Tata cara Aqiqah dan Doanya

Tata cara untuk melakukan prosesi aqiqah pada umumnya sangat mudah, namun beberapa dari kita terkadang melupakan beberapa atau malah ada yang kelewatan dalam melakukan aqiqah. nah yuk dipahami ulang mengenai tata cara dan proses yang benar dalam melaksanakan aqiqah baik Anak Perempuan atau Laki-Laki.

niat aqiqah anak saat acara aqiqah bayi

1. Menyembelih Kambing

Aqiqah identik dengan menyembelih kambing. Namun, di era canggih  ini, menyembelih domba  untuk aqiqah ialah  hal yang merepotkan. Karena itu, tidak sedikit  yang melakukan pembelian  masakan domba  yang telah  siap dipakai  untuk acara aqiqah anak.

Jumlah domba  yang disembelih untuk aqiqah berbeda antara anak wanita  dan laki-laki. Bagi  aqiqah anak wanita  orang tua menyiapkan satu ekor kambing. Sedangkan untuk anak laki-laki, orang tua menyembelih dua ekor kambing.

2. Memasak Daging Aqiqah

Tata cara aqiqah selanjutnya ialah  memasak daging dari hewan yang disembelih untuk aqiqah. Soal ini, terdapat  dua pendapat ulama tentang  daging aqiqah.

Pendapat kesatu  menuliskan   usahakan  daging aqiqah dimasak terlebih dahulu lantas  dibagikan. Pendapat ke dua menganjurkan  untuk menyalurkan  daging aqiqah laksana  daging kurban, tidak dimasak terlebih dahulu.

Namun jumhur ulama lebih mengajurkan guna  memasak daging aqiqah terlebih dahulu sebelum membagikannya untuk  orang-orang. Hal tersebut  diungkapkan dalam buku  Atahzib yang ditulis Imam Al-Baghawi.

3. Memakan Sebagian Daging Aqiqah

Dari hadis yang diriwayatkan al-Bayhaqi, telah  jelas dilafalkan  bahwa daging aqiqah beberapa  dimakan. Sedangkan sebagiannya lagi diberikan  kepada orang-orang.

Tata cara nya adalah menyalurkan  daging ini nyaris  sama dengan daging kurban. Sebagian daging aqiqah diserahkan  kepada family  Muslim yang mengemban  aqiqah. Sementara sisanya dapat diberikan  kepada tetangga ataupun fakir miskin.

4. Mencukur Rambut dan Memberikan Nama Saat Aqiqah

Tata cara aqiqah berikutnya ialah  mencukur rambut bayi yang baru lahir dan menyerahkan  nama kepadanya. Dalam tata cara aqiqah menurut  keterangan dari  Islam, orang tua menyerahkan  nama yang baik untuk  anak yang baru lahir.

Memberikan nama yang baik menggambarkan  bagaimana akhlak dan imannya nanti untuk  Allah SWT. Hukum memotong  rambut bayi saat mengerjakan  aqiqah menurut  keterangan dari  pendapat yang kuat di kalangan ulama ialah  sunnah.

5. Mendoakan Bayi Saat Aqiqah

Tata cara aqiqah anak selanjutnya ialah mendoakan bayi yang baru lahir. Berikut ialah bacaan doa yang usahakan dibacakan untuk bayi yang baru lahir.

DOA AQIQAH KETIKA MENCUKUR BAYI
DOA AQIQAH KETIKA MENCUKUR BAYI
DOA AQIQAH MENIUP UBUN UBUN
DOA AQIQAH MENIUP UBUN UBUN
DOA WALIMAH AQIQAH DOA AQIQAH DOA
DOA WALIMAH AQIQAH DOA AQIQAH DOA

Pembagian Daging Aqiqah

Jika kualifikasi hewan aqiqah dengan qurban harus sama dari sisi  fisik dan kesehatannya, tetapi  ada perbedaan dari pembagian daging aqiqah dengan daging kurban.

Daging aqiqah diberikan  dalam situasi  yang sudah  dimasak dan matang, sementara  kita ketahui bahwa pembagian daging kurban yang biasa diberikan  pada Idul Adha ialah  dalam situasi  mentah. Bagi  keluarga, menurut  keterangan dari  ulama jumlah maksimal daging yang dapat  diambil yakni  sepertiganya.

baca juga:

Tata cara Aqiqah Menurut Keterangan dari Muhammadiyah

Tata cara Aqiqah berdasarkan keterangan dari Muhammadiyah, pada dasarnya ketika kita melakukan aqiqah adalah ikut tata cara madzhab 4 besar dunia, mengingat banyaknya perbedaan pendapat dari berbagai ulama, maka berbagai organisasi seperti Muhammadiyah, NU dll, merumuskan cara melakukan aqiqah sesuai madzab yang di anut. agar nantinya rumusan itu dapat digunakan praktik dimasyarakat secara mudah dan praktis. nah berikut beberpa pandangan aqiqah oleh muhammadiyah..

tata cara aqiqah menurut muhammadiyah
tata cara aqiqah menurut muhammadiyah

Muhammadiyah merujuk untuk  tuntunan Nabi SAW :

كل غلام مرتهن بعقيقته تذبح عنه يوم السابع ويسمى فبه ويحلق رأسه (رواه الخمسة وصححه الترمذى)

Artinya : tiap-tiap anak tersebut  tergadai dengan aqiqahnya yang disembelih sebagai tebusan pada hari yang ketujuh dan diberi nama pada hari tersebut  serta dipotong  kepalanya.

(HR. Lima berpengalaman hadis dari Samurah bin Jundub. Dishahihkan oleh at turmuzi).

Terdapat hadis yang disebutkan ialah  hewan yang disembelih tersebut  dua ekor domba  atau kambing  untuk seorang anak laki-laki dan satu ekor untuk anak perempuan. Sebagaimana dilafalkan  oleh hadis yang diterima dari Aisyah inilah  ini  :

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : عن الغلام شاتان مكافأتان وعن الجارية شاة (رواه احمد والترمذي وصححة)

Artinya: Rosulullah SAW. Bersabda aqiqah untuk  anak laki-laki dua ekor domba  yang sesuai  dan untuk  anak wanita  satu ekor. (HR. Ahmad Ibnu Majah dan At Turmuzi menyahihkannya). Hadis tersebut menyatakan  bahwa bila  hendak  berqurban, maka guna  laki-laki memakai  2 ekor domba  dan satu ekor domba  untuk perempuan.

Setelah kambing  disembelih dengan niat guna  mengaqiqahkan anaknya, maka daging aqiqah itu  sebagian dimakan oleh family  dan sebagian diserahkan  kepada fakir dan kurang mampu  dan andai  masih terdapat  sisah maka dagingnya diserahkan  kepada tetangga dan sanak keluarga.

Tahab akhir dalam tata cara aqiqah, adalah pembagian daging

Sebaiknya daging yang akan diserahkan  sudah di olah atau dimasak. Ada  cara  lain untuk menyalurkan  daging aqiqah dengan  cara  mengadakan tasyakuran (aqiqah) atas kelahiran bayi.

Acara ini sering dipakai  oleh masyarakat, bila  hendak  membagikan daging domba  maka usahakan  menyelenggarakan  acara aqiqah saja di lokasi  tinggal  dengan mengundang masyarakat, family  dan figur  masyarakat.

Sebaiknya mengundang figur  masyarakat baik wanita  atau laki-laki guna  berceramah tentang  aqiqah, supaya  masyarakat lain pun  terbawa dan lebih memahami  makna aqiqah guna  sang buah hati.

Di samping  mendapat pahala sebab  membagi rezeki, andai  mengadakan pengajian pastinya  menyambung tali silaturahmi. Jika jarang ketemu dengan kerabat, dengan menyelenggarakan  aqiqah maka tali silaturahminya jadi tersambung lagi. Jadi tidak sedikit  sekali guna  aqiqah. 

Pelaksanaan tata cara Aqiqah

Di samping  dua hadis di atas, ada pun  hadis yang membicarakan  mengenai aqiqah. Jika aqiqah tidak dapat  dihari ketujuh, lantas  dihari keempat belas, atau kedua puluh satu. Berikut haditsnya:

العقيقة تذبح لسبع و لأربع عشرة ولأحدى وعشرين (البيهقي)

Yang artinya: aqiqah tersebut  disembelih dihari ketujuh dan hari ke empat belas dan pada hari kedua puluh satu. Ada riwayat yang menuliskan   yaitu Al-Baihaqi dari Anas menyatakan  bahwa nabi SAW. Mengaqiqahkan dirinya sesudah  jadi nabi.

أن النبي صلى الله عليه وسلم : عق عن نفسة بعد النبوة (رواه البيهقي)

Artinya : “bahwasanya Nabi SAW. Mengaqiqahkan dirinya sesudah  beliau menjadi Nabi”.

Akan namun  dua hadis diatas diperselisihkan keotentikannya oleh semua  ulama.  Mengetahui hadis diatas daif, maka pengamalan  aqiqah hanya dapat  dilakukan pada hari ketujuh saja.

ini pentingnya pemberian nama anak.

Mengaqiqahkan bayi dihari ketujuh ketika  kelahiran bayi paling  dianjurkan. Di hari ketujuh juga disarankan  untuk menyerahkan  nama sang bayi andai  pas kelahiran anak itu  belum diserahkan  nama.

Maka pada ketika  aqiqah dapat  diumumkan nama bayi tersebut. Tentunya dengan nama yang baik dan memiliki makna  yang bagus, sebab  di dalam Islam pemakaian  nama seringkali  mengacu pada doa dan harapan guna  bayi tersebut.

Demikian tatacara aqiqah menurut  keterangan dari  ormas Muhammadiyah yang seringkali  terhimpun dalam HPT atau Himpunan Putusan Tarjih yang merupakan kelompok  keputusan untuk dijadikan acuan penduduk  Muhammadiyah.

HUKUM AQIQAH, MENGAQIQAHI DIRI SENDIRI DAN PENYEMBELIHAN AQIQAH DALAM ACARA KURBAN

 (disidangkan pada hari Jum’at, 3 Zulhijjah 1433 H / 19 Oktober 2012 M)

majlis tarjih

Pertanyaaan:

Saya penduduk  Muhammadiyah di Jepara yang berbaur di kalangan Nahdiyin di lokasi  saya:

1. Saya dimintai pertanyaan mengenai  mengakikahi diri sendiri saat  sudah besar, akikah tersebut  hukumnya mesti  atau sunah pak? Budaya masyarakat andai  akikah belum dilakukan  sejak kecil tapi bila   dewasa diakikahi, sebenarnya  akikah itu  tugas orang tua namun  tatkala dewasa diakikahi sendiri berarti masing-masing  bayi bermunculan  punya tanggungan akikah kelak  kalau telah  dewasa.

2. Ketika pengamalan  Idul Qurban, saya sebagai panitia qurban menemukan  peserta akikah dalam pengamalan  idul qurban, apa yang bakal  kami lakukan  mengenai penyembelihan akikah dalam acara qurban pak? Mohon balasan dan jawabannya, terima kasih.

Jawaban:

Terima kasih atas pertanyaan yang sudah  bapak ajukan, semoga bapak selalu berada dalam rahmat dan lindungan Allah swt. Jawaban atas pertanyaan bapak bakal  kami ucapkan  secara urut sebagai berikut:

1. Sebelum membalas  pertanyaan kesatu , butuh  kami sampaikan sejumlah  hal berhubungan  akikah. Secara bahasa, akikah ialah  membelah dan memotong, sehingga kambing  yang disembelih pun pun  disebut akikah, sebab  tenggorokannya dibelah dan dipotong.

Di samping  itu, ada pun  yang mengartikannya dengan rambut yang ada  di kepala bayi yang baru terbit  dari perut ibunya (ash-Shan’any, Subulus-Salam, Bab al-Akikah, hlm. 333). Adapun akikah menurut  keterangan dari  terminologi syariat ialah  hewan yang disembelih guna  anak yang baru dicetuskan  sebagai ungkapan syukur untuk  Allah dengan niat dan kriteria -syarat yang eksklusif  (Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim, Shahih Fiqhus-Sunnah, Bab al-Aqiqah, hlm. 636).

Hukum akikah menurut pendapat kuat

Hukum akikah menurut  pendapat rajih (kuat) yang disepakati oleh jumhur ulama ialah  sunah muakadah. Ini didasarkan pada sabda Rasulullah saw: 

ْ كُسْنَيْلَ ف ُهْنَ ع َكُسْنَ ي ْنَ أ َبَّحَأَ ف ٌَ لَِ و َُ لَ َد لِ[ .رواه أبو داود والنسائى وأحمد ُ و ْنَم والبيهقي] 

Artinya: “Barangsiapa yang dikaruniai anak dan hendak  beribadah atas namanya, maka hendaklah ia beribadah (dengan menyembelih hewan  akikah).”

[HR. Abu Dawud no. 2842, an-Nasa’i vol. 7 no. 162, Ahmad vol. 2 no.194, dan al-Baihaqi vol. 9 no. 300]

Sabda Nabi saw: “Barangsiapa yang dikaruniai anak dan hendak  beribadah atas namanya” mengindikasikan  bahwa akikah sunnah hukumnya. Adapun mengenai  pelaksanaannya, akikah disyariatkan pada hari ketujuh dari kelahiran anak, sebagaimana diterangkan  dalam hadis Rasulullah saw:   ُ

هُسْأَ ر ُقَلُْيَُ فديهد و َ مََّسُيَ ابدعد و َ الس َمْوَ يُهْنَ ع ُحَبْذُ تدهد ت َ قديق َ بدع ٌنَهَتْرُ م ٍم َ لَُ غ ُُ كُل[ .رواه الخمسة عن سمرة بن جندب، وصححه الترمذي]

Artinya: “Tiap-tiap anak tersebut  tergadai dengan akikahnya yang disembelih sebagai tebusan pada hari yang ketujuh dan diberi nama pada hari tersebut  serta dipotong  kepalanya.”

[Hadis diriwayatkan oleh lima berpengalaman hadis dari Samurah bin Jundub, disahihkan oleh at-Tirmidzi]

berbagai pendapat mengenai kapan pelaksanaan aqiqah?

Memang ada sejumlah  pendapat mengenai  kapan masa-masa  pelaksanaan akikah di samping  hari ketujuh setelah  kelahiran. Paling tidak terdapat  dua pendapat: Pertama, pendapat yang diajukan  oleh ulama madzhab Hambali yang menuliskan   bahwa pengamalan  akikah boleh pada hari ke-14, 21 atau seterusnya manakala pada hari ke-7 dari kelahiran anak, orang tuanya tidak dapat  mengakikahi. Mereka berhujah dengan hadis yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya:

  َ دين ْ عدشْ َ ى و َدْ لإدح َ وَةَ ْ  ] شْ. [رواه البيهقي َ عَعَبْرَلأَ و ٍعْبَ لدس ُحَبْذُ تُةَ قديق َعْال

Artinya: “Akikah tersebut  disembelih pada hari ketujuh dan pada hari keempat belas dan pada hari keduapuluh satu.”

[HR. al-Baihaqi]

Kedua, pendapat yang diajukan  ulama madzhab Syafi’i.

Berdasarkan keterangan dari  mereka akikah tidak bakal  gugur atau hilang penundaannya hingga  akikah tersebut  dilakasanakan, meskipun oleh dirinya sendiri. Mereka berhujah dengan hadis yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi dari Anas ra yang melafalkan  bahwa Nabi saw baru mengerjakan  akikah guna  dirinya sesudah  beliau menjadi Nabi:

  ُ الل َلََّ صَ د بِى د َ النّ َنَأ ] ة .[رواه البيهقي َوُبُ النّ َدْعَ سدهد ع ْسَ ف ْنَ ع َقَ عَ َلَسَ هد و ْيَلَ ع

Artinya: “Bahwasanya Nabi saw mengakikahkan dirinya sesudah  beliau menjadi Nabi.”

[HR. al-Baihaqi]

Akan tetapi, kedua hadis di atas diperselisihkan keotentikannya oleh semua  ulama. Hadis al-Baihaqi yang diriwayatkan dari Abdullah bin Buraidah di atas dinilai daif sebab  dalam sanadnya ada  Ismail bin Muslim al-Makky yang didaifkan oleh Ahmad, an-Nasa’i dan Abu Zur’ah. Demikian pun  hadis al-Baihaqi dari Anas ra dinilai daif sebab  pada sanadnya ada  seorang yang mempunyai  nama  Abdullah bin al-Muharrar yang ditetapkan  lemah oleh beberapa berpengalaman  hadis antara beda  oleh Ahmad, ad-Daruqutni, Ibnu Hibban dan Ibnu Ma’in (lihat kitab  Tanya Jawab Agama oleh Tim PP Muhammadiyah Majlis Tarjih, jilid IV halaman 233).

menurut imam an nawawi

Bahkan an-Nawawi menyinggung  hadis ini sebagai hadis batil sebab  al-Baihaqi meriwayatkan melewati  jalan Abdullah bin al-Muharrar dari Qatadah. Al-Baihaqi sendiri menyinggung  hadis ini sebagai hadis munkar. Oleh sebab  itu, menurut irit  kami hadis-hadis itu  tidak butuh  diamalkan. Berdasarkan keterangan  di atas, dapat diputuskan  bahwa:

  • a. Hukum akikah ialah  sunnah muakadah dan masa-masa  pelaksanaan akikah ialah  hari ketujuh dari kelahiran bayi.
  • b. Yang dituntut untuk mengemban  ibadah akikah ialah  orang tua dari bayi yang dilahirkan, sampai-sampai  seseorang tidak butuh  mengakikahi diri sendiri.

2. Mengenai pertanyaan kedua, bahwasannya  dari apa yang sudah  kami sampaikan  di atas, pertanyaan kedua bapak itu  secara tidak langsung sudah  terjawab, bahwa akikah disyariatkan pada hari ketujuh dari kelahiran bayi. Akikah terbelenggu  dengan masa-masa  kelahiran sang bayi itu  dan tidak terdapat  tuntutan akikah saat  sudah melebihi 7 hari kelahiran bayi, maupun tatkala seseorang telah  dewasa. Sementara ibadah kurban dapat dilakukan  setiap tahun sekali. Apabila kambing  sembelihan akikah dimaksud ialah  untuk akikah yang telah  lewat dari 7 hari kelahiran bayi atau guna  mengakikahi orang dewasa, betapa  baiknya bila  dianjurkan  untuk dipindahkan  niatnya sebagai kambing  kurban. Namun andai  akikah itu  memang bertepatan dengan masa-masa  penyembelihan kurban, maka tidak mengapa dilakukan  bersamaan dengan penyembelihan kurban itu. Perlu diketahui pula, tidak dibetulkan  menyatukan niat antara akikah dan kurban, yaitu  dalam satu kambing  sembelihan guna  dua niat, akikah dan kurban sekaligus. Keduanya mempunyai  ketentuan-ketentuan yang bertolak belakang  satu sama lain, baik mengenai  waktu, kriteria , dan lain-lainnya, pun  tidak terdapat  nas al-Qur’an atau hadis yang mengaku  bahwa akikah dan kurban bisa  disatukan.

baca juga yuk:

Tata cara aqiqah orang dewasa

Tata cara aqiqah untuk orang dewasa, memang perlu dikaji, melihat berapa pertanyaan yang timbul dari masyarakat, membuat kami merangkum jawaban tentang cara dan hukum aqiqah untuk orang dewasa, nanti anda akan mengetahui mengenai, cara melakukan aqiqah, kapan waktunya, dan hukum aqiqah bagi yang dewasa. semuanya akan kita bahas, untuk mempersingkat, lanjutkan membaca dari urian pertanyaan dan jawaban di bawah ini.

aqiqah orang dewasa
aqiqah orang dewasa

Pertanyaan mengenai tata cara aqiqah bagi yang sudah dewasa?

1. Ketika orang tua melahirkan  anaknya, pada saat tersebut  mereka masih dalam situasi  yang tidak cukup  mampu, jadi untuk ongkos  aqiqah tidak ada. Namun saat  anaknya telah  dewasa dan telah  berkeluarga, orang tuanya telah  dalam suasana  berkecukupan, lantas  mereka hendak  mengaqiqahi anaknya yang telah  berkeluarga tadi, apakah boleh dan bagaimana caranya?

2. Jika orang tua tadi masih dalam situasi  tidak mampu, tetapi  anak-anaknya yang telah  dewasa tadi hidup berkecukupan dan hendak  membeli domba  diatas namakan orang tuanya guna  aqiqah, apakah tersebut  diperbolehkan?

Kondisi ekonomi seseorang yang kadang tidak cukup  menentu turut mempengaruhi pelaksanaan perintah aqiqah. Mereka yang berkecukupan dan diberi kelapangan rizki tentunya hendak  segera mengemban  anjuran ini demi rasa bersyukur mereka atas lahirnya sang buah hati yang di dambakan dan dinantikan. Sebaliknya untuk  orang tua yang perekonomiannya sedang dalam masa sulit ketika  kelahiran putra atau putrinya, mereka bakal  terasa berat mengerjakan  ibadah ini.

penjelasan mudahnya seperti ini

ajakan  untuk mengemban  aqiqah oleh orang tua untuk  anaknya selesai  ketika si anak sudah  baligh. Setelah tersebut  si anak diizinkan  memilih untuk mengemban  sendiri aqiqahnya atau meninggalkannya. Dalam urusan  ini tentunya mengemban  aqiqah lebih utama sebab  akan terhindar dari pendapat ulama yang memandang  bahwa aqiqah hukumnya wajib. Uraian di atas pun  sekaligus menanggapi pertanyaan kesatu  saudara. Artinya ajakan  aqiqah yang dibebankan untuk  orang tua masa aktifnya selesai  ketika sang anak baligh.

Kalaupun orang tua masih tetap hendak  melaksanakan aqiqah guna  anaknya, maka caranya ialah  dengan menyerahkan  uang untuk  anaknya supaya  digunakan guna  membeli kambing  yang bakal  disembelih sebagai aqiqahnya. Dengan demikian niatan mulia orang tua tetap terakomodir, disamping pula ajakan  aqiqah pun  terlaksana. Selanjutnya menanggapi pertanyaan kedua, kami merujuk pada buku  al-Majmu’ karya imam Nawawi yang melafalkan  bahwa hukum aqiqah guna  orang beda  (bukan dirinya sendiri) ialah  boleh sekitar  orang yang diaqiqahi mengijinkan.

Penulis buku  menjelaskan:

فَرْعٌ-لَوْ ضَحَّى عَنْ غَيْرِهِ بِغَيْرِ إذْنِهِ لَمْ يَقَعْ عَنْهُ

Artinya; (cabang pembahasan), sekiranya  ada seseorang menyembelih kambing  (aqiqah) guna  orang beda  tanpa seizinnya, status kambing  tersebut bukan kambing  aqiqah.

Referensi diatas pun  berisi  makna  bahwa aqiqah yang dilaksanakan  oleh seseorang guna  orang beda  dapat ditetapkan  sah bilamana  mendapat persetujuan (izin) dari orang yang diaqiqahi. Demikian jawaban kami, mudah-mudahan bermanfaat. Wallahu a’lam.

tata cara dan teknis melakukan aqiqah

Tata cara untuk melakukan prosesi aqiqah pada umumnya sangat mudah, namun beberapa dari kita terkadang melupakan beberapa atau malah ada yang kelewatan dalam melakukan aqiqah. nah yuk dipahami ulang mengenai tata cara dan proses yang benar dalam melaksanakan aqiqah baik Anak Perempuan atau Laki-Laki.

tata cara aqiqah sederhana, aqiqah sesuai sunah
tata cara aqiqah sederhana, aqiqah sesuai sunah

Aqiqah adalah salah satu ajaran yang harus  dijalankan masing-masing  Muslim saat  mempunyai  anak. Anjuran mengemban  aqiqah ini cocok  sunnah Rasulullah Muhammad SAW.

Karena itu, masing-masing  Muslim harus memahami  tata cara aqiqah anak wanita  dan laki-laki cocok  sunnah Rasulullah. Di samping  itu, kamu pun  perlu memahami  masalah tata cara aqiqah orang dewasa menurut  keterangan dari  Islam.

Tata Cara Aqiqah Anak Perempuan dan Laki-laki Sesuai Sunnah

Sebelumnya, Dream telah menyatakan  pengertian aqiqah, hukum aqiqah, dan masa-masa  terbaik aqiqah. Sekarang saatnya membicarakan  tata teknik  aqiqah anak wanita  dan laki-laki cocok  sunnah.

Urutan atau tata cara aqiqah anak wanita  dan laki-laki sebetulnya  sama saja. Yang memisahkan  hanyalah jumlah domba  yang dikurbankan untuk aqiqah.

Berikut tata cara aqiqah anak wanita  dan laki-laki yang sesuai sunnah.

1. Menyembelih Kambing

Aqiqah identik dengan menyembelih kambing. Namun, di era canggih  ini, menyembelih domba  untuk aqiqah ialah  hal yang merepotkan. Karena itu, tidak sedikit  yang melakukan pembelian  masakan domba  yang telah  siap dipakai  untuk acara aqiqah anak.

Jumlah domba  yang disembelih guna  aqiqah bertolak belakang  antara anak wanita  dan laki-laki. Bagi  aqiqah anak wanita  orang tua menyiapkan satu ekor kambing. Sedangkan guna  anak laki-laki, orang tua menyembelih dua ekor kambing.

Soal jumlah domba  yang disembelih guna  aqiqah anak wanita  dan laki-laki ini telah dilafalkan  dalam hadis yang diriwayatkan Abu Dawud.

Yang artinya: Dari Ummu Kurz ia berkata, ” Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda ‘Untuk seorang anak laki-laki ialah  dua ekor domba  dan guna  akan perempuan ialah  seekor kambing. Tidak mengapa untuk  kalian apakah ia domba  jantan atau betina’.”

(HR. Abu Dawud no. 2834-2835).

Syarat domba  yang disembelih guna  aqiqah anak wanita  dan laki-laki ini sama dengan fauna  kurban. Yaitu domba  yang berkualitas, baik dari sisi  jenis sampai  usia. Kambing tersebut pun  harus bebas dari cacat dan penyakit.

Sebelum menyembelih domba  untuk aqiqah, disunnahkan untuk menyimak  doa sebagai berikut:

BISMILLAHI WA BILLAHI, ALLAHUMMA ‘AQIQATUN ‘AN FULAN BIN FULAN, LAHMUHA BILAHMIHI SI AZHMIHI, ALLAHUMMAJ’ALHA WIQAAN LIALI MUHAMMADIN ‘ALAIHI WA ALIHIS SALAM.

doa menyembelih domba untuk aqiqah,

Yang artinya: ” Dengan nama Allah serta dengan Allah, Aqiqah ini dari fulan bin fulan, dagingnya dengan dagingnya, tulangnya dengan tulangnya. Ya Allah, jadikan aqiqah ini sebagai tanda kesetiaan untuk  keluarga Muhammad SAW.”

2. Memasak Daging Aqiqah

Tata cara aqiqah selanjutnya ialah  memasak daging dari hewan yang disembelih untuk aqiqah. Soal ini, terdapat  dua pendapat ulama tentang  daging aqiqah.

Pendapat kesatu  menuliskan   usahakan  daging aqiqah dimasak terlebih dahulu lantas  dibagikan. Pendapat ke dua menganjurkan  untuk menyalurkan  daging aqiqah laksana  daging kurban, tidak dimasak terlebih dahulu.

Namun jumhur ulama lebih mengajurkan guna  memasak daging aqiqah terlebih dahulu sebelum membagikannya untuk  orang-orang. Hal tersebut  diungkapkan dalam buku  Atahzib yang ditulis Imam Al-Baghawi.

Yang artinya: ” Dianjurkan guna  tidak menyalurkan  daging fauna  aqiqah dalam suasana  mentah, akan namun  dimasak terlebih dahulu kemudian dikirimkan  kepada orang fakir dengan nampan.”

(Imam Al-Baghawi dalam buku Atahzib)

Kemudian, pendapat yang ditulis dalam buku  Al-Musfashshal fi Ahkamil Aqiqah yang artinya, ” Kebanyakan ahlul ilmi menganjurkan supaya  daging fauna  aqiqah tidak diberikan  dalam suasana  mentah, tetapi  dimasak terlebih dahulu lantas  disedekahkan pada orang fakir.”

Berdasarkan keterangan dari  hadis yang diriwayatkan al-Bayhaqi, daging aqiqah usahakan  dimasak terlebih dahulu baru dibagikan.

Yang artinya: Aisyah r.a berkata, ” Sunnahnya dua ekor domba  untuk anak laki-laki dan satu ekor domba  untuk anak perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dimakan (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh.”

(HR al-Bayhaqi)

3. Memakan Sebagian Daging Aqiqah

Dari hadis yang diriwayatkan al-Bayhaqi, telah  jelas dilafalkan  bahwa daging aqiqah beberapa  dimakan. Sedangkan sebagiannya lagi diberikan  kepada orang-orang.

Tata teknik  aqiqah menyalurkan  daging ini nyaris  sama dengan daging kurban. Sebagian daging aqiqah diserahkan  kepada family  Muslim yang mengemban  aqiqah. Sementara sisanya dapat diberikan  kepada tetangga ataupun fakir miskin.

4. Mencukur Rambut dan Memberikan Nama Saat Aqiqah

Tata cara aqiqah berikutnya ialah  mencukur rambut bayi yang baru bermunculan  dan menyerahkan  nama kepadanya. Dalam tata teknik  aqiqah menurut  keterangan dari  Islam, orang tua menyerahkan  nama yang baik untuk  anak yang baru lahir.

Memberikan nama yang baik menggambarkan  bagaimana akhlak dan imannya nanti untuk  Allah SWT. Hukum memotong  rambut bayi saat mengerjakan  aqiqah menurut  keterangan dari  pendapat yang kuat di kalangan ulama ialah  sunnah.

5. Mendoakan Bayi Saat Aqiqah

Tata cara aqiqah anak selanjutnya ialah  mendoakan bayi yang baru lahir. Berikut ialah  bacaan doa yang usahakan  dibacakan  untuk bayi yang baru lahir.

” U’IIDZUKA BI KALIMAATILLAAHIT TAMMAATI MIN KULLI SYAITHOONI WA HAAMMAH. WA MIN KULLI ‘AININ LAAMMAH.”

Yang artinya: ” Saya perlindungkan engkau, wahai bayi, dengan kalimat Allah yang Perkasa, dari tiap-tiap godaan syaitan, serta tiap-tiap pandangan yang sarat  kebencian.”

Pembagian Daging Aqiqah

Jika kualifikasi hewan aqiqah dengan qurban harus sama dari sisi  fisik dan kesehatannya, tetapi  ada perbedaan dari pembagian daging aqiqah dengan daging kurban.

Daging aqiqah diberikan  dalam situasi  yang sudah  dimasak dan matang, sementara  kita ketahui bahwa pembagian daging kurban yang biasa diberikan  pada Idul Adha ialah  dalam situasi  mentah. Bagi  keluarga, menurut  keterangan dari  ulama jumlah maksimal daging yang dapat  diambil yakni  sepertiganya.

“Hendaklah hasil sembelihan fauna  aqiqah tidak disedekahkan mentahan, tetapi  dalam suasana  sudah dimasak. Inilah yang lebih tepat. Lebih baik lagi andai  dihidangkan dengan bumbu manis menurut  keterangan dari  pendapat yang lebih tepat.”

(Kifayatul Akhyar, hal. 706)

Demikianlah tata cara aqiqah anak wanita  dan laki-laki cocok  sunnah yang usahakan  dipelajari dan dilaksanakan. Dari uraian diatas saya ucapkan  lagi bahwa aqiqah ialah  ibadah yang sangat disarankan  untuk bayi yang baru lahir. Waktu utama pengamalan  aqiqah yakni  hari ketujuh sesudah  kelahiran bayi, beberapa  ulama mengizinkan  untuk pelaksanaannya pada hari ke-14 (dua minggu sesudah  kelahiran bayi). Bila di hari ke-14 masih belum dapat  juga, maka pelaksanaannya dapat  di hari ke-21.

Hewan aqiqah memakai  dua ekor kambing/domba untuk anak laki-laki, sementara  anak perempuan memakai  satu ekor saja. Hal itu  senada dengan hukum waris, dimana anak laki-laki berhak mewarisi harta orang tuanya dua bagian, sementara  anak wanita  satu bagian.

baca juga yuk:

Tata cara aqiqah sederhana dan mudah di pahami.

Tata cara untuk melakukan prosesi aqiqah pada umumnya sangat mudah, namun beberapa dari kita terkadang melupakan beberapa atau malah ada yang kelewatan dalam melakukan aqiqah. nah yuk dipahami ulang mengenai tata cara dan proses yang benar dalam melaksanakan aqiqah baik Anak Perempuan atau Laki-Laki.

tata cara aqiqah sederhana, aqiqah sesuai sunah
tata cara aqiqah sederhana, aqiqah sesuai sunah

Aqiqah adalah salah satu ajaran yang harus  dijalankan masing-masing  Muslim saat  mempunyai  anak. Anjuran mengemban  aqiqah ini cocok  sunnah Rasulullah Muhammad SAW.

Karena itu, masing-masing  Muslim harus memahami  tata cara aqiqah anak wanita  dan laki-laki cocok  sunnah Rasulullah. Di samping  itu, kamu pun  perlu memahami  masalah tata cara aqiqah orang dewasa menurut  keterangan dari  Islam.

Tata Cara Aqiqah Anak Perempuan dan Laki-laki Sesuai Sunnah

Sebelumnya, Dream telah menyatakan  pengertian aqiqah, hukum aqiqah, dan masa-masa  terbaik aqiqah. Sekarang saatnya membicarakan  tata teknik  aqiqah anak wanita  dan laki-laki cocok  sunnah.

Urutan atau tata cara aqiqah anak wanita  dan laki-laki sebetulnya  sama saja. Yang memisahkan  hanyalah jumlah domba  yang dikurbankan untuk aqiqah.

Berikut tata cara aqiqah anak wanita  dan laki-laki yang sesuai sunnah.

1. Menyembelih Kambing

Aqiqah identik dengan menyembelih kambing. Namun, di era canggih  ini, menyembelih domba  untuk aqiqah ialah  hal yang merepotkan. Karena itu, tidak sedikit  yang melakukan pembelian  masakan domba  yang telah  siap dipakai  untuk acara aqiqah anak.

Jumlah domba  yang disembelih guna  aqiqah bertolak belakang  antara anak wanita  dan laki-laki. Bagi  aqiqah anak wanita  orang tua menyiapkan satu ekor kambing. Sedangkan guna  anak laki-laki, orang tua menyembelih dua ekor kambing.

Soal jumlah domba  yang disembelih guna  aqiqah anak wanita  dan laki-laki ini telah dilafalkan  dalam hadis yang diriwayatkan Abu Dawud.

Yang artinya: Dari Ummu Kurz ia berkata, ” Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda ‘Untuk seorang anak laki-laki ialah  dua ekor domba  dan guna  akan perempuan ialah  seekor kambing. Tidak mengapa untuk  kalian apakah ia domba  jantan atau betina’.”

(HR. Abu Dawud no. 2834-2835).

Syarat domba  yang disembelih guna  aqiqah anak wanita  dan laki-laki ini sama dengan fauna  kurban. Yaitu domba  yang berkualitas, baik dari sisi  jenis sampai  usia. Kambing tersebut pun  harus bebas dari cacat dan penyakit.

Sebelum menyembelih domba  untuk aqiqah, disunnahkan untuk menyimak  doa sebagai berikut:

BISMILLAHI WA BILLAHI, ALLAHUMMA ‘AQIQATUN ‘AN FULAN BIN FULAN, LAHMUHA BILAHMIHI SI AZHMIHI, ALLAHUMMAJ’ALHA WIQAAN LIALI MUHAMMADIN ‘ALAIHI WA ALIHIS SALAM.

doa menyembelih domba untuk aqiqah,

Yang artinya: ” Dengan nama Allah serta dengan Allah, Aqiqah ini dari fulan bin fulan, dagingnya dengan dagingnya, tulangnya dengan tulangnya. Ya Allah, jadikan aqiqah ini sebagai tanda kesetiaan untuk  keluarga Muhammad SAW.”

2. Memasak Daging Aqiqah

Tata cara aqiqah selanjutnya ialah  memasak daging dari hewan yang disembelih untuk aqiqah. Soal ini, terdapat  dua pendapat ulama tentang  daging aqiqah.

Pendapat kesatu  menuliskan   usahakan  daging aqiqah dimasak terlebih dahulu lantas  dibagikan. Pendapat ke dua menganjurkan  untuk menyalurkan  daging aqiqah laksana  daging kurban, tidak dimasak terlebih dahulu.

Namun jumhur ulama lebih mengajurkan guna  memasak daging aqiqah terlebih dahulu sebelum membagikannya untuk  orang-orang. Hal tersebut  diungkapkan dalam buku  Atahzib yang ditulis Imam Al-Baghawi.

Yang artinya: ” Dianjurkan guna  tidak menyalurkan  daging fauna  aqiqah dalam suasana  mentah, akan namun  dimasak terlebih dahulu kemudian dikirimkan  kepada orang fakir dengan nampan.”

(Imam Al-Baghawi dalam buku Atahzib)

Kemudian, pendapat yang ditulis dalam buku  Al-Musfashshal fi Ahkamil Aqiqah yang artinya, ” Kebanyakan ahlul ilmi menganjurkan supaya  daging fauna  aqiqah tidak diberikan  dalam suasana  mentah, tetapi  dimasak terlebih dahulu lantas  disedekahkan pada orang fakir.”

Berdasarkan keterangan dari  hadis yang diriwayatkan al-Bayhaqi, daging aqiqah usahakan  dimasak terlebih dahulu baru dibagikan.

Yang artinya: Aisyah r.a berkata, ” Sunnahnya dua ekor domba  untuk anak laki-laki dan satu ekor domba  untuk anak perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dimakan (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh.”

(HR al-Bayhaqi)

3. Memakan Sebagian Daging Aqiqah

Dari hadis yang diriwayatkan al-Bayhaqi, telah  jelas dilafalkan  bahwa daging aqiqah beberapa  dimakan. Sedangkan sebagiannya lagi diberikan  kepada orang-orang.

Tata teknik  aqiqah menyalurkan  daging ini nyaris  sama dengan daging kurban. Sebagian daging aqiqah diserahkan  kepada family  Muslim yang mengemban  aqiqah. Sementara sisanya dapat diberikan  kepada tetangga ataupun fakir miskin.

4. Mencukur Rambut dan Memberikan Nama Saat Aqiqah

Tata cara aqiqah berikutnya ialah  mencukur rambut bayi yang baru bermunculan  dan menyerahkan  nama kepadanya. Dalam tata teknik  aqiqah menurut  keterangan dari  Islam, orang tua menyerahkan  nama yang baik untuk  anak yang baru lahir.

Memberikan nama yang baik menggambarkan  bagaimana akhlak dan imannya nanti untuk  Allah SWT. Hukum memotong  rambut bayi saat mengerjakan  aqiqah menurut  keterangan dari  pendapat yang kuat di kalangan ulama ialah  sunnah.

5. Mendoakan Bayi Saat Aqiqah

Tata cara aqiqah anak selanjutnya ialah  mendoakan bayi yang baru lahir. Berikut ialah  bacaan doa yang usahakan  dibacakan  untuk bayi yang baru lahir.

” U’IIDZUKA BI KALIMAATILLAAHIT TAMMAATI MIN KULLI SYAITHOONI WA HAAMMAH. WA MIN KULLI ‘AININ LAAMMAH.”

Yang artinya: ” Saya perlindungkan engkau, wahai bayi, dengan kalimat Allah yang Perkasa, dari tiap-tiap godaan syaitan, serta tiap-tiap pandangan yang sarat  kebencian.”

Pembagian Daging Aqiqah

Jika kualifikasi hewan aqiqah dengan qurban harus sama dari sisi  fisik dan kesehatannya, tetapi  ada perbedaan dari pembagian daging aqiqah dengan daging kurban.

Daging aqiqah diberikan  dalam situasi  yang sudah  dimasak dan matang, sementara  kita ketahui bahwa pembagian daging kurban yang biasa diberikan  pada Idul Adha ialah  dalam situasi  mentah. Bagi  keluarga, menurut  keterangan dari  ulama jumlah maksimal daging yang dapat  diambil yakni  sepertiganya.

“Hendaklah hasil sembelihan fauna  aqiqah tidak disedekahkan mentahan, tetapi  dalam suasana  sudah dimasak. Inilah yang lebih tepat. Lebih baik lagi andai  dihidangkan dengan bumbu manis menurut  keterangan dari  pendapat yang lebih tepat.”

(Kifayatul Akhyar, hal. 706)

Demikianlah tata cara aqiqah anak wanita  dan laki-laki cocok  sunnah yang usahakan  dipelajari dan dilaksanakan. Dari uraian diatas saya ucapkan  lagi bahwa aqiqah ialah  ibadah yang sangat disarankan  untuk bayi yang baru lahir. Waktu utama pengamalan  aqiqah yakni  hari ketujuh sesudah  kelahiran bayi, beberapa  ulama mengizinkan  untuk pelaksanaannya pada hari ke-14 (dua minggu sesudah  kelahiran bayi). Bila di hari ke-14 masih belum dapat  juga, maka pelaksanaannya dapat  di hari ke-21.

Hewan aqiqah memakai  dua ekor kambing/domba untuk anak laki-laki, sementara  anak perempuan memakai  satu ekor saja. Hal itu  senada dengan hukum waris, dimana anak laki-laki berhak mewarisi harta orang tuanya dua bagian, sementara  anak wanita  satu bagian.

baca juga yuk:

Hadits tentang aqiqah dan penjelasannya oleh ust. Abdul Shomad, ust Adi Hidayat dan Buya yahya.

Pedoman untuk yang sedang mencari hadits tentang aqiqah dan penjelasannya, dar ustad abdul shomad, buya yahya, ust adi hidayat. Mereka menjelaskan dengan detail mengenai hukum aqiqah, syarat aqiqah, dan semuanya yang membuat anda lebih yakin.. yuk mulai membaca..

hadis aqiqah dan penjelasanya oleh ustad abdul shomad
hadis aqiqah dan penjelasanya oleh ustad abdul shomad

Hadits tentang aqiqah dan penjelasannya, dari segi hukum.

Gimana hukum aqiqah dalam islam, apakah wajib atau sunnah? kenapa anak tergadaikan dengan aqiqahnya? apakah bila kita belum aqiqah itu dosa? atau apakah bila kita sebagai orangtua tidak mengakikahi anak kita tidak hendak masuk surga? itu merupakan pertanyaan- pertanyaan universal yang kerap ditemukan, serta berikut dibawah ini merupakan penjelasannya.

Apa itu aqiqah?

Sebelum lebih jauh mengenai hukum aqiqah, ayo kita tahu dahulu apa itu aqiqah. Akikah( bahasa Arab:عقيقة, transliterasi: Aqiqah) merupakan pengurbanan hewan dalam syariat Islam, bagaikan wujud rasa syukur umat Islam terhadap Allah SWT atas kelahiran anak yang baru saja lahir. Persyaratan jumlah kambing yang hendak di sembelih antara balita pria serta wanita pula berbeda, ialah 1 ekor kambing buat anak wanita serta 2 ekor kambing buat anak pria.

Hadits tentang aqiqah dan penjelasannya ( dari hadist shahih)

Ayo kita amati dahulu darimana aqiqah ini timbul, kita amati dari bermacam hadist yang shahih.

1. Hadits Riwayat Ahmad serta Imam 4 Hadits shahih bagi Tirmidzi.

كلغلاممرتهنبعقيقتهتذبحعنهيومسابعهويحلقويتصدقبوزنشعرهفضةأومايعادلهاويسمى

Maksudnya: Tiap anak tergadai dengan aqiqahnya, hingga pada hari ketujuh hewan disembelih, dicukur habis1 rambutnya, serta diberi nama

2. Hadits dalam sahih Bukhari

معالغلامعقيقهفأهريقواعنهدماوأميطواعنهالأذى

Maksudnya: Tiap anak bersama aqiqahnya, hingga sembelihlah hewan serta hilangkanlah kendala darinya

3. Hadits riwayat Abu Daud

أَنَّرَسُولَاَللَّهِصلىاللهعليهوسلمأَمْرَهُمْأَنْيُعَقَّعَنْاَلْغُلَامِشَاتَانِمُكَافِئَتَانِ,وَعَنْاَلْجَارِيَةِشَاةٌ

Maksudnya: Rasulullah Shallallaahu‘ alaihi wa Sallam memerintahkan mereka supaya beraqiqah 2 ekor kambing yang proporsional( usia serta besarnya) buat balita pria serta seekor kambing buat balita wanita.

وَزَنَتْفَاطِمَةُبِنْتُرَسُولِاللَّهِشَعَرَحَسَنٍوَحُسَيْنٍ،فَتَصَدَّقَتْبِزِنَتِهِفِضَّةً.

Maksudnya: Fatimah Binti Rasulullah SAW( sehabis melahirkan Hasan serta Husain) mencukur rambut Hasan serta Husain setelah itu dia bersedekah dengan perak seberat timbangan rambutnya.

4. Hadits riwayat Abu Daud serta Nasai

مَنْاَحَبَّمِنْكُمْاَنْيُنْسَكَعَنِوَلَدِهِفَلْيَفْعَلْعَنِالْغُلاَمِشاَتَاَنِمُكاَفأََتاَنِوَعَنِالْجاَرِيَةِشاَةٌ

Maksudnya: Benda siapa diantara kalangan mau beribadah tentang anaknya hendaklah dicoba aqiqah buat anak pria 2 ekor kambing yang sama usianya serta seekor kambing buat anak perempuan

5. Hadits riwayat Abu Daud

أَنَّاَلنَّبِيَّصلىاللهعليهوسلمعَقَّعَنْاَلْحَسَنِوَالْحُسَيْنِكَبْشًاكَبْشًا

Maksudnya: Nabi beraqiqah buat Hasan serta Husein tiap- tiap seekor kambing kibas

Ayat al- quran yang membahasa mengenai aqiqah

kemudian apakah alquran menarangkan mengenai aqiqah? TIDAK Terdapat SATU AYATPUN DALAM AL- QURAN YANG Menarangkan TENTANG AQIQAH.

Dengan tidak terdapatnya satupun ayat alquran yang mengharuskan kita buat melakukan aqiqah, kita mulai dapat mengambil kesimpulan kalau aqiqah bukanlah harus.

Tetapi kita tidak dapat begitusaja merumuskan suatu, oleh sebab itu kita wajib mencaritahu kepada orang yang berilmu serta mengerti betul mengenai perihal yang mau kita tanyakan, semacam apa yang dalam alquran jelaskan kalau:

يَاأَيُّهَاالَّذِينَآمَنُواإِنجَاءَكُمْفَاسِقٌبِنَبَإٍفَتَبَيَّنُواأَنتُصِيبُواقَوْمًابِجَهَالَةٍفَتُصْبِحُواعَلَىٰمَافَعَلْتُمْنَادِمِينَ

Maksudnya: Hai orang- orang yang beriman, bila tiba kepadamu orang fasik bawa sesuatu kabar, hingga periksalah dengan cermat supaya kalian tidak mengenai sesuatu bencana kepada sesuatu kalangan tanpa mengenali keadaannya yang menimbulkan kalian menyesal atas perbuatanmu itu

.( Pesan Al- Hujurat Ayat 6)

bagaimana pendapat Buya Yahya mengenai hukum aqiqah?

saya mau memperdalam menganai hukum aqiqah. ini pendapat penting buya yahya.

pendapat penting buya yahya.mengenai aqiqah

Siapa itu buya yahya?

Buya Yahyaadalah seseorang da” i yang dilahirkan di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, 10 Agustus 1973; usia 46 tahun) ia merupakan penjaga Lembaga Pengembangan Dawah serta Pondok Pesantren Al- Bahjah yang berpusat di Cirebon..

Buya Yahya mendirikan Lembaga Pengembangan Dawah serta Pondok Pesantren dengan nama Al- Bahjah yang pusatnya terletak di daerah Kabupaten Cirebon.

Al- Bahjah mempunyai sebagian kampus, kampus utama yang beralamat di Jalur Pangeran Cakra Buana Nomor. 179, Blok Gudang Air, Kelurahan Sendang, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, mulai dibentuk pada Juni 2008. Al- Bahjah mempunyai banyak unit usaha; terdapat minimarket AB Mart, Al- Bahjah Tour& Travel, Sekolah Dasar Islam Qur’ ani( SDIQu) Al- Bahjah, SMPIQU angkatan laut(AL) Bahjah, SMAIQu angkatan laut(AL) Bahjah, Angkatan laut(AL) Bahjah Televisi, Radio QU, Penerbit Pustaka Al- Bahjah serta masih banyak lagi. Bermacam unit usaha tersebut rata- rata digerakkan para santri, yang diucap Santri Khos, ataupun santri spesial. Santri Khos tidak hanya bergerak dalam bidang dakwah ataupun sosial, terdapat pula yang bertugas di dapur universal.

Pesantren ini kental dengan nuansa Nahdiyyin Walaupun begitu, pesantren ini bukan kepunyaan ormas Nahdlatul Ulama( NU)

Salah satu peraturan di Al- Bahjah, para santri diwajibkan berbahasa Arab dalam keseharian. Untuk santri baru, diberi waktu 3 bulan buat beradaptasi

Kemudian gimana pendapat ust Abdul Somad mengenai hukum aqiqah?

Siapa ustad abdul shomad??

Ustaz Profesor. H. Abdul Somad Batubara, Lc., D. E. S. A., Ph. D., Datuk Seri Ulama Setia Negeri ataupun lebih diketahui dengan Ustaz Abdul Somad( bahasa Arab:عبدالصمد‎, lahir di Silo Lama, Asahan, Sumatra Utara, 18 Mei 1977; usia 42 tahun)[1][4] merupakan seseorang pendakwah serta ulama Indonesia yang kerap membahas bermacam berbagai perkara agama, spesialnya kajian ilmu hadis serta Ilmu fikih. Tidak hanya itu, dia pula banyak mangulas mengenai nasionalisme serta bermacam permasalahan terbaru yang lagi jadi ulasan hangat di golongan warga. Namanya diketahui publik sebab Ilmu serta kelugasannya dalam membagikan uraian dalam mengantarkan dakwah yang ditayangkan lewat saluran YouTube. Ustaz Abdul Somad sempat bertugas bagaikan dosen di Universitas Islam Negara Sultan Syarif Kasim( UIN Suska) Riau semenjak tahun 2009 sampai mengundurkan diri pada tahun 2019

Kajian- kajiannya yang baik dalam merangkai kata jadi suatu retorika dakwah, membuat ceramah Ustaz Abdul Somad begitu gampang di cerna serta gampang dimengerti oleh bermacam golongan warga. Banyak dari ceramah Ustaz Abdul Somad yang membahas bermacam berbagai perkara agama.

Apa saja karya ustad abdul shomad untuk publik?

Ustaz Abdul Somad sudah menuliskan sebagian buku yang jadi best seller di golongan umat Islam, di antara lain:

  • • 37 Permasalahan Populer
  • • 99 Persoalan Seputar Sholat
  • • 33 Tanya Jawab Seputar Qurban

pendapat ust Adi Hidayat mengenai hukum aqiqah

Siapa sesungguhnya usatad ust Adi Hidayat?

Ustadz Adi Hidayat, Lc., MA.( lahir di Pandeglang, Banten, 11 September 1984; usia 35 tahun) merupakan seseorang Alim asal Indonesia yang bisa memahami isi kitab suci Alquran beserta letak barisnya. Tidak hanya itu, dia pula memahami ilmu hadist serta bermacam kitab agama beserta arti serta letaknya. Pada 2013, Ustaz Adi mendirikan Quantum Akhyar Institute serta 3 tahun selanjutnya dia mendirikan Akhyar Televisi bagaikan media dakwah utama. Dikala ini Ustaz Adi aktif jadi narasumber keagamaan baik ta’ lim, seminar, serta selebihnya. Dia pula aktif menulis serta sudah mempunyai sebagian karya dalam bahasa Arab serta Indonesia

Apa saja karya ust adi hidayat dalam agama islam?

Karya Tulis ust adi hidayat, Sebagian karya tulis Ustadz Adi HIdayat antara lain

  • • Minhatul Jalil Bita’ rifi Arudil Khalil( tahun 2010)
  • • Quantum Arabic Tata cara Akhyar( tahun 2011)
  • • Ma’ rifatul Insan: Pedoman Al- Qur’ an Mengarah Insan Paripurna( tahun 2012)
  • • Makna Ayat Puasa, Memahami Kedalaman Bahasa Al- Quran( tahun 2012)
  • • Al- Arabiyyah Lit Thullabil Jami’ iyyah( tahun 2012)
  • • Persoalan Hadist- hadist Terkenal( tahun 2013)
  • • Ilmu Hadist Instan( tahun 2013)
  • • Tuntunan Instan Idul Adha( tahun 2014)
  • • Pengantin As- Sunnah( tahun 2014)
  • • Buku Catatan Penuntut Ilmu( tahun 2015)
  • • Pedoman Instan Ilmu Hadist( tahun 2016)
  • • Manhaj Tahdzir Kelas Eksekutif( tahun 2017)
  • • Muslim Era Now( 2018)
  • Kemudian gimana Pemikiran ust Adi Hidayat mengenai hukum aqiqah?

baca juga yuk:

bagaimana pengertian hukum dan dalil aqiqah yang sebenarnya?

bagaimana pengertian hukum dan dalil aqiqah yang sebenarnya? dan bagimana tata cara pelaksanaan dari hukum tersebut, perlunya kita membedah cara yang biasa dilakukan dalam melakukan aqiqah sesuai dengan hukum dan dalil aqiqah yang sudah dikenal umum. mulai membaca dengan cermat ya.

aqiqah anak, manfaat aqiqah

Bagaimana Hukum Aqiqah sebenarnya?

Para ulama berselisih pendapat mengenai  hukumnya. Sebagian terdapat  yang mewajibkannya namun beberapa  besar  mengatakan sunnah.

Siapa Pihak yang Mewajibkan Aqiqah?

Syaikh Abdul ‘Azhim Al Badawi Rahimahullah dalam buku  Al-Wajiiz mengaku  bahwa ‘aqiqah ialah  suatu keharusan  atas orangtua.

Dari Salman bin Amir adh-Dhabby Radhiyallahu’anhu, ia bertutur:

“Saya pernah mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,”Bersama seorang anak tersebut  ada ‘aqiqahnya. Karena tersebut  alirkanlah darah untuknya dan singkirkanlah gangguan darinya.” (Shahih Ibnu Majah no:2562u Fathul Bari IX: 590 no 5472,‘Aunul Ma’bud VIII:41 no:2822u Tirmidzi III: 35 no:1551 dan Nasa’i VII:164)

Siapa Pihak yang Menyatakan Aqiqah tersebut  Sunnah?

Syaikh Utsaimin Rahimahullah : ‘Aqiqah ialah  sunnah muakkadah (sunnah yg amat dianjurkan). Untuk  orang yg tidak dapat  melakukannya maka gugur keharusan  (sunnah) ini darinya.

Imam Ahmad Rahimahullah berbicara  ‘Aqiqah adalah sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau sudah  melakukannya guna  Hasan dan Hushain. Para kawan  beliau pun  melakukannya. Dan Dari Hasan bin Samurah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

“Semua anak yg bermunculan  tergadaikan dengan ‘aqiqahnya.” (HR Abu Dawud, At Tirmidzi dan An Nasa’i).

Sehingga tidak patut, andai  seorang bapak tidak mengerjakan  ‘aqiqah guna  anaknya. (Al Muntaqa Min Fatawa Syaikh Shalih Fauzan (3/194)).

bagaimana hukum dan dalil aqiqah dalam hadis nabi?

Berikut sejumlah  dalil yang berhubungan  dengan hukum mengerjakan  aqiqah menurut ajaran  Islam, Antara lain:

Dari Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy berbicara  jika Rasulullah bersabda, “Aqiqah dilakukan  karena kelahiran bayi, maka sembelihlah fauna  dan hilangkanlah seluruh  gangguan darinya.” [Shahih Hadits Riwayat Bukhari (5472), guna  lebih lengkapnya lihat Fathul Bari (9/590-592), dan Irwaul Ghalil (1171), Syaikh Albani].

Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy

Dari Samurah bin Jundab berbicara  jika Rasulullah bersabda, ““Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya di sembelih fauna  (kambing), diberi nama dan dipotong  rambutnya.” [Shahih, Hadits Riwayat Abu Dawud 2838, Tirmidzi 1552, Nasa’I 7/166, Ibnu Majah 3165, Ahmad 5/7-8, 17-18, 22, Ad Darimi 2/81, dan lain-lainnya].

Samurah bin Jundab

Aisyah berbicara  jika Rasulullah bersabda, “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua domba  yang sama dan bayi wanita  satu kambing.” [Shahih, Hadits Riwayat Ahmad (2/31, 158, 251), Tirmidzi (1513), Ibnu Majah (3163), dengan sanad hasan].

Aisyah

Ibnu Abbas berbicara  jika Rasulullah bersabda, “Menaqiqahi Hasan dan Husain dengan satu domba  dan satu kambing.” [HR Abu Dawud (2841) Ibnu Jarud dalam buku  al-Muntaqa (912) Thabrani (11/316) dengan sanadnya shahih. Sebagaimana disebutkan  oleh Ibnu Daqiqiel ‘Ied].

Ibnu Abbas

‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya berbicara  jika Rasulullah bersabda, “Barangsiapa diantara kalian yang hendak  menyembelih (kambing) sebab  kelahiran bayi maka hendaklah ia kerjakan  untuk laki-laki dua domba  yang sama dan untuk wanita  satu kambing.” [Sanadnya Hasan, Hadits Riwayat Abu Dawud (2843), Nasa’I (7/162-163), Ahmad (2286, 3176) dan Abdur Razaq (4/330), dan shahihkan oleh al-Hakim (4/238)].

‘Amr bin Syu’aib

Fatimah binti Muhammad berbicara  saat mencetuskan  Hasan andai  Rasulullah bersabda, “Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan perak untuk  orang kurang mampu  seberat timbangan rambutnya.” [Sanadnya Hasan, Hadits Riwayat Ahmad (6/390), Thabrani dalam “Mu’jamul Kabir” 1/121/2, dan al-Baihaqi (9/304) dari Syuraiq dari Abdillah bin Muhammad bin Uqoil].

Fatimah binti Muhammad

bagaimana hukum dan dalil aqiqah dalam Pelaksanaan Aqiqah?

Berikut sejumlah  hukum yang dibuntuti  dengan bimbingan  dalam mengemban  aqiqah, yaitu:

Aqiqah Merupakan Syairat Islam

Aqiqah ialah  satu yang telah  disyariatkan di dalam agama Islam dan sejumlah  dalil yang menuliskan   diantaranya ialah  hadits Rasulullah saw yang berbicara  “setiap anak tertuntut dengan aqiqahnya”.

Berapa Jumlah Hewan Sembelihan untuk  aqiqah?

Hadits lainnya menuliskan   jika, “Anak laki-laki (Aqiqah-nya dengan 2 kambing) sedang anak wanita  (Aqiqah-nya) dengan 1 ekor kambing”.

Status hukum aqiqah adalah sunnah dan urusan  ini cocok  dengan pandangan dari banyak sekali  ulama laksana  contohnya Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad yang didasari dengan sejumlah  dalil diatas.

Para ulama tidak menuliskan   wajib dengan menciptakan  penyataan andai  seandainya aqiqah ialah  wajib, maka keharusan  ini menjadi urusan  yang telah  diketahui oleh agama dan Rasulullah pun  pastinya telah  memberikan penjelasan  tentang keharusan  itu.

Ada sejumlah  ulama laksana  Imam Laits serta Imam Al-Bashri yang mengungkapkan pendapat andai  hukum dari aqiqah adalah wajib menurut  dari 1 hadits yaitu  “Kullu ghulamin murtahanun bi ‘aqiqatihi’” yang berarti masing-masing  anak tertuntut dengan aqiqah.

Apa saja kriteria  dari domba  yang diizinkan  untuk aqiqah?

Tidak Mematahkan Tulang Sembelihan

Saat menyembelih, ada urusan  yang me sti diacuhkan  yakni tidak mematahkan tulang dari sembelihan dengan hikmah yang terkandung ialah  tafa’ul atau bercita-cita   akan keselamatan tubuh serta anggota badan dari anak tersebut.

Hewan Sembelihan Tidak Boleh Cacat

Aqiqah yang sah ialah  jika sudah mengisi  syarat dari fauna  qurban yaitu  tidak cacat dan pun  sudah masuk ke umur  yang telah  disyaratkan dalam Islam. Aqiqah ialah  menyembelih di hari ke-7 semenjak  kelahiran bayi yang dimaksudkan guna  bersyukur pada Allah.

Akan namun  di samping  kambing, sapi atau unta juga diizinkan  dengan kriteria  melulu  1 unta atau 1 sapi guna  1 orang anak saja, tetapi  sebagian ulama berasumsi  jika aqiqah yang diizinkan  hanya memakai domba  saja karena  sesuai dengan alasan  Rasulullah saw.

Bagaimana Syarat dan hukum Aqiqah Anak Laki-Laki dan Perempuan

Apa saja yang menjadi kriteria  aqiqah anak laki-laki dan perempuan? Syarat dan peraturan  tersebut diantaranya yaitu, masa-masa  aqiqah, fauna  aqiqah (umur, jenis kelamin jantan atau betina pun  kondisi fisik).

baca juga yuk.

Syarat Aqiqah Anak Laki-Laki dan Perempuan dalam Hadist

Sebelumnya, perlu anda  ketahui bahwa aqiqah tersebut  didefinisikan sebagai “memotong”, sebab  dalam proses aqiqah anak ini ialah  memotong/menyembelih hewan. Aqiqah merupakan format  ucapan rasa syukur umat islam untuk  Allah atas bayi yang dicetuskan  dengan kriteria -syarat tertentu menurut  keterangan dari  syariat doktrin  Islam.

Syarat aqiqah anak laki-laki dan wanita  dalam hadist sahih yang berkata  mengenai masa-masa  pelaksanaan aqiqah guna  anak atau bayi yang baru lahir ialah  sebagai berikut:

Dari Samurah bin Jundub dia berkata: Rasulullah SAW. bersabda: “Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih fauna  (kambing), diberi nama dan dipotong  rambutnya.”

[HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad]

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW pernah ber aqiqah guna  Hasan dan Husain pada hari ke-7 dari kelahirannya, beliau memberi nama dan menyuruh  supaya dihilangkan dari kotoran dari kepalanya (dicukur).

[HR. Hakim, dalam Al-Mustadrak Juz 4, Hal. 264]

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata: Rasulullah bersabda: “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua domba  yang sama dan bayi wanita  satu kambing“.

[HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah]

Penyembelihan hewan sehubungan  dengan kelahiran anak atau aqiqah cocok  dengan hadist itu  disyariatkan untuk dilaksanakan  pada hari ketujuh kelahiran anak.

Hukum aqiqah guna  orang tua yang baru mencetuskan  anaknya ialah  sunnah muakad, walaupun demikian, kriteria  dan peraturan  aqiqah menjadi bagian urgen  dalam syariat Islam.

Kapan Waktu Pelaksanaan Aqiqah?

Setelah sebelumnya diuraikan tentang  hadist sahih mengenai  aqiqah anak laki-laki dan anak perempuan, cocok  riwayat hadist di atas maka pengamalan  aqiqah yang sangat  sesuai dengan syariat ialah  pada hari ke-7 semenjak  kelahiran bayi.

Namun andai  belum dapat  pada hari ke-7 tersebut, beberapa  ulama mengizinkan  untuk pelaksanaannya di hari ke-14 (dua minggu sesudah  bayi lahir). Bila di hari ke-14 masih belum dapat  juga, maka pelaksanaannya dapat  di hari ke-21.

Dari Abu Buraidah RA: “Aqiqah tersebut  disembelih pada hari ketujuh, atau keempat belas, atau kedua puluh satunya.”

[HR. Baihaqi dan Thabrani]

Apakah boleh Aqiqah dengan hewan selain Kambing

Ada perbedaan pendapat tentang  beraqiqah dengan selain kambing:

  • 1. Jumhur ulama memperbolehkannya
  • 2. Sebagian ulama tidak memperbolehkannya, bahkan mereka mengaku  tidak sah aqiqah selain dari jenis domba  atau domba.

“Dan الشاة (kambing) –dalam bahasa arab- merangkum  jantan dan betina, baik dari jenis المعز (kambing yang berambut) ataupun jenis الضأن (domba/kambing yang berbulu tebal).

Berkata Al-‘Iraqy rahimahullahu (wafat tahun 806 H):

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih saat  aqiqah kedua cucunya memilih yang sangat  sempurna, yaitu kambing  jantan, dan ini bukan pengkhususan, maka boleh dalam aqiqah menyembelih domba  betina meskipun dari jenis المعز, sebagaimana urusan  ini diperlihatkan  oleh kemutlakan lafadz الشاة dalam hadist-hadist yang lain.”

(Tharhu At-Tatsrib, Al-‘Iraqy 5/208)

Bagaimana Tata Cara Pemotongan Kambing Aqiqah

Untuk yang menyembelih fauna  aqiqah pun  perlu menyimak  syarat dan rukun penyembelihan yang cocok  dengan syariat Islam. Berikut ini ialah  hal berhubungan  menyembelih fauna  aqiqah:

  • 1. Niatkan menyembelih fauna  aqiqah sebagai format  Ibadah untuk  Allah.
  • 2. Memperlakukan fauna  aqiqah dengan sebaik-baiknya.
  • 3. Pisau yang dipakai  untuk menyembelih me sti tajam.
  • 4. Jauhkan pandangan domba  ketika sedang mengasah  pisau.
  • 5. Menggiring domba  ke lokasi  penyembelihan dengan teknik  yang baik.
  • 6. Hewan sembelihan direbahkan.
  • 7. Posisikan dengan baik unsur  tubuh yang bakal  disembelih.
  • 8. Hewan aqiqah dihadapkan ke arah kiblat saat  akan disembelih.
  • 9. Meletakkan telapak kaki di leher sembelihan.
  • 10. Mengucap Bismilah.
  • 11. Tidak diperkenankan memakai  tulang dan kuku sebagai perangkat  penyembelih.

Bagaimana aturan dalam Pembagian Daging Aqiqah

Untuk pembagian daging aqiqah ini bertolak belakang  dengan pembagian daging kurban yang biasa diberikan  pada Idul Adha dalam situasi  mentah. Sebaliknya, pada daging fauna  aqiqah diberikan  dalam situasi  telah dimasak dan matang.

Daging yang telah diubah  tersebut dapat diberikan  kepada fakir miskin, tetangga, kerabat, atau sanak saudara lainnya. Bagi  keluarga, menurut  keterangan dari  ulama jumlah maksimla daging yang dapat  diambil ialah  sepertiganya.

Mengenai pembagian daging aqiqah, Ibnu Al-Qayyim berkata:

Membagikan daging aqiqah dalam suasana  matang ialah  lebih baik sebab  dengan memasaknya berarti ia sudah  menanggung ongkos  memasak untuk  orang kurang mampu  dan semua  tetangga. Dan ini adalah nilai tambah tersendiri dalam melakukan  kebaikan dan dalam mensyukuri nikmat ini (kelahiran anak).

Dengan demikian semua  tetangga dan orang-orang kurang mampu  dapat menikmatinya dengan tenang tanpa memikirkan bagaimana memasaknya. Di samping  itu , barangsiapa yang diberi daging yang matang siap guna  dimakan maka kebahagiaan dan kegembiraan orang itu  akan lebih sempurna dari pada ia melulu  menerima daging mentah yang memerlukan ongkos  dan tenaga guna  memasaknya.

baca juga yuk

Doa Aqiqah menurut Sunnah

doa-aqiqah-menurut-sunnah-00Doa aqiqah menurut sunnah ketika akan menyembelih kambing yang hanya diperuntukkan kepada Allah Ta’ala. Firman Allah Ta’ala : “Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu dan sebutlah nama Allah” [Al-Maidah : 4]. Dan juga Firman Allah Ta’ala : “Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya, sesungguhnya perbuatan semacam itu adalah suatu kefasikan.” [Al-An’am : 121].

Adapun doa aqiqah menurut Sunnah petunjuk Nabi tentang tasmiyah (membaca bismillah) dan telah kita ketahui bersama (lihat Irwaul Ghalil 2529-2536-2545-2551, karya Syaikh Al-Albani). Oleh karena itu, doa tersebut juga diucapkan ketika meyembelih hewan untuk aqiqah karena merupakan salah satu jenis kurban yang disyariatkan oleh Islam. Maka orang yang menyembelih itu biasa mengucapkan doa aqiqah : “Bismillahi wa Allahu Akbar”.

doa-aqiqah-menurut-sunnahHendaklah orang tua memberi nama anaknya dengan nama-nama Islami, nama-nama yang baik. Seperti nama Abdullah atau Abdurrahman. Ini adalah nama yang paling disukai Allah Ta’aala, berdasarkan sebuah hadits di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya nama kalian yang paling Allah cintai adalah Abdullah dan Abdurrahman.” (HR. Muslim).

doa-aqiqah-menurut-sunnah-0Lalu yang selanjutnya nama-nama yang menghambakan kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang lain selain dari kedua nama di atas. Seperti Abdul Jabbar, Abdul Wahhab dan yang lainnya. Setelah itu nama para nabi dan Rasul. Dan urutan berikutnya nama-nama orang-orang shalih bisa dari kalangan shahabat, ulama dan yang lainnya. Umar, Utsman, Ali, Anas, Muawiyah atau yang lainnya. Adapun untuk nama perempuan seperti Khadijah, Aisyah, Fatimah, Asma’, Hafshah dan yang lainnya.

Pembagian Daging Aqiqah dalam Islam

pembagian-daging-aqiqah-dalam-islamHukum daging aqiqah dalam pembagiannya lebih baik dalam keadaan masak sehingga memudahkan dalam menikmati. Imam Ibnu Qayyim rahimahullah dalam kitabnya “Tuhfathul Maudud” hal.43-44, berkata. : “Memasak daging aqiqah termasuk sunnah. Yang demikian itu, karena jika dagingnya sudah dimasak maka orang-orang miskin dan tetangga (yang mendapat bagian) tidak merasa repot lagi. Dan ini akan menambah kebaikan dan rasa syukur terhadap nikmat tersebut.

Para tetangga, anak-anak dan orang-orang miskin dapat menyantapnya dengan gembira. Sebab orang yang diberi daging yang sudah masak, siap makan, dan enak rasanya, tentu rasa gembiranya lebih dibanding jika daging mentah yang masih membutuhkan tenaga lagi untuk memasaknya. Dan pada umumnya, makanan syukuran (dibuat dalam rangka untuk menunjukkan rasa syukur) dimasak dahulu sebelum diberikan atau dihidangkan kepada orang lain.”

Sekaligus penyampaian harapan kepada saudara, teman, relasi, tetangga bahkan handai taulan untuk bisa ikut mendoakan pada anak yang baru diaqiqah. Sehingga anak yang baru dan sudah terlahir selalu mendapat perlindungan AllaH SWT, sehat selalu dan kelak menjadi anak yang dibanggakan kedua orangtuanya. Yang kelak anak sholeh/sholehah dan bisa berguna bagi Nusa Bangsa dan Agamanya.

Aqiqah kolektif (Kambing Aqiqah Diganti Dengan Sapi)

aqiqah jogja

ridho aqiqah jogja

 

Dalam materi kali ini kita akan membahas tentang aqiqah kolektif yaitu Tujuh orang secara kolektif berpartisipasi dalam membeli seekor unta atau sapi untuk meng aqiqahi tujuh orang anak .

Para ulama berbeda pendapat tentang kebolehan mengganti kambing dengan hewan lain. Namun secara umum kebanyakan membolehkan asalkan dari jenis hewan sebagaimana qurban, yaitu an-na’am, seperti unta, sapi, dan kambing.

Ada dua pendapat dalam masalah ini dikalangan para ulama.

 

 

  1. Pendapat Yang Tidak Membolehkan

Pendapat pertama : diperbolehkan. Ini adalah pendapat para ulama penganut madzahab syafi’i.

Sebagian ulama berpendapat bahwa aqiqah itu hanya boleh dengan kambing dan tidak boleh dengan sapi atau unta, di antaranya sebagian ulama mazhab Al-Malikiyah, Ibnu Hazm yang mewakili madzhab Dzahiri, dimana keduanya mengacu kepada ijtihad Aisyah radhiyallahuanha.

Sebagaimana disebukan di atas, ada perbedaan riwayat di kalangan mazhab Al-Malikiyah, antara yang membolehkan dan yang tidak membolehkan. Dan pendapat yang lebih lemah mengatakan tidak boleh beraqiqah dengan selain kambing.

Imam Ibnu Hazem berpendapat bahwa tidak lah sah aqiqah melainkan hanya dengan apa-apa yang dinamakan dengan kambing, baik itu jenis kambing benggala atau kambing biasa, dan tidaklah cukup hal ini dengan selain yang telah kami sebutkan, tidak pula jenis unta, tidak pula sapi, dan tidak pula lainnya.

Ibnul Qayyim menceritakan, bahwa telah ada kasus pada masa sahabat, di antara mereka melaksanakan aqiqah dengan unta, namun hal itu langsung dingkari oleh Rasulullah SAW.

Lalu apa dasar mereka tidak membolehkan beraqiqah kecuali dengan kambing?

Di antara landasannya sebagaimana yang diterangkan dalam riwayat berikut:

قِيْلَ لِعَائِشَةَ : ياَ أُمَّ المـُؤْمِنِين عَقَّى عَلَيْهِ أَوْ قَالَ عَنْهُ جُزُورًا؟ فَقَالَتْ : مَعَاذَ اللهِ ، وَلَكْن مَا قَالَ رَسُولُ اللهِ شَاتاَنِ مُكاَفِأَتَانِ

Dari Ibnu Abi Malikah ia berkata: Telah lahir seorang bayi laki-laki untuk Abdurrahman bin Abi Bakar, maka dikatakan kepada ‘Aisyah: “Wahai Ummul Mu’minin, adakah aqiqah atas bayi itu dengan seekor unta?”. Maka ‘Aisyah menjawab: “Aku berlindung kepada Allah, tetapi seperti yang dikatakan oleh Rasulullah, duua ekor kambing yang sepadan.” (HR. Al-Baihaqi)

Dalam riwayat lain, dari ‘Atha radhiallahuanhu, katanya:

قاَلَتْ اِمْرَأُةٌ عِنْدَ عَائِشَة لَوْ وَلَدَتْ اِمْرَأَة فُلاَن نَحَرْناَ عَنْهُ جُزُورًا؟ قَالَتْ عَائِشَة : لاَ وَلَكِن السُّنَّة عَنِ الغُلاَمِ شَاتَانِ وَعَنِ الجَارِيَةِ شَاةٌ

Seorang wanita berkata di hadapan ‘Aisyah: “Seandainya seorang wanita melahirkan fulan (anak laki-kaki) kami menyembelih seekor unta.” Berkata ‘Aisyah: “Jangan, tetapi yang sesuai sunah adalah buatt seorang anak laki-laki adalah dua ekor kambing dan untuk anak perempuan seekor kambing.” (HR. Ishaq bin Rahawaihh)

Kemudian disebutkan hadits, dari Yahya bin Yahya, mengabarkan kepada kami Husyaim, dari ‘Uyainah bin Abdirrahman, dari ayahnya, bahwa Abu Bakrah telah mendapatkan anak laki-laki, bernama Abdurrahman, dia adalah anaknya yang pertama di Bashrah, disembelihkan untuknya unta dan diberikan untuk penduduk Bashrah, lalu sebagian mereka mengingkari hal itu, dan berkata: ”Rasulullah SAW telah memerintahkan aqiqah dengan dua kambing untuk bayi laki-laki, dan satu kambing untuk bayi perempuan, dan tidak boleh dengan selain itu.

  1. Pendapat Yang Membolehkan : Jumhur Ulama

Pendapat kedua : tidak boleh patungan untuk melaksanakan aqiqah apabila seseorang ingin melaksanakan aqiqah dengan sapi atau unta,dia hanya boleh melakukan untuk seorang bayi saja. Ini adalah pendapat para ulama penganut madzahab hambalidan ditegaskan secara tekstual oleh imam ahmad.

Pendapat ini merupakan pendapat jumhur ulama seperti mazhab Al-Hanafiyah, As-Syafi’iyah, dan Al-Hanabilah. Sedangkan di kalangan mazhab Al-Malikiyah, ada perbedaan riwayat antara yang membolehkan dan yang tidak membolehkan. Namun yang lebih rajih, mazhab ini pun membolehkannyaa.

Baca Juga: anak membawa rejeki

Mereka umumnya sepakat dibenarkannya penyembelihan aqiqah dengan selain kambing, yaitu sapi atau unta.

Di antara dasarnya karena sapi dan unta juga merupakan hewan yang biasa digunakan untuk ibadah, yaitu untuk qurban dan hadyu. Bahkan sapi dan unta secara ukuran lebih besar dari kambing, dan tentunya harganya lebih mahal. Oleh karena itu, tidak mengapa bila menyembelih aqiqah dengan hewan yang lebih besar dan lebih mahal harganya, selama masih termasuk hewan persembahan.

Imam Ibnul Mundzir membolehkan aqiqah dengan selain kambing, dengan alasan:

مَعَ الْغُلَامِ عَقِيقَةٌ فَأَهْرِيقُوا عَنْهُ دَمًا وَأَمِيطُوا عَنْهُ الْأَذَى

“Bersama bayi itu ada aqiqahnya, maka sembelihlah hewan, dan hilangkanlah gangguan darinya.” (HR. Bukhari)

Menurutnya, hadits ini tidak menyebutkan kambing, tetapi hewan secara umum, jadi boleh saja dengan selain kambing.

Ibnul Mundzir menceritakan, bahwa Anas bin Malik meng-aqiqahkan anaknya dengan unta. Dari Al-Hasan, dia berkata bahwa Anas bin Malik radhiyallahuanhu menyembelih seekor unta untuk aqiqah anaknya.

Hal itu juga dilakukan oleh shahabat yang lain, yaitu Abu Bakrah radhiyallahuanhu. Beliau pernah menyembelih seekor unta untuk aqiqah anaknya dan memberikan makan penduduk Bashrah dengannya.

baca juga: Aqiqah setelah dewasa

 

Apakah Satu Sapi Bisa Dihitung Untuk Tujuh Bayi Sebagaimana Halnya Qurban?

Pertanyaan ini juga menarik untuk dikaji, yaitu bolehkah satu ekor sapi disembelih untuk aqiqah tujuh orang bayi, sebagaimana yang dibolehkan dalam qurban.

 

sSebenarnya kita tidak menemukan langung hadits yang menegaskan kebolehan atau larangannya. Namun kita menemukan dalam kitab-kitab para ulama yang sedikit membahas hal ini.

Disebutkan bahwa umhur ulama sepakat membolehkan adanya persekutuan dalam penyembelihan hewan qurban, namun menetapkan syarat dan ketentuannya ternyata berbeda pendapat satu dengan yang lainnya.

  1. Mazhab Al-Hanafiyah

Dibolehkan menyembelih satu sapi untuk beberapa niat, asalkan sama-sama menyembelih dengan niat taqarrub dan tidak boleh tercampur dengan niat-niat lain di luar kerangka taqarrub. Ini adalah pendapat Abu Hanifah dan kedua murid beliau, Abu Yusuf dan Muhammad.

Contoh penyembelihan dalam rangka taqarrub misalnya qurban, aqiqah, membayar dam tamattu’, dam qiran, kaffarah sumpah, kaffarah dam karena pelanggaran melewati miqat, dan seterusnya.

Maka dalam pandangan mazhab ini, selama para peserta punya niat yang tidak keluar dari ruang lingkup penyembelihan di atas, maka hukumnya dibolehkan.

Namun diriwayatkan bahwa Abu Hanifah meski membolehkan, namun beliau tetap memakruhkannya. Beliau menyatakan seandainya semua punya satu niat yang sama, yaitu menyembelih qurban, maka lebih beliau sukai.

jika anda bingung dengan madzhab anda bisa baca kesini

  1. Mazhab Asy-Syafi’iyah & Al-Hanabilah

Sedangkan mazhab Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah dalam hal ini berbeda dengan mazhab Al-Hanafiyah. Dalam pandangan kedua mazhab ini, niat para peserta tidak harus sama-sama dalam rangka bertaqarrub kepada Allah.

Boleh saja niat dari masing-masing peserta saling berbeda-beda, sebagian bertaqarrub dan sebagiannya lainnya bukan untuk taqarrub.

Misalnya dari tujuh orang itu, ada yang berniat menyembelih sebagai qurban, aqiqah, kaffarat, tetapi ada juga yang niatnya hanya ingin makan-makan sekeluarga, bahkan niatnya cuma untuk dijual. Bila kesemuanya bersekutu dan menyembelih satu ekor hewan, maka semuanya sah sesuai dengan niat masing-masing.

Baca Juga : Ensiklopedia

 

Wallahu a’lam bishshawab

Dalil atau Perintah di Hadits mengenai Aqiqah setelah dewasa

 dalil atau perintah di hadits mengenai aqiqah setelah dewasa

Ada dua pendapat dalam perihal aqiqah setelah dewasa (baligh).

 

Pertama, pendapat beberapa tabi’in, yaitu ‘Atha`, Al-Hasan Al-Bashri, dan Ibnu Sirin, juga pendapat Imam asy-Syafi’i, Imam Al-Qaffal asy-Syasyi (mazhab Syafi’i), dan satu riwayat dari Imam Ahmad. Mereka mengatakan orang yang waktu kecilnya belum diaqiqahi, disunnahkan (mustahab) mengaqiqahi dirinya setelah dewasa.

 Dalilnya adalah hadis riwayat Anas RA bahwa Nabi SAW mengaqiqahi dirinya sendiri setelah nubuwwah (diangkat sebagai nabi). (HR Baihaqi; As-Sunan Al-Kubra, 9/300;Mushannaf Abdur Razaq, no 7960; Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Ausath no 1006; Thahawi dalam Musykil Al-Atsar no 883).

Kedua, pendapat Malikiyah dan riwayat lain dari Imam Ahmad, yang menyatakan orang yang waktu kecilnya belum diaqiqahi, tidak mengaqiqahi dirinya setelah dewasa. Alasannya aqiqah itu disyariatkan bagi ayah, bukan bagi anak. Jadi si anak tidak perlu mengaqiqahi dirinya setelah dewasa. nha  Selain itu, hadis Anas RA yang menjelaskan Nabi SAW mengaqiqahi dirinya sendiri dinilai dhoif sehingga tidak layak menjadi dalil (Ibnu Abi Hatim berkata: Aku bertanya kepada ayahku (Abu Hatim Ar Razi) tentang Abdullah bin Muharrar, dia menjawab: matrukul hadits (haditsnya ditinggalkan), munkarul hadits (haditsnya munkar), dan dhaiful hadits(haditsnya lemah). Ibnul Mubarak meninggalkan haditsnya.

 

Imam al-Bukhari dalam shahihnya juga mengatakan bahwa Abdullah bin Muharrar adalah munkarul hadits.


Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa Abdullah bin Muharrar adalah seorang yang dhaif jiddan (lemah sekali). (Talkhish Al Habir, 4/362)

Yang juga melemahkan hadits ini adalah Imam Ibnu Abdil Barr (Al-Istidzkar, 15/376), Imam Dzahabi (Mizan Al-I’tidal, 2/500), Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah (Tuhfatul Wadud, hlm. 88), dan Imam Nawawi (Al-Majmu’, 8/432).

(Hisamuddin ‘Afanah, Ahkamul Aqiqah, hlm. 59; Al-Mufashshal fi Ahkam al-Aqiqah, hlm.137; Maryam Ibrahim Hindi,Al-’Aqiqah fi Al-Fiqh Al-Islami, hlm. 101; M. Adib Kalkul, Ahkam al-Udhiyyah wa Al-’Aqiqah wa At-Tadzkiyyah, hlm. 44).

 

Dari penjelasan di atas, nampak sumber perbedaan pendapat yang utama adalah perbedaan penilaian terhadap hadis Anas RA. Sebagian ulama melemahkan hadis tersebut, seperti Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani (Fathul Bari, 12/12), Imam Ibnu Abdil Barr (Al-Istidzkar, 15/376), Imam adz-Dzahabi (Mizan Al-I’tidal, 2/500), Imam Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah (Tuhfatul Wadud, hlm. 88), dan Imam an-Nawawi (Al-Majmu’, 8/432). Imam an-Nawawi berkata,”Hadis ini hadis bathil,” karena menurut beliau di antara periwayat hadisnya terdapat Abdullah bin Muharrir yang disepakati kelemahannya. (Al-Majmu’, 8/432).

Namun, Nashiruddin Al-Albani telah meneliti ulang hadis tersebut dan menilainya sebagai hadis sahih. (As-Silsilah al-Shahihah, no 2726). Menurut Al-Albani, hadis Anas RA ternyata mempunyai dua isnad (jalur periwayatan). Pertama, dari Abdullah bin Muharrir, dari Qatadah, dari Anas RA. Jalur inilah yang dinilai lemah karena ada Abdullah bin Muharrir. Kedua, dari Al-Haitsam bin Jamil, dari Abdullah bin Al-Mutsanna bin Anas, dari Tsumamah bin Anas, dari Anas RA. Jalur kedua ini oleh Al-Albani dianggap jalur periwayatan yang baik (isnaduhu hasan), sejalan dengan penilaian Imam Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawa`id (4/59).

Terkait penilaian sanad hadis, Imam Taqiyuddin An-Nabhani menyatakan lemahnya satu sanad dari suatu hadis, tidak berarti hadis itu lemah secara mutlak. Sebab bisa jadi hadis itu mempunyai sanad lain, kecuali jika ahli hadis menyatakan hadis itu tidak diriwayatkan kecuali melalui satu sanad saja. (Taqiyuddin An-Nabhani, Al-Syakhshiyyah Al-Islamiyah, 1/345).

baca juga : pengertian aqiqah

Apabila orang tuanya dahulu adalah orang yang tidak mampu pada saat waktu dianjurkannya aqiqah (yaitu pada hari ke-7, 14, atau 21 kelahiran, pen), maka ia tidak punya kewajiban apa-apa walaupun mungkin setelah itu orang tuanya menjadi kaya.

Sebagaimana apabila seseorang miskin ketika waktu pensyariatan zakat, maka ia tidak diwajibkan mengeluarkan zakat, meskipun setelah itu kondisinya serba cukup. Jadi apabila keadaan orang tuanya tidak mampu ketika pensyariatan aqiqah, maka aqiqah menjadi gugur karena ia tidak memiliki kemampuan. Sedangkan jika orang tuanya mampu ketika ia lahir, namun ia menunda aqiqah hingga anaknya dewasa, maka pada saat itu anaknya tetap diaqiqahi walaupun sudah dewasa.

Adapun waktu utama aqiqah adalah hari ketujuh kelahiran, kemudian hari keempatbelas kelahiran, kemudian hari keduapuluh satu kelahiran, kemudian setelah itu terserah tanpa melihat kelipatan tujuh hari.

Aqiqah untuk anak laki-laki dengan dua ekor kambing. Namun anak laki-laki boleh juga dengan

satu ekor kambing. Sedangkan aqiqah untuk anak perempuan dengan satu ekor kambing dan lebih utama tidak menambahnya dari jumlah ini.

[Liqa-at Al Bab Al Maftuh, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, kaset 234, no. 6]

Pelajaran Penting Seputar Aqiqah

Hukum aqiqah adalah sunnah mu’akkad dan seharusnya tidak ditinggalkan oleh orang yang mampu melakukannya.

Aqiqah bagi anak laki-laki afdhalnya dengan dua ekor kambing, namun dengan seekor kambing juga dibolehkan. Sedangkan aqiqah bagi anak perempuan adalah dengan seekor kambing.

Waktu utama aqiqah adalah hari ke-7 kelahiran, kemudian hari ke-14 kelahiran, kemudian hari ke-21 kelahiran, kemudian setelah itu terserah tanpa melihat hari kelipatan tujuh. Pendapat ini adalah pendapat ulama Hambali, namun dinilai lemah oleh ulama Malikiyah. Jadi, jika aqiqah dilaksanakan sebelum atau setelah waktu tadi sebenarnya diperbolehkan. Karena yang penting adalah aqiqahnya dilaksanakan. (Lihat Shahih Fiqih Sunnah, 2/383)

Aqiqah asalnya menjadi beban ayah selaku pemberi nafkah.

 Aqiqah ditunaikan dari harta ayah, bukan dari harta anak. Orang lain tidak boleh melaksanakan aqiqah selain melalui izin ayah. (Lihat Shahih Fiqih Sunnah, 2/382)

Imam Asy Syafi’i mensyaratkan bahwa yang dianjurkan untuk melakukan aqiqah adalah orang yang mampu. (Lihat Shahih Fiqih Sunnah, 2/382)

Apabila ketika waktu pensyariatan aqiqah (sebelum dewasa), orang tua dalam keadaan tidak mampu, maka aqiqah menjadi gugur, walaupun nanti beberapa waktu kemudian orang tua menjadi kaya. Sebaliknya apabila ketika waktu pensyariatan aqiqah (sebelum dewasa), orang tua dalam keadaan kaya, maka orang tua tetap dianjurkan mengaqiqahi anaknya meskipun anaknya sudah dewasa.

Imam Asy Syafi’i memiliki pendapat bahwa aqiqah tetap dianjurkan walaupun diakhirkan. Namun disarankan agar tidak diakhirkan hingga usia baligh. Jika aqiqah diakhirkan hingga usia baligh, maka kewajiban orang tua menjadi gugur. Akan tetapi ketika itu, anak punya pilihan, boleh mengaqiqahi dirinya sendiri atau tidak. (Lihat Shahih Fiqih Sunnah, 2/383)

Perhitungan hari ke-7 kelahiran, hari pertamanya dihitung mulai dari hari kelahiran. Misalnya si bayi lahir pada hari Senin, maka hari ke-7 kelahiran adalah hari Ahad. Berarti hari Ahad adalah hari pelaksanaan aqiqah. [Keterangan Syaikh Ibnu Utsaimin lainnya, Liqa-at Al Bab Al Maftuh, kaset 161, no. 24]

Pendapat yang menyatakan, “Jika seseorang anak tidak diaqiqahi, maka ia tidak akan memberi syafaat kepada orang tuanya pada hari kiamat nanti”, ini adalah pendapat yang lemah sebagaimana dilemahkan oleh Ibnul Qayyim. [Keterangan Syaikh Ibnu Utsaimin lainnya, Liqo-at Al Bab Al Maftuh, kaset 161, no. 24]

 

Aqiqah Anak Yang Sudah Meninggal

Berdasarkan dalil-dalil yang sangat banyak, diantaranya dari Samuroh bin Jundub radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;
كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى
Artinya: “Setiap bayi tergadaikan dengan aqiqahnya. Disembelihkan kambing pada hari ke-7, dicukur rambutnya serta diberi nama” (HR.Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa’iy, dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Abdul Haq, lihat at-Talkhis 4/1498 oleh Ibnu Hajar)

Maksud tergadaikan di sini adalah tertahan dari suatu kebaikan yang seharusnya diperoleh jika ia diaqiqahi. Karena seorang bisa kehilangan memperoleh kebaikan karena perbuatannya sendiri atau karena perbuatan orang lain. (Lihat Tuhfatul Maudud,Ibnul Qayyim hal.122-123, tahqiq: Syeikh Salim al-Hilali)

Berdasarkan perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits diatas maka tidak selayaknya meninggalkan aqiqah jika mampu. Bahkan kebiasaan para salaf mereka senantiasa melaksanakan aqiqah untuk anak-anak mereka.

Yahya al-Anshari rahimahullahu mengatakan: “Aku menjumpai manusia dan mereka tidak meninggalkan aqiqah dari anak laki-laki maupun perempuan”. (Al-Fath ar-Robbani, Ibnul Mundzir 13/124, lihat Ahkam al-Maulud hal.51, Salim bin Ali Rosyid as-Sibli dan Muhammad Khalifah Muhammad Rabah)

Berhubungan dengan mengaqiqahi orang yang sudah meninggal maka tidak lepas dari tiga keadaan;

Pertama: Orang tua mengaqiqahi anak yang telah meninggal. Jika anak tersebut meninggal ketika sudah terlahir ke dunia, tetap disyariatkan untuk diaqiqahi.

Dan jika meninggalnya masih dalam kandungan dan sudah berusia 4 bulan maka disyariatkan aqiqah, jika kurang dari 4 bulan maka tidak disyariatkan.

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu mengatakan: “Apabila janin itu keguguran setelah ditiupkannya ruh maka janin tersebut dimandikan, dikafani, dishalati dan dikubur di pekuburan kaum muslimin, serta diberi nama dan diaqiqahi. Karena dia sekarang telah menjadi seorang manusia, maka berlaku pula baginya hukum orang dewasa”. (Syarah al-Arba’in an-Nawawiyyah hal.90, Ibnu Utsaimin)

Kedua: Anak mengaqiqahi orang tua yang sudah meninggal. Hukumnya tidak disyariatkan, karena perintah aqiqah ditujukan kepada orang tua bukan kepada anak.

Ketiga: Mengaqiqahi seorang manusia yang telah meninggal. Jika ada seseorang yang meninggal dan dia semasa hidupnya belum diaqiqahi, maka tidak disyariatkan bagi ahli warisnya untuk mengaqiqahinya.

Wallahu A’lam.

Pelaksanaan aqiqah menjadi tanggung jawab orang tua. Oleh karena itu para ulama berbeda pendapat tentang disunnahkan atau tidaknya pelaksanaan aqiqah oleh diri sendiri bagi mereka yang belum sempat diaqiqahi oleh orang tuanya. Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny menyatakan: “Jika seseorang belum diaqiqahi, kemudian tumbuh dewasa dan mencari nafqah sendiri maka tidak ada aqiqah baginya.” Imam Ahmad ketika ditanya tentang aqiqiah untuk diri sendiri, beliau menjawab: “Aqiqah itu kewajiban orang tua dan tidak dibolehkan mengaqiqahi diri sendiri karena sunnahnya dilakukan oleh orang lain.” Atha` dan Al-Hasan berpendapat bahwasanya seseorang boleh mengaqiqahi dirinya sendiri karena dia tergadai dengannya oleh sebab itu ia boleh melakukan aqiqah untuk membebaskan dirinya.

 Imam Al-Baihaqy meriwayatkan dari Anas bin Malik bahwasanya Rasulullah SAW mengaqiqahi untuk dirinya setelah kenabian (9/300) Demikian juga Imam Ath-Thabrany dalam Al-Ausath (994). Akan tetapi kedua hadits tersebut — menurut pendapat sebagian ulama hadis — “dhaif”. (Ath-Thiflu Wa Ahkamuhu, hal. 181-183)

(Dikutip dan diselaraskan dari tulisan Muttaqi, dalam

http://muhsinhar.staff.umy.ac.id/aqiqah-setelah-dewasa-bolehkah/

http://muttaqi89.wordpress.com/2011/11/06/aqiqoh-setelah-dewasa/