibrahim As serta mengikuti ajaran tauhid beliau yang telah ditetapkan oleh Rasulullah SAW sebagai sunnah yang diteruskan kepada umatnya.
  • Daging sembelihan Qurban disedekahkan kepada fakir miskin, anak yatim dalam keadaan mentah. Sedangkan daging Aqiqah disedekahkan dalam keadaan sudah dimasak.

Aqiqah lebih dari 21 hari bagaimana?, tanya ustad yuk

mencari pengertian aqiqah dari keterangan dari  Ustaz Erick Yusuf, pimpinan lembaga dakwah iHAQi, hukum aqiqah anak sebenarnya ialah  sunah muakad, yaitu  amalan sunah yang diprioritaskan. Rasulullah memang memberi misal  aqiqah dilaksanakan  pada hari ketujuh, tetapi  bila tidak dapat  menyembelih domba  pada hari itu, dapat  dilakukan setelahnya.

aqiqah hari ke 10, 21 bagaimana
aqiqah hari ke 10, 21 bagaimana

“Aqiqah memang diprioritaskan pada hari ketujuh. Tapi bila   seandainya tidak mampu, tidak butuh  dipaksakan. Nanti saja bila   ada rezeki,” jelas Ustaz Erick.

bolehkah aqiqah di hari ke 10? wahai ustad

Lebih lanjut, Ustaz Erick menyatakan  bila orang tua tidak dapat  melaksanakan aqiqah guna  anaknya pada hari ketujuh, aqiqah dapat  dilakukan pada hari ke-14 atau ke-21. Bahkan dapat  dilakukan ketika  anak tersebut  dewasa.

“Ada yang mengerjakan  aqiqah ketika  anaknya telah  besar. Bahkan bila telah  dewasa belum di-aqiqah, anak tersebut  boleh aqiqah guna  dirinya sendiri. Karena anak yang belum di-aqiqah tersebut  seperti anak yang tergadaikan,” tambah Ustaz Erick.

Jadi Moms, aqiqah guna  anak memang usahakan  dilaksanakan  pada hari ketujuh sesudah  kelahirannya. Namun bila   rezeki belum mencukupi, aqiqah anak dapat  dilakukan di beda  hari.

bagaimana aqiqah yg sudah  lewat hari ke 7, 14 dan 21 karena belum ada biaya?

Aqiqah ialah  hewan yang disembelih sebab  kelahiran anak sebagai format  syukur untuk  Allah dengan niat dan teknik  tertentu. Menurut beberapa  besar  fuqaha’, hukumnya sunnah yang menjadi tugas orang tua. 2 ekor kambing  untuk aqiqah anak laki-laki. Dan seekor saja guna  anak perempuan.

Waktu penyembelihannya –disunnahkan- pada hari ketujuh dari kelahiran. Jika terlewat, disarankan  di hari ke 14. Jika berlalu, pada hari ke 21. Ini pendapat madhab Hambali.

Jika disembelih sebelum hari ketujuh atau sesudahnya maka telah  sah dan tujuan telah  tercapai dengannya. (Shahih Fiqih Sunnah, Abu Malik Kamal: 3/550)

Ibnul Qayim di Tuhfadh al-Maudud: 110, menjelaskan  bahwa penjelasan  waktu penyembelihan ialah  istihbab (anjuran/sunnah). Kalau disembelih pada hari ketujuh, atau kedelapan, atau kesepuluh atau sesudahnya maka sudah  mencukupkan (sah).

Dr. Al-Syaikh Umar Sulaiman al-Asyqar pun  berpendapat, andai  belum dapat  melaksanakan ‘Aqiqah pada hari ketujuh sebab  satu dalil  maka perintah masih berlaku sebab  sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam “Pada diri anak terdapat  aqiqah.” Dan “setiap anak trgadai dengan aqiqahnya.” Maka bila  selesai  hari ketujuh dapat  dikerjakan kapan saja tanpa batasan. Apabila disegerakan maka tersebut  lebih utama.

Imam Al-Syafi’i menegaskan, akikah tidak gugur dengan menundanya . tetapi  disunnahkan guna  tidak menunda sampai umur  baligh.” (dinukil dari  Shahih Fiqih Sunnah: 3/550) Wallahu A’lam.

pendapat ustad abdul shomad mengenai aqiqah lebih dari 7 hari.

Bagaimana Hukum Aqiqah Lebih Dari 21 Hari? saya mau jawaban yang sesuai syariat islam donk.

Untuk menjelaskan tentang  akikah lebih dari 21 hari, dapat anda  simak keterangan  berikut ini. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, beliau bersabda,”Kambing ‘aqiqah disembelih pada hari ketujuh atau ke 14 atau ke 21.” (Shahihul Jami’us Shaghir no: 4132 dan Baihaqi IX: 303). Namun ada beberapa  ulama di antaranya Syaikh Shalih Al Fauzan dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berasumsi  bolehnya mengerjakan  ‘akikah di samping  waktu di atas tanpa batasan sampai-sampai  menurut  pendapat ini, maka orangtua yang belum dapat  pada waktu-waktu itu  dapat menundanya manakala telah  mampu. Juga ada  keringanan tentang  jumlah penyembelihan akikah, Berdasarkan keterangan dari  Syaikh Ibnu Jibrin Rahimahullah bahwa disunnahkan guna  menyembelih 2 ekor domba  untuk anak laki-laki tapi andai  tidak dapat  maka insya Allah lumayan  dengan seekor domba  untuk anak laki-laki. Bisa pun  dengan teknik  penyembelihan yang tidak bersamaan, contohnya  yang seekor disembelih sesudah  1 pekan, sedangkan  yang seekor lagi sesudah  2 pekan. (Aktsar min Alf Jawab lil Mar’ah). Sehingga menurut  di antara  pendapat diatas bahwa pengamalan  aqiqah dapat  dilakukan lewat dari hari ke 21 disaksikan  dari aspek kesiapan pun  kemampuannya. Karena islam tidaklah memberatkan penganutnya sekalipun dalam perkara ibadah.

bagaimana jika pelaksanaan Aqiqah Disesuaikan di Hari Libur?

begini ya bunda, Disunnahkan aqiqah dilaksanakan  pada hari ke-7 atau ke-14 atau ke-21. Apakah boleh saya menyerahkan  nama saja pada hari ke-7 dan adapun acara aqiqah nanti dihadiri semua  tetangga dan diselenggarakan  pada hari beda  yang bertepatan dengan hari libur nanti. Mohon keterangan  Ustadz.

untuk ibu yang habis melahirkan anak, begini ya..

Aqiqah pada asalnya dilakukan pada hari ketujuh dari kelahirannya sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Samurah bahwa Nabi saw bersabda,”Setiap anak yang dilahirkan itu terpelihara dengan aqiqahnya dan disembelihkan fauna  untuknya pada hari ketujuh, dipotong  dan diserahkan  nama untuknya.” (HR. Imam yang lima, Ahmad dan Ashabush Sunan dan dishohihkan oleh Tirmidzi)

Al ‘Alamah Abi ath Thoyyib Abadi menuliskan   bahwa “disembelihkan hewan untuknya pada hari ketujuh” ialah  dalil pengamalan  aqiqah pada hari ketujuh kelahirannya dan tidaklah disyariatkan pada sebelum atau sesudahnya. Namun ada pun  yang menuliskan   bahwa urusan  tersebut  dibolehkan pada hari ketujuh yang kedua dan yang ketiga, sebagaimana diriwayatkan oleh al Baihaqi dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya dari Nabi saw bersabda,”Aqiqah dilakukan  pada hari ketujuh, keempat belas, keduapuluh satu.” Seperti dilafalkan  didaam buku  “as Subul”. Tirmidzi menyatakan  dari berpengalaman  ilmu bahwa mereka menyenangi  penyembelihan guna  aqiqah dilakukan  pada hari ketujuh dan andai  dia tidak mempunyai  kesiapan maka pada hari keempat belas, dan andai  dia tidak siap maka pada hari keduapuluh satu. (Aunul Ma’bud, juz VII urusan  29 – 30)

bagaimana untuk pemberian nama anak?

Adapun mengenai  penamaan anak pada hari ketujuh kelahirannya maka semua  ulama Maliki berasumsi  bahwa masa-masa  penamaan seorang anak pada hari ketujuh kelahirannya sesudah  disembelihkan aqiqahnya. Ini andai  anak yang dilahirkan telah diaqiqahkan namun andai  dia belum diaqiqahkan disebabkan  kefaqiran walinya maka diizinkan  mereka menyerahkan  namanya kapanpun diinginkannya.

Al Khottob menuliskan   bahwa telah dilafalkan  didalam “Al Madkhol” pada bab “Dzikrun Nifas” yakni  seyogyanya (penamaan) andai  seorang bayi sudah  diaqiqahkan, maka tidaklah har us diberi nama sebelum diadakan  aqiqahnya. Penamaan untuk  bayi pada hari ketujuh adalah pilihan. Jika dia sudah  diaqiqahkan maka hendakah diserahkan  nama bakal  tetapi andai  bayi tersebut  belum diaqiqahkan disebabkan  kefakiran walinya maka mereka boleh menamainya kapan juga  mereka inginkan…

Ibnu Rusyd menuliskan   terhadap hadits “Disembelihkan baginya pada hari ketujuh, dipotong  dan diserahkan  nama.” Dalam urusan  ini pun  hadits,”Semalam aku telah diserahkan  seorang anak maka aku menamakannya dengan nama ayahku Ibrahim.” “Nabi saw mengunjungi  Abdullah bin Abi Thalhah yang menemukan  seorang anak pada pagi hari maka beliau men’tahnik’, mendoakan dan menamainya.”

Hadits kesatu  berisi  arti  tidak dibolehkan mengakhirkan pemberian nama dari hari ketujuh dan hadits ini cocok  dengan sejumlah  hadits lain. Dan terhadap ucapan  Malik maka Ibnu Rajab mengatakan,”tidak kenapa  bagimu guna  memilihkan (mencarikan) sejumlah  nama baginya sebelum hari ketujuh tetapi  tidaklah diberikannya nama kecuali pada hari tersebut  (ketujuh)

ini pendapat madzhab syafi’i yang banyak berlaku di indonesia

Para ulama syafi’i berasumsi  bahwa disunnahkan pemberian nama anak yang dilahirkan pada hari ketujuh sebagaimana dilafalkan  Nawawi didalam “ar Raudhah”, dan tidak mengapa diserahkan  nama pada hari sebelumnya walau  sebagian mereka menyukai supaya  tidak mengerjakan  hal itu…

Beberapa berita shahih mengenai  penamaan pada hari kelahiran maka Bukhori membawakan hadits ini untuk  orang yang tidak hendak  melakukan aqiqah sedangkan sejumlah  berita yang ada mengenai  penamaannya pada hari ketujuh ialah  bagi orang yang mengharapkan  aqiqah.

Adapun semua  ulama Hambali maka mengenai  waktu penamaan ini mempunyai  dua riwayat:

  • 1.            Diberikan nama pada hari ketujuh.
  • 2.            Diberikan nama pada hari kelahiran.

Pemilik buku  “Kassyaf al Qonna” menuliskan   bahwa bayi yang dilahirkan diserahkan  nama pada hari ketujuh menurut  hadits Samuroh bahwa Nabi saw bersabda ,”Setiap anak yang dilahirkan itu terpelihara dengan aqiqahnya dan disembelihkan fauna  untuknya pada hari ketujuh, diserahkan  nama untuknya dan dipotong  (rambut) kepalanya.”

(al Mausu’ah al Fiqhiyah juz II urusan 4116)

Dengan demikian diizinkan  bagi kamu  memberikan nama anak kamu  pada hari ketujuh kelahirannya bahkan disunnahkan menurut  keterangan dari  sebagian ulama meskipun pengamalan  aqiqahnya tidak pada hari ketujuh namun  pada hari yang kamu  kehendaki; seperti, hari libur supaya  bisa dihadiri oleh tidak sedikit  tetangga demi mensyiarkan aqiqah ini ditengah-tengah masyarakat.

Wallahu A’lam

baca juga yuk:

syarat dan waktu aqiqah, kajian fiqih

syarat dan waktu aqiqah, pembahasan lengkap mengenai kriteria  aqiqah baik laki-laki ataupun perempuan. Syarat dan peraturan  tersebut diantaranya yaitu, masa-masa  aqiqah,  hewan.  aqiqah (umur, jenis kelamin jantan atau betina pun  kondisi fisik) dan kapan waktu aqiqah yang terlengkap

syarat dan waktu aqiqah dalam kajian fiqih islam
syarat dan waktu aqiqah dalam kajian fiqih islam

Bagaimana Syarat Aqiqah Anak Laki-Laki dan Perempuan?

Syarat-syarat aqiqah untuk anak laki-laki dan anak perempuan harus cocok  dengan peraturan  syariat menurut peraturan  islam. Hal itu  mempunyai  tujuan agar  ibadah aqiqah anda  diterima oleh Allah. Terlebih lagi, aqiqah ialah  salah satu ibadah yang pelaksanaannya sekali seumur hidup.

Syarat Aqiqah Anak Laki-Laki dan Perempuan dalam Hadist

Syarat aqiqah anak laki-laki dan perempuan dalam hadist sahih yang berkata  mengenai masa-masa  pelaksanaan aqiqah untuk anak atau bayi yang baru lahir ialah  sebagai berikut:

Dari Samurah bin Jundub dia berkata: Rasulullah SAW. bersabda:

“Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih  hewan.  (kambing), diberi nama dan dipotong  rambutnya.”

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW pernah ber aqiqah guna  Hasan dan Husain pada hari ke-7 dari kelahirannya, beliau memberi nama dan menyuruh  supaya dihilangkan dari kotoran dari kepalanya (dicukur).

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata: Rasulullah bersabda: “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua domba  yang sama dan bayi wanita  satu kambing“.

[HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah]

Penyembelihan hewan sehubungan  dengan kelahiran anak atau aqiqah cocok  dengan hadist itu  disyariatkan untuk dilaksanakan  pada hari ketujuh kelahiran anak.

Hukum aqiqah guna  orang tua yang baru melahirkan  anaknya ialah  sunnah muakad, walaupun demikian, kriteria  dan peraturan  aqiqah menjadi bagian penting dalam syariat Islam.

bagaimana Syarat Ketentuan Pemotongan Rambut Bayi dan Pemberian Nama?

Sesuai sunnah, memotong  rambut bayi dilaksanakan  di hari ketujuh atau semingggu sesudah  kelahiran bayi. Berdasarkan hadis dari Salman bin Amir Ad-Dhabbi radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْغُلَامُ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ يُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ وَيُسَمَّى وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ

“Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, disembelih di hari ketujuh, diberi nama, dan dipotong  kepalanya.“

[HR. Nasa’i 4149, Abu Daud 2837, Tirmidzi 1522, dan dishahihkan Al-Albani]

Mayoritas ulama, yakni  malikiyah, Syafiiyah, dan Hambali, berasumsi  bahwa disarankan  mencukur kepala bayi pada hari ketujuh, dan bersedekah seberat rambut berupa emas atau perak menurut  keterangan dari  Malikiyah dan Syafiiyah, dan berupa perak saja menurut  keterangan dari  hambali. Jika tidak dipotong  maka beratnya dikira-kira beratnya, dan sedekah dengan perak seberat itu. Mencukur rambut dilaksanakan  setelah menyembelih aqiqah.

Jumlah dan Jenis Kelamin (Jantan atau Betina)

Sudah jelas bahwa guna  jumlah  hewan.  yang dipakai  untuk aqiqah ialah  dua ekor domba  untuk anak laki-laki, sementara  untuk anak perempuan ialah  satu ekor kambing.

Meskipun anak laki-laki dan anak wanita  sama-sama mahkluk ciptaan Allah, namun, terdapat  perbedaan tentang  jumlah  hewan.  yang dipakai  untuk aqiqah.

Hal itu  senada dengan hukum waris, dimana anak laki-laki berhak mewarisi harta orang tuanya dua bagian, sementara  anak wanita  satu bagian.

Mengenai jenis kelamin  hewan.  (jantan atau betina), bahwa tidak disyariatkan dalam domba  aqiqah me sti jantan atau betina. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عن الغلام شاتان وعن الجارية شاة لايضركم أذكرانا كن أم إناثا

“Untuk anak laki-laki dua kambing, dan guna  anak wanita  satu kambing, dan tidak memudharati kalian apakah kambing-kambing itu  jantan atau betina.”

[HR. Ashhabus Sunan, dan dishahihkan Syeikh Al-Albany

Pendapat mengenai waktu aqiqah.

pengamalan  aqiqah tepat sesudah  bayi didilahirkan  dan tidak me sti menantikan  sampai hari ke-7. itu menurut  Sya fiiyah dan Hanabilah. Tapi mereka tidak membolehkan sebelum bayi dilahirkan. Maka, andai  penyembelihan dilaksanakan  sebelum kelahiran bayi, dirasakan  sebagai sembelihan biasa dan bukan aqiqah. Hal ini didasari atas suatu karena  yaitu kelahiran. Maka andai  bayi telah  terlahir aqiqah boleh dilaksanakan.

Sedangkan pendapat yang terakhir  baru membolehkan pengamalan  aqiqah pada hari ke-7 pasca kelahiran. itu menurut Hanafiyah dan Malikiyah. Dan aqiqah tidak sah (dianggap sembelihan biasa) bila  dilakukan  sebelumnya.

Kapan waktu aqiqah ditentukan dan apakah ada batasanya?

1. waktu aqiqah Hari ke-7

Kalangan Malikiyah berasumsi  bahwa masa-masa  aqiqah melulu  sampai hari ke-7 pasca kelahiran. Jika hari ke-7 sudah selesai  maka ibadah aqiqah telah  tidak lagi berlaku.

2. Aqiqah Sampai anak umur  baligh

Sedangkan Syafi’iyah, mereka membolehkan untuk  orang tua melasanakan aqiqah anaknya sampai  dia masuk umur  baligh. Ini yang mustahabb. Maka saat  telah masuk umur  baligh, orang tua bukan lagi  terbebani ibadah ini. Akan namun  anak itulah yang akan mengemban  aqiqahnya sendiri andai  mampu. Demikian yang diriwayatkan dalam suatu  hadits, bahwa Rasulallah meng-aqiqahi dirinya sendiri saat  beliau telah  menjadi nabi.

Al-Imam an-Nawawi di dalam kitabnya Syarhu al-Muhadzab, mengatakan andai  hadits mengenai  aqiqahnya Nabi guna  dirinya sendiri tersebut  adalah hadits bathil.

Batasan waktu aqiqah menurut ulama madzhab?

Para ulama bertolak belakang  pandangan tentang  batas akhir waktu guna  aqiqah. Sebagai muslim, tentu susah  untuk dapat  memahami batasan peraturan  waktu guna  aqiqah.

Maka dari tersebut  mari anda  simak pandangan-pandangan semua  ulama jumhur di bawah ini:

  1. Syafi’iyah dan Hambali

Beberapa pandangan ulama madzhab Syafi’iyah dan Hambali mengenai  waktu aqiqah yaitu dibuka  dari kelahiran sang bayi. Mereka berasumsi  bahwa hukumnya tersebut  tidak sah bilamana  aqiqah dilakukan  sebelum bayi lahir. Memotong kambing  sebelum bayi bermunculan  maka dirasakan  sebagai sembelihan biasa.

Ulama dari kalangan Syafi’iyah berasumsi  bahwa masa-masa  aqiqah dapat  diperpanjang. Meski begitu, kerjakan  aqiqah sebelum anak baligh (dewasa). Karena bila   baligh belum pun  diaqiqahi, maka aqiqahnya telah  gugur.

Orang yang baligh boleh mengaqiqahi diri sendiri. Karena Ulama Syafi’iyah berpandangan bahwa aqiqah tersebut  kewajiban sang ayah.

Sementara semua  ulama kalangan Hambali berpandangan bahwa andai  aqiqah tidak bisa  hari ke-7, maka disunnahkan dan boleh hari ke-14, hari ke-21 dan seterusnya.

2. Hanafiyah dan Malikiyah

Sementara tersebut  para ulama madzhab Hanafiyah dan Malikiyah berpandangan bahwa masa-masa  aqiqah sangat  sunnah ialah  pada hari ketujuh dan jangan  sebelumnya.

Ulama Malikiyah pun memberi batas  bahwa masa-masa  aqiqah sesudah  hari ke-7 dirasakan  sudah gugur.

3. Ulama Indonesia

Mayoritas Ulama di Indonesia bermadzab Imam Syafi’i, baik Muhammadiyah maupun NU (Nahdhatul Ulama). Karenanya, tidak sedikit  tidak heran bila   masyarakat anda  merayakan syukuran aqiqah sesudah  sesudah dewasa. Alasannya sebab  waktu kecil belum aqiqah.

kapan waktu aqiqah untuk Anak, agar bisa mengaqiqahi dirinya sendiri?

Ulama yang membolehkan untuk  anak guna  meng-aqiqahi dirinya sendiri andai  mampu dengan keumuman hadits,

كُلُّ غُلَامٍ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ، تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ، وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ، وَيُسَمَّى

Artinya: “Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, maka disembelihkan kambing  untuknya pada hari ke-7, dipotong  rambutnya, dan diberi nama”

(HR.Ibn Majah)

Kata tergadai (مُرْتَهَنٌ) berarti me sti dilakukan  dan dibayar  kapan juga  dan oleh siapapun. Jika masih hari ke-7 atau sebelum baligh, maka menjadi tanggungan orang tua. Namun andai  sudah lewat, maka boleh dilakukan  oleh siapapun temasuk oleh anak tersebut  sendiri, andai  dia mampu. Kata ‘boleh’ dalam urusan  ini bukan berati sunnah.

kapan Waktu aqiqah yang baik untuk dilaksanakan?

Sebagaimana pendapat di atas, Sementara tersebut  menyimak ulasan  dari Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal dari Rumaysho menyerahkan  rekomendasi bahwa usahakan  aqiqah dilakukan  tepat hari ke-7.

Beliau beralasan, “lebih baik berpegang dengan masa-masa  aqiqah yang disepakati oleh semua  ulama yakni  hari ke tujuh”.

Adapun mengenai  waktu aqiqahan di hari ke-14, 21 dan seterusnya semacam ini har us terdapat  dalilnya.

Aqiqah disunnahkan dilakukan  pada hari ketujuh. Hal ini menurut  hadits,

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى »

Dari Samuroh bin Jundub, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, digundul rambutnya dan diberi nama.”

(HR. Abu Daud no. 2838, An Nasai no. 4220, Ibnu Majah nol. 3165, Ahmad 5/12. Syaikh Al Albani menuliskan   bahwa hadits ini shahih)

Apa hikmah aqiqah dilakukan  pada hari ketujuh?

Murid Asy Syaukani, Shidiq Hasan Khon rahimahullah menerangkan, “Sudah semestinya terdapat  selang masa-masa  antara kelahiran dan masa-masa  aqiqah. Pada mula  kelahiran pasti  saja family  disibukkan guna  merawat si ibu dan bayi. Sehingga saat  itu, janganlah mereka diberi beban  lagi dengan kegiatan  yang lain. Dan pasti  ketika tersebut  mencari domba  juga perlu  usaha. Seandainya aqiqah disyariatkan di hari kesatu  kelahiran sungguh ini paling  menyulitkan. Hari ketujuhlah hari yang lumayan  lapang guna  pelaksanaan aqiqah.”

dimulai dari kapan penghitungan waktu aqiqah?

Disebutkan dalam Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah,

وذهب جمهور الفقهاء إلى أنّ يوم الولادة يحسب من السّبعة ، ولا تحسب اللّيلة إن ولد ليلاً ، بل يحسب اليوم الّذي يليها

“Mayoritas ulama pakar fiqih berpandangan bahwa masa-masa  siang[2] pada hari kelahiran ialah  awal hitungan tujuh hari. Sedangkan masa-masa  malam[3] tidaklah jadi hitungan andai  bayi tersebut didilahirkan  malam, tetapi  yang jadi hitungan hari berikutnya.”[4] Barangkali yang dijadikan dalil ialah  hadits inilah  ini,

تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ

“Disembelih baginya pada hari ketujuh.” Hari yang dimaksudkan ialah  siang hari.

Misalnya terdapat  bayi yang bermunculan  pada hari Senin (21/06), pukul enam pagi, maka hitungan hari ketujuh telah  mulai dihitung pada hari Senin. Sehingga aqiqah bayi tersebut dilakukan  pada hari Ahad (27/06).

Jika bayi itu  lahir pada hari Senin (21/06), pukul enam sore, maka hitungan tadinya  tidak dibuka  dari hari Senin, tetapi  dari hari Selasa keesokan harinya. Sehingga aqiqah bayi itu  pada hari Senin (28/06). Semoga dapat  memahami misal  yang diserahkan  ini.

Cara menghitung waktu aqiqah atau hari aqiqah anak.

Anda dapat  menghitung masa-masa  aqiqah semenjak  bayi dilahirkan. Gunakanlah perhitungan kalender hijriah.

Contohnya andai  ada bayi bermunculan  pada hari Rabu pukul enam pagi (06.00 WIB), maka hitungan hari ketujuh sudah semenjak  hari Rabu tersebut. Maka pengamalan  aqiqah bayi itu  yaitu hari Selasa.

Contoh lainnya andai  bayi bermunculan  hari Rabu pukul enam senja  (18.00 WIB), maka hitungannya bukan Rabu, namun  masuk hari Kamis keesokan harinya. Pelaksanaan aqiqah bayi tersebut ialah  pada hari Rabu.

تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ

“Disembelih baginya pada hari ketujuh.” Hari yang dimaksudkan ialah  siang hari.

Adanya jangka masa-masa  aqiqah dari sesudah  kelahiran bahwasannya  berisi  hikmah. Pada ketika  bayi baru lahir, keluarga tentu  disibukkan dengan pengurusan bayi pun  ibunya. Maka dari tersebut  perlu ada masa-masa  persiapan sebelum syukuran aqiqah dan ini menjadi keutamaan dan ibrah masa-masa  aqiqah.

Bagaimana andai  waktu aqiqah tidak dapat  dilaksanakan pada hari ketujuh?

Dalam masalah ini ada  silang pendapat salah satu  para ulama. Berdasarkan keterangan dari  ulama Syafi’iyah dan Hambali, masa-masa  aqiqah dibuka  dari kelahiran. Tidak sah aqiqah sebelumnya dan cuma dirasakan  sembelihan biasa.

Berdasarkan keterangan dari  ulama Hanafiyah dan Malikiyah, masa-masa  aqiqah ialah  pada hari ketujuh dan jangan  sebelumnya.

Ulama Malikiyah pun memberi batas  bahwa aqiqah telah  gugur sesudah  hari ketujuh. Sedangkan ulama Syafi’iyah membolehkan aqiqah sebelum umur  baligh, dan ini menjadi keharusan  sang ayah.

Sedangkan ulama Hambali berasumsi  bahwa andai  aqiqah tidak dilakukan  pada hari ketujuh, maka disunnahkan dilakukan  pada hari keempatbelas. Jika tidak sempat lagi pada hari tersebut, boleh dilakukan  pada hari keduapuluh satu. Sebagaimana urusan  ini diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Adapun ulama Syafi’iyah berasumsi  bahwa aqiqah tidaklah dirasakan  luput andai  diakhirkan waktunya. Akan tetapi, disarankan  aqiqah tidaklah diakhirkan sampai  usia baligh. Jika sudah  baligh belum pun  diaqiqahi, maka aqiqahnya tersebut  gugur dan si anak boleh memilih guna  mengaqiqahi dirinya sendiri.

bagaimana kesimpulanya?

Dari perbedaan pendapat di atas, pengarang  sarankan supaya  aqiqah dilakukan  pada hari ketujuh, tidak sebelum atau sesudahnya. Lebih baik berpegang dengan masa-masa  yang disepakati oleh semua  ulama.

Adapun menyatakan dipindahkan  pada hari ke-14, 21 dan seterusnya, maka penentuan tanggal semacam ini me sti perlu  dalil.

Sedangkan mengaku  bahwa aqiqah boleh dilaksanakan  oleh anak tersebut  sendiri saat  ia telah  dewasa sedang ia belum diaqiqahi, maka andai  ini berdalil dengan tindakan  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disebutkan  mengaqiqahi dirinya saat  dewasa, tidaklah tepat. Alasannya, sebab  riwayat yang melafalkan  semacam ini lemah dari masing-masing  jalan. Imam Asy Syafi’i sendiri mengaku  bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mengaqiqahi dirinya sendiri (ketika dewasa) sebagaimana dilafalkan  dalam salah satu buku  fiqih Syafi’iyah Kifayatul Akhyar. Wallahu a’lam.

baca juga:

Perbedaan aqiqah dan kurban, inilah ciri-ciri yang perlu diketahui

Ibadah qurban maupun aqiqah adalah implementasi ketaatan dan ketakwaan seorang hamba dalam menjalani syariah Islam. Qurban ialah  menyembelih hewan yang dilaksanakan  mulai tanggal 10 Dzulhijah sesudah  salat Idul adha, dan masih boleh melakukannya di tanggal 11 hingga  13 Dzulhijah.

Qurban boleh diniatkan atas nama sendiri, orang lain, atau pun guna  orang yang telah  meninggal. Jika ber-qurban domba  dan domba, maka hanya diizinkan  untuk satu orang. Sedangkan guna  sapi dan unta boleh dilaksanakan  secara berpatungan. Setelah pemotongan, pequrban mendapat sepertiga unsur  daging, dan dua pertiganya diberikan  kepada yang berhak menerimanya.

Aqiqah ialah  ibadah yang dilaksanakan  sebagai wujud syukur atas nikmat yang telah diserahkan  Allah Swt atas kelahiran buah hati. Aktivitas aqiqah ialah  memotong hewan. Hewan yang disembelih seringkali  kambing atau domba. Afdolnya, aqiqah dilaksanakan  pada hari ke tujuh, namun andai  berhalangan dapat dilaksanakan  pada hari ke empat belas.

Jumlah hewan yang disembelih berbeda, andai  bayinya wanita  maka kambingnya yang disembelih satu, sementara  untuk bayi laki-laki berjumlah dua ekor.

Ibadah qurban dan aqiqah memiliki  perbedaan dan persamaan dalam pelaksanaannya.

nah setelah mamahami dari teks dan ceramah langsung, yuk kita maahami dari persamaanya antara Qurban dan Aqiqah

Persamaan aqiqah dan kurban adalah:

  • 1.Baik qurban maupun aqiqah dilakukan  sebagai wujud ketaatan dan ketakwaan seorang hamba untuk  Allah Swt. Aktivitasnya dengan mengerjakan  pemotongan hewan.
  • 2.Mempunyai peraturan  yang sama dalam kriteria  sahnya fauna  yang bakal  disembelih. Yaitu berbadan sehat, tidak mengidap penyakit, gemuk, tidak cacat secara jelas, dan sudah  masuk umur cocok  syariah.
  • 3.Hukum berqurban dan aqiqah pada dasarnya sama menurut  keterangan dari  jumhur ulama, yakni  sunnah muakkad. Sunnah yang dianjurkan untuk  yang memiliki  kelapangan rezeki.
  • 4.Dalam menyalurkan  daging sembelihan, baik sahibul qurban maupun aqiqah yang menyerahkan  langsung untuk  yang berhak.
  • 5.Sahibul qurban dan aqiqah, dapat merasakan  sebagian dagingnya. Kulit serta dagingnya jangan  diperjualbelikan, tetapi  dapat dijadikan upah untuk  pemotong hewannya.

Perbedaan Ibadah Qurban dan Aqiqah

penjelasan lengkap mengenai aqiqah dan kurban
  • 1.Waktu pengamalan  qurban sesudah  salat Iduladha dan masih dapat dilaksanakan  dari tanggal 11 sampai  13 Dzulhijah masing-masing  tahunnya. Aqiqah, afdolnya dilaksanakan  pada hari ke tujuh, sampai  sebelum akil baligh.
  • 2.Melaksanakan qurban ketika  hari raya Iduladha, sementara  aqiqah dilakukan  saat kelahiran buah hati.
  • 3.Dalam sistem pembagian, daging qurban diberikan  daging dalam suasana  mentah. Aqiqah diberikan  ke penerima dalam suasana  siap santap, dengan menu tertentu.
  • 4.Qurban dilaksanakan  setiap tahun, dan dianjurkan untuk  yang berkemampuan dalam rezeki. Melakukan aqiqah melulu  sekali dalam seumur hidup.
  • 5.Jumlah fauna  ketika ber-aqiqah ialah  beda, pada bayi laki-laki disunnahkan menyembelih dua ekor domba  jantan (gibas). Dan seekor domba  pada aqiqah bayi perempuan. Sebagian daging bisa  dinikmati keluarga, beberapa  lagi disedekahkan. Pelaksanaan qurban, bisa  menyembelih seekor domba  atau berkelompok sekiranya fauna  qurban-nya ialah  unta, atau sapi.

Demikian ringkasan persamaan qurban dan aqiqah, serta perbedaan qurban dan aqiqah. Semoga saya dan anda bisa  mengimplementasikan kedua ibadah tersebut.

kesimpulanya apa?

Islam mengajarkan umat muslim supaya  menjalin tiga jenis hubungan, yakni  hubungan insan  dengan Allah SWT (hablum min Allah), hubungan insan  dengan sesama insan  (hablum min al-nas) dan hubungan insan  dengan alam semesta (hablum min al-‘alam). Ketiga hubungan itu  dapat didatangi  dalam syariat qurban dan aqiqah.

Jika ditelisik dari mula  sejarahnya, baik qurban maupun aqiqah, sama-sama dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur untuk  Allah SWT. Dengan demikian, qurban dan aqiqah bernuansa hablum min Allah. Qurban dan aqiqah pun  sama-sama bernuansa hablum min al-nas, sebab  daging qurban dan aqiqah me sti diberikan  kepada pihak-pihak yang membutuhkan. Bahkan nuansa hablum min al-‘alam pun  tampak pada kewajiban  untuk menjadikan hewan  sebagai objek qurban dan aqiqah.

Perbandingan Qurban dan Aqiqah

pperbedaan kurban dan aqiqah
pperbedaan kurban dan aqiqah

Kambing yang dijadikan sebagai qurban maupun aqiqah mesti memenuhi sejumlah kriteria   sebagaimana tercantum  di bawah ini:

Kriteria Kambing Qurban dan Aqiqah

A. TATA CARA PELAKSANAAN QURBAN

1.  Pengertian

Berdasarkan keterangan dari  bahasa, qurban berasal dari bahasa Arab qaruba yang berarti ‘dekat’. Yang dimaksud di sini ialah  ‘dekat untuk  Allah SWT’. Istilah lainnya ialah  udhhiyyah yang berarti fauna  qurban yang disembelih pada masa-masa  dhuha.

Berdasarkan keterangan dari  istilah, qurban atau udhhiyyah ialah  menyembelih fauna  ternak tertentu (unta, sapi, kerbau, kambing) dengan niat mendekatkan diri untuk  Allah SWT pada hari-hari Nahr (penyembelihan), yakni  Idul Adha sampai  hari Tasyriq (10-13 Dzulhijjah).

2. Hukum Qurban

Hukum menyembelih qurban menurut  keterangan dari  Imam Hanafi ialah  wajib menurut  Hadis riwayat Abu Hurairah RA bahwa Nabi SAW bersabda:

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا  (رَوَاهُ إبْنُ مَاجَهَ)

Barangsiapa mempunyai  keluasan (rezeki), dan tidak berqurban, maka tidak boleh  sekali-kali dia mendekati lokasi  shalat kami

(H.R. Ibnu Majah).

Sedangkan tiga Mazhab lainnya (Maliki, Syafi’i dan Hambali) menghukumi sunah muakkad, sampai-sampai  orang yang dapat  berqurban makruh meninggalkannya.

Lebih dari itu, Mazhab Syafi’i mengaku  bahwa qurban adalah ibadah sunah perorangan yang seyogianya dilakukan  paling tidak sekali dalam seumur hidup. Namun demikian, andai  anggota keluarganya banyak, lalu melulu  ada satu orang yang berqurban mewakili keluarganya, maka urusan  tersebut  sudah mencukupi.

Dalil kesunahan qurban ialah  Hadis Ibnu ‘Abbas RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

ثَلَاثٌ هُنَّ عَلَيَّ فَرَائِضُ وَهُنَّ لَكُمْ تَطَوُّعٌ الْوَتْرُ وَالنَّحْرُ وَصَلَاةُ الضُّحَى (رَوَاهُ أَحْمَدُ).

Tiga urusan  yang me sti  bagiku, dan sunah untuk  kalian: shalat witir, menyembelih qurban dan shalat dhuha

(H.R. Ahmad

Pengertian aqiqah dan dasar hukumnya

Aqiqah menurut  keterangan dari  bahasa ialah  membelah dan memotong. Pada mulanya, aqiqah ialah  sebutan untuk  pemotongan rambut yang terdapat  di kepala bayi saat  kelahirannya. Kemudian sebutan aqiqah pun  ditujukan pada fauna  yang dicukur  (disembelih) berkaitan  dengan pemotongan rambut bayi tersebut.

Dasar Hukum aqiqah

Berdasarkan keterangan dari  mazhab Hanafi, hukum aqiqah ialah  mubah, bukan sunah. Sedangkan menurut  keterangan dari  mazhab lainnya (Maliki, Syafi’i dan Hambali) hukum aqiqah ialah  sunah muakkad untuk  orang yang dikaruniai anak. Hukum aqiqah menjadi wajib bilamana  dinazarkan.

Dasar hukum aqiqah ialah  Hadis riwayat Samurah ibn Jundub RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:

كُلُّ غُلاَمٍ مُرْتَهِنٌ بِعَقِيْقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ فِي يَوْمِ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيـُسَمَّى (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ).

Setiap anak tersebut  tergadai dengan aqiqahnya, yang disembelih pada hari ketujuh (dari kelahirannya), dipotong  rambutnya dan diberi nama (pada hari ketujuh tersebut)

(H.R. al-Bukhari).

Ketentuan Binatang Aqiqah

Sebenarnya hewan  aqiqah sama dengan hewan  qurban, yakni  unta, sapi dan kambing. Akan tetapi, pendapat yang populer ialah  aqiqah melulu  boleh memakai  kambing. Berdasarkan keterangan dari  Mazhab Maliki, aqiqah guna  anak laki-laki maupun wanita ialah  1 (satu) ekor kambing. Berdasarkan keterangan dari  Mazhab Syafi’i dan Hambali, aqiqah guna  anak laki-laki ialah  2 (dua) ekor kambing, sementara  aqiqah guna  anak wanita ialah  1 (satu) ekor kambing. Pendapat ini didasarkan pada Hadis riwayat ‘Aisyah RA berikut:

أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَعُقَّ عَنِ الْغُلاَمِ بِشَاتَيْنِ وَعَنِ الْجَارِيَةِ بِشَاةٍ. (رَوَاهُ إبْنُ مَاجَهَ).

“Rasulullah SAW menyuruh  kami supaya  mengaqiqahkan anak laki-laki dengan (menyembelih) dua ekor domba  dan mengaqiqahkan anak perempuan  dengan (menyembelih) seekor kambing”.

(H.R. Ibn Majah).

Demikian pun  diperkenankan aqiqah dengan seekor unta atau sapi guna  7 (tujuh) anak. Di samping  itu, disunahkan untuk mencukur  rambut bayi pada hari ketujuh, kemudian  bersedekah dengan emas dan perak cocok  dengan timbangan rambut yang dipotong.

Disunahkan pula memberi nama yang terbaik untuk  bayi di hari ketujuh dan melumuri kepala bayi dengan minyak wangi, laksana  za’faran. Pada hari kelahiran, sunah dikumandangkan azan di telinga kanannya dan iqamah di telinga kirinya. Hal ini dimaksudkan supaya  kalimat yang kesatu  kali didengar oleh bayi ialah  kalimat tauhid.

TAHUKAH KAMU? Mengapa Daging Kambing Istimewa menurut  keterangan dari  Rasulullah SAW?

Pertama, Di dalam domba  ada  keberkahan. Rasulullah SAW bersabda: “Peliharalah (manfaatkan) oleh kalian kambing, sebab  di dalamnya ada  barakah”. (H.R. Ahmad). Tidak melulu  dagingnya saja, susu dan kulit kambing pun  berisi  keberkahan.

Kedua, Para Nabi pernah menggembalakan kambing. Nabi SAW bersabda: “Tidaklah seorang Nabi diutus, tetapi  ia pernah menggembala kambing”. Para kawan  bertanya, “Apakah anda  juga, wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Ya, aku pernah menggembala domba  penduduk Mekkah dengan upah sejumlah  qirath”(H.R. al-Bukhari).

Ketiga, Daging domba  tidak berbahaya untuk  kesehatan. Apa yang disunahkan Rasulullah SAW, tentulah  di dalamnya terdapat guna  dan tidak membahayakan. Hal tersebut diperlihatkan  oleh orang zaman dahulu yang gemar santap  daging domba  dan lemaknya. Lalu, kenapa  sekarang ini daging kambing dirasakan  berbahaya untuk  kesehatan? Sebenarnya bukan daging domba  yang mengakibatkan  penyakit, tetapi  karbohidrat (misalnya: nasi, lontong, ekstra  gula, dan minuman manis) yang dikonsumsi bareng  daging kambinglah yang menjadi pemicunya. Daging domba  akan aman dan menyehatkan guna  dikonsumsi, asalkan: (a) Diolah dengan teknik  yang baik supaya  kandungan vitamin dan mineralnya tetap terjaga, contohnya  kurangi santan dan minyak, pakai  bumbu-bumbu pilihan, dan simaklah  waktu memasak yang tepat. (b) Dikonsumsi secukupnya saja dan tidak berlebihan. (c) Dikonsumsi oleh orang-orang yang terbiasa merealisasikan  pola hidup sehat, misalnya: lumayan  serat, olahraga rutin, makanan bergizi seimbang, tidak mengisap rokok  dan minum alkhohol, dan beda  sebagainya.

Keempat, Daging domba  sangat baik guna  kesehatan jantung. Penelitian dari American Heart Association melafalkan  bahwa daging domba  sangat baik guna  orang yang memiliki  masalah pada jantung, sebab  mempunyai  kandungan protein yang tinggi, kandungan lemak yang sehat, mudah dipahami  tubuh, berisi  zat besi, potasium yang rendah, dan berisi  seluruh  asam amino.

selanjutnya, Kelima,

Membantu mengurai kolesterol jenuh. Kolesterol bosan  dapat diminimalisir bilamana  Omega 3 telah  ada  dalam darah, tetapi  Omega 3 tidak bisa  mengurai kolesterol yang telah  terbentuk dalam tubuh. Lalu, bagaimana domba  membantu mengurai kolestrol? Ternyata melulu  ikatan kolesterol lembut saja yang dapat  menguraikan kolesterol kasar, dengan kata lain  kolesterol yang telah  terbentuk dalam tubuh tidak akan dapat  diurai dengan materi, tetapi  dengan kolesterol domba  saja.

Keenam, Mencegah penyakit darah tinggi dan obesitas. Kolesterol domba  sangat berfungsi  untuk menguraikan kolesterol dalam darah  yang menjadi penyebab penyakit hipertensi. Untuk  penderita obesitas, daging domba  dapat berfungsi  membakar lemak yang berlebihan dalam tubuh.

Ketujuh, Mempercantik kulit. Daging domba  berisi  vitamin C alami yang tidak teroksidasi, dimana keberadaanya sangat urgen  untuk kulit. Vitamin C yang tidak teroksidasi sangat urgen  untuk keawetan  dan pembangunan sel kulit, serta mempercantik kulit.

Kedelapan, Meningkatkan rasa kasih sayang dan kebahagiaan. Kolesterol domba  akan menciptakan  jantung menjadi halus dan lembut pergerakannya, sampai-sampai  perasaan bahagia bakal  tercipta. Daging domba  membuat sistem darah menjadi sehat dan kuat, begitu pun  dengan thalamus yang pun  kuat sehingga situasi  tersebut sangat menolong  terciptanya perasaan kasih sayang.

Kesembilan, Mencegah anemia. Zat besi yang tinggi dalam daging kambing bermanfaat  mencegah anemia. Di samping  itu, daging kambing pun  berisi  vitamin B12 yang sangat urgen  untuk mengawal  kesehatan sel darah merah  dan niasin.

baca juga yuk: