Tata cara aqiqah sederhana dan mudah di pahami.

Tata cara untuk melakukan prosesi aqiqah pada umumnya sangat mudah, namun beberapa dari kita terkadang melupakan beberapa atau malah ada yang kelewatan dalam melakukan aqiqah. nah yuk dipahami ulang mengenai tata cara dan proses yang benar dalam melaksanakan aqiqah baik Anak Perempuan atau Laki-Laki.

tata cara aqiqah sederhana, aqiqah sesuai sunah
tata cara aqiqah sederhana, aqiqah sesuai sunah

Aqiqah adalah salah satu ajaran yang harus  dijalankan masing-masing  Muslim saat  mempunyai  anak. Anjuran mengemban  aqiqah ini cocok  sunnah Rasulullah Muhammad SAW.

Karena itu, masing-masing  Muslim harus memahami  tata cara aqiqah anak wanita  dan laki-laki cocok  sunnah Rasulullah. Di samping  itu, kamu pun  perlu memahami  masalah tata cara aqiqah orang dewasa menurut  keterangan dari  Islam.

Tata Cara Aqiqah Anak Perempuan dan Laki-laki Sesuai Sunnah

Sebelumnya, Dream telah menyatakan  pengertian aqiqah, hukum aqiqah, dan masa-masa  terbaik aqiqah. Sekarang saatnya membicarakan  tata teknik  aqiqah anak wanita  dan laki-laki cocok  sunnah.

Urutan atau tata cara aqiqah anak wanita  dan laki-laki sebetulnya  sama saja. Yang memisahkan  hanyalah jumlah domba  yang dikurbankan untuk aqiqah.

Berikut tata cara aqiqah anak wanita  dan laki-laki yang sesuai sunnah.

1. Menyembelih Kambing

Aqiqah identik dengan menyembelih kambing. Namun, di era canggih  ini, menyembelih domba  untuk aqiqah ialah  hal yang merepotkan. Karena itu, tidak sedikit  yang melakukan pembelian  masakan domba  yang telah  siap dipakai  untuk acara aqiqah anak.

Jumlah domba  yang disembelih guna  aqiqah bertolak belakang  antara anak wanita  dan laki-laki. Bagi  aqiqah anak wanita  orang tua menyiapkan satu ekor kambing. Sedangkan guna  anak laki-laki, orang tua menyembelih dua ekor kambing.

Soal jumlah domba  yang disembelih guna  aqiqah anak wanita  dan laki-laki ini telah dilafalkan  dalam hadis yang diriwayatkan Abu Dawud.

Yang artinya: Dari Ummu Kurz ia berkata, ” Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda ‘Untuk seorang anak laki-laki ialah  dua ekor domba  dan guna  akan perempuan ialah  seekor kambing. Tidak mengapa untuk  kalian apakah ia domba  jantan atau betina’.”

(HR. Abu Dawud no. 2834-2835).

Syarat domba  yang disembelih guna  aqiqah anak wanita  dan laki-laki ini sama dengan fauna  kurban. Yaitu domba  yang berkualitas, baik dari sisi  jenis sampai  usia. Kambing tersebut pun  harus bebas dari cacat dan penyakit.

Sebelum menyembelih domba  untuk aqiqah, disunnahkan untuk menyimak  doa sebagai berikut:

BISMILLAHI WA BILLAHI, ALLAHUMMA ‘AQIQATUN ‘AN FULAN BIN FULAN, LAHMUHA BILAHMIHI SI AZHMIHI, ALLAHUMMAJ’ALHA WIQAAN LIALI MUHAMMADIN ‘ALAIHI WA ALIHIS SALAM.

doa menyembelih domba untuk aqiqah,

Yang artinya: ” Dengan nama Allah serta dengan Allah, Aqiqah ini dari fulan bin fulan, dagingnya dengan dagingnya, tulangnya dengan tulangnya. Ya Allah, jadikan aqiqah ini sebagai tanda kesetiaan untuk  keluarga Muhammad SAW.”

2. Memasak Daging Aqiqah

Tata cara aqiqah selanjutnya ialah  memasak daging dari hewan yang disembelih untuk aqiqah. Soal ini, terdapat  dua pendapat ulama tentang  daging aqiqah.

Pendapat kesatu  menuliskan   usahakan  daging aqiqah dimasak terlebih dahulu lantas  dibagikan. Pendapat ke dua menganjurkan  untuk menyalurkan  daging aqiqah laksana  daging kurban, tidak dimasak terlebih dahulu.

Namun jumhur ulama lebih mengajurkan guna  memasak daging aqiqah terlebih dahulu sebelum membagikannya untuk  orang-orang. Hal tersebut  diungkapkan dalam buku  Atahzib yang ditulis Imam Al-Baghawi.

Yang artinya: ” Dianjurkan guna  tidak menyalurkan  daging fauna  aqiqah dalam suasana  mentah, akan namun  dimasak terlebih dahulu kemudian dikirimkan  kepada orang fakir dengan nampan.”

(Imam Al-Baghawi dalam buku Atahzib)

Kemudian, pendapat yang ditulis dalam buku  Al-Musfashshal fi Ahkamil Aqiqah yang artinya, ” Kebanyakan ahlul ilmi menganjurkan supaya  daging fauna  aqiqah tidak diberikan  dalam suasana  mentah, tetapi  dimasak terlebih dahulu lantas  disedekahkan pada orang fakir.”

Berdasarkan keterangan dari  hadis yang diriwayatkan al-Bayhaqi, daging aqiqah usahakan  dimasak terlebih dahulu baru dibagikan.

Yang artinya: Aisyah r.a berkata, ” Sunnahnya dua ekor domba  untuk anak laki-laki dan satu ekor domba  untuk anak perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dimakan (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh.”

(HR al-Bayhaqi)

3. Memakan Sebagian Daging Aqiqah

Dari hadis yang diriwayatkan al-Bayhaqi, telah  jelas dilafalkan  bahwa daging aqiqah beberapa  dimakan. Sedangkan sebagiannya lagi diberikan  kepada orang-orang.

Tata teknik  aqiqah menyalurkan  daging ini nyaris  sama dengan daging kurban. Sebagian daging aqiqah diserahkan  kepada family  Muslim yang mengemban  aqiqah. Sementara sisanya dapat diberikan  kepada tetangga ataupun fakir miskin.

4. Mencukur Rambut dan Memberikan Nama Saat Aqiqah

Tata cara aqiqah berikutnya ialah  mencukur rambut bayi yang baru bermunculan  dan menyerahkan  nama kepadanya. Dalam tata teknik  aqiqah menurut  keterangan dari  Islam, orang tua menyerahkan  nama yang baik untuk  anak yang baru lahir.

Memberikan nama yang baik menggambarkan  bagaimana akhlak dan imannya nanti untuk  Allah SWT. Hukum memotong  rambut bayi saat mengerjakan  aqiqah menurut  keterangan dari  pendapat yang kuat di kalangan ulama ialah  sunnah.

5. Mendoakan Bayi Saat Aqiqah

Tata cara aqiqah anak selanjutnya ialah  mendoakan bayi yang baru lahir. Berikut ialah  bacaan doa yang usahakan  dibacakan  untuk bayi yang baru lahir.

” U’IIDZUKA BI KALIMAATILLAAHIT TAMMAATI MIN KULLI SYAITHOONI WA HAAMMAH. WA MIN KULLI ‘AININ LAAMMAH.”

Yang artinya: ” Saya perlindungkan engkau, wahai bayi, dengan kalimat Allah yang Perkasa, dari tiap-tiap godaan syaitan, serta tiap-tiap pandangan yang sarat  kebencian.”

Pembagian Daging Aqiqah

Jika kualifikasi hewan aqiqah dengan qurban harus sama dari sisi  fisik dan kesehatannya, tetapi  ada perbedaan dari pembagian daging aqiqah dengan daging kurban.

Daging aqiqah diberikan  dalam situasi  yang sudah  dimasak dan matang, sementara  kita ketahui bahwa pembagian daging kurban yang biasa diberikan  pada Idul Adha ialah  dalam situasi  mentah. Bagi  keluarga, menurut  keterangan dari  ulama jumlah maksimal daging yang dapat  diambil yakni  sepertiganya.

“Hendaklah hasil sembelihan fauna  aqiqah tidak disedekahkan mentahan, tetapi  dalam suasana  sudah dimasak. Inilah yang lebih tepat. Lebih baik lagi andai  dihidangkan dengan bumbu manis menurut  keterangan dari  pendapat yang lebih tepat.”

(Kifayatul Akhyar, hal. 706)

Demikianlah tata cara aqiqah anak wanita  dan laki-laki cocok  sunnah yang usahakan  dipelajari dan dilaksanakan. Dari uraian diatas saya ucapkan  lagi bahwa aqiqah ialah  ibadah yang sangat disarankan  untuk bayi yang baru lahir. Waktu utama pengamalan  aqiqah yakni  hari ketujuh sesudah  kelahiran bayi, beberapa  ulama mengizinkan  untuk pelaksanaannya pada hari ke-14 (dua minggu sesudah  kelahiran bayi). Bila di hari ke-14 masih belum dapat  juga, maka pelaksanaannya dapat  di hari ke-21.

Hewan aqiqah memakai  dua ekor kambing/domba untuk anak laki-laki, sementara  anak perempuan memakai  satu ekor saja. Hal itu  senada dengan hukum waris, dimana anak laki-laki berhak mewarisi harta orang tuanya dua bagian, sementara  anak wanita  satu bagian.

baca juga yuk:

Waktu aqiqah menurut imam syafi’i, kajiah fiqih aqiqah madzab imam syafi’i

menurut imam syafi’i jika aqiqah yang ditunda itu hingga anak usia baligh, hukumnya gugur bagi wali anak, untuk melakukan aqiqah. Namun bagi anak itu sendiri, maka diperkenankan untuk melakukan aqiqah untuk dirinya sendiri ataupun tidak melakukannya juga tidak apa-apa

kajian aqiqah menurut imam syafi'i i imam madzhab
kajian aqiqah menurut syafi’i imam madzhab

Bagaimana pembahasan AQIQAH menurut keterangan fiqih madzab menurut imam syafi’i?

(dikutip dari Kitab fiqih Fathul Qorib)

(Fasal) menyatakan hukum-hukum aqiqah.

‏( ﻓَﺼْﻞٌ ‏) ﻓِﻲْ ﺑَﻴَﺎﻥِ ﺃَﺣْﻜَﺎﻡِ ‏( ﺍﻟْﻌَﻘِﻴْﻘَﺔِ ‏)

Aqiqah secara bahasa ialah nama rambut yang sedang di atas kepala anak yang dilahirkan.

ﻭَﻫِﻲَ ﻟُﻐَﺔً ﺍﺳْﻢٌ ﻟِﻠﺸَّﻌْﺮِ ﻋَﻠَﻰ ﺭَﺃْﺱِ ﺍﻟْﻤَﻮْﻟُﻮْﺩِ

Dan secara syara’ akan diterangkan oleh mushannif dengan ucapan beliau, “aqiqah untuk anak yang dilahirkan disunnahkan.”

ﻭَﺷَﺮْﻋًﺎ ﻣَﺎ ﺳَﻴَﺬْﻛُﺮُﻩُ ﺍﻟْﻤُﺼَﻨِّﻒُ ﺑِﻘَﻮْﻟِﻪِ ‏( ﻭَﺍﻟْﻌَﻘِﻴْﻘَﺔُ ‏) ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤَﻮْﻟُﻮْﺩِ ‏( ﻣُﺴْﺘَﺤَﺒَّﺔٌ ‏)

Mushannif mentafsiri aqiqah dengan ucapan beliau, “aqiqah ialah binatang yang disembelih karena bayi yang dilahirkan pada hari ketujuh bayi tersebut, maksudnya pada hari ketujuh kelahirannya.

ﻭَﻓَﺴَّﺮَ ﺍﻟْﻤُﺼَﻨِّﻒُ ﺍﻟْﻌَﻘِﻴْﻘَﺔَ ﺑِﻘَﻮْﻟِﻪِ ‏( ﻭَﻫِﻲَ ﺍﻟﺬَّﺑِﻴْﺤَﺔُ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤَﻮْﻟُﻮْﺩِ ﻳَﻮْﻡَ ﺳَﺎﺑِﻌِﻪِ ‏) ﺃَﻱْ ﻳَﻮْﻡَ ﺳَﺎﺑِﻊِ ﻭِﻟَﺎﺩَﺗِﻪِ

Hari ketika kelahirannya tergolong dalam hitungan tujuh hari tersebut. -kesunnahan tetap berlaku- Walaupun bayi yang telah dilahirkan itu meninggal dunia sebelum hari ketujuh.

ﻭَﻳُﺤْﺴَﺐُ ﻳَﻮْﻡُ ﺍﻟْﻮِﻟَﺎﺩَﺓِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴَّﺒْﻊِ ﻭَﻟَﻮْ ﻣَﺎﺕَ ﺍﻟْﻤَﻮْﻟُﻮْﺩُ ﻗَﺒْﻞَ ﺍﻟﺴَّﺎﺑِﻊِ

Kesunnahan aqiqah tidak hilang karena ditunda sampai melewati hari ketujuh.

ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻔُﻮْﺕُ ﺑِﺎﻟﺘَّﺄْﺧِﻴْﺮِ ﺑَﻌْﺪَﻩُ

Namun, andai aqiqah ditundah sampai anak itu baligh, maka hukum aqiqah gugur untuk orang yang mengerjakan aqiqah dari anak tersebut.

ﻓَﺈِﻥْ ﺗَﺄَﺧَّﺮَﺕْ ﻟِﻠْﺒُﻠُﻮْﻍِ ﺳَﻘَﻂَ ﺣُﻜْﻤُﻬَﺎ ﻓِﻲْ ﺣَﻖِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻕِ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤَﻮْﻟُﻮْﺩِ

Sedangkan untuk anak tersebut sendiri, maka diperkenankan untuk mengerjakan aqiqah untuk dirinya sendiri ataupun tidak melakukannya.

ﺃَﻣَّﺎ ﻫُﻮَ ﻓَﻤُﺨَﻴَّﺮٌ ﻓِﻲْ ﺍﻟْﻌَﻖِّ ﻋَﻦْ ﻧَﻔْﺴِﻪِ ﻭَﺍﻟﺘَّﺮْﻙِ

Disunnahkan menyembelih dua ekor domba sebagai aqiqah untuk anak laki-laki, dan menyembelih satu ekor domba untuk anak perempuan.

‏( ﻭَﻳُﺬْﺑَﺢُ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻐُﻠَﺎﻡِ ﺷَﺎﺗَﺎﻥِ ﻭَ ‏) ﻳُﺬْﺑَﺢُ ‏( ﻋَﻦِ ﺍﻟْﺠَﺎﺭِﻳَّﺔِ ﺷَﺎﺓٌ ‏)

Sebagian ulama’ berkata, “adapun anak khuntsa, maka masih ihtimal / dimungkinkan diserupakan dengan anak laki-laki atau dengan anak perempuan.”

ﻗَﺎﻝَ ﺑَﻌْﻀُﻬُﻢْ ﺃَﻣَّﺎ ﺍﻟْﺨُﻨْﺜَﻰ ﻓَﻴَﺤْﺘَﻤِﻞُ ﺇِﻟْﺤَﺎﻗُﻪُ ﺑِﺎﻟْﻐُﻠَﺎﻡِ ﺃَﻭْ ﺑِﺎﻟْﺠَﺎﺭِﻳَّﺔِ

Namun, seandainya lantas jelas kelamin prianya, maka disunnahkan untuk menambahi kekurangannya.

ﻓَﻠَﻮْ ﺑَﺎﻧَﺖْ ﺫُﻛُﻮْﺭَﺗُﻪُ ﺃُﻣِﺮَ ﺑِﺎﻟﺘَّﺪَﺍﺭُﻙِ

Aqiqah menjadi berlipat ganda karena berlipat gandanya anak.

ﻭَﺗَﺘَﻌَﺪَّﺩُ ﺍﻟْﻌَﻘِﻴْﻘَﺔُ ﺑِﺘَﻌَﺪُّﺩِ ﺍﻟْﺄَﻭْﻟَﺎﺩِ

bagaimana Proses Aqiqah menurut imam syafi’i?

Bagi orang yang mengemban aqiqah, maka mesti memberi santap kaum faqir dan kaum miskin.

‏( ﻭَﻳُﻄْﻌِﻢُ ‏) ﺍﻟْﻌَﺎﻕَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻌَﻘِﻴْﻘَﺔِ ‏( ﺍﻟْﻔُﻘَﺮَﺍﺀَ ﻭَﺍﻟْﻤَﺴَﺎﻛِﻴْﻦَ ‏)

Ia memasak aqiqah itu dengan bumbu manis dan memberikannya sebagai hadiah pada orang-orang faqir dan orang-orang miskin. Dan hendaknya tidak menjadikan aqiqah sebagai acara undangan. Dan hendaknya tidak memecahkan tulang-tulangnya.

ﻓَﻴَﻄْﺒَﺤُﻬَﺎ ﺑِﺤُﻠْﻮٍ ﻭَﻳُﻬْﺪِﻱْ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﻟِﻠْﻔُﻘَﺮَﺍﺀِ ﻭَﺍﻟْﻤَﺴَﺎﻛِﻴْﻦِ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﺘَّﺨِﺬُﻫَﺎ ﺩَﻋْﻮَﺓً ﻭَﻟَﺎ ﻳُﻜْﺴَﺮُ ﻋَﻈْﻤُﻬَﺎ

Ketahuilah bahwasannya usia hewan aqiqah, selamat dari cacat yang dapat mengurangi daging, memakannya, mensedekahkan sebagiannya, jangan menjualnya dan menjadi wajib karena nadzar, hukumnya ialah sesuai dengan hukum yang telah diterangkan di dalam permasalahan hewan kurban.

ﻭَﺍﻋْﻠَﻢْ ﺃَﻥَّ ﺳِﻦَّ ﺍﻟْﻌَﻘِﻴْﻘَﺔِ ﻭَﺳَﻠَﺎﻣَﺘَﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﻋَﻴْﺐٍ ﻳُﻨْﻘِﺺُ ﻟَﺤْﻤَﻬَﺎ ﻭَﺍﻟْﺄَﻛْﻞَ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﻭَﺍﻟﺘَّﺼَﺪُّﻕَ ﺑِﺒَﻌْﻀِﻬَﺎ ﻭَﺍﻣْﺘِﻨَﺎﻉَ ﺑَﻴْﻌِﻬَﺎ ﻭَﺗَﻌَﻴُّﻨَﻬَﺎ ﺑِﺎﻟﻨَّﺬَﺭِ ﺣُﻜْﻤُﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﺎ ﺳَﺒَﻖَ ﻓِﻲْ ﺍﻟْﺄُﺿْﺤِﻴَّﺔِ

bagaimana cara melakukan Adzan, dan memberikan Nama anak?

Disunnahkan untuk mengumandangkan adzan di telinga kanan bayi yang baru dilahirkan dan mengumandangkan iqamah di telinga kirinya.

ﻭَﻳُﺴَﻦُّ ﺃَﻥْ ﻳُﺆْﺫَﻥَ ﻓِﻲْ ﺃُﺫُﻥِ ﺍﻟْﻤَﻮْﻟُﻮْﺩِ ﺍﻟْﻴُﻤْﻨَﻰ ﻭَﻳُﻘِﻴْﻢَ ﻓِﻲْ ﺃُﺫُﻧِﻪِ ﺍﻟْﻴُﺴْﺮَﻯ

Dan -disunnahkan- mengerjakan hanak (mencetaki : jawa) bayi yang dilahirkan dengan memakai kurma kering. Maka seseorang menguyah kurma dan mengoleskannya pada langit-langit unsur dalam mulut si bayi supaya ada beberapa dari kurma itu yang masuk ke dalam perutnya.

ﻭَﺃَﻥْ ﻳُﺤْﻨَﻚَ ﺍﻟْﻤَﻮْﻟُﻮْﺩُ ﺑِﺘَﻤْﺮٍ ﻓَﻴُﻤْﻀَﻊُ ﻭَﻳُﺪْﻟَﻚُ ﺑِﻪِ ﺣَﻨَﻜُﻪُ ﺩَﺍﺧِﻞَ ﻓَﻤِّﻪِ ﻟِﻴَﻨْﺰِﻝَ ﻣِﻨْﻪُ ﺷَﻴْﺊٌ ﺇِﻟَﻰ ﺟَﻮْﻓِﻪِ

Kemudian, andai tidak mengejar kurma kering, maka dengan memakai kurma basah, dan andai tidak ada, maka memakai sesuatu yang manis.

ﻓَﺈِﻥْ ﻟَﻢْ ﻳُﻮْﺟَﺪْ ﺗَﻤْﺮٌ ﻓَﺮُﻃَﺐٌ ﻭَﺇِﻟَّﺎ ﻓَﺸَﻴْﺊٌ ﺣُﻠْﻮٌ

Dan -disunnahkan-memberi nama si bayi pada hari ketujuh kelahirannya.

ﻭَﺃَﻥْ ﻳُﺴَﻤَّﻰ ﺍﻟْﻤَﻮْﻟُﻮْﺩُ ﻳَﻮْﻡَ ﺳَﺎﺑِﻊِ ﻭِﻟَﺎﺩَﺗِﻪِ

Dan diizinkan memberi nama si bayi sebelum atau sesudah hari ke tujuh.

ﻭَﺗَﺠُﻮْﺯُ ﺗَﺴْﻤِﻴَّﺘُﻪُ ﻗَﺒْﻞَ ﺍﻟﺴَّﺎﺑِﻊِ ﻭَﺑَﻌْﺪَﻩُ

Seandainya si bayi meninggal dunia sebelum hari ke tujuh, maka disunnah-kan untuk memberi nama padanya.

ﻭَﻟَﻮْ ﻣَﺎﺕَ ﺍﻟْﻤَﻮْﻟُﻮْﺩُ ﻗَﺒْﻞَ ﺍﻟﺴَّﺎﺑِﻊِ ﺳُﻦَّ ﺗَﺴْﻤِﻴَّﺘُﻪُ

siapakah Imam al-Syafi’i, itu ? dan pendiri Mazhab Syafi’i?

Sebagai muslim Indonesia, pasti mayoritas anda tidak asing dengan Imam al-Syafi’i. Ia adalah pendiri Mazhab Syafii. Mazhab ini cukup tidak sedikit dianut di Indonesia, bahkan dapat dibilang beberapa besar di Indonesia.

Nama menyeluruh pendiri mazhab ini ialah Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin Saib bin Ubaid bin Abdu Yazid bin Hasyim bin Abdul Muthalib. Nama terakhir ialah kakek dari Rasulullah.

Imam Syafii bermunculan dari rahim seorang ibu yang salehah, serta dari ayah yang familiar kesabaran dan keikhlasannya. Bahkan Syafi’ bin Saib, kakek buyutnya, adalahsahabat Rasulullah SAW. Nama al-Syafi’i, yang sering kita dengar kita, dipungut dari nama kakek buyutnya tersebut. Sedangkan ibunya adalahperempuan keturunan Ali bin Abi Thalib RA dari jalur Sayyidina Husein RA.

biografi keluarganya imam aysfi’i

Idris, ayah Imam al-Syafi’i ialah seorang pemuda asal Makkah yang merantau ke Gaza, Palestina. Di Gaza ia bertemu dengan Fatimah binti Ubadillah, seorang wanita salehah dari kaum Azdi. Idris menikah dengan Fatimah binti Ubaidillah, dengan tanpa sengaja. Pasalnya, saat tersebut Idris sedang dihukum ayah Fatimah sebab tidak sengaja memakan buah delima kepunyaan ayah Fatimah yang hanyut di sungai.

Harapannya, kelak, supaya ayah Fatimah inginkan mengikhlaskan buah tersebut, Idris rela menjadi buruh ayah Fatimah hingga sejumlah tahun tanpa digaji. Keikhlasan Idris berikut yang menciptakan ayah Fatimah menjatuhkan opsi kepadanya sebagai menantu.

Buah cinta dari dua-duanya lahir pada tahun 150 H. Saat itu, bertepatan dengan wafatnya dua ulama besar: Imam Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit, pendiri Mazhab Hanafi yang wafat di Irak dan Imam Ibn Jureij al-Makky, seorang mufti Hijaz yang wafat di Makkah. Hal ini dinamakan sebagai salah satu tanda-tanda bahwa bayi yang lahir itu akan menggantikan dua ulama yang sudah meninggal, baik dalam keilmuan dan kesalehan.

Kehidupan bahagia Idris, Fatimah dan jabang bayi tidak berlangsung bahagia. Idris, ayah Imam al-Syafi’i meninggal dunia dalam umur yang relatif muda. Fatimah mesti berusaha sendiri merawat buah hati dalam situasi ekonomi yang lumayan memprihatinkan.

Sadar dengan situasi dirinya ketika itu, Fatimah lantas membawa bayinya yang masih berumur dua tahun ke Makkah, kota asal ayahnya. Ia hendak putra semata wayangnya tumbuh besar di tanah kelahiran ayahnya.

Minat Keilmuan Imam al-Syafi’i: dari Sastra, Fikih sampai Hadis.

Jika keilmuan yang berkembang di Irak ialah filsafat dan mencetuskan para figur yang beraliran rasionalis laksana Abu Hanifah, lain halnya dengan Makkah, lokasi Imam al-Syafii tumbuh remaja. Di Makkah malah sedang berkembang ilmu kesusasteraan. Bahkan Makkah menjadi di antara tujuan favorit untuk para penuntut ilmu sastra Arab.

Tinggal di lingkungan yang dihuni semua ulama sastra, tidak disia-siakan oleh Imam al-Syafii. Ia paling menggandrungi prosa dan syair-syair Arab klasik. Masa mudanya di Makkah ia habiskan untuk menggali naskah-naskah sastra, berkeliling ke kabilah-kabilah badui padang pasir, laksana kabilah Hudzel (salah satu kabilah yang familiar sebagai berpengalaman sastra) guna belajar sastra. Bahkan ia rela menetap sejumlah hari di kabilah-kabilah itu demi mempelajari sastra Arab.

Hobinya belajar sastra Arab ini secara tidak langsung mempermudah ia mengetahui Alquran dan hadis. Kedua urusan ini urgen sekali dalam proses berijtihad dan mencari hukum syariat. Karena mengetahui Alquran maupun hadis diperlukan kepiawaian dalam mengetahui Alquran yang diturunkan dalam bahasa Arab yang lancar dan murni.

kepandaian imam syafi’i dalam bersastra

Kepiawaian al-Syafii dalam bidang sastra ini kesudahannya menjadikannya mahir dalam menggubah syair-syair Arab. Syair-syair karya Imam al-Syafii itu kemudian dikoleksi oleh Syekh Yusuf Muhammad al-Biqa’i dan jadilah kitab kecil berjudul Diwan al-Syafi’i yang memuat selama 150an syair karya imam syafi’i yang terserak dalam karya-karyanya.

Berdasarkan keterangan dari al-Hamawi dalam Irsyad al-Arib fi Ma’rifah al-Adib, ketertarikan Imam al-Syafii terhadap sastra Arab nyatanya melulu menjadikannya bersyair dan bernyanyi sehari-harinya. Hingga pada sebuah hari ia bertemu dengan Mus’ab bin Abdullah bin Zubair dan menganjurkannya guna belajar fikih dan hadis.

perintah belajar fiqih imam syafi’i

Tidak melulu Mus’ab, Imam Muslim bin Khalid, guru imam syafi’i yang lain pun menganjurkannya guna belajar fikih.

“Alangkah baiknya andai kecerdasanmu itu dipakai untuk mempelajari ilmu fikih, urusan ini lebih baik bagimu,” nasihat Imam Muslim bin Khalid untuk Imam al-Syafi’i.

hijrahnya imam as syafii adalah demi ilmu

Ucapan tersebut dinyatakan sendiri oleh imam syafi’i sebagai pelecut semangatnya guna belajar ilmu fikih dan hadis. Ia juga belajar untuk dua ulama besar Makkah ketika itu: Imam Sufyan bin Uyainah, pakar hadis dan Muslim bin Khalid al-Zanji, pakar fikih Mekkah.

Hijrah yang dimaksud dalam urusan ini bukan hijrah dalam makna tobat, sebagaimana yang sering dipakai saat ini. Hijrah dalam urusan ini ialah berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain. Sebagaimana hijrahnya nabi dari Makkah ke Yatsrib, Madinah.

Di samping hijrah ke Madinah pada tahun 170 H guna belajar langsung untuk Imam Dar al-Hijrah, yaitu Imam Malik bin Anas, imam syafi’i juga berangjangsana ke Irak dan Kufah guna belajar untuk murid-murid Imam Abu Hanifah, sebelum kesudahannya kembali lagi ke Madinah mendampingi Imam Malik sampai wafat pada tahun 179 H.

Bahkan Imam al-Syafi’i terhitung berangjangsana ke Irak sejumlah tiga kali. Di samping Irak, Ia pun pernah berangjangsana ke Persia, Turki dan Ramlah (Palestina), sampai akhirnya menetap dan wafat di Mesir.

Kesempatan Imam al-Syafii untuk berangjangsana ke sekian banyak  kota ini tak ayal membantunya mengetahui kebiasaan serta adat istiadat yang berlaku di kota-kota tersebut. Hal ini secara tidak langsung menjadi referensi Imam al-Syafii untuk membina fatwa-fatwa dalam mazhabnya kelak.

Kegemaran Imam al-Syafi’i dalam berhijrah dari kota ke kota ini didokumentasikannya dalam sejumlah bait syair mengenai anjuran guna berhijrah, di antaranya:

“Musafirlah! Engkau akan mengejar sahabat baru pengganti sahabat-sahabat lama yang anda tinggalkan. Dan bekerjalah yang giat! Karena kesenangan hidup akan terjangkau dengan bekerja keras.”

“Singa andai tidak terbit dari sarangnya, ia tidak bakal mendapatkan makanan. Begitu pun dengan anak panah, andai tidak meluncur dari busurnya, anak panah itu tidak akan tentang sasaran.”

Rangkaian hijrah Imam al-Syafii itu menghasilkan ‘permata’ yang tidak ternilai harganya. Berdasarkan keterangan dari Syekh Ali Jum’ah, Imam al-Syafii mencatat lebih dari 30 karya monumental. Sayangnya, tidak semuanya hingga di tangan kita. Beberapa buku hilang dan sejumlah kitab masih dalam proses pengetikan dan pentahqiqan (koreksi).

Salah satu karya hebatnya ialah kitab al-Risalah, yang disinggung sebagai buku ushul fikih kesatu yang ditulis secara sistematis. Berkat al-Risalah juga, Imam al-Syafi’i dijuluki sebagai Nasir al-Sunnah (pembela sunnah).

Imam al-Syafi’i menguras waktunya untuk mengajar di Mesir. Berdasarkan keterangan dari al-Dzahabi dalam Siyar A’lam al-Nubala’ dengan mengutip kaul al-Rabi’ bin Sulaiman, Imam al-Syafii membagi malamnya menjadi tiga: sepertiga kesatu dipakai untuk menulis, sepertiga kedua dipakai untuk shalat malam, dan sepertiga terakhir dipakai untuk tidur. Imam al-Syafii wafat pada 30 Rajab 204 H.

waktu pelaksanaan aqiqah dan qurban, ini yang banyak dipertanyakan.

waktu pelaksanaan aqiqah dan qurban, dalam pembahasan mengenai waktunya: ada beberapa pertanyaan yang bisa dijawab: diantaranya:

  • kapan waktu pelaksanaan aqiqah dan qurban?
  • apakah waktu aqiqah dan kurban bisa di gabung?
  • bagaimana jika saya mempunyai kambing 1 dan ingin bisa melaksanakan aqiqah dan kurban secara bersamaan?
  • apakah sah niat saya, jika saya melakukan niat aqiqah dan kurban secara bersamaan?

nah pertanyaan dibawah ini akan dijawab di tulisan dibawah ino, pastikan kamu membacanya dengan teliti ya, biar ndak salah tompo,, hhee, terimakasih..

waktu pelaksanaan aqiqah dan kurban di jogja
waktu pelaksanaan aqiqah dan kurban di jogja

Hari Raya Idul Adha adalah salah satu hari besar Islam. Di hari raya ini, umat muslim yang mempunyai  kemampuan disarankan  untuk mengerjakan  kurban hewan.

Aqiqah dan Kurban, Mana yang Harus Didahulukan?

saya mau tanya bagaimana jika seseorang semenjak  lahir sampai  dewasa belum pernah aqiqah, kemudian  mana yang mesti didahulukan? Apakah wajib mengerjakan  aqiqah terlebih dahulu atau kurban terlebih dahulu?

mengutip dari NU.or.id, aqiqah dan kurban adalah dua ibadah yang hukumnya sunnah menurut  keterangan dari  mazhab Syafi’i dan ditandai dengan kegiatan  penyembelihan  KAMBING  yang telah mengisi  syarat untuk dipotong.

Perbedaan antara kedua ibadah itu  terletak pada masa-masa  pelaksanaan. Bila kurban dilaksanakan  pada Bulan Dzulhijjah, sedangkan  aqiqah dilaksanakan  saat mengiringi kelahiran seorang bayi dan disarankan  dilakukan pada hari ketujuh sesudah  kelahiran.

Adapun aqiqah adalah hak anak atas orang tuanya. Anjuran ini ditekankan untuk  orang tua bayi yang diberi kelapangan rezeki guna  berbagi dalam rangka menyambut kelahiran sang anak.

Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Aqiqah menyertai lahirnya seorang bayi”. (HR Bukhari).

Aqiqah yang dibebankan untuk  orang tua diserahkan  kelonggaran sampai  si bayi tumbuh sampai menginjak  masa baligh. Setelah itu, ajakan  aqiqah bukan lagi  dibebankan untuk  orang tua melainkan di berikan  kepada sang anak untuk mengemban  sendiri atau meninggalkannya. Namun, lebih dikhususkan  untuk dilaksanakan.

melihat waktu yang tepat untuk melakukan aqiqah dan kurban

Untuk pengamalan  antara aqiqah dan kurban mana yang mesti didahulukan, maka dicocokkan  dengan kondisi  dan situasi  yang ada. Apabila mendekati Hari Raya Idul Adha maka lebih baik mendahulukan kurban daripada aqiqah.

Namun, bilamana  aqiqah dan kurban dilakukan  secara bersamaan pun  diperbolehkan, yakni menyimak  dua niat dalam menyembelih kurban dan aqiqah sekaligus.

Hal itu  mengacu pada buku  Tausyikh karya Syekh Nawawi al-Bantani yang dengan kata lain  sebagai berikut:

“Ibnu Hajar berbicara  bahwa sekiranya  ada seseorang meginginkan dengan satu domba  untuk kurban dan aqiqah, maka urusan  ini tidak cukup. Berbeda dengan al-‘Allamah Ar-Ramli yang menuliskan   bahwa bilamana  seseorang berniat dengan satu domba  yang disembelih guna  kurban dan aqiqah, maka kedua-duanya bisa  terealisasi”.

Tausyikh karya Syekh Nawawi al-Bantani

Pelaksanan kurban dan aqiqah yang digarap  sekaligus seringkali memunculkan  kontradiksi di kalangan masyarakat dalam urusan  pembagian daging. Dalam kurban, daging disarankan  dibagikan dalam situasi  mentah sedangkan  untuk aqiqah dibadikan dalam situasi  siap saji.

Meski demikian, urusan  itu  tidak butuh  dijadikan persoalan  sebab teknik  pembagian bukanlah masuk ke dalam urusan  substantif. Sehingga teknik  pembagian tidak mencantol  keabsahan ibadah yang dijalani.

Bagaimana jika aqiqah dan Kurban Pelaksanaanya Digabung?

Akikah dan kurban ialah  dua ibadah yang sama-sama menyembelih hewan. Keduanya sama-sama dihukumi sunah mu’akkadah (yang paling  dianjurkan) pelaksanaannya. Waktu pengamalan  masingmasing pun  jelas. Kurban pada hari raya Idul Adha dan tiga hari tasyrik, sementara  akikah pada hari ketujuh, ke-14, dan ke-21 kelahiran.

Lantas, andai  waktu akikah dan kurban bertepatan, apakah boleh pelaksanaannya sekaligus saja? Artinya, terdapat  satu amalan dilaksanakan  dengan dua niat, yakni  niat berkurban dan niat berakikah. Permasalahan pun  timbul untuk  mereka yang sudah  dewasa dan belum sempat diakikahkan oleh orang tuanya. Jika ia memiliki  kesanggupan, manakah yang lebih utama baginya, berkurban atau mengakikahkan dirinya terlebih dahulu? Atau, bisakah kedua-duanya digabung terlaksana sekaligus?

Tentang persoalan  ini, terdapat  perbedaan pendapat ulama. Ada yang mengatakan, andai  waktu kurban bertepatan dengan masa-masa  akikah, lumayan  melakukan satu jenis sembelihan saja, yakni  akikah. Pendapat ini dipercayai  Mazhab Imam Ahmad bin Hanbal (Mazhab Hanbali), Abu Hanifah (Mazhab Hanafi), dan sejumlah  ulama lain, laksana  Hasan Basri, Ibnu Sirin, dan Qatadah.

Al-Hasan al-Bashri mengatakan, “Jika seorang anak hendak  disyukuri dengan kurban, maka kurban tersebut dapat  jadi satu dengan akikah.” Hisyam dan Ibnu Sirin mengatakan, “Tetap dirasakan  sah andai  kurban digabungkan dengan akikah,” demikian seperti dijelaskan  dalam buku  Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah.

Mereka berdalil, sejumlah  ibadah dapat  mencukupi ibadah lainnya laksana  dalam permasalahan  kurban dapat  mencukupi akikah atau sebaliknya. Sebagaimana seorang yang menyembelih dam saat  menunaikan haji tamattu’. Sembelihan itu  ia niatkan pun  untuk kurban, maka ia menemukan  pahala dam dan pahala kurban. Demikian pun  shalat Id yang jatuh pada hari Jumat, maka diizinkan  tidak mengekor  shalat Jumat sebab  sudah membayar  shalat Id pada paginya.

bagaimana menurut madzhab syafii yang mashur di indonesia?

Sedangkan pendapat dari Imam Syafi’i (Mazhab Syafi’i), Imam Malik (Mazhab Maliki), dan di antara  riwayat dari Imam Ahmad menuliskan   tidak boleh digabung. Alasannya, sebab  keduanya memiliki  tujuan yang bertolak belakang  dan karena  yang bertolak belakang  pula. Misalkan, dalam permasalahan  pembayaran dam pada haji tamattu’ dan fidyah. Keduanya tidak dapat  saling memadai  dan me sti dilakukan  terpisah. Masalah ini menyimpulkan, tidak semua  jenis ibadah yang dapat  digabung pelaksanaannya dalam dua niat sekaligus. Kurban dan akikah masuk dalam kelompok  ini. Tujuan kurban ialah  tebusan guna  diri sendiri, sementara  akikah ialah  tebusan guna  anak yang lahir. Jika dua-duanya  digabung, tujuannya pasti  akan menjadi tidak jelas.

Ini ditegaskan dalam Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah yang menuliskan , “Akikah dilakukan  untuk mensyukuri nikmat kelahiran seorang anak, sementara  kurban mensyukuri nikmat hidup dan dilakukan  pada hari An Nahr (Idul Adha).”

Bahkan, salah seorang ulama Syafi’iyah, al- Haitami, menegaskan, sekiranya  seseorang berniat satu domba  untuk kurban dan akikah sekaligus, dua-duanya  sama-sama tidak dianggap. “Inilah yang lebih tepat sebab  maksud dari kurban dan akikah tersebut  berbeda,” tulis Al Haitami dalam kitabnya Tuhfatul Muhtaj Syarh Al Minhaj.

mana pandangan atau pendapat yang lebih kuat?

Pandangan ulama yang lebih kuat dalam dua perbedaan pendapat ini ialah  pendapat yang tidak membolehkan guna  menggabung pengamalan  akikah dan kurban. Terkecuali, masa-masa  akikah pada hari ke-7, ke-14, atau ke-21 kelahiran anak dapat  bertepatan jatuh pada hari berkurban. Maka, mereka yang tidak punya keterampilan  lebih guna  menyembelih hewan, dapat  meniatkan guna  dua pengamalan  sekaligus, yaitu mengemban  akikah sekaligus dapat  pula berkurban.

Pendapat ini pernah difatwakan Syekh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin. Dalam Majmu’ Fatawa wa Rosail Al Utsaimin dijelaskan, mereka yang punya kecukupan rezeki dan terdapat  dalam posisi ini, maka hendaklah menyembelih dua ekor kambing andai  anaknya laki-laki. Hal itu diakibatkan  wajibnya akikah guna  anak laki-laki memang menyembelih dua ekor kambing.

Adapun mereka yang telah menjangkau  usia dewasa, sedangkan  belum diakikahkan orang tuanya, maka tidak me sti  baginya mengakikahkan dirinya sendiri. Inilah pendapat ulama yang lebih powerful  dari Mazhab Syafi’i dan Hanbali. Akikah melulu  menjadi tanggung jawab orang tuanya, atau mereka yang menanggung beban nafkah atasnya. Jadi, ia dapat  melakukan kurban dan tidak butuh  lagi memikirkan akikah guna  dirinya.

Sementara, sejumlah  ulama dari Hanbali lainnya memang mengatakan, boleh mengerjakan  akikah kapan pun. Berdasarkan keterangan dari  mereka, waktu membayar  akikah tidak diberi batas  (seperti pendapat yang lebih kuat menuliskan   hari ke-7, ke-14, dan ke-21). Jadi, mereka yang memegang pendapat ini, saat  sudah mampu, ia digemari  jika dia mengakikahkan dirinya sendiri. Namun, pendapat ini lemah dan tidak disarankan  untuk diikuti. Demikian seperti dijelaskan  dalam Kitab Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu.

Adapun orang yang telah  dewasa dan hendak  mengakikahkan dirinya sendiri sekaligus membayar  kurban, maka perilaku laksana  ini dilemahkan semua  ulama dan tidak disarankan  untuk diikuti. Wallahu’alam.

Perbedaan Antara Aqiqah Dan Qurban

Diantara perbedaan antara Aqiqah dan Qurban sangatlah menonjol. Ada beberapa tanda dan faktor perbedaan Aqiqah dan Qurban diantaranya yaitu:

  • Waktu pelaksanaan penyembelihan Qurban hanya empat hari dalam setahun yaitu tanggal 10,11,12,13 Dzuhijah. Sedangkan waktu pelaksanaan penyembelihan Aqiqahtidak terbatas pada hari tertentu saja sepanjang tahun,  namun sangat dianjurkan menyembelih hewan aqiqah pada hari ke-7 dari kelahiran bayi bagi orang tua yang mampu.
  • Hewan Aqiqah jenisnya terbatas hanya kambing atau domba. Sedangkan Hewan Qurban bisa kambing, sapi, kerbau, onta atau hewan sejenisnya.
  • Qurban bisa dilakukan setiap tahun bagi yang mampu. Sedangkan Aqiqah dilakukan sekali seumur hidup.
  • Jumlah hewan Aqiqah yang disembelih mempunyai ketentuan 2 ekor kambing untuk bayi laki-laki dan satu ekor kambing untuk bayi perempuan. Sedangkan hewan Qurban minimal 1 ekor atau lebih dan bisa berkelompok jika hewan yang dikurbankan harganya mahal seperti sapi.
  • Daging Qurban hanya diberikan kepada fakir miskin, sedangkan daging aqiqah boleh diberikan kepada orang bukan fakir miskin.
  • Kaki belakang hewan aqiqah sunnah disedekahkan kepada bidan yang menangani kelahiran dan merewat bayi yang bersangkutan. Sedangkan kaki hewan Qurban ikut dibagikan rata.
  • Pada Aqiqah diperbolehkan memberi upah kepada penyembelih dengan hewan yang dipotong. Sedangkan hewan qurban dilarang mengambil upah penyembelihan
  • Aqiqah bertujuan untuk menebus atas lahirnya seorang bayi manusia. Sedangkan Qurban bertujuan untuk memperingati pengorbanan Nabi Ibrahim As serta mengikuti ajaran tauhid beliau yang telah ditetapkan oleh Rasulullah SAW sebagai sunnah yang diteruskan kepada umatnya.
  • Daging sembelihan Qurban disedekahkan kepada fakir miskin, anak yatim dalam keadaan mentah. Sedangkan daging Aqiqah disedekahkan dalam keadaan sudah dimasak.

makna aqiqah: mengungkap makna penting dalam menjalankan ibadah.

makna aqiqah dalam konteks menjalankan amanah yang berikan Allah SWT terhadap kita. Aqiqah bisa menjadi sarana kita dalam berikhtiar di dalam menghidupkan sunnah nabi SAW, mendidik dengan syariat yang benar, memahami dengan keilmuan, jalani sunah nabi dengan kekuatan iman dan islam.

makna aqiqah dan pengertian aqiqah ridho jogja
makna aqiqah dan pengertian aqiqah ridho jogja

Nah, pada tulisan kali ini anda akan kupas secara lebih detail mengenai makna aqiqah

Ibadah aqiqah dalam pengertian sederhana

Bila merujuk pada bahasa arab, aqiqah memiliki makna  yaitu memutus dan melubangi. Dalam definisi  secara umum, aqiqah ialah  aktivitas ibadah menyembelih fauna  berupa domba  sebagai wujud rasa syukur atas lahirnya seorang anak.

Hukum atas ibadah ini bertolak belakang  menurut  pendapat ulama. Ada yang menuliskan   bahwa ibadah aqiqah hukumnya wajib, terdapat  yang menuliskan   sunnah mu’akad dan adapula yang menuliskan  sunnah.

Dari seluruh  pendapat yang ada, yang sangat  shahih ialah  pendapat yang menuliskan   bahwa hukum aqiqah ialah  sunnah mu’akad. Artinya ini ialah  ibadah yang memang disarankan  untuk dilaksanakan

FILOSOFI AQIQAH, PENDAPAT AHLI FIQIH DAN ULAMA. OLEH DOSEN UIN MAKASAR.

Kajian dalam masalah folosofi aqiqah dan udhiyah (perspekif alqur’an dan sunnah). oleh hj. nurnaningsih fakultas syari’ah dan hukum universitas islam negeri (UIN) Alauddin Makasar

Bagaimana filosofi aqiqah menurut pandangan Al qur’an, As-Sunnah dan ijma?

Berdasarkan Al qur’an, As-Sunnah dan ijma’ bila   seorang insan  lahir baik laki-laki maupun permpuan, maka di- syari’atkan untuk  orang tuanya guna  melaksanakan aqiqah cocok  dengan kriteria  peraturan  yang sudah  ditetapkan,demikian pula untuk  muslim muslimah yang terpapar  syarat untuk mengerjakan  sembelihan/Qurban pada hari-hari tasyrik di bulan zulhijjah serta untuk  umat Islam yang sedang melaksanakan ibadah haji.

contoh  dalam format  “Dam” . Syari’at tersebut paling  jelas alasan  dan hukumnya tetapi  sebagian umat Islam masih ada  kalangan personil yang sudah lumayan  memenuhi kriteria  untuk mengerjakan  sembelihan/qurban/aqiqah akan namun  baik disengaja maupun memandang  remeh dengan berbagai dalil  sehingga perintah menyalurkan  darah hewan  tidak bisa  dilaksanakan. Disisi beda  masih terpengaruh dengan pemahaman antara me sti  dengan sunnah pengamalan  Aqiqah udhiyah sampai-sampai  sebagian kaum muslimin tidak mempunyai  keseriusan guna  melaksanakannya.

Bagaimana mengenai pandangan melaksanakan filosofi aqiqah?

Dalam pembahasan mengenai folosofi aqiqah ini. Terdaapat pandaangan yang bermacam-macam tentang makna aqiqah dan udhiyah baik dari segi: Kemampuan, masa-masa  pelaksanaannya serta macam dan umur untuk  binatang yang bisa  menjadi “Binatang Sembelihan” Para Ulama/Muballigh tidak henti- hentinya menyerukan perlunya melaksana- kan perintah aqiqah/udhiyah terutama untuk  muslim dan muslimah yang nyata-nyata telah  memilki keterampilan  secara material, namun keterampilan  untuk merintangi  pengaruh syetan yang senantiasa menggagu cocok  dengan kissah kronologis dari Penghulu anda  Ibrahim, Nah selanjutnya cari tau yuk jawaban dari pertanyaan dibawah ini.

Bagaimana pandangan Fuqaha tentang: folosofi aqiqah, Udhiyah /Qurban?

waktu aqiqah pembahasan ter-lengkap dan mudah di pahami.

Waktu aqiqah dipilih untuk anak yang baru lahir secara tepat. namun Secara umum, ada pendapat dari jumhur ulama hari-hari di-sunnahkannya penyembelihan kambing  untuk aqiqah.

Pendapat mengenai waktu aqiqah.

pengamalan  aqiqah tepat sesudah  bayi didilahirkan  dan tidak me sti menantikan  sampai hari ke-7. itu menurut  Sya fiiyah dan Hanabilah. Tapi mereka tidak membolehkan sebelum bayi dilahirkan. Maka, andai  penyembelihan dilaksanakan  sebelum kelahiran bayi, dirasakan  sebagai sembelihan biasa dan bukan aqiqah. Hal ini didasari atas suatu karena  yaitu kelahiran. Maka andai  bayi telah  terlahir aqiqah boleh dilaksanakan.

Sedangkan pendapat yang terakhir  baru membolehkan pengamalan  aqiqah pada hari ke-7 pasca kelahiran. itu menurut Hanafiyah dan Malikiyah. Dan aqiqah tidak sah (dianggap sembelihan biasa) bila  dilakukan  sebelumnya.

Kapan waktu aqiqah ditentukan dan apakah ada batasanya?

1. waktu aqiqah Hari ke-7

Kalangan Malikiyah berasumsi  bahwa masa-masa  aqiqah melulu  sampai hari ke-7 pasca kelahiran. Jika hari ke-7 sudah selesai  maka ibadah aqiqah telah  tidak lagi berlaku.

2. Aqiqah Sampai anak umur  baligh

Sedangkan Syafi’iyah, mereka membolehkan untuk  orang tua melasanakan aqiqah anaknya sampai  dia masuk umur  baligh. Ini yang mustahabb. Maka saat  telah masuk umur  baligh, orang tua bukan lagi  terbebani ibadah ini. Akan namun  anak itulah yang akan mengemban  aqiqahnya sendiri andai  mampu. Demikian yang diriwayatkan dalam suatu  hadits, bahwa Rasulallah meng-aqiqahi dirinya sendiri saat  beliau telah  menjadi nabi.

Al-Imam an-Nawawi di dalam kitabnya Syarhu al-Muhadzab, mengatakan andai  hadits mengenai  aqiqahnya Nabi guna  dirinya sendiri tersebut  adalah hadits bathil. Nah selanjutnya cari tau yuk jawaban dari

Batasan waktu aqiqah menurut ulama madzhab?

Tujuan aqiqah dan manfaatnya, penting!! bagi yang mau aqiqah.

tujuan aqiqah adalah merealisasikan rasa syukur kita atas anugrah, sekaligus amanah yang berikan Allah SWT terhadap kita. Aqiqah juga menjadi ikhtiar kita dalam menghidupkan sunnah nabi SAW, jika diliht dari perbuatan? jelas terpuji, yuk jalani sunah nabi dengan gembira dan selalu ikhlas.

Mengapa anak kita harus di aqiqahi ?

Setiap orang tua menginginkan  anak yang shaleh, berbakti dan menyalurkan  kebahagiaan untuk  kedua orangnya. Aqiqah ialah  salah satu acara urgen  untuk menanamkan nilai-nilai ruhaniah untuk  anak yang masih suci. Dengan Aqiqah diinginkan  sang banyi mendapat   kekuatan, kesehatan bermunculan  dan batin. Ditumbuhkan dan dikembangkan bermunculan  dan batinnya dengan nilai-nilai Ilahiyah.

Dengan Aqiqah diinginkan  sang bayi besok  menjadi anak yang shaleh dan berbakti untuk  kedua orang tuanya. Jika acara ini dilakukan  dengan tulus-ikhlash dan dijiwai nilai-nilai ruhaninya oleh kedua orang tuanya, pasti  akan dominan  terhadap pertumbuhan  sang bayi, terutama  jiwa dan ruhaninya.

Aqiqah ialah  salah satu acara ritual di dalam Islam, yang dilakukan  pada hari ketujuh dari kelahiran seorang bayi. Aqiqah hukumnya sunnah muakkad (mendekati wajib), bahkan beberapa  ulama mengaku  wajib.

mengapa aqiqah itu penting ?

Apabila anda  mempunyai  barang yang dapat  mendatangkan manfaat dan bangga memilikinya, tetapi  barang itu  dalam suasana  tergadai, bagaimana sikap anda  terhadap barang itu ?. Tentunya kita berjuang  semaksimal barangkali  untuk menebusnya.

Aqiqah ialah  upaya kita guna  menebus anak anda  yang tergadai. Aqiqah pun  adalah realisasi rasa syukur anda  atas anugrah, sekaligus amanah yang diserahkan  Allah SWT terhadap kita. Aqiqah pun  sebagai upaya anda  menghidupkan sunnah Rasulullah SAW, yang adalah perbuatan yang terpuji, menilik  saat ini sunnah itu  mulai jarang dilakukan  oleh kaum muslimin.

jadi tujuan aqiqah itu apa?

Untuk tersebut  tujuan aqiqah tidak melulu  terbatas pada “pesta makan” semata. Akan tetapi hakikat  dari tujuan aqiqah malah  lebih luas daripada sekedar definisi  pesta makan.

Berdasarkan keterangan dari  Syekh Abdullah Nasihih Ulwan dalam buku  “Tarbiyatul Aulad Fil Islam”, tujuan aqiqah diantaranya :

  • Pertama, menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW dalam meneladani Nabi Ibrahim AS ketika  menebus putra tercintanya Ismail AS.
  • Kedua, dalam aqiqah berisi  bagian  perlindungan dari setan yang bisa  mengganggu anak yang sudah  lahir tersebut  dan ini cocok  dengan maksud hadits yang dengan kata lain  “Setiap anak tersebut  tergadai dengan aqiqahnya”.
  • Ketiga, tujuan aqiqah adalah tebusan untuk  anak untuk menyerahkan  syafaat untuk  kedua orang tuanya besok  pada hari akhir. Seperti yang diutarakan Imam Ahmad, “Dia tergadai dari menyerahkan  syafaat untuk  kedua orangtuanya (dengan aqiqahnya).”
  • Keempat, tujuan aqiqah merupakan format  pendekatan diri untuk  Allah sekaligus sebagai wujud rasa syukur atas karunia yang dikaruniakan  Allah untuk  kita dengan lahirnya anak.
  • Kelima, aqiqah adalah sarana menampakkan rasa gembira dalam mengemban  syariat Islam dan meningkatnya  keturunan mukmin yang akan menggandakan  umat Rasulullah SAW pada hari kiamat.
  • Keenam, aqiqah bisa  memperkuat ukhuwah atau persaudaraan salah satu  warga masyarakat.
  • Ketujuh, aqiqah adalah sarana untuk menerapkan  prinsip keadilan sosial dan menghapuskan gejela kemiskinan di dalam masyarakat. Misalnya dengan adanya masakan aqiqah yang diserahkan  kepada fakir kurang mampu  dan dhuafa

Aqiqah dan manfaatnya bagi diri sendiri, tinjauan apakah nabi mengaqiqahi dirinya sendiri?

BANYAK umat Islam yang tidak mengerjakan  aqiqah sewaktu kecilnya sebab  keterbatasan biaya. Maka dari itu, tak tidak banyak  dari masyarakat anda  yang memiliki keunggulan  harta sesudah  dewasanya berinisiatif guna  menyembelih aqiqah guna  dirinya sendiri. Namun bagaimanakah Islam memandang   hal yang satu ini?

Jadi kesimpulan dan yang manjadi patokan sperti ini ya?

bila   Anda merasa hendak  menyembelih kambing aqiqah guna  diri kita  sendiri. Tidak masalah bila   memang terdapat  rezekinya, asal tidak dipaksakan. Sebab urusan  tersebut  ada dasarnya, minimal  didukung oleh sejumlah  ulama.

Akan namun  Anda mesti maklum dengan ucapan  orang beda  yang tidak setuju dengan sikap laksana  itu. Karena memang terdapat  mazhab Ahmad bin Hanbal yang agaknya tidak cukup  sepakat dengan pendapat itu.

Toh, dua-duanya  hanyalah ijtihad yang nilai kebenarannya tidak pernah hingga  ke level mutlak. Jadi anda  boleh saling bertolak belakang  pendapat dengan teknik  yang beradab, santun, wajar, dan tetap mengawal  nilai-nilai ukhuwah

manfaat aqiqah untuk dirinya sendiri?

Nah setelah mengetahui kesimpulan dari 2 pendapat di atas, alangkah baiknya saya memberikan penjelasan menganai manfaatnya aqiqah bagi dirinya sendiri.. berikut ini 5 Manfaat Aqiqah Yang penting diketahui.

  • 1. Mengumumkan Garis Keturunan: Salah satu guna  aqiqah ialah  untuk memberitahukan  tentang garis keturunan si bayi. Sebab, urusan  ini memang me sti diumumkan  kepada khalayak supaya  tidak menjadi fitnah dikemudian hari. Di samping  itu, cara  ini lebih efektif ketimbang membawa   anak berkeliling kampung melulu  untuk sebatas  memberitahu garis keturunan anak.
  • 2. Memupuk Sifat Dermawan :Aqiqah pun  melatih pelakunya supaya  bersifat pemurah  sekaligus mengurangi  sifat kikir. Mengingat aqiqah tersebut  membutuhkan  pengorbanan yang tidak sedikit, mulai dari berkorban masalah waktu, tenaga, dan materi. Dalam aqiqah ini pun  ada nilai sosial yang tinggi karena  ada pekerjaan  membagikan hasil masakan tersebut untuk  tetangga, saudara atau orang fakir miskin. Jadi ajang untuk membina  ikatan sosial potensial sekali.
  • 3. Wujud Rasa Syukur Kepada Allah: Manfaat aqiqah berikutnya ialah  sebagai wujud syukur kita untuk  Allah Subhanahu wa Ta’ala atas anugrah diserahkan  nikmat anak. Karena tidak seluruh  hamba Allah tersebut  diberi nikmat mempunyai  anak. Diluar sana terdapat  hamba Allah yang Allah uji dengan kemandulan sampai-sampai  sulit mempunyai  anak. Berangkat darisini, ketika muncul  rasa gembira atas kelahiran anak maka tidak boleh  lupa guna  bersyukur untuk  Allah. Adapun salah satu format  rasa syukur tersebut  dengan mengemban  sunnah rasul yaitu  aqiqah.
  • 4. Menghidupkan Sunnah Nabi: Patut diketahui bahwa dengan menjalankan aqiqah anda  berarti sudah  menghidupkan salah satu doktrin  Rasulullah. Ibnu Haj mengatakan, “Banyak sekali guna  yang diperoleh  dari aqiqah antara beda  : menggarap  sunnah dan memadamkan bid’ah. ” Aqiqah pun  menarik tidak sedikit  pahala khususnya  di zaman kini  yang banyaknnya pahala ini juga diakibatkan  oleh minimnya orang yang inginkan  melakukannya. (Al Madkhal 3/228-229)
  • 5. Menolak Bala :Aqiqah menampik  bala? Ya, ada sejumlah  ulama yang menuliskan   demikian. Ibnu Haj mengatakan, “Banyak sekali guna  aqiqah di samping  menghidupkan sunnah dan memadamkan bid’ah, tidak terdapat  keberkahan yang ada  pada aqiqah selain mengawal  jabang bayi dari sumber penyakit laksana  yang tertera  dalam hadis, maka sunnah apa juga  yang dilaksanakan  akan menjadi penyebab seluruh format  kebaikan dan keberkahan. ”

3 cara menghitung hari aqiqah

cara menghitung hari aqiqah ini lah yang banyak di cari orang tua. bagi yang mempunyai anak baru lahir, lanjutkan membaca sampai selesai, kita akan bagikan cara menghitung hari aqiqah dan menentukan kapan dilaksanakan aqiqahnya.. yuk simak terus..

bagaimana cara menghitung hari aqiqah, hari ke- 7,14 dan 21 mulainya darimana ya ? Hari ketika anak lahir kah atau keesokan harinya ?

Lalu seperti apa cara menghitung hari aqiqah itu ?

Al Imam Nawawi rahimahullah ta’ala saat menjelaskan perkara ini berbicara : “Di sini terdapat dua pendapat :

Pendapat yang sangat shahih, hari kelahiran masuk dalam hitungan, sampai-sampai hitungan hari penyembelihan aqiqah ialah enam hari sesudah kelahiran.

Pendapat kedua mengaku hari kelahiran tidak tergolong dalam hitungan, sampai-sampai penyembelihan aqiqah dilaksanakan tujuh hari sesudah kelahiran.

Pendapat kedua ini dilafalkan dalam buku Al-Buyuthi. Akan namun pendapat yang dipilih dalam madzhab Syafi’i ialah pendapat kesatu , itulah yang dimaksudkan dengan tekstual hadits. Jika bayi tersebut lahir di malam hari, maka masa-masa aqiqah mulai dihitung dari hari sesudah kelahiran. Hal ini tidak diperselisihkan sebagaimana ditetapkan oleh Al-Buyuthi. Walaupun beliau melafalkan bahwa hari bermunculan tidak masuk dalam hitungan tujuh hari

jadi kesimpulanya seperti apa?

Jadi menurut beberapa besar ulama masa-masa siang hari ialah awal hitungan guna tujuh hari, sementara waktu malam tidaklah dihitung, sampai-sampai yang bakal jadi hitungan hari berikutnya.

Misalnya terdapat bayi yang bermunculan pada hari Ahad (12/17), pagi siang atau sore, maka hitungan hari ketujuh telah mulai dihitung pada hari Ahad. Sehingga aqiqah bayi tersebut dilakukan pada hari Sabtu (18/17).

Jika bayi itu lahir pada hari Ahad (12/17), pada malam hari, maka hitungan tadinya tidak dibuka dari hari Ahad, tetapi dari hari Seninnya keesokan harinya. Sehingga aqiqah bayi itu pada hari Ahad (19/17).

Wallahu a’lam.

fiqih aqiqah pdf, ebook terlengkap yang mengupas tentang makna aqiqah

bagi anda yang sedang mencari fiqih aqiqah pdf atau referensi buku makna aqiqah atau sedang mencari pembahasan yang lengkap mengenai makna aqiqah yang dibahas oleh ahlinya. Tepat sekali disini kami akan membagikan berbagai buku gratis mengenai makna aqiqah atau buku elektronik. (ebook)

fikih aqiqah yang membahas seputar ibadah aqiqah beserta dasar konsepnya Menurut ahli fiqih ibadah yaitu segala sesuatu yang dikerjakan untuk mencapai keridhaan Allah dan mengharap pahala-Nya di akhirat Majlis Tarjih Muhammadiyah memberikan definisi tentang ibadah adalah. bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dengan mentaati segala. perintah-Nya, menjauhi segala larangan-Nya dan mengamalkan segala yang diizinkan-Nya

Dari tiga definisi tersebut, jelaslah bahwa ibadah adalah segala kegiatan yang semata-mata dikerjakan berdasarkan pada memperhambakan diri kepada Allah SWT.

Aqiqah berasal dari bahasa Arab yaitu mashdar (kata benda) dari fiil madhi dengan fiil mudhore’ yang berarti “mengaqiqahkan anak atau menyembelih kambing aqiqah” Menurut bahasa aqiqah artinya memotong atau memisahkan, misalnya kata “Uquq Al- Walidaini” artinya durhaka kepada kedua orang tua.

nah dalam ebook ini kalian akan mendapatkan penjelasane mengenai ibadah aqiqah secara lengkap. download dibawah ini ya..

silahkan download di alamat sini, dan beberapa saya bagikan ebook pdf secara lengkap dan gratis kepada anda, terimakasih…

baca juga yuk

3 cara menghitung hari aqiqah

cara menghitung hari aqiqah ini lah yang banyak di cari orang tua. bagi yang mempunyai anak baru lahir, lanjutkan membaca sampai selesai, kita akan bagikan cara menghitung hari aqiqah dan menentukan kapan dilaksanakan aqiqahnya.. yuk simak terus..

bagaimana cara menghitung hari aqiqah, hari ke- 7,14 dan 21 mulainya darimana ya ? Hari ketika anak lahir kah atau keesokan harinya ?

Jawaban:
Ulama bersepakat bahwa masa-masa yang sangat afdhal untuk mengadakan aqiqah untuk anak yang baru lahir pada hari ke-7, menurut hadits :

قَالَ كُلُّ غُلَامٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّ
“Seorang anak tersebut tergadai dengan aqiqahnya, maka sembelihlah fauna untuknya pada hari ke tujuh

.”(HR. Abu Daud)


Dan beberapa besar ulama berasumsi bahwa andai tidak dapat pada hari ke-7, masa-masa afdhal selanjutnya ialah pada hari ke-14 dan ke-21nya,[1] menurut dalil-dalil diantaranya :


العَقِيْقَةُ تذبَحُ لِسَبع وَلأرْبَع عَشَرة ولإحدى وَعِشْرِيْن
“Aqiqah tersebut disembelih pada hari ketujuh atau ke empat belas atau kedua puluh satu.”

(HR. Baihaqi)

Lalu seperti apa cara menghitung hari aqiqah itu ?

Al Imam Nawawi rahimahullah ta’ala saat menjelaskan perkara ini berbicara : “Di sini terdapat dua pendapat :

Pendapat yang sangat shahih, hari kelahiran masuk dalam hitungan, sampai-sampai hitungan hari penyembelihan aqiqah ialah enam hari sesudah kelahiran.

Pendapat kedua mengaku hari kelahiran tidak tergolong dalam hitungan, sampai-sampai penyembelihan aqiqah dilaksanakan tujuh hari sesudah kelahiran.

Pendapat kedua ini dilafalkan dalam buku Al-Buyuthi. Akan namun pendapat yang dipilih dalam madzhab Syafi’i ialah pendapat kesatu , itulah yang dimaksudkan dengan tekstual hadits. Jika bayi tersebut lahir di malam hari, maka masa-masa aqiqah mulai dihitung dari hari sesudah kelahiran. Hal ini tidak diperselisihkan sebagaimana ditetapkan oleh Al-Buyuthi. Walaupun beliau melafalkan bahwa hari bermunculan tidak masuk dalam hitungan tujuh hari

jadi kesimpulanya seperti apa?

Jadi menurut beberapa besar ulama masa-masa siang hari ialah awal hitungan guna tujuh hari, sementara waktu malam tidaklah dihitung, sampai-sampai yang bakal jadi hitungan hari berikutnya.
Misalnya terdapat bayi yang bermunculan pada hari Ahad (12/17), pagi siang atau sore, maka hitungan hari ketujuh telah mulai dihitung pada hari Ahad. Sehingga aqiqah bayi tersebut dilakukan pada hari Sabtu (18/17).
Jika bayi itu lahir pada hari Ahad (12/17), pada malam hari, maka hitungan tadinya tidak dibuka dari hari Ahad, tetapi dari hari Seninnya keesokan harinya. Sehingga aqiqah bayi itu pada hari Ahad (19/17).

Wallahu a’lam.

referensi ke-2 cara menghitung hari aqiqah Perhitungan Hari Ketujuh

Dari kapan dihitung hari ketujuh? Apakah dari hari kelahiran atau hari setelahnya?

cara menghitung hari aqiqahhari ke-7?

Jika bayi dilahirkan malam, bagaimana menilai hari ketujuh aqiqah?

Jawab:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Dianjurkan supaya aqiqah dilaksanakan di hari yang ketujuh. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,


كُلُّ غُلَامٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى
Semua anak tergadaikan dengan aqiqahnya. Hewan aqiqah disembelih di hari ketujuh sesudah kelahiran, si anak digundul dan diberi nama.

(HR. Abu Daud 2455 dan dishahihkan al-Albani)


Bahkan menurut keterangan dari Ibnu Qudamah, ulama sepakat fauna aqiqah disarankan untuk disembelih di hari ketujuh sesudah kelahiran. Ibnu Qudamah mengatakan,


قال أصحابنا : السنة أن تذبح يوم السابع… ولا نعلم خلافاً بين أهل العلم القائلين بمشروعيتها في استحباب ذبحها يوم السابع
Para ulama madzhab hambali mengatakan, yang cocok sunah fauna aqiqah disembelih di hari ketujuh… kami tidak memahami adanya perbedaan ulama yang manyatakan disyariatkannya aqiqah, bahwa fauna aqiqah disarankan untuk disembelih di hari ketujuh..

(al-Mughni, 9/364)


Bagaimana cara tepat dalam menilai hari ketujuh pasca kelahiran?

Ada perbedaan pendapat ulama mengenai cara menghitung hari ketujuh pasca-kelahiran. Perbedaan ini berangkat dari, apakah hari kelahiran dihitung ataukah tidak dihitung?


[1] Hari kelahiran tidak dihitung

Batasnya ialah melewati masa-masa subuh, tidak dihitung. Ini pendapat Malikiyah (at-Taj wal –Iklil, 4/390).
Jika bayi yang dicetuskan di hari jumat jam 5 pagi, maka perhitungan 7 hari dibuka sejak hari sabtu. Sehingga aqiqahnya disembelih di hari jumat berikutnya.

[2] Hari kelahiran dihitung

Ini adalah pendapat jumhur ulama.
An-Nawawi menuliskan ,


وهَل يُحسَبُ يَومُ الوِلَادَةِ مِن السَّبْعَةِ ؟ فيه وجهان أصحهما يحسب فيذبح في السادس مما بعده “والثاني” لا يحسب فيذبح في السابع مما بعده , وهو المنصوص في البويطي ولكن المذهب الأول وهو ظاهر الأحاديث, فإن ولد في الليل حسب اليوم الذي يلي تلك الليلة بلا خلاف..
Apakah hari kelahiran masuk dalam hitungan? Ada dua pendapat ulama Syafiiyah dalam urusan ini. Yang sangat tepat, dihitung, sampai-sampai disembelih di hari keenam sesudah kelahiran. Pendapat kedua, hari kelahiran tidak dihitung, sampai-sampai disembelih di hari ketujuh setelahnya. Dan ini yang ditetapkan dalam kitanya al-Buwaiti. Namun pendapat kesatu lebih mendekati arti hadis.


Jika lahir di malam hari, mereka sepakat hari sesudah malam tersebut dihitung. (al-Majmu Syarh al-Muhadzab, 8/431).
Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan,


ذهب جمهور الفقهاء إلى أن يوم الولادة يحسب من السبعة, ولا تحسب الليلة إن ولد ليلاً, بل يحسب اليوم الذي يليها
Mayoritas ulama mengaku bahwa hari kelahiran pun dihitung guna menilai tujuh hari pasca-lahiran. Sementara malamnya tidak dihitung, tetapi yang dihitung ialah siang harinya. .

(al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 30/279)


Berdasarkan kaidah jumhur, berarti hari aqiqah ialah hari kelahiran minus satu.

[hari aqiqah = hari kelahiran – 1].
Jika lahir hari selasa, aqiqah dilaksanakan di hari senin. Jika lahir jumat, aqiqah di hari kamis, dst. Jika lahir malam sabtu, aqiqah di hari jumat. Karena malam sabtu, yang dihitung sabtunya.


Imam Ibnu Utsaimin menjelaskan,
قوله: ” تذبح يوم سابعه ” ، أي: يسن أن تذبح في اليوم السابع ، فإذا ولد يوم السبت فتذبح يوم الجمعة يعني قبل يوم الولادة بيوم، هذه هي القاعدة

Maksud sabda beliau, ‘Disembelih di hari ketujuh’ dengan kata lain dianjurkan guna di sembelih di hari ketujuh sesudah lahiran. Jika dicetuskan di hari sabtu, maka disembelih di hari jumat, dengan kata lain sehari sebelum hari lahiran. Inilah kaidahnya. (as-Syarh al-Mumthi’, 7/493).
Dan pendapat yang lebih mendekati ialah pendapat jumhur ulama. Syaikh Muhammad al-Mukhtar as-Sinqithy menyerahkan kaidah,


والإضافة تقتضي تقييد الحكم بالمضاف إليه، والمعنى: أن هذا اليوم وهو السابع مضاف إلى يوم الولادة، وعلى هذا فيكون يوم الولادة هو السابع
Bentuk idhafah (menyandarkan) mewajibkan bagian yang disandarkan masuk ke dalam hukum. Maknanya, bahwa hari ini, yakni hari ketujuh yang disandarkan pada hari kelahiran, maka hari kelahiran masuk unsur hitungan tujuh itu.

(Syarh Zadul Mustaqni’).


Kaidah ini menjawab, andai ada orang menuliskan hari ketujuh kelahiran, berarti hari kelahiran masuk dalam hitungan tujuh hari itu.

baca juga:

Aqiqah dan manfaatnya bagi diri sendiri, tinjauan apakah nabi mengaqiqahi dirinya sendiri?

BANYAK umat Islam yang tidak mengerjakan  aqiqah sewaktu kecilnya sebab  keterbatasan biaya. Maka dari itu, tak tidak banyak  dari masyarakat anda  yang memiliki keunggulan  harta sesudah  dewasanya berinisiatif guna  menyembelih aqiqah guna  dirinya sendiri. Namun bagaimanakah Islam memandang   hal yang satu ini?

aqiqah diri sendiri

Setidaknya terdapat  dua pendapat dalam urusan  ini, di mana semua  ulama, yang levelnya telah  sampai ke tingkat mujtahid betulan, masih bertolak belakang  pendapat. Kalau anda  buka buku  fiqih, maka anda  akan menemukan  rincian perbedaan pendapat itu.

Siapa ulama yang membolehkan aqiqah pada diri sendiri?

Ar-Rafi’i, ulama dari kalangan mazhab Asy-yafi’iyah mengatakan bilamana  seseorang mengakhirkan dari menyembelihkan aqiqah guna  anaknya sampai  anaknya sudah  baligh, maka sudah  gugurlah kesunnahan dari ibadah itu.

Namun bila   anak tersebut  sendiri yang bercita-cita  untuk mengerjakan  penyembelihan aqiqah untuk  dirinya sendiri, tidak mengapa.

Muhammad ibn Sirin berkata, “Seandainya saya tahu bahwa saya belum disembelihkan aqiqah, maka saya bakal  melakukannya sendiri.”

Al-Qaffal, salah seorang dari fuqaha mazhab Asy-Syafi’iyah pun  memilih urusan  yang sama. Silahkan rujuk buku  Syarah Al-Asqalani li Shahih Al-Bukhari jilid 9 halaman 594-595.

‘Atha’ dan Al-Hasan berbicara  bahwa seseorang tidak kenapa  bila mengerjakan  penyembelihan aqiqah guna  dirinya sendiri, karena  dirinya menjadi garansi  (rahn).

bagaimana ulama yang mengatakan seseorang tidak perlu mengaqiqahi dirinya sendiri?

Ketika Al-Imam Ahmad bin Hanbal ditanya mengenai  masalah ini, yakni  bolehkah seseorang mengerjakan  penyembelihan aqiqah guna  dirinya sendiri, lantaran dahulu orang tuanya tidak mengerjakan  untuknya, beliau membalas  bahwa tidak perlu dilaksanakan  hal itu.

Alasannya, sebab  syariat aqiqah tersebut  berada di pundak orang tuanya, bukan sedang di  pundak si anak.

Salah satu ulama pengekor  mazhab Hanbali, Ibnu Qudamah berkata, “Berdasarkan keterangan dari  kami, penyembelihan tersebut  disyariatkan sebagai beban untuk  orang tua dan orang beda  tidak dibebankan guna  melakukannya, laksana  shadaqah fithr. (rujuk buku  Al-Mughni jilid 8 halaman 646).

referensi dari tokoh agama yang mashur di indonesia

Jadi kesimpulan dan yang manjadi patokan sperti ini ya?

bila   Anda merasa hendak  menyembelih kambing aqiqah guna  diri kita  sendiri. Tidak masalah bila   memang terdapat  rezekinya, asal tidak dipaksakan. Sebab urusan  tersebut  ada dasarnya, minimal  didukung oleh sejumlah  ulama.

Akan namun  Anda mesti maklum dengan ucapan  orang beda  yang tidak setuju dengan sikap laksana  itu. Karena memang terdapat  mazhab Ahmad bin Hanbal yang agaknya tidak cukup  sepakat dengan pendapat itu.

Toh, dua-duanya  hanyalah ijtihad yang nilai kebenarannya tidak pernah hingga  ke level mutlak. Jadi anda  boleh saling bertolak belakang  pendapat dengan teknik  yang beradab, santun, wajar, dan tetap mengawal  nilai-nilai ukhuwah

manfaat aqiqah untuk dirinya sendiri?

Nah setelah mengetahui kesimpulan dari 2 pendapat di atas, alangkah baiknya saya memberikan penjelasan menganai manfaatnya aqiqah bagi dirinya sendiri.. berikut ini 5 Manfaat Aqiqah Yang penting diketahui.

1. Mengumumkan Garis Keturunan

Salah satu guna  aqiqah ialah  untuk memberitahukan  tentang garis keturunan si bayi. Sebab, urusan  ini memang me sti diumumkan  kepada khalayak supaya  tidak menjadi fitnah dikemudian hari. Di samping  itu, cara  ini lebih efektif ketimbang membawa   anak berkeliling kampung melulu  untuk sebatas  memberitahu garis keturunan anak.

2. Memupuk Sifat Dermawan

Aqiqah pun  melatih pelakunya supaya  bersifat pemurah  sekaligus mengurangi  sifat kikir. Mengingat aqiqah tersebut  membutuhkan  pengorbanan yang tidak sedikit, mulai dari berkorban masalah waktu, tenaga, dan materi. Dalam aqiqah ini pun  ada nilai sosial yang tinggi karena  ada pekerjaan  membagikan hasil masakan tersebut untuk  tetangga, saudara atau orang fakir miskin. Jadi ajang untuk membina  ikatan sosial potensial sekali.

3. Wujud Rasa Syukur Kepada Allah

Manfaat aqiqah berikutnya ialah  sebagai wujud syukur kita untuk  Allah Subhanahu wa Ta’ala atas anugrah diserahkan  nikmat anak. Karena tidak seluruh  hamba Allah tersebut  diberi nikmat mempunyai  anak. Diluar sana terdapat  hamba Allah yang Allah uji dengan kemandulan sampai-sampai  sulit mempunyai  anak. Berangkat darisini, ketika muncul  rasa gembira atas kelahiran anak maka tidak boleh  lupa guna  bersyukur untuk  Allah. Adapun salah satu format  rasa syukur tersebut  dengan mengemban  sunnah rasul yaitu  aqiqah.

4. Menghidupkan Sunnah Nabi

Patut diketahui bahwa dengan menjalankan aqiqah anda  berarti sudah  menghidupkan salah satu doktrin  Rasulullah. Ibnu Haj mengatakan, “Banyak sekali guna  yang diperoleh  dari aqiqah antara beda  : menggarap  sunnah dan memadamkan bid’ah. ” Aqiqah pun  menarik tidak sedikit  pahala khususnya  di zaman kini  yang banyaknnya pahala ini juga diakibatkan  oleh minimnya orang yang inginkan  melakukannya. (Al Madkhal 3/228-229)

5. Menolak Bala

Aqiqah menampik  bala? Ya, ada sejumlah  ulama yang menuliskan   demikian. Ibnu Haj mengatakan, “Banyak sekali guna  aqiqah di samping  menghidupkan sunnah dan memadamkan bid’ah, tidak terdapat  keberkahan yang ada  pada aqiqah selain mengawal  jabang bayi dari sumber penyakit laksana  yang tertera  dalam hadis, maka sunnah apa juga  yang dilaksanakan  akan menjadi penyebab seluruh format  kebaikan dan keberkahan. ”

cerita tentang bukti aqiqah bisa menolak bala?

Ada satu hikayat ; seseorang ditemui  oleh sejumlah  orang temannya sebagai tamu. Di dalam rumahnya, mereka menyaksikan  emas dan berserakan, sedangkan  anak-anaknya keluar-masuk. Mereka bertanya kepadanya, ” Tuan, bukankah ini sama dengan kata lain  dengan menyia-nyiakan harta?” Dia menjawab, ” Tapi harta ini aman terlindungi.” Mereka bertanya lagi,”Di mana pengamanannya?” Dia menjawab, “Harta ini telah  dizakati. Itulah pengamannya.”

apakah orang yang telah melakukan aqiqah bisa aman dari bencana?

Maka, demikian halnya dengan masalah yang sedang anda  bicarakan ini. Orang yang telah  diaqiqahi, berarti dia telah  aman dari bencana. Bencana terkecil yang menimpa bayi membutuhkan  upaya orangtuanya guna  mengeluarkan ongkos  setinggi ongkos  aqiqah atau bahkan lebih. Orang yang mempunyai  akal sehat, bakal  segera menerbitkan  segala daya-upaya guna  melaksanakannya. Sebab, aqiqah menghimpun antara ketenteraman  harta dan tubuh sekaligus. Keamanan tubuh ialah  keselamatan si bayi dari bencana laksana  yang sudah diterangkan  di atas. Sedangkan tentang ketenteraman  harta; ongkos  aqiqah dapat  dibilang lumayan  ringan bila dikomparasikan  dengan ongkos  yang me sti dikeluarkan untuk menanggulangi  bencana itu  atau ongkos  yang me sti dikeluarkan atas bencana yang diperkiran bakal  terjadi untuk  si bayi.

Dalam Buku DR Husamuddin Bin Musa Afanah “

tinjauan mengenai aqiqah yang di lakukan oleh nabi muhammad saw

BARANGKALI hadir  kegelisahan, saat  mendapati diri atau anak anda  sudah menjangkau  usia dewasa, belum pun  diakikahi. Karena Nabi shallallahualaihiwa sallam menuliskan , bahwa seorang anak yang tercetus  statusnya tergadai, hingga  dia diakikahi.

hadis mashur bahwa “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya. Disembelih pada hari ketujuh, dipotong  gundul rambutnya, dan diberi nama.”

(HR. Ahmad 20722, at-Turmudzi 1605, dan dinilai shahih oleh al-Albani).

Perlu anda  ketahui, bahwa hukum akikah sebenarnya ialah  sunah muakkadah. Namun, bila   tidak mampu, akikah boleh dilaksanakan  setelahnya hingga  ada kemampuan, meskipun si anak sudah menjangkau  dewasa. Hal ini berdasar pada tindakan  Nabi shallallahuaalaihi wa sallam, dimana beliau mengakikahi diri beliau sendiri di ketika  beliau sudah menjangkau  usia dewasa. Imam Tabrani meriwayatkan hadis yang menjadi dasar benang merah  ini,

“Bahwa Nabi shallallahuaalahi wa sallam meng-akikahi diri beliau sendiri, sesudah  beliau diutus menjadi Nabi.”

(Dinilai shahih oleh Syaikh Albani, dalam Silsilah As-Shahihah).

Baca juga:

Inilah pendapat yang kami nilai powerful  diantara persilangan pendapat ulama yang terdapat  dalam masalah ini. Riwayat di atas, pun  menunjukkan bolehnya seorang mengakikahi dirinya sendiri, bilamana  orangtuanya belum mengakikahi dirinya saat  kecil atau sebab  orangtuanya tidak dapat  menunaikan akikah untuknya.

perbandinganya seperti apa?

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Seandanya domba  akikah disembelih sebelum atau sesudah  hari ketujuh, maka hukumnya sah. Adapun bila   disembelih sebelum kelahiran, semua  ulama sepakat akikah tidak sah. Status domba  yang disembelih ialah  sembelihan biasa (tidak teranggap sebagai akikah).” (Al-Majmu 8/411).

Syaikh Abdulaziz bin Baz rahimahullah menjelaskan, “Waktu pengamalan  akikah ialah  hari ketujuh kelahiran. Inilah masa-masa  yang sangat  utama, yakni  hari ketujuh. Namun bila domba  akikah disembelih sesudah  hari ketujuh, tidak mengapa. Bahkan hingga  satu atau dua tahun setelahnyapun tidak mengapa. Jika ayahnya belum membayar  akikah anaknya, sedangkan  anak tersebut hendak  mengakikahi dirinya, inipun baik (sah). Meski sebetulnya  akikah ialah  tanggungan ayah, akan namun  bila seorang hendak  mengakikahi dirinya, atau mengakikahi ibu atau saudaranya, maka tidak mengapa.”

baca juga:

fiqih aqiqah pdf, ebook terlengkap yang mengupas tentang aqiqah.

bagi anda yang sedang mencari fiqih aqiqah pdf atau referensi buku aqiqah atau sedang mencari pembahasan yang lengkap mengenai aqiqah yang dibahas oleh ahlinya. Tepat sekali disini kami akan membagikan berbagai buku gratis mengenai aqiqah atau buku elektronik. (ebook)

Mengepa harus mencari informasi di buku (ebook) ?

Mencari informasi mengenai aqiqah memang perlu adanya referensi yang tepat. Dengan informasi yang tidak sepotong-potong, kita akan mendapatkan informasi yang utuh dan lengkap. Serta pembahasan yang mudah di pahami. Alangkah baiknya kita langsung membahas satu-satu ebook yang akan kami bagikan berikut, daftar isinya yang akan anda dapatkan secara gratisss..dan pastinya anda bisa mendownloadnya secara grstis pula.

1. ebook tentang aqiqah disertai doa-doa

ebook ini membahas mengenai doa-doa seputar aqiqah dan landasan hadisnya, isi dalam ebook ini mulai dari pengertian aqiqah, dasar hukum aqiqah, syarat, dan doa-doa aqiqah.

nah ebook ini mempunyai referensi yang jelas dan akurat, karena di ambil dari kitab-kitab dibawah ini.

  • 1. Al-Jami’ush Shahih, Muhammad bin Ismai‟l Al-Bukhari.
  • 2. Al-Jami’ush Shahih Sunanut Tirmidzi, Muhammad bin Isa AtTirmidzi.
  • 3. Al-Mufashshal fi Ahkamil ‘Aqiqah, Hasamuddin bin Musa
  • „Afanah.
  • 4. Al-Wajiz fi Fiqhis Sunnah wal Kitabil Aziz, ‟Abdul ‟Azhim bin
  • Badawi Al-Khalafi.
  • 5. As-Silsilah Adh-Dha’ifah, Muhammad Nashiruddin Al-Albani.
  • 6. As-Silsilah Ash-Shahihah, Muhammad Nashiruddin Al-Albani.
  • 7. Bulughul Maram min Adillatil Ahkam, Ahmad bin ‟Ali bin Hajar
  • Al-„Asqalani.
  • 8. Fiqhus Sunnah lin Nisaa’i wa ma Yajibu an Ta’rifahu Kullu
  • Muslimatin minal Ahkam, Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim.
  • 9. Irwa’ul Ghalil fi Takhriji Ahadits Manaris Sabil, Muhammad
  • Nashiruddin Al-Albani.
  • 10. Mukhtasharul Fiqhil Islami, Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri.
  • 11. Mukhtashar Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud, Abu Shuhaib
  • Al-Karimi.
  • 12. Musnad Ahmad, Ahmad bin Hambal Asy-Syaibani.
  • 13. Muwaththa’ Malik, Malik bin Anas bin Malik.
  • 14. Shahih Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu wa Taudhih Madzahib AlA’immah, Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim.
  • 15. Shahih Muslim, Muslim bin Hajjaj An-Naisaburi.
  • 16. Shahihul Jami’ish Shaghir, Muhammad Nashiruddin Al-Albani.
  • 17. Sunan Abu Dawud, Abu Dawud.
  • 18. Sunan Ibnu Majah, Ibnu Majah.
  • 19. Sunan Nasa’i, Ahmad bin Syu‟aib An-Nasa‟i.
  • 20. Sunanul Baihaqil Kubra, Ahmad bin Husain bin „Ali bin Musa AlBaihaqi.
  • 21. Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud, Syamsuddin Abu „Abdillah
  • Muhammad bin Abi Bakar Ad-Dimasyqi Al-Qayyim Al-Jauziyah.
  • 22. Menanti Buah Hati dan Hadiah Untuk yang Dinanti, ‟Abdul
  • Hakim bin Amir Abdat

nah bagi yanng menginginkan ebook ini silahkhan unduh disini

2. fikih aqiqah yang membahas seputar ibadah aqiqah beserta dasar konsepnya

Menurut ahli fiqih ibadah yaitu segala sesuatu yang dikerjakan untuk
mencapai keridhaan Allah dan mengharap pahala-Nya di akhirat

Majlis Tarjih Muhammadiyah memberikan definisi tentang ibadah adalah
bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dengan mentaati segala
perintah-Nya, menjauhi segala larangan-Nya dan mengamalkan segala yang
diizinkan-Nya
Dari tiga definisi tersebut, jelaslah bahwa ibadah adalah segala kegiatan
yang semata-mata dikerjakan berdasarkan pada memperhambakan diri kepada
Allah SWT.

Aqiqah berasal dari bahasa Arab yaitu mashdar (kata benda) dari fiil madhi dengan fiil mudhore’ yang berarti “mengaqiqahkan anak atau menyembelih kambing aqiqah” Menurut bahasa aqiqah artinya memotong atau memisahkan, misalnya kata “Uquq Al- Walidaini” artinya durhaka kepada kedua orang tua.

nah dalam ebook ini kalian akan mendapatkan penjelasane mengenai ibadah aqiqah secara lengkap. download dibawah ini ya..

link aqiqah jogja ridho
link download ebook aqiqah

3. E-BOOK WAWASAN UMUM TENTANG AQIQAH DALAM PERSPEKTIF HADITS

Beberapa daftar isinya yang perlu diketahui:

  • Beberapa Tradisi Terkait Kelahiran Seorang Bayi
  • Ungkapan Suka Cita Dan Selamat Atas Karunia Anak
  • Mengumandangkan Adzan Ditelinga Bayi
  • pembehasan lengkap Mendhem Ari-Ari
  • Brokohan
  • Tahnik Pada Bayi
  • Mencukur Rambut Kepala Bayi
  • Hanya jika memungkinkan
  • Hadits – Hadits Tentang Aqiqah

nah bagi yanng menginginkan ebook ini silahkhan unduh disini secara lengkap.

link aqiqah jogja ridho
link downloadnya

4. ebook: POLEMIK USIA HEWAN AQIQAH: STUDI KOMPARASI PENDAPAT IMAM MADZHAB HUKUM ISLAM

UIN Raden Fatah Palembang:

ebook ini berusaha membahas secara eksploratif tentang normatifitas usia
hewan yang dikurbankan dalam proses aqiqah. Kajian normatif ini dilakukan
berdasarkan fenomena tentang sakralitas proses aqiqah yang ingin dilakukan
oleh setiap orang tua terhadap anaknya.

Beberapa pertanyaan muncul terkait fenomena tersebut; apakah jenis dan usia hewan yang dikurbankan untuk aqiqah sama dengan persyaratan hewan kurban yang dikurbankan pada idul adha?


Bagaimana para ulama mazhab memberi gambaran tentang landasan usia hewan
aqiqah ini? Penelitian ini menemukan bahwa hampir tidak terdapat perbedaan
mendasar dari para ulama klasik mengenai usia hewan aqiqah. Hasil kajian ini
menegaskan bahwa hewan sudah boleh disembelih sebagai aqiqah apabila sudah
mencapai usia al-tsaniy/tsaniyah/musinnah kecuali untuk hewan biri-biri cukup
dengan usia al-jadza‟/jadza‟ah.

Namun demikian, terdapat beberapa ulama,
sekalipun minoritas, yang mengatakan bahwa hewan aqiqah yang disembelih
dibawah umur tersebut tetap sah dan terhitung sebagai pahala.

nah yuk mulai membaca secara menyeluruh: dan download dibawah ini ya:

link aqiqah jogja ridho
link download aqiqah

baca juga:

Hadits tentang aqiqah dan penjelasannya oleh ust. Abdul Shomad, ust Adi Hidayat dan Buya yahya.

Pedoman untuk yang sedang mencari hadits tentang aqiqah dan penjelasannya, dar ustad abdul shomad, buya yahya, ust adi hidayat. Mereka menjelaskan dengan detail mengenai hukum aqiqah, syarat aqiqah, dan semuanya yang membuat anda lebih yakin.. yuk mulai membaca..

hadis aqiqah dan penjelasanya oleh ustad abdul shomad
hadis aqiqah dan penjelasanya oleh ustad abdul shomad

Hadits tentang aqiqah dan penjelasannya, dari segi hukum.

Gimana hukum aqiqah dalam islam, apakah wajib atau sunnah? kenapa anak tergadaikan dengan aqiqahnya? apakah bila kita belum aqiqah itu dosa? atau apakah bila kita sebagai orangtua tidak mengakikahi anak kita tidak hendak masuk surga? itu merupakan pertanyaan- pertanyaan universal yang kerap ditemukan, serta berikut dibawah ini merupakan penjelasannya.

Apa itu aqiqah?

Sebelum lebih jauh mengenai hukum aqiqah, ayo kita tahu dahulu apa itu aqiqah. Akikah( bahasa Arab:عقيقة, transliterasi: Aqiqah) merupakan pengurbanan hewan dalam syariat Islam, bagaikan wujud rasa syukur umat Islam terhadap Allah SWT atas kelahiran anak yang baru saja lahir. Persyaratan jumlah kambing yang hendak di sembelih antara balita pria serta wanita pula berbeda, ialah 1 ekor kambing buat anak wanita serta 2 ekor kambing buat anak pria.

Hadits tentang aqiqah dan penjelasannya ( dari hadist shahih)

Ayo kita amati dahulu darimana aqiqah ini timbul, kita amati dari bermacam hadist yang shahih.

1. Hadits Riwayat Ahmad serta Imam 4 Hadits shahih bagi Tirmidzi.

كلغلاممرتهنبعقيقتهتذبحعنهيومسابعهويحلقويتصدقبوزنشعرهفضةأومايعادلهاويسمى

Maksudnya: Tiap anak tergadai dengan aqiqahnya, hingga pada hari ketujuh hewan disembelih, dicukur habis1 rambutnya, serta diberi nama

2. Hadits dalam sahih Bukhari

معالغلامعقيقهفأهريقواعنهدماوأميطواعنهالأذى

Maksudnya: Tiap anak bersama aqiqahnya, hingga sembelihlah hewan serta hilangkanlah kendala darinya

3. Hadits riwayat Abu Daud

أَنَّرَسُولَاَللَّهِصلىاللهعليهوسلمأَمْرَهُمْأَنْيُعَقَّعَنْاَلْغُلَامِشَاتَانِمُكَافِئَتَانِ,وَعَنْاَلْجَارِيَةِشَاةٌ

Maksudnya: Rasulullah Shallallaahu‘ alaihi wa Sallam memerintahkan mereka supaya beraqiqah 2 ekor kambing yang proporsional( usia serta besarnya) buat balita pria serta seekor kambing buat balita wanita.

وَزَنَتْفَاطِمَةُبِنْتُرَسُولِاللَّهِشَعَرَحَسَنٍوَحُسَيْنٍ،فَتَصَدَّقَتْبِزِنَتِهِفِضَّةً.

Maksudnya: Fatimah Binti Rasulullah SAW( sehabis melahirkan Hasan serta Husain) mencukur rambut Hasan serta Husain setelah itu dia bersedekah dengan perak seberat timbangan rambutnya.

4. Hadits riwayat Abu Daud serta Nasai

مَنْاَحَبَّمِنْكُمْاَنْيُنْسَكَعَنِوَلَدِهِفَلْيَفْعَلْعَنِالْغُلاَمِشاَتَاَنِمُكاَفأََتاَنِوَعَنِالْجاَرِيَةِشاَةٌ

Maksudnya: Benda siapa diantara kalangan mau beribadah tentang anaknya hendaklah dicoba aqiqah buat anak pria 2 ekor kambing yang sama usianya serta seekor kambing buat anak perempuan

5. Hadits riwayat Abu Daud

أَنَّاَلنَّبِيَّصلىاللهعليهوسلمعَقَّعَنْاَلْحَسَنِوَالْحُسَيْنِكَبْشًاكَبْشًا

Maksudnya: Nabi beraqiqah buat Hasan serta Husein tiap- tiap seekor kambing kibas

Ayat al- quran yang membahasa mengenai aqiqah

kemudian apakah alquran menarangkan mengenai aqiqah? TIDAK Terdapat SATU AYATPUN DALAM AL- QURAN YANG Menarangkan TENTANG AQIQAH.

Dengan tidak terdapatnya satupun ayat alquran yang mengharuskan kita buat melakukan aqiqah, kita mulai dapat mengambil kesimpulan kalau aqiqah bukanlah harus.

Tetapi kita tidak dapat begitusaja merumuskan suatu, oleh sebab itu kita wajib mencaritahu kepada orang yang berilmu serta mengerti betul mengenai perihal yang mau kita tanyakan, semacam apa yang dalam alquran jelaskan kalau:

يَاأَيُّهَاالَّذِينَآمَنُواإِنجَاءَكُمْفَاسِقٌبِنَبَإٍفَتَبَيَّنُواأَنتُصِيبُواقَوْمًابِجَهَالَةٍفَتُصْبِحُواعَلَىٰمَافَعَلْتُمْنَادِمِينَ

Maksudnya: Hai orang- orang yang beriman, bila tiba kepadamu orang fasik bawa sesuatu kabar, hingga periksalah dengan cermat supaya kalian tidak mengenai sesuatu bencana kepada sesuatu kalangan tanpa mengenali keadaannya yang menimbulkan kalian menyesal atas perbuatanmu itu

.( Pesan Al- Hujurat Ayat 6)

bagaimana pendapat Buya Yahya mengenai hukum aqiqah?

saya mau memperdalam menganai hukum aqiqah. ini pendapat penting buya yahya.

pendapat penting buya yahya.mengenai aqiqah

Siapa itu buya yahya?

Buya Yahyaadalah seseorang da” i yang dilahirkan di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, 10 Agustus 1973; usia 46 tahun) ia merupakan penjaga Lembaga Pengembangan Dawah serta Pondok Pesantren Al- Bahjah yang berpusat di Cirebon..

Buya Yahya mendirikan Lembaga Pengembangan Dawah serta Pondok Pesantren dengan nama Al- Bahjah yang pusatnya terletak di daerah Kabupaten Cirebon.

Al- Bahjah mempunyai sebagian kampus, kampus utama yang beralamat di Jalur Pangeran Cakra Buana Nomor. 179, Blok Gudang Air, Kelurahan Sendang, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, mulai dibentuk pada Juni 2008. Al- Bahjah mempunyai banyak unit usaha; terdapat minimarket AB Mart, Al- Bahjah Tour& Travel, Sekolah Dasar Islam Qur’ ani( SDIQu) Al- Bahjah, SMPIQU angkatan laut(AL) Bahjah, SMAIQu angkatan laut(AL) Bahjah, Angkatan laut(AL) Bahjah Televisi, Radio QU, Penerbit Pustaka Al- Bahjah serta masih banyak lagi. Bermacam unit usaha tersebut rata- rata digerakkan para santri, yang diucap Santri Khos, ataupun santri spesial. Santri Khos tidak hanya bergerak dalam bidang dakwah ataupun sosial, terdapat pula yang bertugas di dapur universal.

Pesantren ini kental dengan nuansa Nahdiyyin Walaupun begitu, pesantren ini bukan kepunyaan ormas Nahdlatul Ulama( NU)

Salah satu peraturan di Al- Bahjah, para santri diwajibkan berbahasa Arab dalam keseharian. Untuk santri baru, diberi waktu 3 bulan buat beradaptasi

Kemudian gimana pendapat ust Abdul Somad mengenai hukum aqiqah?

Siapa ustad abdul shomad??

Ustaz Profesor. H. Abdul Somad Batubara, Lc., D. E. S. A., Ph. D., Datuk Seri Ulama Setia Negeri ataupun lebih diketahui dengan Ustaz Abdul Somad( bahasa Arab:عبدالصمد‎, lahir di Silo Lama, Asahan, Sumatra Utara, 18 Mei 1977; usia 42 tahun)[1][4] merupakan seseorang pendakwah serta ulama Indonesia yang kerap membahas bermacam berbagai perkara agama, spesialnya kajian ilmu hadis serta Ilmu fikih. Tidak hanya itu, dia pula banyak mangulas mengenai nasionalisme serta bermacam permasalahan terbaru yang lagi jadi ulasan hangat di golongan warga. Namanya diketahui publik sebab Ilmu serta kelugasannya dalam membagikan uraian dalam mengantarkan dakwah yang ditayangkan lewat saluran YouTube. Ustaz Abdul Somad sempat bertugas bagaikan dosen di Universitas Islam Negara Sultan Syarif Kasim( UIN Suska) Riau semenjak tahun 2009 sampai mengundurkan diri pada tahun 2019

Kajian- kajiannya yang baik dalam merangkai kata jadi suatu retorika dakwah, membuat ceramah Ustaz Abdul Somad begitu gampang di cerna serta gampang dimengerti oleh bermacam golongan warga. Banyak dari ceramah Ustaz Abdul Somad yang membahas bermacam berbagai perkara agama.

Apa saja karya ustad abdul shomad untuk publik?

Ustaz Abdul Somad sudah menuliskan sebagian buku yang jadi best seller di golongan umat Islam, di antara lain:

  • • 37 Permasalahan Populer
  • • 99 Persoalan Seputar Sholat
  • • 33 Tanya Jawab Seputar Qurban

pendapat ust Adi Hidayat mengenai hukum aqiqah

Siapa sesungguhnya usatad ust Adi Hidayat?

Ustadz Adi Hidayat, Lc., MA.( lahir di Pandeglang, Banten, 11 September 1984; usia 35 tahun) merupakan seseorang Alim asal Indonesia yang bisa memahami isi kitab suci Alquran beserta letak barisnya. Tidak hanya itu, dia pula memahami ilmu hadist serta bermacam kitab agama beserta arti serta letaknya. Pada 2013, Ustaz Adi mendirikan Quantum Akhyar Institute serta 3 tahun selanjutnya dia mendirikan Akhyar Televisi bagaikan media dakwah utama. Dikala ini Ustaz Adi aktif jadi narasumber keagamaan baik ta’ lim, seminar, serta selebihnya. Dia pula aktif menulis serta sudah mempunyai sebagian karya dalam bahasa Arab serta Indonesia

Apa saja karya ust adi hidayat dalam agama islam?

Karya Tulis ust adi hidayat, Sebagian karya tulis Ustadz Adi HIdayat antara lain

  • • Minhatul Jalil Bita’ rifi Arudil Khalil( tahun 2010)
  • • Quantum Arabic Tata cara Akhyar( tahun 2011)
  • • Ma’ rifatul Insan: Pedoman Al- Qur’ an Mengarah Insan Paripurna( tahun 2012)
  • • Makna Ayat Puasa, Memahami Kedalaman Bahasa Al- Quran( tahun 2012)
  • • Al- Arabiyyah Lit Thullabil Jami’ iyyah( tahun 2012)
  • • Persoalan Hadist- hadist Terkenal( tahun 2013)
  • • Ilmu Hadist Instan( tahun 2013)
  • • Tuntunan Instan Idul Adha( tahun 2014)
  • • Pengantin As- Sunnah( tahun 2014)
  • • Buku Catatan Penuntut Ilmu( tahun 2015)
  • • Pedoman Instan Ilmu Hadist( tahun 2016)
  • • Manhaj Tahdzir Kelas Eksekutif( tahun 2017)
  • • Muslim Era Now( 2018)
  • Kemudian gimana Pemikiran ust Adi Hidayat mengenai hukum aqiqah?

baca juga yuk:

bagaimana pengertian hukum dan dalil aqiqah yang sebenarnya?

bagaimana pengertian hukum dan dalil aqiqah yang sebenarnya? dan bagimana tata cara pelaksanaan dari hukum tersebut, perlunya kita membedah cara yang biasa dilakukan dalam melakukan aqiqah sesuai dengan hukum dan dalil aqiqah yang sudah dikenal umum. mulai membaca dengan cermat ya.

aqiqah anak, manfaat aqiqah

Bagaimana Hukum Aqiqah sebenarnya?

Para ulama berselisih pendapat mengenai  hukumnya. Sebagian terdapat  yang mewajibkannya namun beberapa  besar  mengatakan sunnah.

Siapa Pihak yang Mewajibkan Aqiqah?

Syaikh Abdul ‘Azhim Al Badawi Rahimahullah dalam buku  Al-Wajiiz mengaku  bahwa ‘aqiqah ialah  suatu keharusan  atas orangtua.

Dari Salman bin Amir adh-Dhabby Radhiyallahu’anhu, ia bertutur:

“Saya pernah mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,”Bersama seorang anak tersebut  ada ‘aqiqahnya. Karena tersebut  alirkanlah darah untuknya dan singkirkanlah gangguan darinya.” (Shahih Ibnu Majah no:2562u Fathul Bari IX: 590 no 5472,‘Aunul Ma’bud VIII:41 no:2822u Tirmidzi III: 35 no:1551 dan Nasa’i VII:164)

Siapa Pihak yang Menyatakan Aqiqah tersebut  Sunnah?

Syaikh Utsaimin Rahimahullah : ‘Aqiqah ialah  sunnah muakkadah (sunnah yg amat dianjurkan). Untuk  orang yg tidak dapat  melakukannya maka gugur keharusan  (sunnah) ini darinya.

Imam Ahmad Rahimahullah berbicara  ‘Aqiqah adalah sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau sudah  melakukannya guna  Hasan dan Hushain. Para kawan  beliau pun  melakukannya. Dan Dari Hasan bin Samurah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

“Semua anak yg bermunculan  tergadaikan dengan ‘aqiqahnya.” (HR Abu Dawud, At Tirmidzi dan An Nasa’i).

Sehingga tidak patut, andai  seorang bapak tidak mengerjakan  ‘aqiqah guna  anaknya. (Al Muntaqa Min Fatawa Syaikh Shalih Fauzan (3/194)).

bagaimana hukum dan dalil aqiqah dalam hadis nabi?

Berikut sejumlah  dalil yang berhubungan  dengan hukum mengerjakan  aqiqah menurut ajaran  Islam, Antara lain:

Dari Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy berbicara  jika Rasulullah bersabda, “Aqiqah dilakukan  karena kelahiran bayi, maka sembelihlah fauna  dan hilangkanlah seluruh  gangguan darinya.” [Shahih Hadits Riwayat Bukhari (5472), guna  lebih lengkapnya lihat Fathul Bari (9/590-592), dan Irwaul Ghalil (1171), Syaikh Albani].

Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy

Dari Samurah bin Jundab berbicara  jika Rasulullah bersabda, ““Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya di sembelih fauna  (kambing), diberi nama dan dipotong  rambutnya.” [Shahih, Hadits Riwayat Abu Dawud 2838, Tirmidzi 1552, Nasa’I 7/166, Ibnu Majah 3165, Ahmad 5/7-8, 17-18, 22, Ad Darimi 2/81, dan lain-lainnya].

Samurah bin Jundab

Aisyah berbicara  jika Rasulullah bersabda, “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua domba  yang sama dan bayi wanita  satu kambing.” [Shahih, Hadits Riwayat Ahmad (2/31, 158, 251), Tirmidzi (1513), Ibnu Majah (3163), dengan sanad hasan].

Aisyah

Ibnu Abbas berbicara  jika Rasulullah bersabda, “Menaqiqahi Hasan dan Husain dengan satu domba  dan satu kambing.” [HR Abu Dawud (2841) Ibnu Jarud dalam buku  al-Muntaqa (912) Thabrani (11/316) dengan sanadnya shahih. Sebagaimana disebutkan  oleh Ibnu Daqiqiel ‘Ied].

Ibnu Abbas

‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya berbicara  jika Rasulullah bersabda, “Barangsiapa diantara kalian yang hendak  menyembelih (kambing) sebab  kelahiran bayi maka hendaklah ia kerjakan  untuk laki-laki dua domba  yang sama dan untuk wanita  satu kambing.” [Sanadnya Hasan, Hadits Riwayat Abu Dawud (2843), Nasa’I (7/162-163), Ahmad (2286, 3176) dan Abdur Razaq (4/330), dan shahihkan oleh al-Hakim (4/238)].

‘Amr bin Syu’aib

Fatimah binti Muhammad berbicara  saat mencetuskan  Hasan andai  Rasulullah bersabda, “Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan perak untuk  orang kurang mampu  seberat timbangan rambutnya.” [Sanadnya Hasan, Hadits Riwayat Ahmad (6/390), Thabrani dalam “Mu’jamul Kabir” 1/121/2, dan al-Baihaqi (9/304) dari Syuraiq dari Abdillah bin Muhammad bin Uqoil].

Fatimah binti Muhammad

bagaimana hukum dan dalil aqiqah dalam Pelaksanaan Aqiqah?

Berikut sejumlah  hukum yang dibuntuti  dengan bimbingan  dalam mengemban  aqiqah, yaitu:

Aqiqah Merupakan Syairat Islam

Aqiqah ialah  satu yang telah  disyariatkan di dalam agama Islam dan sejumlah  dalil yang menuliskan   diantaranya ialah  hadits Rasulullah saw yang berbicara  “setiap anak tertuntut dengan aqiqahnya”.

Berapa Jumlah Hewan Sembelihan untuk  aqiqah?

Hadits lainnya menuliskan   jika, “Anak laki-laki (Aqiqah-nya dengan 2 kambing) sedang anak wanita  (Aqiqah-nya) dengan 1 ekor kambing”.

Status hukum aqiqah adalah sunnah dan urusan  ini cocok  dengan pandangan dari banyak sekali  ulama laksana  contohnya Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad yang didasari dengan sejumlah  dalil diatas.

Para ulama tidak menuliskan   wajib dengan menciptakan  penyataan andai  seandainya aqiqah ialah  wajib, maka keharusan  ini menjadi urusan  yang telah  diketahui oleh agama dan Rasulullah pun  pastinya telah  memberikan penjelasan  tentang keharusan  itu.

Ada sejumlah  ulama laksana  Imam Laits serta Imam Al-Bashri yang mengungkapkan pendapat andai  hukum dari aqiqah adalah wajib menurut  dari 1 hadits yaitu  “Kullu ghulamin murtahanun bi ‘aqiqatihi’” yang berarti masing-masing  anak tertuntut dengan aqiqah.

Apa saja kriteria  dari domba  yang diizinkan  untuk aqiqah?

Tidak Mematahkan Tulang Sembelihan

Saat menyembelih, ada urusan  yang me sti diacuhkan  yakni tidak mematahkan tulang dari sembelihan dengan hikmah yang terkandung ialah  tafa’ul atau bercita-cita   akan keselamatan tubuh serta anggota badan dari anak tersebut.

Hewan Sembelihan Tidak Boleh Cacat

Aqiqah yang sah ialah  jika sudah mengisi  syarat dari fauna  qurban yaitu  tidak cacat dan pun  sudah masuk ke umur  yang telah  disyaratkan dalam Islam. Aqiqah ialah  menyembelih di hari ke-7 semenjak  kelahiran bayi yang dimaksudkan guna  bersyukur pada Allah.

Akan namun  di samping  kambing, sapi atau unta juga diizinkan  dengan kriteria  melulu  1 unta atau 1 sapi guna  1 orang anak saja, tetapi  sebagian ulama berasumsi  jika aqiqah yang diizinkan  hanya memakai domba  saja karena  sesuai dengan alasan  Rasulullah saw.

Bagaimana Syarat dan hukum Aqiqah Anak Laki-Laki dan Perempuan

Apa saja yang menjadi kriteria  aqiqah anak laki-laki dan perempuan? Syarat dan peraturan  tersebut diantaranya yaitu, masa-masa  aqiqah, fauna  aqiqah (umur, jenis kelamin jantan atau betina pun  kondisi fisik).

baca juga yuk.

Syarat Aqiqah Anak Laki-Laki dan Perempuan dalam Hadist

Sebelumnya, perlu anda  ketahui bahwa aqiqah tersebut  didefinisikan sebagai “memotong”, sebab  dalam proses aqiqah anak ini ialah  memotong/menyembelih hewan. Aqiqah merupakan format  ucapan rasa syukur umat islam untuk  Allah atas bayi yang dicetuskan  dengan kriteria -syarat tertentu menurut  keterangan dari  syariat doktrin  Islam.

Syarat aqiqah anak laki-laki dan wanita  dalam hadist sahih yang berkata  mengenai masa-masa  pelaksanaan aqiqah guna  anak atau bayi yang baru lahir ialah  sebagai berikut:

Dari Samurah bin Jundub dia berkata: Rasulullah SAW. bersabda: “Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih fauna  (kambing), diberi nama dan dipotong  rambutnya.”

[HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad]

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW pernah ber aqiqah guna  Hasan dan Husain pada hari ke-7 dari kelahirannya, beliau memberi nama dan menyuruh  supaya dihilangkan dari kotoran dari kepalanya (dicukur).

[HR. Hakim, dalam Al-Mustadrak Juz 4, Hal. 264]

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata: Rasulullah bersabda: “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua domba  yang sama dan bayi wanita  satu kambing“.

[HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah]

Penyembelihan hewan sehubungan  dengan kelahiran anak atau aqiqah cocok  dengan hadist itu  disyariatkan untuk dilaksanakan  pada hari ketujuh kelahiran anak.

Hukum aqiqah guna  orang tua yang baru mencetuskan  anaknya ialah  sunnah muakad, walaupun demikian, kriteria  dan peraturan  aqiqah menjadi bagian urgen  dalam syariat Islam.

Kapan Waktu Pelaksanaan Aqiqah?

Setelah sebelumnya diuraikan tentang  hadist sahih mengenai  aqiqah anak laki-laki dan anak perempuan, cocok  riwayat hadist di atas maka pengamalan  aqiqah yang sangat  sesuai dengan syariat ialah  pada hari ke-7 semenjak  kelahiran bayi.

Namun andai  belum dapat  pada hari ke-7 tersebut, beberapa  ulama mengizinkan  untuk pelaksanaannya di hari ke-14 (dua minggu sesudah  bayi lahir). Bila di hari ke-14 masih belum dapat  juga, maka pelaksanaannya dapat  di hari ke-21.

Dari Abu Buraidah RA: “Aqiqah tersebut  disembelih pada hari ketujuh, atau keempat belas, atau kedua puluh satunya.”

[HR. Baihaqi dan Thabrani]

Apakah boleh Aqiqah dengan hewan selain Kambing

Ada perbedaan pendapat tentang  beraqiqah dengan selain kambing:

  • 1. Jumhur ulama memperbolehkannya
  • 2. Sebagian ulama tidak memperbolehkannya, bahkan mereka mengaku  tidak sah aqiqah selain dari jenis domba  atau domba.

“Dan الشاة (kambing) –dalam bahasa arab- merangkum  jantan dan betina, baik dari jenis المعز (kambing yang berambut) ataupun jenis الضأن (domba/kambing yang berbulu tebal).

Berkata Al-‘Iraqy rahimahullahu (wafat tahun 806 H):

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih saat  aqiqah kedua cucunya memilih yang sangat  sempurna, yaitu kambing  jantan, dan ini bukan pengkhususan, maka boleh dalam aqiqah menyembelih domba  betina meskipun dari jenis المعز, sebagaimana urusan  ini diperlihatkan  oleh kemutlakan lafadz الشاة dalam hadist-hadist yang lain.”

(Tharhu At-Tatsrib, Al-‘Iraqy 5/208)

Bagaimana Tata Cara Pemotongan Kambing Aqiqah

Untuk yang menyembelih fauna  aqiqah pun  perlu menyimak  syarat dan rukun penyembelihan yang cocok  dengan syariat Islam. Berikut ini ialah  hal berhubungan  menyembelih fauna  aqiqah:

  • 1. Niatkan menyembelih fauna  aqiqah sebagai format  Ibadah untuk  Allah.
  • 2. Memperlakukan fauna  aqiqah dengan sebaik-baiknya.
  • 3. Pisau yang dipakai  untuk menyembelih me sti tajam.
  • 4. Jauhkan pandangan domba  ketika sedang mengasah  pisau.
  • 5. Menggiring domba  ke lokasi  penyembelihan dengan teknik  yang baik.
  • 6. Hewan sembelihan direbahkan.
  • 7. Posisikan dengan baik unsur  tubuh yang bakal  disembelih.
  • 8. Hewan aqiqah dihadapkan ke arah kiblat saat  akan disembelih.
  • 9. Meletakkan telapak kaki di leher sembelihan.
  • 10. Mengucap Bismilah.
  • 11. Tidak diperkenankan memakai  tulang dan kuku sebagai perangkat  penyembelih.

Bagaimana aturan dalam Pembagian Daging Aqiqah

Untuk pembagian daging aqiqah ini bertolak belakang  dengan pembagian daging kurban yang biasa diberikan  pada Idul Adha dalam situasi  mentah. Sebaliknya, pada daging fauna  aqiqah diberikan  dalam situasi  telah dimasak dan matang.

Daging yang telah diubah  tersebut dapat diberikan  kepada fakir miskin, tetangga, kerabat, atau sanak saudara lainnya. Bagi  keluarga, menurut  keterangan dari  ulama jumlah maksimla daging yang dapat  diambil ialah  sepertiganya.

Mengenai pembagian daging aqiqah, Ibnu Al-Qayyim berkata:

Membagikan daging aqiqah dalam suasana  matang ialah  lebih baik sebab  dengan memasaknya berarti ia sudah  menanggung ongkos  memasak untuk  orang kurang mampu  dan semua  tetangga. Dan ini adalah nilai tambah tersendiri dalam melakukan  kebaikan dan dalam mensyukuri nikmat ini (kelahiran anak).

Dengan demikian semua  tetangga dan orang-orang kurang mampu  dapat menikmatinya dengan tenang tanpa memikirkan bagaimana memasaknya. Di samping  itu , barangsiapa yang diberi daging yang matang siap guna  dimakan maka kebahagiaan dan kegembiraan orang itu  akan lebih sempurna dari pada ia melulu  menerima daging mentah yang memerlukan ongkos  dan tenaga guna  memasaknya.

baca juga yuk

Aqiqah di bulan ramadhan dan keutamaanya

bulan ramadhan yang penuh hikmah
keutamaan melakukan syukuran aqiqah di bulan ramadhan

melakukan aqiqah di bulan ramadhan merupakah kebaikan yang tak ternilai, selain mendapat pahala aqiqah, anda akan menemukan keberkahan dan hikmah yang lain yang khusus diberikan untuk anda.

1. Kenapa saya baiknya aqiqah di bulan ramadhan?

Bahagianya bila   buah hati yang dirindukan  akhirnya berlahiran  ke dunia dalam keadaan  sihat walafiat. Apalagi bila   lahirnya bertepatan di bulan Ramadhan yang istimewa dan penuh  berkah.

Salah satu amalan yang dianjurkan  (sunat muakkad) setelah  kelahiran anak merupakan   mengemban  aqiqah sebagai tanda syukur. Melaksanakan aqiqah merupakan   sunat muakkad dan afdhal dilakukan  pada hari ketujuh kelahiran.

Alangkah baiknya bila   hari ketujuh tersebut  jatuh pada bulan Ramadhan, karena  setiap kebaikan  yg saya dan kamu  lakukan di dalam bulan Ramadhan akan  dilipat gandakan. Di samping menemukan  pahala aqiqah, insha Alloh anda pun  mendapat pahala berbagi daging aqiqah untuk  berbuka.

Sekarang ini amat mudah  untuk menggarap  akikah karena  terdapat  jasa layanan t yang menyediakan  program Aqiqah dengan fulus  yang wajarn. Akikah dilakukan  sepanjang tahun, termasuk  di bulan puasa.

jika anda melakukan ibadah akikah pada bulan Ramadhan maka akan berpeluang  mendapat pahala berganda Disamping dapat  pahala akikah, anda  bisa  pahala memberi makan  orang berbuka puasa dan juga  mendapat pahala membantu  umat Islam yang hidup susah  . Tunggu apalagi

aturan aqiqah, acara syukuran aqiqah anak
foto ibu yang sedang mau aqiqah

Bagaimana aturan aqiqah di bulan ramadhan?

Sesungguhnya semua  hari dan bulan itu  baik dan tidak ada  yang namanya bulan yang buruk. dengan mendatangi  paranormal atau dukun terkadang banyak  orang mempercayai  terdapat  hari2 yang buruk misalnya  untuk  menanyakan bulan baik untuk  menikah dalam Islam, maka itu  telah  tergolong syirik dalam Islam dan ialah  dosa besar dalam Islam.

Janganlah kamu  sampai menggarap  dosa yang tak terampuni tersebut. Jika berkeinginan  menyelenggarakan  sebuah syukuran atau walimah maka sesungguhya dapat dilakukan  kapan saja, bahkan di bulan Ramadhan sekali pun. Bulan Ramadhan terdapat  keutamaan malam Lailatul Qadar di dalamnya. itu adalah bulan yang penuh  berkah dimana

Bulan Ramadhan menandakan bahwa umat Islam melaksanakan kewajiban  puasa Ramadhan yang ialah  rukun Islam pada siang hari. Beberapa orang barangkali  tak inginkan  mengemban  acara syukuran di bulan Ramadhan, sebetulnya  paling  baik untuk  mengadakannya di bulan Ramadhan. Misalnya saja berkeinginan  mengemban  aqiqah menurut  keterangan dari  penjelasan  dari Islam di bulan Ramadhan.

Apakah pengamalan aqiqah di bulan ramadhan  disarankan?

Pelaksanaan aqiqah di bulan suci Ramadhan sangat dianjurkan. namun  tidak dengan kiat  yang biasanya  dilaksanakan  orang banyak. Jika pada umumnya, aqiqah dilaksanakan  dengan meriah, maka sesungguhnya  aqiqah me stinya dilaksanakan  dengan sederhana.

Adapun ketentuan  aqiqah sesuai  dengan ajaran  Rasul merupakan   melulu  dengan memotong hewan  aqiqah dan membagikannya guna  tetangga dan sanak saudara. Berbeda dengan apa yang dilakukan  orang-orang tidak sedikit  sekali di jaman sekarang  yang mengadakan  aqiqah dengan sangat  meriah.

jelas bahwa aqiqah dilakukan  sebagai bentuk  syukur guna  Allah SWT dan dilakukan  sebagai bentuk  sedekah menurut  keterangan dari  penjelasan  dari Islam. Rasul juga  sudah  menilai jumlah hewan  guna  anak laki-laki dan untuk  anak perempuan  dalam Islam. Untuk  itulah, menggarap  aqiqah di bulan Ramadhan dapat dilaksanakan  sebagai sedekah untuk  orang yang berbuka puasa.

Nabi Muhammad SAW ditanya puasa apakah yang paling  utama setelah  Ramadhan? beliau bersabda: Puasa Syaban untuk menghormati  bulan Ramadhan. dikatakan: Shadaqah apakah yang paling  utama? beliau bersabda: shadaqah pada bulan

sedekah

Keutamaan shodakoh menambah manfaat aqiqah di bulan ramadhan ini?

Di samping keutamaan bersedekah, anda pun  mendapat pahala karena  memberi makanan berbuka guna  mereka yang berpuasa

Keutamaan sedekah pada bulan Ramadhan lebih tidak sedikit  dibanding sedekah pada hari biasa karena  bulan Ramadhan merupakan   bulan penuh  berkah dimana setiap  ibadah dilipatgandakan pahalanya

Disebabkan dia telah  meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. jika kamu berpuasa akan  menemukan  dua kebahagiaan yaitu  kebahagiaan ketika  dia berbuka dan ketika  berjumpa dengan Rabbnya

Demikianlah artikel  mengenai  hukum aqiqah di bulan Ramadhan yang singkat ini. Melaksanakan tidak tidak banyak  ibadah seperti  sedekah dalam Islam sangatlah disarankan  saat  Ramadhan tiba. Semoga setiap  amalan kamu  pada bulan Ramadhan dapat  diterima oleh Allah SWT. Aamiin.

Bulan suci Ramadhan ialah  bulan kesembilan pada penanggalan Hijriah. Bulan Ramadhan juga  menjadi

bulan yang paling dirindukan  oleh umat muslim dan tidak tidak banyak  yang menyebutnya sebagai bulan seribu bulan.

ini perlunya pengetahuan, kebaikan  umat muslim akan dibalas  dengan berkah pahala yang berlipat ganda itu merupakan khusus  di bulan Ramadhan amal Bahkan bila kamu  menjalani puasa dengan sempurna, ketika  hari lebaran datang, kamu  bakal  bersih dari dosa seperti  seorang bayi yang baru berlahiran  kembali.

Di samping urusan  tersebut, ada sebanyak  hal lain  yang perlu  kita  ketahui mengapa  bulan Ramadhan menjadi bulan yang begitu istimewa guna  umat muslim. Apa saja? Yuk, disimak.

baca juga:

Bulan diturunkannya Al-Qur’an

malam lailatul qodar

Bulan Ramadhan merupakan   bulan yang mulia. Mengapa? kitab  suci umat Islam Al-Qur’an pertamakali  diturunkan di bulan ini. karena  bulan ini dipilih sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an dan bahwa Allah memuji bulan Ramadhan dari bulan-bulan lainnya.

.

Amal sholeh yang berlipat ganda

Dalam sebuah  hadis dilafalkan  bahwa bulan Ramadhan merupakan   masa-masa  dimana kamu  mendekatkan diri guna  Allah SWT maka nilainya sama dengan tujuh puluh kali lipat dari kewajiban  yang dilakukan  di bulan-bulan lainnya. pada bulan ini, umat muslim menjalankan amalan sholeh dan  berlomba-lomba dalam kebaikan.

apakah bulan ini Bulan penuh  berkah?

Inilah alasan  kenapa  bulan Ramadhan juga  dinamakan  sebagai malam seribu bulan. Karena saat  seorang muslim menggarap  sebuah kebaikan  di bulan Ramadhan, ia akan  mendapat keberkahan yang nilainya sama dengan seribu bulan.

Bulan pengampunan dosa dan dikabulkannya doa-doa

doa ramadhan

Dalam sebuah  Hadis Riwayat Bukhari dijelaskan  bahwa setiap  muslim berkesempatan  guna  meraih pahala sebanyak-banyaknya bahkan dengan ibadah yang sempurna pada bulan puasa akan  menjadikan kamu  kembali seperti  seorang bayi yang baru lahir. Di bulan Ramadhan juga, Allah berfirman bahwa setiap  doa yang dipanjatkan maka pasti  bakal  dikabulkan.

Terdapat malam Lailatur Qadar

Malam ini ialah  malam yang didamb-dambakan oleh setiap  umat musli saat  bulan Ramadhan. Malam ini ialah  malam yang paling  baik diisi  oleh doa-doa yang baik dan mukjizat dapat  turun di malam Lailatul Qadar, biasanya terdapat  di salah satu  dari 10 hari terakhir bulan Ramadhan .

Setelah mengetahui  keutamaan bulan Ramadhan, pastinya  anda  jadi makin  motivasi  guna menjalankan ibadah dan terus mengerjakan  kebajikan  untuk sesama. Yuk, berlomba-lomba dalam kebaikan  di bulan Ramadhan ini agar  dunia yang kamu  tempati bisa  lebih aman dan tentram.

baca juga: