Tata cara Aqiqah Menurut Keterangan dari Muhammadiyah

Tata cara Aqiqah berdasarkan keterangan dari Muhammadiyah, pada dasarnya ketika kita melakukan aqiqah adalah ikut tata cara madzhab 4 besar dunia, mengingat banyaknya perbedaan pendapat dari berbagai ulama, maka berbagai organisasi seperti Muhammadiyah, NU dll, merumuskan cara melakukan aqiqah sesuai madzab yang di anut. agar nantinya rumusan itu dapat digunakan praktik dimasyarakat secara mudah dan praktis. nah berikut beberpa pandangan aqiqah oleh muhammadiyah..

tata cara aqiqah menurut muhammadiyah
tata cara aqiqah menurut muhammadiyah

Muhammadiyah merujuk untuk  tuntunan Nabi SAW :

كل غلام مرتهن بعقيقته تذبح عنه يوم السابع ويسمى فبه ويحلق رأسه (رواه الخمسة وصححه الترمذى)

Artinya : tiap-tiap anak tersebut  tergadai dengan aqiqahnya yang disembelih sebagai tebusan pada hari yang ketujuh dan diberi nama pada hari tersebut  serta dipotong  kepalanya.

(HR. Lima berpengalaman hadis dari Samurah bin Jundub. Dishahihkan oleh at turmuzi).

Terdapat hadis yang disebutkan ialah  hewan yang disembelih tersebut  dua ekor domba  atau kambing  untuk seorang anak laki-laki dan satu ekor untuk anak perempuan. Sebagaimana dilafalkan  oleh hadis yang diterima dari Aisyah inilah  ini  :

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : عن الغلام شاتان مكافأتان وعن الجارية شاة (رواه احمد والترمذي وصححة)

Artinya: Rosulullah SAW. Bersabda aqiqah untuk  anak laki-laki dua ekor domba  yang sesuai  dan untuk  anak wanita  satu ekor. (HR. Ahmad Ibnu Majah dan At Turmuzi menyahihkannya). Hadis tersebut menyatakan  bahwa bila  hendak  berqurban, maka guna  laki-laki memakai  2 ekor domba  dan satu ekor domba  untuk perempuan.

Setelah kambing  disembelih dengan niat guna  mengaqiqahkan anaknya, maka daging aqiqah itu  sebagian dimakan oleh family  dan sebagian diserahkan  kepada fakir dan kurang mampu  dan andai  masih terdapat  sisah maka dagingnya diserahkan  kepada tetangga dan sanak keluarga.

Tahab akhir dalam tata cara aqiqah, adalah pembagian daging

Sebaiknya daging yang akan diserahkan  sudah di olah atau dimasak. Ada  cara  lain untuk menyalurkan  daging aqiqah dengan  cara  mengadakan tasyakuran (aqiqah) atas kelahiran bayi.

Acara ini sering dipakai  oleh masyarakat, bila  hendak  membagikan daging domba  maka usahakan  menyelenggarakan  acara aqiqah saja di lokasi  tinggal  dengan mengundang masyarakat, family  dan figur  masyarakat.

Sebaiknya mengundang figur  masyarakat baik wanita  atau laki-laki guna  berceramah tentang  aqiqah, supaya  masyarakat lain pun  terbawa dan lebih memahami  makna aqiqah guna  sang buah hati.

Di samping  mendapat pahala sebab  membagi rezeki, andai  mengadakan pengajian pastinya  menyambung tali silaturahmi. Jika jarang ketemu dengan kerabat, dengan menyelenggarakan  aqiqah maka tali silaturahminya jadi tersambung lagi. Jadi tidak sedikit  sekali guna  aqiqah. 

Pelaksanaan tata cara Aqiqah

Di samping  dua hadis di atas, ada pun  hadis yang membicarakan  mengenai aqiqah. Jika aqiqah tidak dapat  dihari ketujuh, lantas  dihari keempat belas, atau kedua puluh satu. Berikut haditsnya:

العقيقة تذبح لسبع و لأربع عشرة ولأحدى وعشرين (البيهقي)

Yang artinya: aqiqah tersebut  disembelih dihari ketujuh dan hari ke empat belas dan pada hari kedua puluh satu. Ada riwayat yang menuliskan   yaitu Al-Baihaqi dari Anas menyatakan  bahwa nabi SAW. Mengaqiqahkan dirinya sesudah  jadi nabi.

أن النبي صلى الله عليه وسلم : عق عن نفسة بعد النبوة (رواه البيهقي)

Artinya : “bahwasanya Nabi SAW. Mengaqiqahkan dirinya sesudah  beliau menjadi Nabi”.

Akan namun  dua hadis diatas diperselisihkan keotentikannya oleh semua  ulama.  Mengetahui hadis diatas daif, maka pengamalan  aqiqah hanya dapat  dilakukan pada hari ketujuh saja.

ini pentingnya pemberian nama anak.

Mengaqiqahkan bayi dihari ketujuh ketika  kelahiran bayi paling  dianjurkan. Di hari ketujuh juga disarankan  untuk menyerahkan  nama sang bayi andai  pas kelahiran anak itu  belum diserahkan  nama.

Maka pada ketika  aqiqah dapat  diumumkan nama bayi tersebut. Tentunya dengan nama yang baik dan memiliki makna  yang bagus, sebab  di dalam Islam pemakaian  nama seringkali  mengacu pada doa dan harapan guna  bayi tersebut.

Demikian tatacara aqiqah menurut  keterangan dari  ormas Muhammadiyah yang seringkali  terhimpun dalam HPT atau Himpunan Putusan Tarjih yang merupakan kelompok  keputusan untuk dijadikan acuan penduduk  Muhammadiyah.

HUKUM AQIQAH, MENGAQIQAHI DIRI SENDIRI DAN PENYEMBELIHAN AQIQAH DALAM ACARA KURBAN

 (disidangkan pada hari Jum’at, 3 Zulhijjah 1433 H / 19 Oktober 2012 M)

majlis tarjih

Pertanyaaan:

Saya penduduk  Muhammadiyah di Jepara yang berbaur di kalangan Nahdiyin di lokasi  saya:

1. Saya dimintai pertanyaan mengenai  mengakikahi diri sendiri saat  sudah besar, akikah tersebut  hukumnya mesti  atau sunah pak? Budaya masyarakat andai  akikah belum dilakukan  sejak kecil tapi bila   dewasa diakikahi, sebenarnya  akikah itu  tugas orang tua namun  tatkala dewasa diakikahi sendiri berarti masing-masing  bayi bermunculan  punya tanggungan akikah kelak  kalau telah  dewasa.

2. Ketika pengamalan  Idul Qurban, saya sebagai panitia qurban menemukan  peserta akikah dalam pengamalan  idul qurban, apa yang bakal  kami lakukan  mengenai penyembelihan akikah dalam acara qurban pak? Mohon balasan dan jawabannya, terima kasih.

Jawaban:

Terima kasih atas pertanyaan yang sudah  bapak ajukan, semoga bapak selalu berada dalam rahmat dan lindungan Allah swt. Jawaban atas pertanyaan bapak bakal  kami ucapkan  secara urut sebagai berikut:

1. Sebelum membalas  pertanyaan kesatu , butuh  kami sampaikan sejumlah  hal berhubungan  akikah. Secara bahasa, akikah ialah  membelah dan memotong, sehingga kambing  yang disembelih pun pun  disebut akikah, sebab  tenggorokannya dibelah dan dipotong.

Di samping  itu, ada pun  yang mengartikannya dengan rambut yang ada  di kepala bayi yang baru terbit  dari perut ibunya (ash-Shan’any, Subulus-Salam, Bab al-Akikah, hlm. 333). Adapun akikah menurut  keterangan dari  terminologi syariat ialah  hewan yang disembelih guna  anak yang baru dicetuskan  sebagai ungkapan syukur untuk  Allah dengan niat dan kriteria -syarat yang eksklusif  (Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim, Shahih Fiqhus-Sunnah, Bab al-Aqiqah, hlm. 636).

Hukum akikah menurut pendapat kuat

Hukum akikah menurut  pendapat rajih (kuat) yang disepakati oleh jumhur ulama ialah  sunah muakadah. Ini didasarkan pada sabda Rasulullah saw: 

ْ كُسْنَيْلَ ف ُهْنَ ع َكُسْنَ ي ْنَ أ َبَّحَأَ ف ٌَ لَِ و َُ لَ َد لِ[ .رواه أبو داود والنسائى وأحمد ُ و ْنَم والبيهقي] 

Artinya: “Barangsiapa yang dikaruniai anak dan hendak  beribadah atas namanya, maka hendaklah ia beribadah (dengan menyembelih hewan  akikah).”

[HR. Abu Dawud no. 2842, an-Nasa’i vol. 7 no. 162, Ahmad vol. 2 no.194, dan al-Baihaqi vol. 9 no. 300]

Sabda Nabi saw: “Barangsiapa yang dikaruniai anak dan hendak  beribadah atas namanya” mengindikasikan  bahwa akikah sunnah hukumnya. Adapun mengenai  pelaksanaannya, akikah disyariatkan pada hari ketujuh dari kelahiran anak, sebagaimana diterangkan  dalam hadis Rasulullah saw:   ُ

هُسْأَ ر ُقَلُْيَُ فديهد و َ مََّسُيَ ابدعد و َ الس َمْوَ يُهْنَ ع ُحَبْذُ تدهد ت َ قديق َ بدع ٌنَهَتْرُ م ٍم َ لَُ غ ُُ كُل[ .رواه الخمسة عن سمرة بن جندب، وصححه الترمذي]

Artinya: “Tiap-tiap anak tersebut  tergadai dengan akikahnya yang disembelih sebagai tebusan pada hari yang ketujuh dan diberi nama pada hari tersebut  serta dipotong  kepalanya.”

[Hadis diriwayatkan oleh lima berpengalaman hadis dari Samurah bin Jundub, disahihkan oleh at-Tirmidzi]

berbagai pendapat mengenai kapan pelaksanaan aqiqah?

Memang ada sejumlah  pendapat mengenai  kapan masa-masa  pelaksanaan akikah di samping  hari ketujuh setelah  kelahiran. Paling tidak terdapat  dua pendapat: Pertama, pendapat yang diajukan  oleh ulama madzhab Hambali yang menuliskan   bahwa pengamalan  akikah boleh pada hari ke-14, 21 atau seterusnya manakala pada hari ke-7 dari kelahiran anak, orang tuanya tidak dapat  mengakikahi. Mereka berhujah dengan hadis yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya:

  َ دين ْ عدشْ َ ى و َدْ لإدح َ وَةَ ْ  ] شْ. [رواه البيهقي َ عَعَبْرَلأَ و ٍعْبَ لدس ُحَبْذُ تُةَ قديق َعْال

Artinya: “Akikah tersebut  disembelih pada hari ketujuh dan pada hari keempat belas dan pada hari keduapuluh satu.”

[HR. al-Baihaqi]

Kedua, pendapat yang diajukan  ulama madzhab Syafi’i.

Berdasarkan keterangan dari  mereka akikah tidak bakal  gugur atau hilang penundaannya hingga  akikah tersebut  dilakasanakan, meskipun oleh dirinya sendiri. Mereka berhujah dengan hadis yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi dari Anas ra yang melafalkan  bahwa Nabi saw baru mengerjakan  akikah guna  dirinya sesudah  beliau menjadi Nabi:

  ُ الل َلََّ صَ د بِى د َ النّ َنَأ ] ة .[رواه البيهقي َوُبُ النّ َدْعَ سدهد ع ْسَ ف ْنَ ع َقَ عَ َلَسَ هد و ْيَلَ ع

Artinya: “Bahwasanya Nabi saw mengakikahkan dirinya sesudah  beliau menjadi Nabi.”

[HR. al-Baihaqi]

Akan tetapi, kedua hadis di atas diperselisihkan keotentikannya oleh semua  ulama. Hadis al-Baihaqi yang diriwayatkan dari Abdullah bin Buraidah di atas dinilai daif sebab  dalam sanadnya ada  Ismail bin Muslim al-Makky yang didaifkan oleh Ahmad, an-Nasa’i dan Abu Zur’ah. Demikian pun  hadis al-Baihaqi dari Anas ra dinilai daif sebab  pada sanadnya ada  seorang yang mempunyai  nama  Abdullah bin al-Muharrar yang ditetapkan  lemah oleh beberapa berpengalaman  hadis antara beda  oleh Ahmad, ad-Daruqutni, Ibnu Hibban dan Ibnu Ma’in (lihat kitab  Tanya Jawab Agama oleh Tim PP Muhammadiyah Majlis Tarjih, jilid IV halaman 233).

menurut imam an nawawi

Bahkan an-Nawawi menyinggung  hadis ini sebagai hadis batil sebab  al-Baihaqi meriwayatkan melewati  jalan Abdullah bin al-Muharrar dari Qatadah. Al-Baihaqi sendiri menyinggung  hadis ini sebagai hadis munkar. Oleh sebab  itu, menurut irit  kami hadis-hadis itu  tidak butuh  diamalkan. Berdasarkan keterangan  di atas, dapat diputuskan  bahwa:

  • a. Hukum akikah ialah  sunnah muakadah dan masa-masa  pelaksanaan akikah ialah  hari ketujuh dari kelahiran bayi.
  • b. Yang dituntut untuk mengemban  ibadah akikah ialah  orang tua dari bayi yang dilahirkan, sampai-sampai  seseorang tidak butuh  mengakikahi diri sendiri.

2. Mengenai pertanyaan kedua, bahwasannya  dari apa yang sudah  kami sampaikan  di atas, pertanyaan kedua bapak itu  secara tidak langsung sudah  terjawab, bahwa akikah disyariatkan pada hari ketujuh dari kelahiran bayi. Akikah terbelenggu  dengan masa-masa  kelahiran sang bayi itu  dan tidak terdapat  tuntutan akikah saat  sudah melebihi 7 hari kelahiran bayi, maupun tatkala seseorang telah  dewasa. Sementara ibadah kurban dapat dilakukan  setiap tahun sekali. Apabila kambing  sembelihan akikah dimaksud ialah  untuk akikah yang telah  lewat dari 7 hari kelahiran bayi atau guna  mengakikahi orang dewasa, betapa  baiknya bila  dianjurkan  untuk dipindahkan  niatnya sebagai kambing  kurban. Namun andai  akikah itu  memang bertepatan dengan masa-masa  penyembelihan kurban, maka tidak mengapa dilakukan  bersamaan dengan penyembelihan kurban itu. Perlu diketahui pula, tidak dibetulkan  menyatukan niat antara akikah dan kurban, yaitu  dalam satu kambing  sembelihan guna  dua niat, akikah dan kurban sekaligus. Keduanya mempunyai  ketentuan-ketentuan yang bertolak belakang  satu sama lain, baik mengenai  waktu, kriteria , dan lain-lainnya, pun  tidak terdapat  nas al-Qur’an atau hadis yang mengaku  bahwa akikah dan kurban bisa  disatukan.

baca juga yuk:

Tata cara aqiqah orang dewasa

Tata cara aqiqah untuk orang dewasa, memang perlu dikaji, melihat berapa pertanyaan yang timbul dari masyarakat, membuat kami merangkum jawaban tentang cara dan hukum aqiqah untuk orang dewasa, nanti anda akan mengetahui mengenai, cara melakukan aqiqah, kapan waktunya, dan hukum aqiqah bagi yang dewasa. semuanya akan kita bahas, untuk mempersingkat, lanjutkan membaca dari urian pertanyaan dan jawaban di bawah ini.

aqiqah orang dewasa
aqiqah orang dewasa

Pertanyaan mengenai tata cara aqiqah bagi yang sudah dewasa?

1. Ketika orang tua melahirkan  anaknya, pada saat tersebut  mereka masih dalam situasi  yang tidak cukup  mampu, jadi untuk ongkos  aqiqah tidak ada. Namun saat  anaknya telah  dewasa dan telah  berkeluarga, orang tuanya telah  dalam suasana  berkecukupan, lantas  mereka hendak  mengaqiqahi anaknya yang telah  berkeluarga tadi, apakah boleh dan bagaimana caranya?

2. Jika orang tua tadi masih dalam situasi  tidak mampu, tetapi  anak-anaknya yang telah  dewasa tadi hidup berkecukupan dan hendak  membeli domba  diatas namakan orang tuanya guna  aqiqah, apakah tersebut  diperbolehkan?

Kondisi ekonomi seseorang yang kadang tidak cukup  menentu turut mempengaruhi pelaksanaan perintah aqiqah. Mereka yang berkecukupan dan diberi kelapangan rizki tentunya hendak  segera mengemban  anjuran ini demi rasa bersyukur mereka atas lahirnya sang buah hati yang di dambakan dan dinantikan. Sebaliknya untuk  orang tua yang perekonomiannya sedang dalam masa sulit ketika  kelahiran putra atau putrinya, mereka bakal  terasa berat mengerjakan  ibadah ini.

penjelasan mudahnya seperti ini

ajakan  untuk mengemban  aqiqah oleh orang tua untuk  anaknya selesai  ketika si anak sudah  baligh. Setelah tersebut  si anak diizinkan  memilih untuk mengemban  sendiri aqiqahnya atau meninggalkannya. Dalam urusan  ini tentunya mengemban  aqiqah lebih utama sebab  akan terhindar dari pendapat ulama yang memandang  bahwa aqiqah hukumnya wajib. Uraian di atas pun  sekaligus menanggapi pertanyaan kesatu  saudara. Artinya ajakan  aqiqah yang dibebankan untuk  orang tua masa aktifnya selesai  ketika sang anak baligh.

Kalaupun orang tua masih tetap hendak  melaksanakan aqiqah guna  anaknya, maka caranya ialah  dengan menyerahkan  uang untuk  anaknya supaya  digunakan guna  membeli kambing  yang bakal  disembelih sebagai aqiqahnya. Dengan demikian niatan mulia orang tua tetap terakomodir, disamping pula ajakan  aqiqah pun  terlaksana. Selanjutnya menanggapi pertanyaan kedua, kami merujuk pada buku  al-Majmu’ karya imam Nawawi yang melafalkan  bahwa hukum aqiqah guna  orang beda  (bukan dirinya sendiri) ialah  boleh sekitar  orang yang diaqiqahi mengijinkan.

Penulis buku  menjelaskan:

فَرْعٌ-لَوْ ضَحَّى عَنْ غَيْرِهِ بِغَيْرِ إذْنِهِ لَمْ يَقَعْ عَنْهُ

Artinya; (cabang pembahasan), sekiranya  ada seseorang menyembelih kambing  (aqiqah) guna  orang beda  tanpa seizinnya, status kambing  tersebut bukan kambing  aqiqah.

Referensi diatas pun  berisi  makna  bahwa aqiqah yang dilaksanakan  oleh seseorang guna  orang beda  dapat ditetapkan  sah bilamana  mendapat persetujuan (izin) dari orang yang diaqiqahi. Demikian jawaban kami, mudah-mudahan bermanfaat. Wallahu a’lam.

tata cara dan teknis melakukan aqiqah

Tata cara untuk melakukan prosesi aqiqah pada umumnya sangat mudah, namun beberapa dari kita terkadang melupakan beberapa atau malah ada yang kelewatan dalam melakukan aqiqah. nah yuk dipahami ulang mengenai tata cara dan proses yang benar dalam melaksanakan aqiqah baik Anak Perempuan atau Laki-Laki.

tata cara aqiqah sederhana, aqiqah sesuai sunah
tata cara aqiqah sederhana, aqiqah sesuai sunah

Aqiqah adalah salah satu ajaran yang harus  dijalankan masing-masing  Muslim saat  mempunyai  anak. Anjuran mengemban  aqiqah ini cocok  sunnah Rasulullah Muhammad SAW.

Karena itu, masing-masing  Muslim harus memahami  tata cara aqiqah anak wanita  dan laki-laki cocok  sunnah Rasulullah. Di samping  itu, kamu pun  perlu memahami  masalah tata cara aqiqah orang dewasa menurut  keterangan dari  Islam.

Tata Cara Aqiqah Anak Perempuan dan Laki-laki Sesuai Sunnah

Sebelumnya, Dream telah menyatakan  pengertian aqiqah, hukum aqiqah, dan masa-masa  terbaik aqiqah. Sekarang saatnya membicarakan  tata teknik  aqiqah anak wanita  dan laki-laki cocok  sunnah.

Urutan atau tata cara aqiqah anak wanita  dan laki-laki sebetulnya  sama saja. Yang memisahkan  hanyalah jumlah domba  yang dikurbankan untuk aqiqah.

Berikut tata cara aqiqah anak wanita  dan laki-laki yang sesuai sunnah.

1. Menyembelih Kambing

Aqiqah identik dengan menyembelih kambing. Namun, di era canggih  ini, menyembelih domba  untuk aqiqah ialah  hal yang merepotkan. Karena itu, tidak sedikit  yang melakukan pembelian  masakan domba  yang telah  siap dipakai  untuk acara aqiqah anak.

Jumlah domba  yang disembelih guna  aqiqah bertolak belakang  antara anak wanita  dan laki-laki. Bagi  aqiqah anak wanita  orang tua menyiapkan satu ekor kambing. Sedangkan guna  anak laki-laki, orang tua menyembelih dua ekor kambing.

Soal jumlah domba  yang disembelih guna  aqiqah anak wanita  dan laki-laki ini telah dilafalkan  dalam hadis yang diriwayatkan Abu Dawud.

Yang artinya: Dari Ummu Kurz ia berkata, ” Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda ‘Untuk seorang anak laki-laki ialah  dua ekor domba  dan guna  akan perempuan ialah  seekor kambing. Tidak mengapa untuk  kalian apakah ia domba  jantan atau betina’.”

(HR. Abu Dawud no. 2834-2835).

Syarat domba  yang disembelih guna  aqiqah anak wanita  dan laki-laki ini sama dengan fauna  kurban. Yaitu domba  yang berkualitas, baik dari sisi  jenis sampai  usia. Kambing tersebut pun  harus bebas dari cacat dan penyakit.

Sebelum menyembelih domba  untuk aqiqah, disunnahkan untuk menyimak  doa sebagai berikut:

BISMILLAHI WA BILLAHI, ALLAHUMMA ‘AQIQATUN ‘AN FULAN BIN FULAN, LAHMUHA BILAHMIHI SI AZHMIHI, ALLAHUMMAJ’ALHA WIQAAN LIALI MUHAMMADIN ‘ALAIHI WA ALIHIS SALAM.

doa menyembelih domba untuk aqiqah,

Yang artinya: ” Dengan nama Allah serta dengan Allah, Aqiqah ini dari fulan bin fulan, dagingnya dengan dagingnya, tulangnya dengan tulangnya. Ya Allah, jadikan aqiqah ini sebagai tanda kesetiaan untuk  keluarga Muhammad SAW.”

2. Memasak Daging Aqiqah

Tata cara aqiqah selanjutnya ialah  memasak daging dari hewan yang disembelih untuk aqiqah. Soal ini, terdapat  dua pendapat ulama tentang  daging aqiqah.

Pendapat kesatu  menuliskan   usahakan  daging aqiqah dimasak terlebih dahulu lantas  dibagikan. Pendapat ke dua menganjurkan  untuk menyalurkan  daging aqiqah laksana  daging kurban, tidak dimasak terlebih dahulu.

Namun jumhur ulama lebih mengajurkan guna  memasak daging aqiqah terlebih dahulu sebelum membagikannya untuk  orang-orang. Hal tersebut  diungkapkan dalam buku  Atahzib yang ditulis Imam Al-Baghawi.

Yang artinya: ” Dianjurkan guna  tidak menyalurkan  daging fauna  aqiqah dalam suasana  mentah, akan namun  dimasak terlebih dahulu kemudian dikirimkan  kepada orang fakir dengan nampan.”

(Imam Al-Baghawi dalam buku Atahzib)

Kemudian, pendapat yang ditulis dalam buku  Al-Musfashshal fi Ahkamil Aqiqah yang artinya, ” Kebanyakan ahlul ilmi menganjurkan supaya  daging fauna  aqiqah tidak diberikan  dalam suasana  mentah, tetapi  dimasak terlebih dahulu lantas  disedekahkan pada orang fakir.”

Berdasarkan keterangan dari  hadis yang diriwayatkan al-Bayhaqi, daging aqiqah usahakan  dimasak terlebih dahulu baru dibagikan.

Yang artinya: Aisyah r.a berkata, ” Sunnahnya dua ekor domba  untuk anak laki-laki dan satu ekor domba  untuk anak perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dimakan (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh.”

(HR al-Bayhaqi)

3. Memakan Sebagian Daging Aqiqah

Dari hadis yang diriwayatkan al-Bayhaqi, telah  jelas dilafalkan  bahwa daging aqiqah beberapa  dimakan. Sedangkan sebagiannya lagi diberikan  kepada orang-orang.

Tata teknik  aqiqah menyalurkan  daging ini nyaris  sama dengan daging kurban. Sebagian daging aqiqah diserahkan  kepada family  Muslim yang mengemban  aqiqah. Sementara sisanya dapat diberikan  kepada tetangga ataupun fakir miskin.

4. Mencukur Rambut dan Memberikan Nama Saat Aqiqah

Tata cara aqiqah berikutnya ialah  mencukur rambut bayi yang baru bermunculan  dan menyerahkan  nama kepadanya. Dalam tata teknik  aqiqah menurut  keterangan dari  Islam, orang tua menyerahkan  nama yang baik untuk  anak yang baru lahir.

Memberikan nama yang baik menggambarkan  bagaimana akhlak dan imannya nanti untuk  Allah SWT. Hukum memotong  rambut bayi saat mengerjakan  aqiqah menurut  keterangan dari  pendapat yang kuat di kalangan ulama ialah  sunnah.

5. Mendoakan Bayi Saat Aqiqah

Tata cara aqiqah anak selanjutnya ialah  mendoakan bayi yang baru lahir. Berikut ialah  bacaan doa yang usahakan  dibacakan  untuk bayi yang baru lahir.

” U’IIDZUKA BI KALIMAATILLAAHIT TAMMAATI MIN KULLI SYAITHOONI WA HAAMMAH. WA MIN KULLI ‘AININ LAAMMAH.”

Yang artinya: ” Saya perlindungkan engkau, wahai bayi, dengan kalimat Allah yang Perkasa, dari tiap-tiap godaan syaitan, serta tiap-tiap pandangan yang sarat  kebencian.”

Pembagian Daging Aqiqah

Jika kualifikasi hewan aqiqah dengan qurban harus sama dari sisi  fisik dan kesehatannya, tetapi  ada perbedaan dari pembagian daging aqiqah dengan daging kurban.

Daging aqiqah diberikan  dalam situasi  yang sudah  dimasak dan matang, sementara  kita ketahui bahwa pembagian daging kurban yang biasa diberikan  pada Idul Adha ialah  dalam situasi  mentah. Bagi  keluarga, menurut  keterangan dari  ulama jumlah maksimal daging yang dapat  diambil yakni  sepertiganya.

“Hendaklah hasil sembelihan fauna  aqiqah tidak disedekahkan mentahan, tetapi  dalam suasana  sudah dimasak. Inilah yang lebih tepat. Lebih baik lagi andai  dihidangkan dengan bumbu manis menurut  keterangan dari  pendapat yang lebih tepat.”

(Kifayatul Akhyar, hal. 706)

Demikianlah tata cara aqiqah anak wanita  dan laki-laki cocok  sunnah yang usahakan  dipelajari dan dilaksanakan. Dari uraian diatas saya ucapkan  lagi bahwa aqiqah ialah  ibadah yang sangat disarankan  untuk bayi yang baru lahir. Waktu utama pengamalan  aqiqah yakni  hari ketujuh sesudah  kelahiran bayi, beberapa  ulama mengizinkan  untuk pelaksanaannya pada hari ke-14 (dua minggu sesudah  kelahiran bayi). Bila di hari ke-14 masih belum dapat  juga, maka pelaksanaannya dapat  di hari ke-21.

Hewan aqiqah memakai  dua ekor kambing/domba untuk anak laki-laki, sementara  anak perempuan memakai  satu ekor saja. Hal itu  senada dengan hukum waris, dimana anak laki-laki berhak mewarisi harta orang tuanya dua bagian, sementara  anak wanita  satu bagian.

baca juga yuk:

Tata cara aqiqah sederhana dan mudah di pahami.

Tata cara untuk melakukan prosesi aqiqah pada umumnya sangat mudah, namun beberapa dari kita terkadang melupakan beberapa atau malah ada yang kelewatan dalam melakukan aqiqah. nah yuk dipahami ulang mengenai tata cara dan proses yang benar dalam melaksanakan aqiqah baik Anak Perempuan atau Laki-Laki.

tata cara aqiqah sederhana, aqiqah sesuai sunah
tata cara aqiqah sederhana, aqiqah sesuai sunah

Aqiqah adalah salah satu ajaran yang harus  dijalankan masing-masing  Muslim saat  mempunyai  anak. Anjuran mengemban  aqiqah ini cocok  sunnah Rasulullah Muhammad SAW.

Karena itu, masing-masing  Muslim harus memahami  tata cara aqiqah anak wanita  dan laki-laki cocok  sunnah Rasulullah. Di samping  itu, kamu pun  perlu memahami  masalah tata cara aqiqah orang dewasa menurut  keterangan dari  Islam.

Tata Cara Aqiqah Anak Perempuan dan Laki-laki Sesuai Sunnah

Sebelumnya, Dream telah menyatakan  pengertian aqiqah, hukum aqiqah, dan masa-masa  terbaik aqiqah. Sekarang saatnya membicarakan  tata teknik  aqiqah anak wanita  dan laki-laki cocok  sunnah.

Urutan atau tata cara aqiqah anak wanita  dan laki-laki sebetulnya  sama saja. Yang memisahkan  hanyalah jumlah domba  yang dikurbankan untuk aqiqah.

Berikut tata cara aqiqah anak wanita  dan laki-laki yang sesuai sunnah.

1. Menyembelih Kambing

Aqiqah identik dengan menyembelih kambing. Namun, di era canggih  ini, menyembelih domba  untuk aqiqah ialah  hal yang merepotkan. Karena itu, tidak sedikit  yang melakukan pembelian  masakan domba  yang telah  siap dipakai  untuk acara aqiqah anak.

Jumlah domba  yang disembelih guna  aqiqah bertolak belakang  antara anak wanita  dan laki-laki. Bagi  aqiqah anak wanita  orang tua menyiapkan satu ekor kambing. Sedangkan guna  anak laki-laki, orang tua menyembelih dua ekor kambing.

Soal jumlah domba  yang disembelih guna  aqiqah anak wanita  dan laki-laki ini telah dilafalkan  dalam hadis yang diriwayatkan Abu Dawud.

Yang artinya: Dari Ummu Kurz ia berkata, ” Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda ‘Untuk seorang anak laki-laki ialah  dua ekor domba  dan guna  akan perempuan ialah  seekor kambing. Tidak mengapa untuk  kalian apakah ia domba  jantan atau betina’.”

(HR. Abu Dawud no. 2834-2835).

Syarat domba  yang disembelih guna  aqiqah anak wanita  dan laki-laki ini sama dengan fauna  kurban. Yaitu domba  yang berkualitas, baik dari sisi  jenis sampai  usia. Kambing tersebut pun  harus bebas dari cacat dan penyakit.

Sebelum menyembelih domba  untuk aqiqah, disunnahkan untuk menyimak  doa sebagai berikut:

BISMILLAHI WA BILLAHI, ALLAHUMMA ‘AQIQATUN ‘AN FULAN BIN FULAN, LAHMUHA BILAHMIHI SI AZHMIHI, ALLAHUMMAJ’ALHA WIQAAN LIALI MUHAMMADIN ‘ALAIHI WA ALIHIS SALAM.

doa menyembelih domba untuk aqiqah,

Yang artinya: ” Dengan nama Allah serta dengan Allah, Aqiqah ini dari fulan bin fulan, dagingnya dengan dagingnya, tulangnya dengan tulangnya. Ya Allah, jadikan aqiqah ini sebagai tanda kesetiaan untuk  keluarga Muhammad SAW.”

2. Memasak Daging Aqiqah

Tata cara aqiqah selanjutnya ialah  memasak daging dari hewan yang disembelih untuk aqiqah. Soal ini, terdapat  dua pendapat ulama tentang  daging aqiqah.

Pendapat kesatu  menuliskan   usahakan  daging aqiqah dimasak terlebih dahulu lantas  dibagikan. Pendapat ke dua menganjurkan  untuk menyalurkan  daging aqiqah laksana  daging kurban, tidak dimasak terlebih dahulu.

Namun jumhur ulama lebih mengajurkan guna  memasak daging aqiqah terlebih dahulu sebelum membagikannya untuk  orang-orang. Hal tersebut  diungkapkan dalam buku  Atahzib yang ditulis Imam Al-Baghawi.

Yang artinya: ” Dianjurkan guna  tidak menyalurkan  daging fauna  aqiqah dalam suasana  mentah, akan namun  dimasak terlebih dahulu kemudian dikirimkan  kepada orang fakir dengan nampan.”

(Imam Al-Baghawi dalam buku Atahzib)

Kemudian, pendapat yang ditulis dalam buku  Al-Musfashshal fi Ahkamil Aqiqah yang artinya, ” Kebanyakan ahlul ilmi menganjurkan supaya  daging fauna  aqiqah tidak diberikan  dalam suasana  mentah, tetapi  dimasak terlebih dahulu lantas  disedekahkan pada orang fakir.”

Berdasarkan keterangan dari  hadis yang diriwayatkan al-Bayhaqi, daging aqiqah usahakan  dimasak terlebih dahulu baru dibagikan.

Yang artinya: Aisyah r.a berkata, ” Sunnahnya dua ekor domba  untuk anak laki-laki dan satu ekor domba  untuk anak perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dimakan (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh.”

(HR al-Bayhaqi)

3. Memakan Sebagian Daging Aqiqah

Dari hadis yang diriwayatkan al-Bayhaqi, telah  jelas dilafalkan  bahwa daging aqiqah beberapa  dimakan. Sedangkan sebagiannya lagi diberikan  kepada orang-orang.

Tata teknik  aqiqah menyalurkan  daging ini nyaris  sama dengan daging kurban. Sebagian daging aqiqah diserahkan  kepada family  Muslim yang mengemban  aqiqah. Sementara sisanya dapat diberikan  kepada tetangga ataupun fakir miskin.

4. Mencukur Rambut dan Memberikan Nama Saat Aqiqah

Tata cara aqiqah berikutnya ialah  mencukur rambut bayi yang baru bermunculan  dan menyerahkan  nama kepadanya. Dalam tata teknik  aqiqah menurut  keterangan dari  Islam, orang tua menyerahkan  nama yang baik untuk  anak yang baru lahir.

Memberikan nama yang baik menggambarkan  bagaimana akhlak dan imannya nanti untuk  Allah SWT. Hukum memotong  rambut bayi saat mengerjakan  aqiqah menurut  keterangan dari  pendapat yang kuat di kalangan ulama ialah  sunnah.

5. Mendoakan Bayi Saat Aqiqah

Tata cara aqiqah anak selanjutnya ialah  mendoakan bayi yang baru lahir. Berikut ialah  bacaan doa yang usahakan  dibacakan  untuk bayi yang baru lahir.

” U’IIDZUKA BI KALIMAATILLAAHIT TAMMAATI MIN KULLI SYAITHOONI WA HAAMMAH. WA MIN KULLI ‘AININ LAAMMAH.”

Yang artinya: ” Saya perlindungkan engkau, wahai bayi, dengan kalimat Allah yang Perkasa, dari tiap-tiap godaan syaitan, serta tiap-tiap pandangan yang sarat  kebencian.”

Pembagian Daging Aqiqah

Jika kualifikasi hewan aqiqah dengan qurban harus sama dari sisi  fisik dan kesehatannya, tetapi  ada perbedaan dari pembagian daging aqiqah dengan daging kurban.

Daging aqiqah diberikan  dalam situasi  yang sudah  dimasak dan matang, sementara  kita ketahui bahwa pembagian daging kurban yang biasa diberikan  pada Idul Adha ialah  dalam situasi  mentah. Bagi  keluarga, menurut  keterangan dari  ulama jumlah maksimal daging yang dapat  diambil yakni  sepertiganya.

“Hendaklah hasil sembelihan fauna  aqiqah tidak disedekahkan mentahan, tetapi  dalam suasana  sudah dimasak. Inilah yang lebih tepat. Lebih baik lagi andai  dihidangkan dengan bumbu manis menurut  keterangan dari  pendapat yang lebih tepat.”

(Kifayatul Akhyar, hal. 706)

Demikianlah tata cara aqiqah anak wanita  dan laki-laki cocok  sunnah yang usahakan  dipelajari dan dilaksanakan. Dari uraian diatas saya ucapkan  lagi bahwa aqiqah ialah  ibadah yang sangat disarankan  untuk bayi yang baru lahir. Waktu utama pengamalan  aqiqah yakni  hari ketujuh sesudah  kelahiran bayi, beberapa  ulama mengizinkan  untuk pelaksanaannya pada hari ke-14 (dua minggu sesudah  kelahiran bayi). Bila di hari ke-14 masih belum dapat  juga, maka pelaksanaannya dapat  di hari ke-21.

Hewan aqiqah memakai  dua ekor kambing/domba untuk anak laki-laki, sementara  anak perempuan memakai  satu ekor saja. Hal itu  senada dengan hukum waris, dimana anak laki-laki berhak mewarisi harta orang tuanya dua bagian, sementara  anak wanita  satu bagian.

baca juga yuk:

syarat dan waktu aqiqah, kajian fiqih

syarat dan waktu aqiqah, pembahasan lengkap mengenai kriteria  aqiqah baik laki-laki ataupun perempuan. Syarat dan peraturan  tersebut diantaranya yaitu, masa-masa  aqiqah,  hewan.  aqiqah (umur, jenis kelamin jantan atau betina pun  kondisi fisik) dan kapan waktu aqiqah yang terlengkap

syarat dan waktu aqiqah dalam kajian fiqih islam
syarat dan waktu aqiqah dalam kajian fiqih islam

Bagaimana Syarat Aqiqah Anak Laki-Laki dan Perempuan?

Syarat-syarat aqiqah untuk anak laki-laki dan anak perempuan harus cocok  dengan peraturan  syariat menurut peraturan  islam. Hal itu  mempunyai  tujuan agar  ibadah aqiqah anda  diterima oleh Allah. Terlebih lagi, aqiqah ialah  salah satu ibadah yang pelaksanaannya sekali seumur hidup.

Syarat Aqiqah Anak Laki-Laki dan Perempuan dalam Hadist

Syarat aqiqah anak laki-laki dan perempuan dalam hadist sahih yang berkata  mengenai masa-masa  pelaksanaan aqiqah untuk anak atau bayi yang baru lahir ialah  sebagai berikut:

Dari Samurah bin Jundub dia berkata: Rasulullah SAW. bersabda:

“Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih  hewan.  (kambing), diberi nama dan dipotong  rambutnya.”

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW pernah ber aqiqah guna  Hasan dan Husain pada hari ke-7 dari kelahirannya, beliau memberi nama dan menyuruh  supaya dihilangkan dari kotoran dari kepalanya (dicukur).

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata: Rasulullah bersabda: “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua domba  yang sama dan bayi wanita  satu kambing“.

[HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah]

Penyembelihan hewan sehubungan  dengan kelahiran anak atau aqiqah cocok  dengan hadist itu  disyariatkan untuk dilaksanakan  pada hari ketujuh kelahiran anak.

Hukum aqiqah guna  orang tua yang baru melahirkan  anaknya ialah  sunnah muakad, walaupun demikian, kriteria  dan peraturan  aqiqah menjadi bagian penting dalam syariat Islam.

bagaimana Syarat Ketentuan Pemotongan Rambut Bayi dan Pemberian Nama?

Sesuai sunnah, memotong  rambut bayi dilaksanakan  di hari ketujuh atau semingggu sesudah  kelahiran bayi. Berdasarkan hadis dari Salman bin Amir Ad-Dhabbi radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْغُلَامُ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ يُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ وَيُسَمَّى وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ

“Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, disembelih di hari ketujuh, diberi nama, dan dipotong  kepalanya.“

[HR. Nasa’i 4149, Abu Daud 2837, Tirmidzi 1522, dan dishahihkan Al-Albani]

Mayoritas ulama, yakni  malikiyah, Syafiiyah, dan Hambali, berasumsi  bahwa disarankan  mencukur kepala bayi pada hari ketujuh, dan bersedekah seberat rambut berupa emas atau perak menurut  keterangan dari  Malikiyah dan Syafiiyah, dan berupa perak saja menurut  keterangan dari  hambali. Jika tidak dipotong  maka beratnya dikira-kira beratnya, dan sedekah dengan perak seberat itu. Mencukur rambut dilaksanakan  setelah menyembelih aqiqah.

Jumlah dan Jenis Kelamin (Jantan atau Betina)

Sudah jelas bahwa guna  jumlah  hewan.  yang dipakai  untuk aqiqah ialah  dua ekor domba  untuk anak laki-laki, sementara  untuk anak perempuan ialah  satu ekor kambing.

Meskipun anak laki-laki dan anak wanita  sama-sama mahkluk ciptaan Allah, namun, terdapat  perbedaan tentang  jumlah  hewan.  yang dipakai  untuk aqiqah.

Hal itu  senada dengan hukum waris, dimana anak laki-laki berhak mewarisi harta orang tuanya dua bagian, sementara  anak wanita  satu bagian.

Mengenai jenis kelamin  hewan.  (jantan atau betina), bahwa tidak disyariatkan dalam domba  aqiqah me sti jantan atau betina. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عن الغلام شاتان وعن الجارية شاة لايضركم أذكرانا كن أم إناثا

“Untuk anak laki-laki dua kambing, dan guna  anak wanita  satu kambing, dan tidak memudharati kalian apakah kambing-kambing itu  jantan atau betina.”

[HR. Ashhabus Sunan, dan dishahihkan Syeikh Al-Albany

Pendapat mengenai waktu aqiqah.

pengamalan  aqiqah tepat sesudah  bayi didilahirkan  dan tidak me sti menantikan  sampai hari ke-7. itu menurut  Sya fiiyah dan Hanabilah. Tapi mereka tidak membolehkan sebelum bayi dilahirkan. Maka, andai  penyembelihan dilaksanakan  sebelum kelahiran bayi, dirasakan  sebagai sembelihan biasa dan bukan aqiqah. Hal ini didasari atas suatu karena  yaitu kelahiran. Maka andai  bayi telah  terlahir aqiqah boleh dilaksanakan.

Sedangkan pendapat yang terakhir  baru membolehkan pengamalan  aqiqah pada hari ke-7 pasca kelahiran. itu menurut Hanafiyah dan Malikiyah. Dan aqiqah tidak sah (dianggap sembelihan biasa) bila  dilakukan  sebelumnya.

Kapan waktu aqiqah ditentukan dan apakah ada batasanya?

1. waktu aqiqah Hari ke-7

Kalangan Malikiyah berasumsi  bahwa masa-masa  aqiqah melulu  sampai hari ke-7 pasca kelahiran. Jika hari ke-7 sudah selesai  maka ibadah aqiqah telah  tidak lagi berlaku.

2. Aqiqah Sampai anak umur  baligh

Sedangkan Syafi’iyah, mereka membolehkan untuk  orang tua melasanakan aqiqah anaknya sampai  dia masuk umur  baligh. Ini yang mustahabb. Maka saat  telah masuk umur  baligh, orang tua bukan lagi  terbebani ibadah ini. Akan namun  anak itulah yang akan mengemban  aqiqahnya sendiri andai  mampu. Demikian yang diriwayatkan dalam suatu  hadits, bahwa Rasulallah meng-aqiqahi dirinya sendiri saat  beliau telah  menjadi nabi.

Al-Imam an-Nawawi di dalam kitabnya Syarhu al-Muhadzab, mengatakan andai  hadits mengenai  aqiqahnya Nabi guna  dirinya sendiri tersebut  adalah hadits bathil.

Batasan waktu aqiqah menurut ulama madzhab?

Para ulama bertolak belakang  pandangan tentang  batas akhir waktu guna  aqiqah. Sebagai muslim, tentu susah  untuk dapat  memahami batasan peraturan  waktu guna  aqiqah.

Maka dari tersebut  mari anda  simak pandangan-pandangan semua  ulama jumhur di bawah ini:

  1. Syafi’iyah dan Hambali

Beberapa pandangan ulama madzhab Syafi’iyah dan Hambali mengenai  waktu aqiqah yaitu dibuka  dari kelahiran sang bayi. Mereka berasumsi  bahwa hukumnya tersebut  tidak sah bilamana  aqiqah dilakukan  sebelum bayi lahir. Memotong kambing  sebelum bayi bermunculan  maka dirasakan  sebagai sembelihan biasa.

Ulama dari kalangan Syafi’iyah berasumsi  bahwa masa-masa  aqiqah dapat  diperpanjang. Meski begitu, kerjakan  aqiqah sebelum anak baligh (dewasa). Karena bila   baligh belum pun  diaqiqahi, maka aqiqahnya telah  gugur.

Orang yang baligh boleh mengaqiqahi diri sendiri. Karena Ulama Syafi’iyah berpandangan bahwa aqiqah tersebut  kewajiban sang ayah.

Sementara semua  ulama kalangan Hambali berpandangan bahwa andai  aqiqah tidak bisa  hari ke-7, maka disunnahkan dan boleh hari ke-14, hari ke-21 dan seterusnya.

2. Hanafiyah dan Malikiyah

Sementara tersebut  para ulama madzhab Hanafiyah dan Malikiyah berpandangan bahwa masa-masa  aqiqah sangat  sunnah ialah  pada hari ketujuh dan jangan  sebelumnya.

Ulama Malikiyah pun memberi batas  bahwa masa-masa  aqiqah sesudah  hari ke-7 dirasakan  sudah gugur.

3. Ulama Indonesia

Mayoritas Ulama di Indonesia bermadzab Imam Syafi’i, baik Muhammadiyah maupun NU (Nahdhatul Ulama). Karenanya, tidak sedikit  tidak heran bila   masyarakat anda  merayakan syukuran aqiqah sesudah  sesudah dewasa. Alasannya sebab  waktu kecil belum aqiqah.

kapan waktu aqiqah untuk Anak, agar bisa mengaqiqahi dirinya sendiri?

Ulama yang membolehkan untuk  anak guna  meng-aqiqahi dirinya sendiri andai  mampu dengan keumuman hadits,

كُلُّ غُلَامٍ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ، تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ، وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ، وَيُسَمَّى

Artinya: “Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, maka disembelihkan kambing  untuknya pada hari ke-7, dipotong  rambutnya, dan diberi nama”

(HR.Ibn Majah)

Kata tergadai (مُرْتَهَنٌ) berarti me sti dilakukan  dan dibayar  kapan juga  dan oleh siapapun. Jika masih hari ke-7 atau sebelum baligh, maka menjadi tanggungan orang tua. Namun andai  sudah lewat, maka boleh dilakukan  oleh siapapun temasuk oleh anak tersebut  sendiri, andai  dia mampu. Kata ‘boleh’ dalam urusan  ini bukan berati sunnah.

kapan Waktu aqiqah yang baik untuk dilaksanakan?

Sebagaimana pendapat di atas, Sementara tersebut  menyimak ulasan  dari Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal dari Rumaysho menyerahkan  rekomendasi bahwa usahakan  aqiqah dilakukan  tepat hari ke-7.

Beliau beralasan, “lebih baik berpegang dengan masa-masa  aqiqah yang disepakati oleh semua  ulama yakni  hari ke tujuh”.

Adapun mengenai  waktu aqiqahan di hari ke-14, 21 dan seterusnya semacam ini har us terdapat  dalilnya.

Aqiqah disunnahkan dilakukan  pada hari ketujuh. Hal ini menurut  hadits,

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى »

Dari Samuroh bin Jundub, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, digundul rambutnya dan diberi nama.”

(HR. Abu Daud no. 2838, An Nasai no. 4220, Ibnu Majah nol. 3165, Ahmad 5/12. Syaikh Al Albani menuliskan   bahwa hadits ini shahih)

Apa hikmah aqiqah dilakukan  pada hari ketujuh?

Murid Asy Syaukani, Shidiq Hasan Khon rahimahullah menerangkan, “Sudah semestinya terdapat  selang masa-masa  antara kelahiran dan masa-masa  aqiqah. Pada mula  kelahiran pasti  saja family  disibukkan guna  merawat si ibu dan bayi. Sehingga saat  itu, janganlah mereka diberi beban  lagi dengan kegiatan  yang lain. Dan pasti  ketika tersebut  mencari domba  juga perlu  usaha. Seandainya aqiqah disyariatkan di hari kesatu  kelahiran sungguh ini paling  menyulitkan. Hari ketujuhlah hari yang lumayan  lapang guna  pelaksanaan aqiqah.”

dimulai dari kapan penghitungan waktu aqiqah?

Disebutkan dalam Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah,

وذهب جمهور الفقهاء إلى أنّ يوم الولادة يحسب من السّبعة ، ولا تحسب اللّيلة إن ولد ليلاً ، بل يحسب اليوم الّذي يليها

“Mayoritas ulama pakar fiqih berpandangan bahwa masa-masa  siang[2] pada hari kelahiran ialah  awal hitungan tujuh hari. Sedangkan masa-masa  malam[3] tidaklah jadi hitungan andai  bayi tersebut didilahirkan  malam, tetapi  yang jadi hitungan hari berikutnya.”[4] Barangkali yang dijadikan dalil ialah  hadits inilah  ini,

تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ

“Disembelih baginya pada hari ketujuh.” Hari yang dimaksudkan ialah  siang hari.

Misalnya terdapat  bayi yang bermunculan  pada hari Senin (21/06), pukul enam pagi, maka hitungan hari ketujuh telah  mulai dihitung pada hari Senin. Sehingga aqiqah bayi tersebut dilakukan  pada hari Ahad (27/06).

Jika bayi itu  lahir pada hari Senin (21/06), pukul enam sore, maka hitungan tadinya  tidak dibuka  dari hari Senin, tetapi  dari hari Selasa keesokan harinya. Sehingga aqiqah bayi itu  pada hari Senin (28/06). Semoga dapat  memahami misal  yang diserahkan  ini.

Cara menghitung waktu aqiqah atau hari aqiqah anak.

Anda dapat  menghitung masa-masa  aqiqah semenjak  bayi dilahirkan. Gunakanlah perhitungan kalender hijriah.

Contohnya andai  ada bayi bermunculan  pada hari Rabu pukul enam pagi (06.00 WIB), maka hitungan hari ketujuh sudah semenjak  hari Rabu tersebut. Maka pengamalan  aqiqah bayi itu  yaitu hari Selasa.

Contoh lainnya andai  bayi bermunculan  hari Rabu pukul enam senja  (18.00 WIB), maka hitungannya bukan Rabu, namun  masuk hari Kamis keesokan harinya. Pelaksanaan aqiqah bayi tersebut ialah  pada hari Rabu.

تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ

“Disembelih baginya pada hari ketujuh.” Hari yang dimaksudkan ialah  siang hari.

Adanya jangka masa-masa  aqiqah dari sesudah  kelahiran bahwasannya  berisi  hikmah. Pada ketika  bayi baru lahir, keluarga tentu  disibukkan dengan pengurusan bayi pun  ibunya. Maka dari tersebut  perlu ada masa-masa  persiapan sebelum syukuran aqiqah dan ini menjadi keutamaan dan ibrah masa-masa  aqiqah.

Bagaimana andai  waktu aqiqah tidak dapat  dilaksanakan pada hari ketujuh?

Dalam masalah ini ada  silang pendapat salah satu  para ulama. Berdasarkan keterangan dari  ulama Syafi’iyah dan Hambali, masa-masa  aqiqah dibuka  dari kelahiran. Tidak sah aqiqah sebelumnya dan cuma dirasakan  sembelihan biasa.

Berdasarkan keterangan dari  ulama Hanafiyah dan Malikiyah, masa-masa  aqiqah ialah  pada hari ketujuh dan jangan  sebelumnya.

Ulama Malikiyah pun memberi batas  bahwa aqiqah telah  gugur sesudah  hari ketujuh. Sedangkan ulama Syafi’iyah membolehkan aqiqah sebelum umur  baligh, dan ini menjadi keharusan  sang ayah.

Sedangkan ulama Hambali berasumsi  bahwa andai  aqiqah tidak dilakukan  pada hari ketujuh, maka disunnahkan dilakukan  pada hari keempatbelas. Jika tidak sempat lagi pada hari tersebut, boleh dilakukan  pada hari keduapuluh satu. Sebagaimana urusan  ini diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Adapun ulama Syafi’iyah berasumsi  bahwa aqiqah tidaklah dirasakan  luput andai  diakhirkan waktunya. Akan tetapi, disarankan  aqiqah tidaklah diakhirkan sampai  usia baligh. Jika sudah  baligh belum pun  diaqiqahi, maka aqiqahnya tersebut  gugur dan si anak boleh memilih guna  mengaqiqahi dirinya sendiri.

bagaimana kesimpulanya?

Dari perbedaan pendapat di atas, pengarang  sarankan supaya  aqiqah dilakukan  pada hari ketujuh, tidak sebelum atau sesudahnya. Lebih baik berpegang dengan masa-masa  yang disepakati oleh semua  ulama.

Adapun menyatakan dipindahkan  pada hari ke-14, 21 dan seterusnya, maka penentuan tanggal semacam ini me sti perlu  dalil.

Sedangkan mengaku  bahwa aqiqah boleh dilaksanakan  oleh anak tersebut  sendiri saat  ia telah  dewasa sedang ia belum diaqiqahi, maka andai  ini berdalil dengan tindakan  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disebutkan  mengaqiqahi dirinya saat  dewasa, tidaklah tepat. Alasannya, sebab  riwayat yang melafalkan  semacam ini lemah dari masing-masing  jalan. Imam Asy Syafi’i sendiri mengaku  bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mengaqiqahi dirinya sendiri (ketika dewasa) sebagaimana dilafalkan  dalam salah satu buku  fiqih Syafi’iyah Kifayatul Akhyar. Wallahu a’lam.

baca juga:

FILOSOFI AQIQAH, PENDAPAT AHLI FIQIH DAN ULAMA. OLEH DOSEN UIN MAKASAR.

Kajian dalam masalah folosofi aqiqah dan udhiyah (perspekif alqur’an dan sunnah). oleh hj. nurnaningsih fakultas syari’ah dan hukum universitas islam negeri (UIN) Alauddin Makasar

filosofi aqiqah, hukum akikah
filosofi aqiqah dan hukum aqiqah

Bagaimana filosofi aqiqah menurut pandangan Al qur’an, As-Sunnah dan ijma?

Berdasarkan Al qur’an, As-Sunnah dan ijma’ bila   seorang insan  lahir baik laki-laki maupun permpuan, maka di- syari’atkan untuk  orang tuanya guna  melaksanakan aqiqah cocok  dengan kriteria  peraturan  yang sudah  ditetapkan,demikian pula untuk  muslim muslimah yang terpapar  syarat untuk mengerjakan  sembelihan/Qurban pada hari-hari tasyrik di bulan zulhijjah serta untuk  umat Islam yang sedang melaksanakan ibadah haji.

contoh  dalam format  “Dam” . Syari’at tersebut paling  jelas alasan  dan hukumnya tetapi  sebagian umat Islam masih ada  kalangan personil yang sudah lumayan  memenuhi kriteria  untuk mengerjakan  sembelihan/qurban/aqiqah akan namun  baik disengaja maupun memandang  remeh dengan berbagai dalil  sehingga perintah menyalurkan  darah hewan  tidak bisa  dilaksanakan. Disisi beda  masih terpengaruh dengan pemahaman antara me sti  dengan sunnah pengamalan  Aqiqah udhiyah sampai-sampai  sebagian kaum muslimin tidak mempunyai  keseriusan guna  melaksanakannya.

Bagaimana mengenai pandangan melaksanakan filosofi aqiqah?

Dalam pembahasan mengenai folosofi aqiqah ini. Terdaapat pandaangan yang pelbagai  tentang aqiqah dan udhiyah baik dari segi: Kemampuan, masa-masa  pelaksanaannya serta macam dan umur untuk  binatang yang bisa  menjadi “Binatang Sembelihan” Para Ulama/Muballigh tidak henti- hentinya menyerukan perlunya melaksana- kan perintah aqiqah/udhiyah terutama untuk  muslim dan muslimah yang nyata-nyata telah  memilki keterampilan  secara material, namun keterampilan  untuk merintangi  pengaruh syetan yang senantiasa menggagu cocok  dengan kissah kronologis dari Penghulu anda  Ibrahim,

1. Bagaimana pandangan Fuqaha tentang: folosofi aqiqah, Udhiyah /Qurban?

Folosofi aqiqah secara bahasa ialah  rambut yang berada pada kepala bayi, yang beberapa  pandangan meng- anggap najis yang perlu dimurnikan  pada masa usia  tujuh hari, terdapat  yang ber- pendapat sembilan bahkan sebelas hari.

Berhubung KAMBING  sembelihan yang diper- untukkan untuk  anak laki-laki bertolak belakang  dengan jumlah yang diperuntukkan untuk  anak perempuan. Sebagaimana yang sudah  menjadi warisan budaya untuk  bangsa arab sebagai latar/utama pengamalan  syari’at ini, maka dilakukanlah sembelihan hewan  yang bertepatan dengan tujuh hari dari ke- lahirannya dan sekaligus dilaksanakan  pen- cukuran rambut dan pemberian nama untuk  anak yang lahir. Adapun folosofi aqiqah secara istilah antara beda  yang diajukan  oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya Tuhfatul Maudud, bahwa imam Jauhari berkata: Aqiqah ialah  menyembeli KAMBING  pada hari ketujuhnya dan memotong  rambutnya, selanjutnya Ibnul Qayyim menuliskan   dari penjelasan  tersebut jelaslah baha aqiqah itu diterangkan  demikian sebab  berisi  dua unsure diatas dan ini lebih utama

Bagaimana Pandangan ahli fiqih mengenai folosofi aqiqah?

Pandangan Fuqoha mengenai  disyariat- kannya Aqiqah Para Fuqaha bertolak belakang  pendapat ten- tang persoalan  hukum Aqiqah. Per- bedaan mereka disebabkan  berangkat dari pemahaman terhadap beberaa hadis yang berbeda. Mazhab Hanafiyah menuliskan   bahwa hukum aqiqah ialah  cuma mubah saja. Umat Islam bebas diperkenankan untuk mengerjakan  dan meninggalkan ritual aqiqah ini. Dasar dari pendapat mereka ialah  sebuah atsar (perkataan) sayidah Aisyah.

قبلها كاننبح كلاالضحية نسخت

Artinya: Pensyariatan kurbah telah mencatat  dan mengamandemen semua format  ibadah persembelihan sebelumnya.

baca juga:

Suatu urusan  yang tentu  bahwa saidah Aisyah menuliskan   demikian ialah  bukan dari kegiatan  ijtihad (penggalian hukum sendiri) yang dilaksanakan  oleh beliau, akan namun  memang terdapat  interaksi dan mendengar langsung dari Rasulullah Saw. Karena proses nasakh (amandemen hukum) tidak dapat  dilakukan dengan ijtihad, tetapi  harus ada ajaran  langsung dari nas dari al quran dan Hadis. Sedangkan beberapa  besar  para ulama berasumsi  bahwa untuk  seorang ayah atau orang yang keharusan  memberikan nafkah disunahkan menyembelih KAMBING  aqiqah guna  bayi yang baru lahir. Karena ada suatu  riwayat dari Ibnu Abas:

كبشاكبشاالسالم عليهما احلسنيو احلسن عن عق

Artinya: Rasulullah telah mengerjakan  ibadah ritual aqiqah dengan menyembelih domba  untuk setiap  Hasan dan Husain a.s.

Dan sabda Rasulullah:

فيو ويسم سابعو يوم عنو تنبو بعقيقتو رىينة غالم كل اسور وحيلق

Artinya: “Setiap anak tersebut  digadaikan dengan aqiqahnya, yang disembelih untuknya pada hari ketujuh kelahiran, dengan memberikannya suatu  nama, dan memotong  rambut kepalanya”.

Serta sabda Rasulullah yang pun  menganjurkan Aqiqah ialah:

يفعل عنهفل اينسك حب فا لدو لو لدو من

Artinya: Barang siapa yang dikaruniai seorang anak, kemudian  ia menyenangi  untuk mem- baktikannya (mengAqiqahinya), maka hendaklah ia melakukaknnya.

Pendapat sejumlah  ulama bahwa hukum aqiqah ialah  sunnah muakkad. Aqiqah untuk  anak laki-laki dengan dua ekor kambing, sedangkan untuk  wanita dengan seekor kambing. Apabila mencukupkan diri dengan seekor kambing untuk  anak laki-laki, tersebut  juga diperbolehkan. Anjuran aqiqah ini menjadikan keharusan  ayah (yang menang- gung nafkan anak). Apabila saat  waktu dianjurkanya aqiqah (misalnya tujuh hari kelahiran), orang tua dalam suasana  fakir (tidak mampu), maka ia tidak diperintahkan guna  aqiqah.

Bagaimana Ulama yang mengharuskan  aqiqah?

para ulama yang me- wajibkan aqiqah, merupakan   Imam Al-Hasan Al- Basri, Al-Lits Ibnu Sa’ad dan lain-lain. Mereka berargumentasi dengan hadis yang diriwayatkan Muraidah dan Ishaq bin Ruhawiyah:

كماالعقيقة علي القيامة يوم يعرضون الناس ان اخلمس اتوالصل علي يعرضون

Artinya: sesungguhnya insan  pada hari kiamat nanti bakal  dimintai pertanggung- jawabnnya atas aqiqah, sebagaimana bakal  dimintai pertanggungjawabannya atas shalat-shalat lima waktu. Adapula pendapat yang tidak mengizinkan  bahwa Aqiqah tersebut  disyariatkan, mereka ialah  ahli fiqih Hanafiyah. Argument yang dikemukakan ialah  hadis yang diriwayat- kan Al-Baihaqi dari Amr bin Syuaib dari bapaknya dari kakeknya bahwa Rasulullah saw, ditanya mengenai  aqiqah, beliau men- jawab: .بعقيقتو هتنرم غالم كل Mereka pun  berargumentasi dengan hadis yang diriwaatkan oleh Imam Ahmad dari Abi Rafi’ ra, bahwa saat  ibu Al- Hasan bin Ali, Fatimah ra hendak  meng- akikahnya dengan dua biri-biri, Rasulullah saw bersabda:

من نوزبو فتصدقي ,اسور احلقي لكنو تعقي ال فصنعت ,حسني ولد مث لدو مث الفضة من اي ,الورق .ذالك مثل

Artinya: janganlah anda  mengaqiqahnya, namun  cukurlah rambut kepalannya dan bersedekahlah dengan perak sejumlah  berat timbangan rambutnya itu.

Kemu- dian lahirlah Husain dan ia mengerjakan  seperti itu. Kebanyakan berpengalaman  fiqih, ilmu dan ijtihad bahwa dzahir hadis-hadis yang telah dilafalkan  tadi menguatkan segi disunnah- kan dan dianjurkannya aqiqah. Pada dasarnya, mengaqiqakan anak itu ialah  sunnah dan dianjurkan. Ini menurut banyak sekali  Ulama dan Fuqaha.

kesimpulanya folosofi aqiqah bagaimana?

Diisyaratkan untuk  orang tua melakukannya, apabila  keadaan ekonomi memungkinkan dan dapat  menghidupkan sunnah Rasulullah saw ini, supaya  dapat mendapat   keutamaan dan pahala dari segi  Allah swt, guna  menguatkan rasa kasih sayang, kerinduan  dan mempererat tali ikatan sosial antara kaum kerabat dan keluarga

Tetangga dan sebagainya. Kehadiran dan kebersamaan dalam upacara Aqiqah, maka semua  keluarga dan hadirin/hadirat bisa  ikut menikmati  ke- bahagiaan atas kehadiran putra/putri yang didoakan guna  menjadi anak shaleh, generasi pelanjut untuk  keluarga, bangsa dan Negara. Disamping tersebut  dapat pula meng- implementasikan rasa sosial untuk  kaum lemah dengan adanya turut menik-mati daging aqiqah yang secara syar’i diutama- kan pembagiannya pada fakir kurang mampu  dan yatim piatu.

2. Dalil-dalil di Syariatkannya Udhiyah. Nabi Muhammad Saw. datang sedang warga  Madinah di masa Jahiliyah me- miliki dua hari raya yang mereka bersuka ria padanya (tahun baru dan hari pemuda/ aunul mabud), maka Rasulullah bersabda: Aku datang untuk  kalian, sedang kalian mempunyai  dua hari raya yang kalian bersuka ria di masa jahiliyah, lantas  Allah menggantikan guna  kalian dua hari raya yang lebih baik dari keduaanya; Hari idul Qurban dan hari idul Fitri (HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasai dan Baghawi,

Shahih, Lihat Ahkamul Ledain hal.8) Di samping  itu, pada hari Raya Qurban ada  ibadah yang besar pahalanya disisi Allah Subhanahu wataala, yaitu  Shalat ied dan penyembelihan KAMBING  Qurban. Adapun dalil-dalil disyariatkannya Udhiyah

bagaimana aturan menyembelih udhiyah (hewan Qurban) yang dilaksanakan  sesudah shalat ied?

(lihat Tafsir Ibnu Katsir 4:505 dan Al-Mughni 13:360). b) Dalil As-sunnah.Diriwayatkan dari Anas R.A berkata: Nabi SAW berquran dengan dua ekor kambing  jantan yang berwarna putih bercampur hitam dan bertanduk,beliau menyembelih dua-duanya  dengan tangannya sendiri seraya  mem- baca Basmalah dan bertakbir (HR. Bukhari dan Muslim) c) Dalil Ijma’. Pada lazimnya  kaum muslimin sepakat mengenai  disyari’atkan- nya (lihat Al-Mughni 13:360).

Disyari’atkannya menyembelih supaya  binatang jinak menjadi halal. Binatang darat yang boleh dimakan terdapat  dua jenis: Pertama, Jenis yang bisa  dikendalikan, seperti hewan  ternak meliputi: unta, sapi, kambing, hewan  dan bangsa burung yang diternak orang. Agar menjadi halal, oleh Islam disyaratkan me sti dengan sembelih yang Syar’i. Jenis yang kedua: Jenis hewan  liar dan tidak dapat  dikendalikan; jenis hewan  liar dan tidak bias dikendaalikan. Adapun hewan  darat, Al qur’an tidak melafalkan  pengharaman sesuatu- juga  darinya kecuali secara eksklusif  daging babi, bangkai dan darah, serta semua hewan  yabg disembelih tidak dengan nama Allah. Sebagaimana dilafalkan  dalam sejumlah  ayat dengan format  pem- batasan yang haram atas empat macam secara global dan sepuluh macam secara rinci.

Aqiqah ialah  adalah ibadah yang sehubungan  dengan kelahiran seorang bayi baik lai-laki maupun permpuan dengan jumlah kambing/biri-biri

AKHIR KATA

keluarga yang disyaratkan punya kemam- puan, dan ditentukan hari yang umumnya ialah  hari ketujuh, tetapi  masih ada  perbedaan pendapat antara diwajibkan, disunnahkan bahkan terdapat  yang memandang  tidak perlu,

tetapi  tulisan ini lebih mengarahkan untuk  sunnah muakkad Adapun udhiyah yang sehubungan  erat dengan masa-masa  10, 11, 12, dan 13 Dzulhijjah ialah  disyariatkan untuk  muslim-muslimah yang telah  punya keterampilan  baik yang seang mengemban  ibadah haji maupun yang tidak sedang berhaji dengan tetap mengekor  syarat dan ketentuannya secara syar’I, dan dagingnya dapat diserahkan  atau dinikmati oleh diri sendiri, family  dan fakir kurang mampu  serta yatin piatu,

yang salah kriteria  utam ialah  memotong KAMBING  dengan pisau yang tajam disertai Bismillah Baik Aqiqah maupun Udhiyah semuanya adalah ibadah pendekatan diri untuk  Allah dengan mengorbankan beberapa  dari harta yang dimiliknya dan adalah sunnah muakkad (mendekati wajib)

2. Bagaimana konsep Alqur’an, As-sunnah serta Ijma’ Ulama mengenai  tuntunan pengamalan  Aqiqah dan Udhiyah/ Qurban?

bagi kamu yang ingin tetap membaca secara utuh dan lengkap. silahkan mengunjungi laman dokumen penelitian berikut ini. terimakasih

filosofi aqiqah oleh dosen uin alaudin makasar

Dalil aqiqah dan pengertiannya

inti dari pembahasan Dalil aqiqah adalah untuk mengetahui aturan aqiqah. Secara pengertian bahwa tasyakuran yang di lakukan karna bayi yang baru lahir dengan melakukan penyembelihan kambing itu dinamakan aqiqah atau akikah. Bagi  persyaratan jumlah kambing atau domba yang bakal  di sembelih antara bayi laki-laki dan wanita  juga berbeda yakni 1 ekor domba  untuk anak wanita  dan 2 ekor domba  untuk anak laki-laki. Berikut ini, kami akan menjabarkan  secara menyeluruh  mengenai Dalil aqiqah, hukum aqiqah, alasan  serta sejumlah  hal penting tentang  aqiqah dalam Islam lainnya. baca dengan baik ya..

proses acara aqiqah di bantul

Pengertian, hukum dan dalil aqiqah

Aqiqah berasal dari bahasa Arab yang dengan kata lain  “mengaqiqahkan anak atau menyembelih domba  aqiqah”. Berdasarkan keterangan dari  bahasa, aqiqah dengan kata lain  memotong atau memisahkan. Berdasarkan keterangan dari  para ulama, definisi  aqiqah secara etimologis merupakan   rambut kepala bayi yang tumbuh sejak  lahirnya.

Secara istilah, arti  aqiqah ada sejumlah  pendapat ulama, diantaranya:

  • 1. Berdasarkan keterangan dari  Sayyid Sabiq, Aqiqah ialah  sembelihan yang disembelih guna  anak yang baru lahir.
  • 2. Berdasarkan keterangan dari  Imam Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad Al-Husaini. Aqiqah ialah  nama sesuatu yang disembelihkan pada hari ketujuh, yaitu  hari memotong  rambut kepalanya yang dinamakan.  Aqiqah dengan menyinggung  sesuatu yang terdapat  hubunganya dengan nama tersebut.
  • 3. Berdasarkan keterangan dari  jumhur ulama menafsirkan  bahwa aqiqah yakni  menyembelih hewan  pada hari ketujuh dari hari lahirnya seorang anak. baik laki-laki maupun perempuan.
  • 4. Berdasarkan keterangan dari  Abdullah Nashih Ulwan, aqiqah berarti menyembelih domba  untuk anak pada hari ketujuh kelahirannya.
  • 5. Berdasarkan keterangan dari  Drs. R. Abdul Aziz dalam bukunya Rumah Tangga Bahagia Sejahtera. menuliskan   bahwa aqiqah ialah  menyembelih domba  untuk menyelamati bayi yang baru bermunculan  dan sekaligus memberikannya sebagai sedekah untuk  fakir miskin.

Pendapat Ulama mengenai  hukum Aqiqah

Ada sejumlah  pendapat mengenai  hukum aqiqah dari sejumlah  ulama laksana  wajib, sunnah mu’akkad serta sunnah, berikut pembahasan  selengkapnya.

Antara Sunnah dan Wajib

Jumhur atau kebanyakan berasumsi  jika aqiqah hukumnya ialah  sunnah dan beberapa  lagi ialah:   wajib dengan dalil  berhubungan langsung dengan sembelih adalah hal penting. Selama seseorang dapat  melaksanakan aqiqah, maka me sti segera dilakukan  pada hari ke-7 adalah jawaban terbijak.

Hukum Aqiqah Diwajibkan

Ada beberapa  muslim yang mengharuskan  amalan aqiqah ini karena  menyambut kehadiran anak ialah  sesuatu urusan  yang sangat urgen  khususnya untuk  mereka yang dapat  dalam segi finansialnya. maka sangat dikhususkan  untuk mengemban  aqiqah.

firman allah mengenai  aqiqah

secara khusus sekian banyak   pengertian dan aturan aqiqah ada  pada hadis nabi bukan dari alquran secara langsung. namun  secara hakikat  tetap sama, tersebut  mengatur tata teknik  aqiqah dan beserta seluk beluk didalamnya.

Berikut sejumlah  dalil Al-Qur’an yang berhubungan  dengan hukum mengerjakan  aqiqah menurut doktrin  Islam, Antara lain:

1. hadis dari Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy

Dari Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy berbicara  jika Rasulullah bersabda, “Aqiqah dilakukan  karena kelahiran bayi, maka sembelihlah fauna  dan hilangkanlah seluruh  gangguan darinya.” [Shahih Hadits Riwayat Bukhari (5472), guna  lebih lengkapnya lihat Fathul Bari (9/590-592), dan Irwaul Ghalil (1171), Syaikh Albani].

Dalil aqiqah selanjutnya  berasal dari

Dari Aisyah dia berkata: Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda. “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua domba  yang sama dan bayi wanita  satu kambing.” [Shahih, HR Ahmad (2/31, 158, 251), Tirmidzi (1513), Ibnu Majah (3163), dengan sanad hasan]

DALIL AQIQAH SELANJUTNYA  BERASAL DARI ibnu abas

Dari Ibnu Abbas sesungguhnya  Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda: “Mengaqiqahi Hasan dan Husain dengan satu domba  dan satu kambing.” [HR Abu Dawud (2841) Ibnu Jarud dalam buku  al-Muntaqa (912) Thabrani (11/316) dengan sanadnya shahih sebagaimana disebutkan  oleh Ibnu Daqiqiel ‘Ied]

DALIL AQIQAH SELANJUTNYA  BERASAL DARI amr bin syuaib

Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda: “Barangsiapa diantara kalian yang hendak  menyembelih (kambing) sebab  kelahiran bayi maka hendaklah ia kerjakan  untuk laki-laki dua domba  yang sama dan untuk wanita  satu kambing.” [Sanadnya Hasan, HR Abu Dawud (2843), Nasa’i (7/162-163), Ahmad (2286, 3176) dan Abdur Razaq (4/330), dan shahihkan oleh al-Hakim (4/238)].

Dalil aqiqah nash atau hadits aqiqah shahih

hadits mengenai  aqiqah dan penjelasannya

Beberapa hadits yang menjadi dasar disyariatkannya aqiqah antara lain:

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: كُلُّ غُلاَمٍ رَهِيْنَةٌ بِعَقِيْقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَ يُحْلَقُ وَ يُسَمَّى

“Dari Samurah bin Jundab dia berbicara: Rasulullah bersabda.: Setiap bayi tergadai dengan aqiqahnya, disembelihkan (kambing) untuknya pada hari ke tujuh, dipotong  dan diberi nama.”

[Shahih, Hadits Riwayat Abu Dawud 2838, Tirmidzi 1552, Nasa’I 7/166, Ibnu Majah 3165, Ahmad 5/7-8, 17-18, 22, Ad Darimi 2/81, dan lain-lainnya]

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Tuhfatul Maudud hal.25-26, menuliskan   bahwa: Imam Jauhari berbicara. : Aqiqah merupakan   “Menyembelih fauna  pada hari ketujuhnya dan memotong  rambutnya”. Selanjutnya Ibnu Qayyim berkata: “Dari keterangan  ini jelaslah bahwa aqiqah tersebut  disebut demikian sebab  berisi  dua bagian  diatas dan ini lebih utama.”

Imam Ahmad dan jumhur ulama berasumsi  bahwa bilamana  ditinjau dari sisi  syar’i maka yang dimaksud dengan aqiqah ialah  makna berkurban atau menyembelih (an-nasikah).

Dari Fatimah binti Muhammad saat  melahirkan Hasan, dia berkata: Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda: “Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan perak untuk  orang kurang mampu  seberat timbangan rambutnya.” [Sanadnya Hasan, HR Ahmad (6/390), Thabrani dalam Mu’jamul Kabir 1/121/2, dan al-Baihaqi (9/304) dari Syuraiq dari Abdillah bin Muhammad bin Uqoil]

Dari dalil-dalil yang dijelaskan  di atas maka dapat dipungut  hukum-hukum tentang  seputar aqiqah dan urusan  ini diberikan contoh  oleh Rasulullah صلی الله عليه وسلم semua  sahabat serta semua  ulama salafusholih.

baca juga yuk

Kambing Untuk Aqiqah Jantan atau Betina?

Jika anda ingin melaksanakan aqiqah untuk anak anda pasti akan muncul pertanyaan tentang Kambing untuk Aqiqah Jantan atau Betina? maka dari itu kami Ridho Aqiqah Jogja hadir untuk menjawab semua pertanyaan anda terkait aqiqah yang akan anda gelar

persamaan antara Aqiqah dengan Qurban

Jawaban : Jika yang lahir adalah bayi laki-laki maka hewan kambing yang disembelih berjumlah dua ekor, sedangkan untuk bayi perempuan cukup menyembelih satu ekor hewan saja. Sesuai dengan hadits Nabi Muhammad SAW  dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah bersabda :

“Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kelahiran bayi maka hendaklah ia lakukan untuk laki-laki dua kambing yang sama dan untuk perempuan satu kambing.” [HR Abu Dawud, Nasa’i, Ahmad]

Sedangkan untuk jenis hewannya Kambing atau Domba? Jantan atau Betina? tidak ada ketentuan terkait masalah itu baik itu kambing atau domba, jantan atau betina boleh disembelih sebagai hewan aqiqah, sebagaimana perintah yang disampaikan Rasulullah SAW dari Aisyah ra berkata, yang artinya:

“Nabi SAW memerintahkan mereka agar disembelihkan aqiqah dari anak laki-laki dua ekor domba yang sepadan dan dari anak perempuan satu ekor.” (Shahih riwayat At Tirmidzi).

Demikian jawaban kami, jika anda berkenan menggelar aqiqah untuk bayi anda, atau sedang mencari jasa penyembelihan hewan aqiqah yang syar’i sesuai ketentuan islam kami Ridho Aqiqah Jogja siap melayani anda. Paket Aqiqah yang bervariasi dengan harga terjangkau disegaja kalangan hubungi kami 0823-3333-3776 (Cs Ridho Group) untuk pemesanan aqiqah anda.

Selain Aqiqah kami juga melayani catering prasmanan untuk lebih detail cek di website kami www.ridhocatering.com atau www.cateringjogja.info

Ketentuan Hukum Aqiqah Dalam Islam

Ketentuan hukum Aqiqah dalam ajaran islam berdasarkan sumber hadits dari  Rasulullah SAW. Berarti Aqiqah bernilai ibadah karena mengikuti sunnah yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, oleh sebab itu hukum Aqiqah sunnah muakkad. Sangat dianjurkan bagi orang tua muslim yang memiliki anak baru lahir untuk melaksanakan aqiqah menyembelih kambing.

Ketentuan Hukum Aqiqah Dalam Islam

Ketentuan Hukum Aqiqah Dalam Islam

Baca Juga: Paket Aqiqah enak syar’i di Jogja

Ketentuan adab Aqiqah

Pertama, Aqiqah dianjurkan dilaksanakan di hari ke-7, 14 atau 21. Hal ini berdasarkan hadits dari Abu Buraidah r.a: “Aqiqah itu disembelih pada hari ke tujuh, atau ke empat belas, atau ke dua puluh satunya”.(HR.Baihaqi dan Thabrani)

Kedua, Jumlah hewan untuk Aqiqah. walaupun laki-laki dan peremapuan merupakan mahluk ciptaan Allah SWT, namun terdapat perbedaan aturan tentang pelaksanaan aqiqah. Ketentuan Hukum Aqiqah dalam islam ialah jika yang lahir adalah bayi laki-laki maka jumlah hewan kambing yang disembelih adalah dua ekor, sedangkan untuk bayi perempuan hanya menyembelih satu ekor kambing. Sumber berdasarkan hadits dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayanya, dari kakeknya, Rasulullah SAW bersabda:“Barang siapa diantara kalian yang ingin menyembelih (Kambing) karena kelahiran bayi maka hendaklah ia lakukan untuk laki-laki dua kambing yang sama dan untuk perempuan satu kambing”.(HR. Abu Dawud, Nasa’i, Ahmad)

Ketiga, Jenis Hewan Aqiqah Yang Disembelih. Ketentuan hewan yang disembelih untuk Aqiqah adalah kambing atau domba tidak memandang kambing jantan ataupun betina boleh disembelih sebagai hewan aqiqah. Berdasarkan hadits, dari Aisyah ra berkata, yang artinya:“Nabi SAW memerintahkan mereka agar disembelihkan aqiqah dari anak laki-laki dua ekor domba yang sepadan dan dari anak perempuan satu ekor.” (HR. At Tirmidzi)

Keempat, Disunnahkan mencukur rambut bayi. Saat pelaksanaan aqiqah dianjurkan untuk mencukur rambut bayinya dan diberi nama. Alhamdulillah masyarakat muslim di Indonesia sudah banyak melakukan tata cara aqiqah ini. Sebaiknya memberi nama yang terbaik kepada anaknya dan mencukur rambut bayi merupakan hal yang sunah agar tumbuh menjadi orang yang sholeh atau sholehah.

Kelima, Kambing yang disembelih dibagikan setelah dimasak. Daging kambing sembelihan hewan aqiqah beda dengan hewan qurban pada saat hari idul adha, dimana daging qurban dibagikan saat daging masih mentah, sedangkan daging hewan aqiqah sebaiknya dimasak dan dibagikan dalam keadaan matang. Daging yang telah masak diberikan kepada mereka yang berhak dan yang memiliki hubungan kerabat dan tetangga. Berdasarkan hadits: “Sunnahnya dua ekor kambing untuk anak laki-laki dan satu ekor kambing untuk anak perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. lalu dimakan (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ke tujuh”. (HR.Al-Baihaqi)

Baca juga: Kambing Guling murah Jogja

Demikian artikel Ketentuan Hukum Aqiqah menurut Islam, semoga bermanfaat.