Pembagian Daging Aqiqah dalam Islam

pembagian-daging-aqiqah-dalam-islamHukum daging aqiqah dalam pembagiannya lebih baik dalam keadaan masak sehingga memudahkan dalam menikmati. Imam Ibnu Qayyim rahimahullah dalam kitabnya “Tuhfathul Maudud” hal.43-44, berkata. : “Memasak daging aqiqah termasuk sunnah. Yang demikian itu, karena jika dagingnya sudah dimasak maka orang-orang miskin dan tetangga (yang mendapat bagian) tidak merasa repot lagi. Dan ini akan menambah kebaikan dan rasa syukur terhadap nikmat tersebut.

Para tetangga, anak-anak dan orang-orang miskin dapat menyantapnya dengan gembira. Sebab orang yang diberi daging yang sudah masak, siap makan, dan enak rasanya, tentu rasa gembiranya lebih dibanding jika daging mentah yang masih membutuhkan tenaga lagi untuk memasaknya. Dan pada umumnya, makanan syukuran (dibuat dalam rangka untuk menunjukkan rasa syukur) dimasak dahulu sebelum diberikan atau dihidangkan kepada orang lain.”

Sekaligus penyampaian harapan kepada saudara, teman, relasi, tetangga bahkan handai taulan untuk bisa ikut mendoakan pada anak yang baru diaqiqah. Sehingga anak yang baru dan sudah terlahir selalu mendapat perlindungan AllaH SWT, sehat selalu dan kelak menjadi anak yang dibanggakan kedua orangtuanya. Yang kelak anak sholeh/sholehah dan bisa berguna bagi Nusa Bangsa dan Agamanya.

Kapan Waktu Aqiqah

kapan-waktu-aqiqahMayoritas (jumhur) ulama bersepakat bahwa pelaksanaan aqiqah adalah hari ketujuh dari kelahiran. Hal ini berdasarkan sabda Nabi SAW, yang artinya, “Setiap anak itu tergadai dengan hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ketujuh, dan dia dicukur, dan diberi nama.” (HR Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan, dan dishahihkan oleh Tirmidzi).

Namun demikian, menurut pandangan para ulama, apabila terlewat dan tidak bisa dilaksanakan pada hari ketujuh, akikah tersebut bisa dilaksanakan pada hari ke-14. Dan jika tidak bisa juga, maka pada hari ke-21.

Pendapat ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan dari Abdullah Ibnu Buraidah dari ayahnya dari Nabi SAW, beliau berkata bahwasannya, “Hewan aqiqah itu disembelih pada hari ketujuh, atau keempat belas, atau kedua puluh satunya.” (HR Baihaqi dan Thabrani).

Namun, setelah tiga minggu masih tidak mampu, maka kapan waktu aqiqah dan pelaksanaannya boleh dilakukan di kala sudah mampu. Sebab, pelaksanaan pada hari-hari ketujuh, keempat belas dan kedua puluh satu adalah sifatnya sunah dan paling utama bukan wajib. Dan boleh juga melaksanakannya sebelum hari ketujuh.

Kutipan Berita :

https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/16/10/26/ofnba1313-kapan-waktu-pelaksanaan-akikah